
"Jangan bilang kalau Kakak olahraganya sambil dorong motor yah ?"
"Emang iya."
"Eh, Kakak serius ?" Tanya Chintya kaget seakan tak percaya.
"Udah, pegangan yang kuat." Aku mulai mendorong motornya.
"Loh loh, eh Kaaak." Teriak Chintya kaget begitu motornya mulai berjalan karena doronganku dari belakang.
"Hoss hoss hosshh."
Aku sengaja memakai motor Chintya sebagai alat bantu untuk latihan, dengan begitu berat pakaian ini tidak terlalu bertumpu pada tubuhku, sebagiannya bisa kusalurkan pada daya dorong motornya Chintya. Sehingga tubuhku hanya menanggung beban 70 persen saja. Tapi, meskipun begitu, otot-otot tubuhku seakan mau meledak.
Kakiku bahkan terasa mulai gemetar karena berat berlebih dari pakaian ini, nafasku bahkan terasa mulai berat karena beban yang Kurasakan.
"Kak Zaha, istirahat dulu aja. Wajahnya dah memerah tuh." Ujar Chintya mengingatkan.
"Hosshh hosshh, udah, gak apa-apa.. haahh.. haahh.. udah dekat nih."
"Kakak dah capek banget loh itu. Lagian kenapa Kakak harus memaksakan olahraga dengan pakaian seperti itu ?" Tanyanya khawatir.
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Chintya, bukannya tidak mau menjawab. Tapi, nafasku sudah sangat berat rasanya. Bisa-bisa jantungku meledak kalau begini ceritanya. Chintyapun jadi tidak bertanya lagi, mungkin dia kasihan melihatku yang kepayahan tapi tetap memaksa mendorong motornya dari belakang.
Untunglah, sekolahku sudah mulai terlihat. Aku coba memaksakan kakiku untuk bergerak lebih cepat, walau terlihatnya seperti orang yang sedang berjalan. Padahal Aku sudah sangat kepayahan untuk menggerakan tubuhku saat ini.
Begitu sampai depan sekolah, betapa lega rasanya. Badanku serasa lengket, karena keringatku yang membanjiri pakaian ini dari dalam.
"Nih Kak." Chintya mengulurkan tabung minumannya.
Gluk gluk gluk.
Saking hausnya, Aku bahkan sampai menghabiskan satu tabung minumannya Chintya.
"Hah hahh, Makasih yah Tya." Ujarku sambil mengembalikan tabung minumnya.
Chintya malah langsung terdiam dengan wajah menunduk. Kukira Ia marah karena minumannya kuhabiskan.
"Maaf, jadi habis minumnya." Ucapku merasa tidak enak. Aku berencana membeli minuman setelah ini, untuk mengganti minumannya Chintya.
"Tya." Panggilku sekali lagi, karena dia masih saja menunduk sambil senyum-senyum kecil dengan wajah tersipu malu.
"Tya.." Ucapnya lirih sambil menatapku dengan malu-malu.
Loh, anak ini kenapa yah ?
"Maaf yah dah ngabisin minumannya. Tar Aku ganti minumnya."
Chintya menggelengkan kepalanya, "Gak usah diganti Kak. Tadi.. hmnn Kakak memanggilku Tya."
Loh, emang ada salah dengan panggilanku ? Namanya Chintya, terus kalau Aku memanggil nama belakangnya saja, salah apa yah ?
"Ada yang salah dengan panggilanku ?" Tanyaku heran.
Chintya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Cuma Kakak yang manggil Aku Tya loh. Biasanya teman-teman dan Keluarga manggilnya Chintya atau 'Cin' aja."
"Hehehe, salah yah? Ya udah, Aku manggil 'Cin" juga kalau begitu."
"Eh, jangan-jangan! Aku suka Kakak memanggilnya begitu. Serasa istimewa, xixixi." Ucapnya malu-malu.
"Ya sudah, sini tasnya. Mau salin dulu. Kamu masuk kelas dulu aja. Sekali lagi, makasih atas bantuannya. Hehehe." Ucapku mengambil tas dari tangannya lalu berjalan meninggalkan Chintya. Tujuanku ke kantor Satpam sekolah dulu, dan ganti pakaian disana. Chintya sendiri tidak langsung pergi, tapi malah menatapku sambil senyum-senyum.
"Kak." Panggilnya agak keras.
"Besok Tya jemput lagi kayak tadi yah ?"
Aku mengangkat jempol mengiyakan. Tapi, ketika jalan Aku jadi terpikir dengan rencanaku. Astaga! Aku seharusnya menghindarinya dan juga siapapun untuk saat ini. Saat ini lagi tidak aman. Bagaimana jika seandainya musuhku sudah tahu siapa Aku, bukankah itu akan berbahaya bagi siapapun yang dekat denganku ? aduhh, pikir nanti saja lah. Saatnya ganti pakaian ini dulu, sebelum telat masuk ke kelas.
