Bunian

Bunian
BAB 103



Semua orang menatap penuh tanya pada Sam dan Acera karena telah menendang Jafar yang notabene merupakan mantan petinggi di Kelompok Utara. Jelas saja sikap mereka menjadi tanya tanya besar, karena bagaimanapun sikap keduanya menunjukkan sikap yang tidak hormat pada senior.


Belum lagi, aksi mereka berdua didukung oleh para elit generasi muda lainnya yang dengan kompak berdiri dibelakang mereka. Apa mereka sengaja berkonspirasi untuk menunjukan sesuatu hal? Atau mereka memiliki konflik sendiri dengan Jafar dan rekannya.


Disisi lain, beberapa petinggi dari kelompok Utara yang saat itu masih berdiri dalam ruangan, menunjukan ekspresi tidak senang. Bagaimanapun, Jafar adalah rekan mereka.


Meski mereka merupakan pihak yang kalah setelah ditundukkan oleh serangan gabungan tiga aliansi kelompok gengster terkuat ibu kota tersebut. Namun, dengan bergabungnya mereka menjadi bagian dari aliansi sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan niat tulus mereka untuk menjadi bagian dari aliansi besar ini. Namun, Sam dan Acera terlebih dahulu menyerang Jafar. Sebagai sesama petinggi di Kelompok Utara sebelumnya, jelas saja mereka tidak bisa diam begitu saja.


Salah seorang petinggi Kelompok Utara secara spontan menunjukkan protesnya, "Apa maksudnya ini? King, kami sudah secara sukarela bergabung kedalam aliansi. Kenapa para elit junior anda menyerang kami?"


Jafar dan teman disebelahnya memegangi dadanya yang sakit akibat terkena tendangan keras dari Sam dan juga Acera. Mendengar ada yang membelanya, Jafar juga turut bersandiwara dan menunjukkan keberatannya.


"Benar! Kami telah secara sukarela bergabung kedalam aliansi. Kenapa kami diperlakukan seperti ini? Apa karena kami adalah pihak yang ditundukkan, sehingga bisa diperlakukan dengan semena-mena seperti ini?" Pertanyaan Jafar seperti menambahkan bara ke dalam api dan semakin membuat panas suasana dalam ruangan.


Sebagai kelompok Gengster, tentu saja mereka menjunjung tinggi sikap kesatria yang jujur dan adil. Tampak dari eskpresi semua orang dalam ruangan yang rumit, mereka mengalihkan tatapan pada Zaha, seakan menunggu Zaha untuk memberi penjelasan dan mengambil tindakan yang adil.


Beberapa petinggi dari Kelompok Selatan sebelumnya, seperti Cak Timbul, Kobang, Hiukali, Cak Nawi, Jarwo juga tampak tidak senang. Jika tindakan semena-mena itu dilakukan atas inisiatif para junior mereka, maka mereka pasti akan mengambil sikap dengan memberi pelajaran pada mereka semua.


Namun mereka tidak berani mengambil tindakan langsung, karena bagaimanapun Zaha adalah ketua mereka. Mereka menunggu keputusan King yang sampai detik itu, masih terlihat begitu tenang seakan tidak terganggu dengan tindakan berani para elit junior.


Melihat tidak ada respon dari King, namun semua orang sudah mulai tampak tidak sabar dan ikut membelanya, Jafar kembali berkata, "King, saya meminta keadilan untuk tindakan tidak terpuji oleh elit junior anda. Atas nama bersatunya semua aliansi dan kelompok kita yang baru, saya meminta anda menegakkan keadilan untuk saya."


"Benar, kita tidak bisa membenarkan tindakan semena-mena seperti ini terjadi. Seorang junior harus menunjukan respek dan menghormati seniornya." Sahut yang lainnya.


"Iya, itu benar! Bagaimanapun kita adalah satu keluarga sekarang. Bagaimana kita bisa membiarkan ketidak adilan terjadi tepat didepan mata kita seperti ini?"


"Ya, harus ada penjelasan yang adil tentang sikap arogan seperti ini."


"Mereka berdua harus dihukum karena telah lancang pada seniornya."


"Tidak hanya mereka berdua, sepertinya pada elit muda lainnya juga ikut terlibat dan mendukung tindakan ini. Siapa saja yang terlibat harus mendapat hukuman yang sama."


Suasana dalam ruangan mulai panas dan banyak saling adu argumen yang terjadi. Intinya, mereka tidak membenarkan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Acera dan Sam. Keduanya serta siapapun yang terlibat harus dihukum.


