
Ke-duanya mendarat di kota metropolitan. Tampak kedekatan mereka berdua semakin membuat penasaran diantara dua insan yang tak henti-hentinya saling bercerita dan menyapa.
Ujang tampak tersenyum sumringah, saat Desy menatap lekat manik mata pria hitam manis tersebut agar ikut bersamanya.
"Abang mau kemana? Kenapa enggak nginap di apartemen ku saja?" tanya Desy dengan manja.
Ujang menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin terlihat nakal, walau ada pikiran seperti itu. Namun, kembali teringat akan misinya ke kota itu adalah untuk meminta bantuan pada pihak kedutaan mencari keberadaan istri tercinta. Dia tidak ingin Desy mengetahui sebelum gadis muda itu yang bertanya.
Mereka berpisah, Ujang menuju satu hotel bintang lima di tengah kota lebih dekat dengan kedutaan Jepang tempat yang akan dia kunjungi esok hari.
Tentu Desy sedikit kecewa, karena berharap pria itu mau menginap di apartemen milik keluarganya, agar mengetahui tentang pria dingin seperti Ujang.
Ujang berlalu dengan langkah sigap, sebelumnya dia memberikan beberapa lembar uang pada Desy, untuk keperluan gadis itu saat mereka akan bertemu kembali esok atau lusa.
Desy yang awalnya menolak, karena tidak ingin dianggap sebagai wanita yang tidak benar, tapi terpaksa menerima karena Ujang menyelipkan di kantong celana gadis itu.
Dalam bayangan Ujang masih terbayang wajah cantik Mori sang istri. Kemana dia? Apa yang dia lakukan sehingga dia menghilang? Apa sebenarnya yang terjadi?
Mata Ujang tertuju pada satu artikel yang terletak di dalam sarung jok taksi yang dia tumpangi.
Wajahnya tampak memerah, tubuhnya bergetar hebat, saat membaca 'kampung halamannya hangus terbakar empat tahun lalu'.
"Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Bukankah aku baru meninggalkan kampung halaman atas izin, Amak?" tanyanya dalam hati.
Apakah Amak yang melayaninya seorang hantu? Jin yang berupa manusia? Atau apa?
Sontak semua artikel yang Ujang baca, dia sobek untuk menanyakan pada orang yang mengetahui seluk beluk daerahnya.
Kenapa tak seorangpun mau memberi kabar padanya? Kenapa semua orang enggan menyapanya kala itu? Kenapa travel yang dia sewa dari bandara internasional Padang mengantarkannya hingga sampai di depan rumah gadang yang hampir roboh tersebut?
Jemari tangan Ujang tampak menggigil karena tidak percaya atas apa yang dia baca. Ini tidak mungkin, tidak mungkin kampung halaman nya hancur terbakar. Ini hoax yang beredar, agar tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah atas kemiskinan daerah tersebut, hanya itu yang ada dalam benaknya.
Bergegas Ujang menghubungi Desy, gadis Minang yang satu tujuan dengannya.
"Dia pasti mengetahui tentang ini!" geram Ujang dengan wajah tak setampan tadi.
Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, bahkan lebih buruk. Ujang tak kalah kalud saat membaca berulang-ulang artikel yang ada dalam genggaman.
Desy sama sekali tidak menjawab panggilannya, dia tampak semakin bingung. Bahkan tidak mampu berfikir jernih, "Dimana gadis itu? Apakah dia mengetahui tentang semua ini? Jika ini sudah menjadi rahasia umum, pasti Desy mengetahui nya."
Ujang meminta pada sopir taksi untuk mencari apartemen yang Desy sampaikan tadi saat berada di bandara.
Sesekali dia juga menanyakan kebenaran dengan apa yang dia baca.
"Apa Bapak tahu tentang artikel ini?" tanya Ujang memastikan pada driver taksi.
Sopir taksi hanya bisa melirik sedikit, karena masih fokus dengan stir kemudi, "Itu hanya artikel, Mas! Palingan juga hanya sebatas informasi yang belum tahu kebenarannya. Tapi itu semua sudah lama, mungkin sebelum saya mengemudikan mobil ini," jelasnya.
