
"Kalau begitu tidak ada yang perlu kita tunda lagi, semua sudah setuju jika King akan menjadi pimpinan aliansi ini."
"Tidak-tidak! Ini bukan lagi aliansi, karena kita sudah sepakat untuk bergabung maka hanya akan ada satu organisasi disini."
"Benar, setelah ini tidak ada lagi Kelompok Selatan, Barat, Utara ataupun Timur."
"Iya, Aku setuju. Sekarang yang perlu dipikirkan apa nama organisasi kita ini nantinya?"
"Nama organisasi ini harus menakutkan dan kalau perlu akan membuat gentar siapapun yang mendengarnya."
Semua orang sibuk dengan idenya masing-masing dan terlihat sangat bersemangat dengan bersatunya empat Kelompok Genster besar ibu kota ini. Bergabungnya empat Kelompok besar ini juga menandai kembalinya kekuatan besar yang dulu pernah berkuasa, karena pada dasarnya mereka semua berasal dari satu kekuatan sebelum memisahkan diri menjadi empat kelompok besar seperti sekarang.
Melihat semua petinggi dari pecahan empat kelompok besar begitu antusias membentuk kembali organisasi awal mereka dulu, membuat Zaha tidak banyak berkomentar.
Semua orang sudah membulatkan satu suara dengan menunjuknya sebagai pemimpin mereka. Ini berbanding terbalik dengan tujuan awalnya datang ke markas yang sudah lama tidak didatanginya itu.
"Senior sekalian, maaf jika saya lancang memotong pembicaraan ini." Ucap Zaha menghentikan diskusi yang tengah hangat. Semua orang disana langsung diam dan melihat kearahnya, begitu King sudah bersuara.
Sudah diakuinya King sebagai pemimpin secara mutlak oleh semua orang, membuat tidak ada seorangpun yang berani mengacuhkannya begitu King sudah angkat suara.
"Saya paham dengan keinginan para senior semua. Namun sebelum kita sampai pada topik itu, ada satu masalah yang membuat saya kembali hari ini."
Cak Timbul dan yang lainnya saling lirik, seakan mereka sudah paham dengan apa yang akan disampaikan oleh King.
"Ini, tentang Chintya. Semuanya tentu sudah tahu jika kita memiliki persetetruan dengan Ryo, putranya Abdi Batubara baru-baru ini."
"Meski saya tidak pernah memberitahukan tentang hal ini pada siapapun, alasan kenapa konflik dengan keluarga Abdi Batubara bisa terjadi. Saya rasa, banyak diantara kalian yang sudah tahu masalah sebenarnya antara saya dengan keluarga Abdi Batubara, utamanya dengan dua putra Abdi, Roy dan Ronal." Lanjut Zaha tenang dan berhenti sejenak sambil melihat reaksi dari semua orang.
Rata-rata dari mereka menganggukkan kepala tanda paham masalah apa yang dimaksud oleh Zaha, tanpa Ia perlu menyebutkannya secara detail. Karena itu termasuk aib yang menimpa kakak perempuannya dan semua orang juga setuju untuk tidak membicarakan masalah itu secara terbuka.
"Kemarin, Chintya diculik dan Ryo, putra Abdi Batubara. Mereka juga sudah mengakui jika orang merekalah yang telah menculik Chintya. Tujuannya jelas, untuk memancingku keluar dan menghadapi mereka seorang diri."
Sampai disini, semua orang tampak menghela nafas berat. Semua orang tampak sibuk dengan pemikirannya sendiri-sendiri.
Cak Timbul berkata, "King, kami sudah mendatangi rumah utama mereka. Tapi, sayang Abdi Batubara dan komplotannya sudah tidak lagi berada disana. Mereka melarikan diri karena tahu mereka bukanlah tandingan kekuatan kita."
"Saran saya, sebaiknya King tidak usah menanggapi tantangan seperti ini. Jika mereka memang memiliki keberanian, seharusnya mereka datang kesini secara jantan. Bukan dengan cara pengecut seperti ini." Lanjut Cak Timbul dengan mata berkilat. Masalah King adalah masalahnya dan juga masalah semua orang di Kelompok mereka saat ini.
Berani mengusik King, tentu sama halnya dengan mengusik mereka semua. Bagaimana mereka tidak marah?
"Iya, saya setuju. Ini jelas jebakan yang telah mereka siapkan untuk anda, King. Sebaiknya kita abaikan saja." Sahut Komar ikut berkomentar.
"Lagian, dia cuma putrinya si Chintung. Orang ini bahkan pernah membuat anda susah dulunya, King." Sahut Padri yang tahu awal mula cerita Zaha sampai sebeum Ia menjadi ketua di Kelompok Selatan.
"Iya, benar! Sebaiknya kita abaikan saja. Nyawa gadis itu tidak sebanding dengan keselamatan anda, King." Sahut yang lainnya.
Rata-rata mereka memiliki pendapat yang sama dengan Nia, mereka semua tidak setuju jika King pergi menyelamatkan Chintya.
Saat mereka sedang asik berbicara, seseorang dari kelompok Utara dan mantan anggotanya Kobra keluar dari ruangan. Mungkin tidak ada yang menyadarinya, karena semua orang sibuk dengan pembahasan tentang Chintya.
Namun, Zaha sempat meliriknya.
Pria yang tadi sempat dilihat oleh Zaha sebelumnya, berjalan keluar dengan diam-diam.
