
"Untuk King, untuk rumah kita, untuk keluarga kita. Walau kalian sekarat, walau darah kalian tumpah disini, walau tubuh kalian sampai terpisahpun, selagi nyawa kalian masih ada, teruslah bangkit dan kita usir mereka.."
"UNTUK KING..."
"UNTUK RUMAH KITA.." Ucap seluruh anak buah kelompok selatan dengan semangat membara menjawab permintaan Cak timbul.
"Kita bantai semua Kelompok Utara yang berani masuk ke markas kita." Timpal Kobang mengebu-gebu.
"HUU YYYAAAAA.." Teriak Cak Timbul lantang dengan penuh semangat yang seakan menggetarkan setiap orang yang mendengarnya. Seruan perang khas kelompok selatan yang telah siap mempertaruhkan segalanya dan teriakan itu disambut lantang oleh para pengikutnya.
"HUUU YAAAAAAA.." Teriak semua orang termasuk Komar dan lima orang anak buahnya yang ikut terbakar semangatnya.
***
Drrtt drtttt
Brigjen Endris sedikit terganggu dengan getaran hanphonenya ketika sedang memberi arahan pada bawahannya tentang sebuah kasus yang sedang ditanganinya di kota kembang saat itu. Namun begitu melihat siapa penelponnya saat itu, firasatnya sebagai seorang intelijen berpengalaman mengisyaratkan suatu hal yang sangat genting. Karena seperti biasanya, dia lah atau tidak sang istri yang biasanya menelpon terlebih dahulu.
"Ya, ada apa Dek ?" Tanya Brigjen Endris sambil memberi isyarat pada bawahannya untuk mengangkat handphonenya terlebih dahulu.
"Pah..." Terdengar suara tegang dari seberang sana, membuat kening Brigjen Endris sedikit berkerut dan tampak gurat kekhawatiran.
"Kamu gak apa-apa kan Dek ? Kamu dimana ?" Cecar Brigjen Endris namun dengan nada tetap tenang.
"Pah, Adek sama kak Anna ada di Pasar Tanah Kuda.."
Mendengar posisi dimana kedua anak gadisnya itu berada ditambah dengan nada cemas putri bungsunya tersebut, instingnya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya terjadi pada saat itu.
"Sekarang Kakak dimana ?" Tanya Brigjen Endris memotong ucapan Silvi.
"Ada nih pa... sebentar."
Lalu terdengar ucapan Silvi yang memberikan handphonenya pada sang kakak.
"Halo Pah.." Terdengar suara Anna lirih.
"Ceritakan apa yang terjadi disana ?" Tanya Brigjen Endris langsungĀ to the point.
"P-pah, tadi Kakak sama adek kesini buat nyari teman sekolah kakak. Tidak taunya, disini sedang ada tawuran. Tepatnya, pasar ini diserang sama kelompok lain." Ujar Anna dengan tegang menceritakan apa yang terjadi disana, sepertinya kondisi disana sedang gawat.
Mendengar hal itu, Brigjen Endris sempat terlintas tentang siapa teman yang dimaksud oleh putri sulungnya tersebut. Tapi, Ia lebih mementingkan keselamatan kedua putrinya untuk saat itu.
"Sekarang Kakak sama Adek 'aman' kan ?" Tanya sang Ayah dengan sengaja memberi penekanan pada kata aman untuk memastikan keadaan putrinya tersebut.
"Untuk saat ini aman Pah. Kami dijaga oleh orang-orang disini, t-tapi belum bisa keluar karena ada kelompok luar yang lebih banyak akan menyerang kesini, Pah.. hikss.."
Brigjen Endris sedikit tenang begitu mendengar ada yang menjaga kedua putrinya, namun bagaimanapun Ia harus segera mengambil tindakan untuk melindungi kedua putrinya.
"Oke, sekarang Kakak tenang. Cari tempat bagian terdalam pasar yang agak terlindung. Kalau bisa minta bantuan orang disana untuk menjaga kalian, mengerti ?"
"Iya, paah. Tapi, kakak takut. Banyak orang yang terluka disini.." Ujar Anna cemas dengan suara bergetar.
"Iya pah. Tapi, cepat yah Pah."
Selepas menerima telpon dari putrinya, Brigjen Endris bergerak cepat dengan menelpon Kapolres daerah selatan.
"Halo Bang. Tumben nih nelpon ?" Seperti biasa, sang Kapolres langsung menyapa duluan dan dengan cepat mengangkat telpon yang masuk begitu melihat nama yang tertera dilayar Hp-nya. Disamping karena jasa Brigjen Endris yang dulu banyak membantunya ketika masih aktif di kepolisian, juga karena mareka masih terbilang saudara sepupu.
