Bunian

Bunian
BAB 84



Bukannya kasihan mendengar rintihan tersebut, Rio justru semakin bersemangat dan semakin kuat menghentakkan bagian bawah tubuhnya keluar masuk.


Kali ini bayangan dikepalanya berubah tertuju pada gadis yang menyelamatkan Zaha, gerakan wanita tersebut terulang berulang kali di kepalanya. Tiba-tiba seringai kemarahan sebelumnya berubah jadi seringai penuh nafsu. Terlepas seperti apa wajah yang ada dibalik topeng tersebut, tapi kemampuan dan kelincahan bertarung wanita tersebut membuat nafsu Rio menjadi semakin memuncak.


"Ahhhkkk ahhkkkkk..."


Akibatnya Rio semakin mengganas menghentakkan bagian bawah tubuhnya keluar masuk pada liang kenikmatan lawan bercintanya, membuat si wanita tidak bisa lagi berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan kasar lawan bercintanya tersebut.


"Aaahhhhhkkkkkkkkk.."


Crooottt crooottt crooottttt


Kedua mata Rio sampai terpejam merasakan sensasi kenikmatan dari puncak percintaan tersebut. Yang ada dalam ingatannya, adalah wanita bertopeng yang bertarung dengannya sebelumnya. Seolah-olah Ia sedang ejakulasi dalam tubuh wanita bertopeng tersebut dan kenikmatan yang didapatkannya pun menjadi berkali-kali lipat dari yang pernah dirasakannya.


Tanpa sadar, ada sebuah senyum kecil terpampang diwajahnya.


"Bocah itu akan Kubunuh nanti dan akan Kudapatkan gadis bertopeng itu sebagai imbalannya." Gumam Rio dengan senyum jahatnya.


Lalu, Ia pun bangkit dari atas tubuh mulus yang sudah terbaring lemah tak berdaya dibawahnya.


Wanita yang menjadi lawan bercintanya tersebut ternyata sudah pingsan karena tidak sanggup lagi melayani nafsu besar Rio yang sudah seperti orang kerasukan tersebut.


"Lemah." Gumam Rio sambil meludahi wajah si wanita yang tidak sanggup melayani nafsu besarnya. Namun sebuah senyum jahat kembali terpancar dari wajahnya, sebuah senyum jahat yang penuh obsesi untuk mendapatkan wanita bertopeng misterius yang sanggup mengimbangi dirinya dalam bertarung tersebut. Belum-belum Ia sudah membayangkan bisa bercinta dengan gadis misterius tersebut, pasti akan jauh lebih nikmat rasanya, begitu pikir Rio.


***


Dikamar salah satu villa yang terdapat di pinggiran Ibu Kota, Anna yang masih penasaran dan ingin memastikan tentang kebenaran siapa Zaha yang sesungguhnya, kembali memberanikan dirinya untuk menemui Zaha secara langsung. Begitu melihat Hera pergi keluar Villa, Dokter Anna mengendap menuju kamar Zaha. Hera a.k.a Angel tidak memberi penjagaan khusus pada Anna, mungkin karena Ia berpikir Anna tidak mungkin berbuat macam-macam saat itu, sehingga hanya menempatkan satu orang kepercayaannya untuk berjaga diluar rumah.


Langkah Anna terlihat pelan dan ragu, jantungnya seakan berdegup kencang ketika langkah kakinya semakin dekat menuju pintu kamar tempat Zaha istirahat.


Klik


Bahkan tangannya dengan sedikit bergetar ketika membuka gagang pintu kamar. Begitu melihat Zaha yang terbaring dengan tenang diatas tempat tidur, jantungnya semakin berdegup kencang.


Berulang kali logikanya coba menyangkal jika remaja yang dilihat terbaring tenang itu adalah 'Zaha'nya. Berulangkali pula logika dan perasaannya seakan berpikir sebaliknya, perasaan yang sama hadir begitu saja ketika langkahnya semakin dekat dengan Zaha. Sebuah perasaan yang sama, ketika mereka dulu masih bersama. Bahkan getaran perasaan itu masih sama, perasaan penuh cinta dan kerinduan, walau fisik yang ada di depannya bukan lagi Zaha yang pernah dikenalnya.


Dokter Anna duduk dengan perlahan di sofa kecil yang terdapat disebelah tempat tidur, sofa yang sama tempat Hera duduk sebelumnya.


Sekali lagi, Anna coba menatap lekat wajah Zaha remaja. Ia coba mencari-cari alasan logis untuk menyanggah kalau remaja kurus itu bukanlah 'Zaha'nya.


"Lalu, ada apa dengan ekpresinya kala itu ? Cara bicara mereka juga sama, cara mereka melangkah juga sama."


"Tidak! mungkin itu hanya manifestasi dari perasaanku saja yang terlalu merindukannya."


Bathin Anna seakan saling bertolak belakang dan simpang siur. Satu sisi, sisi logisnya menyangkal jika remaja yang sedang terbaring didepannya adalah 'Zaha'nya. Disisi lain, perasaannya tidak bisa menyangkal sama sekali dan bisa merasakan jika pria yang sedang berbaring didepannya adalah 'Zaha'nya dulu.


Tangan Anna bergerak pelan mengenggam tangan kanan Zaha.


Cessssss


Bathin Anna seakan tersentak, seperti ada aliran listrik yang mengalir melalui genggaman tangan mereka. Tanpa sadar bibir Anna berucap lirih, "Za..."


Entah sebuah kesengajaan atau bukan, perasaan yang semula ragu sekarang semakin menguat dan berkata seolah orang yang sedang digenggam tangannya tersebut adalah benar 'Zaha'nya. Dadanya pun seakan sesak, setetes air mata keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


Sentuhan lembut tersebut seakan juga ikut mengalir melalui tangan Zaha yang sedang digenggam Anna.


Sreeekkk.


Jari-jari Zaha mulai bergerak membuat Anna terkejut sekaligus senang.


"Za, bangun sayang.." Ucap Anna lirih dengan air mata bahagia yang tanpa sadar mengalir semakin deras menyambut kesadaran 'Zaha'nya. Sekarang Ia begitu yakin kalau remaja tersebut adalah 'Zaha'nya, yang entah bagaimana caranya bisa terlahir kembali melalui sosok remaja didepannya.


Tubuh Zaha mulai bergerak perlahan dan gelisah yang menandakan kesadarannya mulai bangkit.


"Za, Kamu sudah sadar ?" Kata Dokter Anna dengan perasaan penuh kebahagiaan.


"Hmnn..." Zaha sedikit mengerang pelan lalu membuka perlahan kedua kelopak matanya. Dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Dokter Anna yang sedang menatapnya dengan penuh rasa cinta dan kerinduan mendalam.


Setelah Zaha sudah sadar sepenuhnya, Ia justru menatap heran dan sedikit meringsut kesamping begitu sadar ada Dokter Anna yang menatap begitu dekat dengan wajahnya.


"An-anda siapa ?" Tanya Zaha dengan wajah kebingungan seperti orang terkejut.


Deg


"Z-Za, Ka-kamu gak ingat Aku ?" Tanya Dokter Anna syok.