Ia melirik keluar ruangan beberapa saat, saat dirasa sekelilingnya aman Ia berjalan menjauh menuju suatu tempat.
Bug.
Saat pria tersebut akan berbelok menuju ruangan lain, Ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang kebetulan juga sedang berjalan ke arahnya.
"Hmn, Virangel?" Ucapnya sedikit gugup.
"Oh, Bang Jafar. Maaf, Aku tidak melihatmu. Abang sepertinya sedang terburu-buru?"
"Oh, kukira Abang dan yang lainnya masih berkumpul didalam."
"Hmn, iya. Cuma sedang diskusi ringan saja, bukan sesuatu yang penting."
"Abang pergi dulu, sebentar lagi kembali ke dalam." Lanjut Jafar menambahkan.
"Baiklah, nanti kalau ada yang bertanya akan saya sampaikan." Balas Virangel lalu pergi menuju salah satu ruangan. Disana telah berkumpul beberapa pemimpin muda dari kelompok selatan dan aliansi mereka saat ini.
Merasa tenang karena melihat Virangel sudah pergi, Jafar pergi menuju salah satu sudut ruangan yang tampak sepi dan Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.
...
Tidak lama, Jafar kembali ke dalam ruangan tempat para petinggi berkumpul.
Hiukali yang melihat kedatangannya, langsung menyambutnya dengan setengah bercanda, "Jafar, kemana saja kamu? Kamu hampir saja melewatkan berita penting hari ini."
Sudut mata Jafar langsung berkedut, Ia tampak penasaran mengetahui apa yang telah dilewatkannya. Namun Ia berusaha untuk bersikap biasa, "Sepertinya aku telah melewatkan sesuatu yang penting disini. Tadi saya harus keluar karena kebelet buang air kecil."
"Ah, bagaimana kau ini, Jafar. Masa tidak bisa manahan buang air saja barang sebentar, hahaha." Ucap Kobang menimpali dan membuat semua orang tertawa.
"Apa yang kamu bawa itu Jafar?" Tanya Komar melihat Jafar membawa sebuah bungkusan ditangannya.
"Oh ini, ada anak buahku yang memberikannya barusan saat . Katanya, ada kurir yang memberikan ini untuk dititipkan pada King." Melihat semua orang tertarik dengan paket yang dibawanya, membuat Jafar tidak jadi menanyakan pada Hiukali tentang informasi apa yang telah dilewatkannya.
Mendengar itu semua orang tampak tertarik dan mengalihkan pandangannya pada Jafar dan bungkusan yang dibawanya.
"Bawa sini! Coba kita periksa."
Cak Timbul menerima bungkusan tersebut sebelum memberikannya pada Zaha. Ternyata bingkisan itu berisi sebuah flash disk.
"Flash disk?" Ucap banyak orang yang penasaran dengan isi dalam flash disk tersebut.
Namun melihat cara flash disk tersebut dikirimkan, semua orang sudah bisa menebak jika itu pasti ada hubungannya dengan Abdi Batubara. Tentu saja, banyak diantara mereka yang tidak suka dan bahkan menyarankan untuk tidak membuka isi flash disk tersebut. Tapi ada juga sebagian dari mereka yang tertarik untuk mengetahui apa isi dalam flash disk tersebut.
Tujuan mereka sederhana, bisa mengetahui keberadaan Abdi Batubara dan kelompoknya. Lalu mereka akan menyambanginya langsung dan memusnahkan mereka untuk selamanya, agar tidak lagi menganggu ketenangan King.
Zaha tersenyum tenang, lalu berkata pada Jafar, "Terimakasih telah membawakan ini, Bang Jafar."
Jafar terkekeh senang mendapat perlakuan yang begitu sopan dari Zaha, "Jangan sungkan pada saya, King. Ini.. hanya pekerjaan kecil."
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya merasa kurang enak badan hari ini. Tapi, saya dan seluruh kelompok utara sangat antusias tentang penggabungan semua organisasi kita, biar kita menjadi lebih kuat." Ucapnya dengan kalimat yang begitu manis.
Semua orang disana mengangguk setuju dan senang menanggapi kalimat Jafar.
Zaha hanya tersenyum tenang begitu melihat Jafar dan satu orang mantan petinggi kelompok utara lainnya beranjak pergi.
Disaat melangkah pergi, Jafar menyunggingkan senyum tipis.
Namun, begitu membuka pintu Ia dikagetkan dengan kehadiran Acera dan beberapa orang lainnya yang telah berdiri dibalik pintu.
Tanpa berkata apapun, Acera melayangkan sebuah tendangan lurus dan tepat menghantam dada Jafar dan satu tendangan lainnya dari Sam yang turut menghantam teman Jafar disebelahnya.
Baammm Baammmm
Saking cepatnya serangan tersebut, membuat Jafar dan temannya tidak sempat bereaksi. Keduanya jatuh terhempas diatas lantai.
Tindakan tiba-tiba tersebut, jelas saja mengejutkan semua orang yang berada didalam. Tidak ada yang menduga jika para pemimpn junior seperti Sam dan Acera akan berbuat seperti itu dan dibelakang mereka sudah berdiri beberapa pimpinan junior lainnya.
Apa tujuan mereka?
"Siapa yang mengijinkan kalian bisa pergi begitu saja?" Tanya Acera dengan senyum dingin diwajahnya.