Bunian

Bunian
Bunian



Cici kembali menatap kearah Upik Raya, berbisik dalam hati, "Jika benar Abi menikahi wanita ini! Apakah aku akan kehilangan suamiku lagi!? Abi... bangun, Bi...!"


Cici mengusap lembut punggung Akmal, yang sudah tidak sedingin awal mereka bertemu.


Akmal tersadar, membuka matanya pelan, menatap kearah Cici. Istri yang sangat dia cintai, bahkan yang telah memberinya seorang putri cantik, secantik Mira.


"Ami...!! Aaaaugh... ini sakit sekali..." Akmal meraba bagian punggungnya yang terasa ngilu dan sangat sakit.


"Abi... Abi udah kembali... maafkan Ami, Bi...!" tangis Cici kembali pecah saat memeluk tubuh Akmal.


Upik Raya, yang menyaksikan kemesraan suami istri itu, membuang pandangannya dari perasaan aneh yang dia rasakan.


Datuk Mangkuto Malin menatap kearah Upik Raya, "Jadi baa? Wakatu kito ndak banyak, apo yang nio kau kecek-an?" (Jadi bagaimana? Waktu kita tidak banyak, apa yang ingin kamu katakan)


Datuk menatap lekat mata Raya yang semakin mendekati Akmal.


"Ambo nio mambaok Datuak Rajo Mudo ka Bunian! Kami nio baralek gadang, Tuak...!" (Aku ingin membawa Datuk Rajo Mudo ke Bunian! Kami mau mengadakan pesta besar, Tuk!) Raya mengucapkan kalimat itu dihadapan Cici.


Mendengar permintaan Raya, membuat Cici selaku istri menunduk pada wanita Bunian yang menginginkan suaminya.


"Jangan... tolong kasihani putriku! Aku akan melakukan apa saja, asal kamu tidak mengambil suami ku!" tangis Cici kembali pecah, membuat Sunna memeluk tubuh Cici yang masih terlihat lemah.


"Mak, tolong Cici! Tidak mungkin Cici akan kehilangan Abi Mira!" Cici merangkul lengan Sunna, yang masih memeluknya.


Datuk Mangkuto Malin dan Raya saling berbisik, meminta syarat jika dia harus meninggalkan Bunian, karena ini akan menjadi masalah besar bagi Datuk Rajo Omeh didunia yang lain.


Kembali Datuak Mangkuto Malin, memasuki dunia yang berbeda, melakukan ritualnya yang tampak semakin berat. Syarat yang diajukan sangat memberatkan bagi Akmal karena larangan yang dia lakukan beberapa waktu lalu.


Rahang Datuak Mangkuto Malin menggeram, gigi beradu seperti emosi yang tertahan, sehingga dia kembali mengalah untuk Akmal dan Cici.


Kembali Datuak Mangkuto Malin membuka matanya yang tertutup karena ritualnya, menatap kearah Cici dan Raya bergantian.


Akmal tengah dilakukan pemulihan secara keseluruhan oleh Sunna, wanita paruh baya yang memiliki ilmu untuk mengembalikan semangat bagi orang yang tersesat.


"Nak, manantu Datuak yang salah, manantu Datuak yang anggap remeh di lokasi ko! Jadi nio ndak nio, kamu harus membawa Raya ka kadiaman kalian sabagai bini di dunia alam yang ndak samo! Kok indak, Rayo nan ka mambao Akmal kini ko juo. Baa raso hati anak, Datuak?" (Nak, menantu Datuk yang salah, menantu Datuk yang anggap remeh di lokasi kami! Jadi mau tidak mau, kamu harus membawa Raya kekediaman kalian sebagai istri didunia yang berbeda! Kalau tidak, Raya akan membawa Akmal sekarang juga. Bagaimana rasa hati kamu anak ku?"


Datuk Mangkuto Malin, memberi pilihan pada Cici.


Mendengar permintaan, yang menurutnya tidak masuk akal, namun harus dia lakukan demi kebahagiaannya bersama sang suami, Cici kembali menatap wajah Upik Raya yang sangat sejuk dipandang mata, namun tidak dapat dilihat oleh mata orang lain didunia nyata.


"Apakah kamu menyayangi suamiku? Jika aku mengizinkan suami ku membawamu, apakah kamu tetap akan mengambil nyawanya, dan membawanya ke Bunian dunia kalian!?" Cici bertanya dengan suara bergetar, menahan gemuruh yang bergejolak didalam hatinya.