Sudut mata Jafar tampak berkilat terang, Ia senang semua orang membelanya.


Virangel yang sudah tidak tahan akhirnya maju ke depan, Ia berkata, "Maaf jika tindakan ini menganggu para senior semua."


"Sam dan Acera bertindak bukan tanpa alasan, mereka berdua sudah melakukan tindakan yang tepat."


"Menyerang senior secara tiba-tiba, kalian sebut sebagai tindakan yang tepat? Apa kalian tidak pernah diajarkan bagaimana cara menghormati senior dengan benar?" Dengus kesal rekan Jafar yang sebelumnya ditendang oleh Sam menyela dengan nada tinggi.


Kalimat Virangel membuat ekspresi Jafar dan rekannya berubah, mereka tampak gugup meski mereka berusaha untuk menyimpannya. Mereka bingung bagaimana rahasia mereka bisa terbongkar?


Diam-diam mereka mulai panik dan bersiap terhadap kemungkinan terburuk.


Mereka melihat ke pintu keluar satu-satunya, tapi disana telah berdiri Sam dan semua pemimpin elit junior. Sehingga membuat satu-satunya jalan keluar mereka terhalang.


Jafar melirik rekannya dan memberi kode untuk bersikap tenang. Ia masih merasa jika rahasianya masih aman, tidak mungkin ketahuan. Ataupun jika mereka ketahuan, pasti itu hanya bersifat dugaan semata dan mereka masih bisa berkelit untuk membela diri.


"Apa maksudmu menyebut kami pengkhianat? Vira, Apa kamu bermaksud menuduh kami semua Kelompok Utara adalah pengkhianat?" Tanya Jafar licik, sengaja menyebut nama kelompoknya untuk menutupi kebusukannya.


Pertanyaan dari Jafar, jelas juga membuat para petinggi Kelompok Utara lainnya gelisah. Yang dikatakan Jafar ada benarnya, apa karena alasan mereka bergabung ke dalam aliansi setelah ditundukkan, terus mereka dianggap sebagai pengkhianat?


Virangel hanya tersenyum cuek menanggapi pertanyaan Jafar, Ia dengan santai berkata, "Mana dari kata-kataku yang menyebut Kelompok Utara sebagai pengkhianat, Bang Jafar?"


"Bukankah kamu terang-terangan menyebut kami sebagai pengkhianat barusan?" Tanya Jafar tidak menyerah begitu saja.


Virangel menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mengejek.


Pertanyaan Virangel juga menyentak semua yang hadir. Benar! Virangel tidak pernah menyebutkan kalimat Kelompok Utara sebagai pengkhianat dan justru kata-katanya sedari awal ditujukan pada Jafar dan rekannya, meski Ia tidak menyebut nama keduanya secara langsung.


"Itu.." Jafar jadi salah tingkah, ketika semua orang menatapnya dengan penuh tanya.


Melihat sikap Jafar yang tampak mulai gelisah, Virangel dengan cueknya berjalan ke arah King.


"Benar atau tidaknya, tindakan kami. Silahkan nilai sendiri dari bukti ini." Virangel memberikan sebuah Voice Recorder pada King.


Zaha mengangguk dan mengapresiasi kinerja Virangel.


Sikap tenang King, mengindikasikan seolah dia sudah tahu dan telah mengijinkan tindakan Virangel dan yang lainnya.


Ternyata, sebelum masuk ke dalam ruangan utama markas mereka. Diam-diam King telah menghubungi Virangel dan beberapa pemimpin elit junior terlebih dahulu. Itu semua didasarkan pada kecurigaan King, jika ada penyusup dalam aliansi mereka saat ini.


King yang telah lama mengenal Virangel dan yang lainnya, tentu saja lebih mempercayai mereka dibanding mereka semua yang baru bergabung ke dalam aliansi. Sehingga Ia mempercayakan rencana penjebakan ini pada mereka semua.


Untuk itu, Ia meminta Virangel dan yang lainnya mengatur jebakan untuk memancing sang pengkhianat menunjukkan dirinya. Rencana itu sendiri begitu rahasia dan bahkan para elit senior tidak satupun yang diberitahu tentang rencana ini.


Ketika Zaha dan para pemimpin senior sedang berkumpul dalam ruangan, Zaha sengaja memerintahkan Virangel dan yang lainnya untuk memantau situasi dari luar.