Ujang mengangguk mengerti, namun dia tampak semakin penasaran karena ingin mengetahui lebih banyak tentang kampung halaman yang benar-benar sudah tidak ada.
"Apakah Amak dan Apak hanya makhluk tak kasat mata yang menyerupai manusia? Apa yang aku lihat itu benar? Ataukah aku seperti orang yang benar-benar tidak mengetahui tentang kampung ku sendiri? Bagaimana nasib istriku? Apakah benar bunian yang Amak sampaikan padaku itu nyata?"
"Ooogh Tuhan.....!!"
Ujang meremas kuat rambutnya, merasa tidak nyaman karena telah meninggalkan istri tercinta disana. Timbul penyesalan dalam hatinya, dengan apa yang sedang menimpa kehidupannya sendiri.
Ujang menangis sejadi-jadinya, dia ingin kembali, namun tidak ada seorangpun yang bisa diajak untuk berdiskusi mengenai kejadian itu. Dia hanya terus menghubungi Desy, berharap gadis itu akan segera mengangkat panggilan telepon darinya.
Ujang diantar ke sebuah hotel bintang lima, yang diapit gedung-gedung mewah pencakar langit. Jika orang mengetahui siapa dirinya, mungkin mereka akan meminta bantuan dana atau bahkan mengajak untuk bekerja sama.
Namun, bukan itu tujuan Ujang tiba di kota metropolitan tersebut, dia hanya ingin mencari keberadaan Mori istrinya. Pewaris kekayaan keluarga Edogawa yang menjadi putri tunggal yang sangat kaya.
Saat Ujang masih memesan kamar terbaik disana, kala itu juga handphone miliknya kembali menyala.
["Ya....!"]
["Maaf, Bang. Aku tadi masih di jalan. Ada apa Abang menghubungi, aku?"]
Ujang sedikit melirik kearah yang lain, menyesiasati sekelilingnya agar tidak mendengar semua obrolannya.
["Desy, bisakah kamu menemani aku malam ini? Jika mau, aku akan mengirim kan alamat ku, dan meminta pihak hotel untuk menjemput mu!"]
Ujang seperti memohon, karena dia benar-benar membutuhkan teman untuk berbagi saat ini.
["Baik Bang! Dengan senang hati, Abang menginap dimana? Apakah jauh dari apartemen ku?"]
["Hmm, nanti pihak hotel akan menjemput mu! Aku membutuhkan mu malam ini, banyak hal yang harus kita bicarakan!"]
Ujang menutup telfonnya, karena tidak ingin melanjutkan obrolan melalui saluran telepon.
Baginya, dia sangat menjaga privasi keluarga Mori, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada keselamatannya.
Bisa saja keluarga Mori mengetahui keberadaan Ujang saat ini, karena dia masih menggunakan nomor telepon yang biasa mereka gunakan selama disana.
Ujang menghela nafas panjang, wajahnya sedikit lebih tenang setelah mendapatkan kabar dari Desy. Hanya secercah harapan yang bisa dia harapkan dari gadis bernama Desy, untuk menemukan keberadaan Mori.
Ujang meminta agar pihak hotel menjemput Desy, dan membawa gadis itu dalam pengawasan ketat. Bagaimana pun, dia harus menjaga identitas pribadi dan keluarga istrinya agar tidak menjadi pusat perhatian, hingga memberi kabar pada Edogawa San atas kehilangan putri kesayangan mereka.
Ujang menikmati keindahan malam melalui jendela yang sengaja dia buka, agar dapat menenangkan akal dan pikirannya.
Sesekali matanya tertuju pada foto Mori yang ada dilayar handphone, sehingga dia mendengar suara bel berbunyi.
Ujang mengalihkan pandangannya, bergerak menuju pintu kamar, mengintip dari lubang kecil yang tersedia, "Syukurlah gadis itu akhirnya datang untuk menemani aku!"
Perlahan Ujang membuka pintu kamar, tampak dua orang security yang menemani Desy.
Ujang melihat penampilan Desy sama persis seperti Mori, istrinya yang hilang, dan belum diketahui keberadaannya, "Kenapa dia lebih mirip istriku?" batinnya.
"Mori....!?"