Cici menatap lekat kearah Akmal, "Apakah benar apa yang dikatakan wanita Bunian ini?" hanya pertanyaan itu yang bisa dia tanyakan pada suami tercinta.


Akmal mengangguk membenarkan, dia telah melakukan kesalahan di beberapa waktu lalu, saat melakukan perjalanan bersama sahabatnya Sony. Saat menghabiskan waktu di 'Bandrek Hause' yang terletak di kaki bukit, jalan lintas Riau-Sumbar.


Mereka melakukan perjalanan dimasa liburan yang membawa Mira dan putra kesayangan Sony, tanpa membawa Cici karena pekerjaan sang istri kala itu.


Mereka beristirahat dikelok sembilan, hingga sore, dan memilih kembali ke Pekanbaru karena hanya touring tanpa menginap.


Sejak Akmal membuang hajat, dibatu besar yang tidak diketahui oleh Sony dan siapapun saat itu, semenjak itu pula Akmal seperti menjadi pria yang pendiam, dan selalu menyendiri.


Perasaan-perasaan itu, tanpa dia sadari, sangat menggangu Cici sebagai istri karena kehadiran kereta kencana pada malam sebelum keberangkatan suaminya.


Cici kembali memeluk Akmal, bagaimana pun dia ingin suaminya tetap terus bersamanya. Ini merupakan suratan takdir, bagi Cici. Apapun dia harus menerima kenyataan walau pahit sekalipun.


"Jadi apa yang harus saya persiapkan?" Cici kembali bertanya menatap kearah Datuk dan Sunna terakhir pada Raya.


Datuak Mangkuto Malin memberi pilihan, "Kok iyo anak Datuak nio mambaok Upiak Rayo ka kahidupan kalian, kito akan melakukan pernikahan didunia nyato! Awak baralek gadang disiko pas hari kasambilan. Tapi sebagai permintaan Datuak Rajo Omeh, diambiak sesuatu dari cicit Datuak anak kalian, Mira!" (Kalau iya anak Datuk mau membawa Upik Raya kedalam kehidupan kalian, kita akan melakukan pernikahan didunia nyata! Kita pesta besar disini, saat hari kesembilan. Namun, sebagai permintaan Datuak Rajo Omeh, diambil sesuatu dari cicit Datuk, anak kalian, Mira!)


Kalimat permintaan dari Datuk Rajo Omeh, sangat memberatkan bagi Cici. Namun apalah daya, Cici harus mengambil keputusan demi menyelamatkan sang suami belahan jiwa dunia akhiratnya.


"Untuk apa, Datuk? Bukankah, Cici sudah berusaha menerima Raya sebagai istri Abang didunia mereka!?" Cici kembali menangis.


Datuak Mangkuto Malin kembali menjelaskan, "Itu sebagai permintaan dari Datuak Rajo Omeh, karena kau alah mancaliak Kerajaan Omeh sacaro nyato melalui mato batin Mira anak, awak." (Itu sebagai permintaan dari Datuak Rajo Omeh, karena kamu telah melihat Kerajaan Omeh secara nyata melalui mata batin anakmu Mira)


Cici menyandarkan tubuhnya pasrah, di pinggir dipan kayu tempat peristirahatan mereka saat ini.


Begitu berat, apa yang akan dialami Mira putri kasayangan, rasanya tidak adil. Cici kembali menatap kearah Raya, "Apakah putriku akan cacat?" suaranya seakan tidak terima dengan persyaratan yang sangat memberatkan baginya sebagai seorang ibu dan istri.


Raya menggelengkan kepalanya, "Anak kito indak akan cacat saumua hiduik, inyo hanya ndak bisa mengecek hingga usia 17 tahun!" (Anak kita tidak akan cacat seumur hidupnya, dia hanya tidak bisa bicara hingga usia 17 tahun)


Mendengar hal itu, Cici kembali menangis sejadi-jadinya. Ibu mana yang rela membuat putri kesayangan tidak bisa bicara, perjanjian apa ini? Apakah ini perjanjian dengan makluk Bunian tak kasat mata?


_____


Salam hangat Author...


Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan komentar dan like, untuk memberikan semangat baru pada Author pemes seperti saya.