"Rik, ada situasi darurat. Abang butuh bantuanmu." Ujar Brigjen Endris langsung pada pokok permasalahan, karena Ia tidak ingin membuang waktu sedikitpun.
Mendengar hal tersebut, AKBP Erik pun terlihat serius. Jarang-jarang kakaknya tersebut bicara seserius itu jika bukan karena ada permasalah genting yang sedang dihadapi dan membutuhkan bantuannya, "Ya Bang, apa yang bisa Kubantu ?"
"Kamu sudah dengar info tentang kelompok penguasa di Ibu Kota ?"
"Ya Bang, hari ini saya mendapat laporan ada pertikaian antara Kelompok Selatan dengan Kelompok Timur. Kelompok Selatan menyerang markas utama Kelompok Timur sebagai balasan karena Kelompok Timur menyerang salah satu daerah kekuasaan Kelompok Selatan dan membuat kekacauan disana. Tapi, Abang tau sendiri! Kami tidak bisa berbuat apa-apa kalau keempat kelompok besar itu berseteru, atau itu akan menimbulkan kerusuhan yang lebih parah. Jadi, Kami hanya bisa mengawasi saja."
Ada keheningan sejenak, karena Brigjen Endris sedikit terkejut dengan informasi baru tersebut dan coba menganalisa info dari AKBP Erik. Jika Kelompok Selatan menyerang markas Kelompok Timur, lalu bagaimana bisa sekarang markas utama mereka diserang saat ini? Apa Kelompok yang menyerang markas utama Kelompok Selatan saat itu adalah orang-orang dari Kelompok Timur yang sengaja ditugaskan menyerang markas utama Kelompok Selatan, jadi begitu tahu markas utama mereka pasti melemah karena sebagian besar dari mereka menyerang markasnya Kelompok Timur atau yang menyerbu saat itu dari kelompok lainnya yang sengaja memanfaatkan situasi, ibarat memancing di air keruh.
"Bang ? Kenapa Abang menanyakan hal itu ?" Tanya AKBP Erik memecah keheningan karena Brigjen Endris yang terdiam cukup lama.
"Kalau Kelompok Selatan saat ini menyerang Kelompok Timur, lalu siapa yang menyerang Pasar Tanah Kuda yang menjadi markas utama Kelompok Selatan saat ini ?"
"Maksud Abang, saat ini ada pertempuran lain yang terjadi di pasar tanah kuda juga ?"
"Iya.."
"Sebentar Bang.." Ucap AKBP Erik menahan handphonenya dan menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu informasi tersebut.
"Terus apa kaitannya dengan telpon Abang saat ini ?" Tanya AKBP Erik menjelang anak buahnya mencari tahu informasi yang disampaikan oleh kakaknya tersebut.
"Ponakanmu ada di pasar tanah kuda saat ini.."
"Astaga! Anna dan Silvi ? Bagaimana mereka bisa ada disana ?" tanya AKBP Erik tampak terperanjat.
"Nanti Aku ceritakan detailnya, sekarang aku benar-benar butuh bantuanmu untuk menyelamatkan mereka."
AKBP Erik sedikit terhenyak dengan permintaan Kakaknya, bukan tidak mau langsung meng-iyakan permintaan sang kakak. Tapi, permintaan itu terlalu berat baginya walau Ia adalah orang kepolisian nomor 1 di daerah selatan.
"Rik ?"
"B-baik Bang. Aku akan turun langsung memimpin tim untuk kesana." Walau terkesan berat, akhirnya AKBP Erik terpaksa menyanggupi permintaan sang kakak.
"Maaf Rik, harus merepotkanmu. Aku dan mbakmu akan balik ke ibu kota saat ini juga."
"Sudah, Abang tenang saja. Percayakan samaku. Aku akan usahakan yang terbaik." Ujar AKBP Erik menyakinkan.
"Thanks yah Rik."
"Siap Bang."
Tidak lama, ajudan AKBP Erik masuk memberi laporan dan membenarkan jika saat itu ada dua kelompok besar yang sedang bergerak menuju Pasar Tanah Kuda yang menjadi markas utama Kelompok Selatan. Semakin membuat pusing AKBP Erik, masuk begitu saja ke markas utama Kelompok Selatan sudah sangat berbahaya apalagi ditambah ada dua kelompok utama lainnya yang sedang siap berperang.