"Darimana King ? kok gak pakai pakaian Sekolah ?" Tanya Pak Kari, satpam sekolah.
Jangan heran, kenapa satpam sekolah ini sampai memanggilku dengan panggilan King. Sekolah ini secara teritory masih masuk daerah selatan. Dan Pak Kari, dulunya juga preman yang menjadi bagian dari kelompokku. Dan baru setelah berkeluarga lima tahun belakangan ini, Ia tobat dari dunia premanisme dan menjadi satpam di Sekolahku. Jadi, sedikit banyaknya Ia jadi tahu tentangku.
"Iya Pak. Sambil olahraga. Numpang salin yah Pak."
"Silahkan King. Mau ngopi dulu gak nih ?"
"Bisa gak masuk kelas kalau ikut ngopi dulu Pak, hehehe."
Aku ganti pakaian dalam ruangan yang biasanya dipakai buat istirahat atau menginap satpam.
Tangan dan kakiku sampai gemetaran begitu melepas pakaian khusus ini. Bahkan urat-urat di kaki dan tanganku sampai terlihat menonjol keluar, karena saking beratnya beban pakaian ini. Tapi anehnya, begitu Aku melepaskan semua pakaian ini, tubuhku terasa jauh lebih ringan, walau otot-otot tubuhku memerah dan terasa agak keram dan sakit.
Aku terpaksa menitipkan pakaian ini ke Pak Kari. Lagian Aku tidak mungkin harus membawanya sampai ke dalam kelas, apalagi pakaiannya seberat ini. Pak Kari sendiri sampai terheran-heran melihat pakaianku. Ketika coba mengangkatnya, "Daritadi, King memakai pakaian ini sambil berlari ?" Tanyanya seakan tak percaya.
"Iya, Pak. Aku titip dulu yo. Tar Aku bawa kembali pas pulang." Ujarku kalem sambil meninggalkan pos satpam. Tidak kupedulikan lagi tatapan heran dari Pak Kari, lagian kalau dijelaskan bakal panjang ceritanya. Yang ada, Aku bisa gak jadi masuk kelas nantinya.
Saat berada dilantai dua, jalan menuju kelasku. Tampak Anna sudah menantiku dengan tatapan kemarahannya.
Loh, kenapa lagi nih Anak ? bukannya kemarin dah baikan, kenapa sekarang dia terlihat marah begitu ?
Tapi, begitu Aku mendekat kearahnya. Tatapan Anna jadi berubah, sekarang Ia malah terlihat khawatir menatapku.
"Astaga, kenapa tanganmu sampai memerah begitu Za ?" Mata Anna sampai berkaca-kaca melihatku.
"Oh ini, tadi habis olahraga. Kepanasan akibat matahari pagi." Jawabku sekenanya.
"Eh, Kukira Kamu marah tadi."
Dia justru kembali sewot begitu mendengar pertanyaanku, nyesal! Seharusnya Aku gak mengingatkannya.
"Iya, Aku masih marah. Kenapa Kamu malah jalan bareng nenek lampir itu tadi ?" Cecar Anna kembali galak.
Nenek lampir ? maksudnya Chintya toh ?
"Chintya ?" Tanyaku untuk lebih meyakinkan.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Lagian kenapa Kamu harus jalan sama dia sih Za ?" Tanya Anna tampak tidak suka dengan kedekatanku dengan Chintya.
"Kebetulan saja, tadi ketemu dijalan. Yah sekalian bareng kesininya." Ucapku beralasan.
Anna masih terlihat cemberut, "Besok, Aku yang akan menjemputmu. Awas, gak boleh nolak."
Anna lama-lama malah terlihat seperti Angel, suka banget memaksa.
"Ya udah, yuk ke kelas!" Ujar Anna sambil mengandeng lenganku.
"Sshh."
"Eh, kenapa? Sakit yah Za ?" Tanya Anna khawatir begitu melihatku meringis kesakitan.
"Gak apa-apa Na. Hanya sedikit keram saja." Jawabku sengaja berbohong. Otot tubuhku serasa masih tegang dan sensitif, bahkan sentuhan lembut tangan Anna tetap saja terasa sakit.
"Awww."
Anna malah sengaja menekan lenganku sedikit lebih keras.
"Tuh kan, Kamu bohong. Olahraga apaan sih sebenarnya Kamu Za ? Sampai harus maksa diri kayak begini! Kamu gak sayang diri apa? Bla bla bla..." Anna terus mengomel sambil mengandeng pelan tanganku kembali menuju kelasku. Anna seperti sengaja menunjukan kedekatannya denganku, kayaknya Aku perlu belajar lagi memahami makhluk yang namanya wanita nih.