
"Oke siap Bos. Beng, lu yang urus cowoknya yah! Ceweknya bagian Gue, hehehe." Ucap pria pertama.
"Kampret, urusan yang ngurus kacungnya malah kasihin ke Gue." Ujar cowok yang paling muda diantara mereka dengan nada sedikit kesal, namun tidak bisa menolak perintah cowok yang menyuruhnya tersebut karena ia yang paling junior diantara mereka.
"Yah, gak apa-apa Beng. Biar lu makin terlatih kalau Kita tawuran lagi nanti, wkwkwk."
"Hahaha, iya betul itu Beng." Ucap yang lainnya menyetujui.
Silvi dan teman cowoknya tidak menyadari kalau bahaya sedang mengancam mereka. Keduanya malah terlihat asik menikmati es krim sambil bercanda di bangku taman.
"Oi kalian." Panggil salah seorang anak STM dengan nada dingin dan berat.
Membuat Silvi dan Romi langsung berpaling ke arah orang yang memanggilnya. Keduanya langsung terlihat pucat, begitu menyadari segerombolan anak STM sudah berdiri di dekat mereka sambil mengelilingi keduanya.
"Ii.iya Kak ?" jawab Silvi dengan suara bergetar ketakutan.
"Ma.maaf Kak. Ka.kami cuma numpang duduk saja disini." ujar Romi gugup dengan wajah pucat.
"Siapa yang ngijinin kalian duduk berdua disini, hah ?" tanya salah seorang dari mereka dengan galak.
"Kalian berdua bolos sekolah yah ?"
"Berani-beraninya kalian bolos dan malah nongkrong disini saat jam sekolah begini ?" tanya yang lainnya ikut mengintimidasi, membuat Silvi dan Romi semakin pucat ketakutan.
"Ka.kami tidak bolos kok Kak. Kami sudah pulang sekolah dan ini baru selesai belanja buku buat keperluan sekolah." Jawab Silvi memberanikan diri sambil menunjukkan belanjaan buku yang baru saja dibelinya.
"Halah, omongan kalian mana bisa dipercaya. Kalian pasti bolos, dan pacaran di taman ini kan ?"
"Be.beneran Kak. Kami hanya belanja buku Kak." Ucap Romi bantu meyakinkan dengan suara bergetar.
"Gue gak mau tau. Kalau kalian masih mau aman, serahkan semua uang belanja kalian pada Kami." Ucap salah seorang dari mereka coba mengancam.
"Ta.tapi Kak.." Romi sebenarnya keberatan dan hendak menolak, tapi melihat anak-anak STM yang badannya lebih besar darinya, tak aral membuatnya jadi tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus menuruti keinginan mereka.
"Udaaah, cepat sini. Habis itu, kalian baru boleh pergi." Ujar anak STM lainnya tersenyum licik.
Silvi dan Romi pun tidak punya pilihan lain, daripada mereka tertahan dan kenapa-napa disana. Akhirnya dengan sangat terpaksa dan ketakutan, keduanya pun mengeluarkan uang belanjaannya. Silvi hanya tersisa uang buat ongkos pulang ke rumahnya karena sebagian besar uangnya sudah habis buat membeli buku, sementara selagi Romi dengan tangan bergetar mengeluarkan dompetnya, salah seorang dari anak STM tersebut langsung merampas dengan paksa dompet Romi.
"Hehehe, lumayan juga uang jajan nih bocah Bos." Ucapnya sambil menunjukkan hasil uang rampasannya pada ketua Gengnya, ditangannya tampak beberapa lembar pecahan uang lima puluh dan seratus ribuan.
"Nih, dompet lu." Ucapnya lagi sambil melemparkan dompet Romi yang sebelumnya telah dikuras habis isinya.
"Nah sekarang lu baru boleh pergi dari sini." Ucap salah seorang dari mereka sambil tersenyum senang begitu telah berhasil mengintimidasi kedua remaja yang masih SLTP itu.
Romi pun menarik tangan Silvi untuk segera pergi dari sana, namun langkahnya langsung dihentikan oleh salah seorang anak STM tersebut.
"Siapa suruh lu boleh bawa tuh cewek dari sini ?" tanyanya dengan seringai jahat diwajahnya.
Membuat Romi dan Silvi semakin ketakutan, karena telah terjebak oleh situasi seperti itu. Mau nekad ? jelas Romi tidak akan berani. Apalagi, melihat wajah-wajah anak STM yang sangar dan tubuh mereka yang lebih besar darinya, membuat nyali Romi langsung menciut.
"Ta.tadi katanya Kami sudah boleh pergi Kak ?" tanya Romi pucat. Lain halnya dengan Silvi, matanya sudah mulai berkaca-kaca dan hampir menangis karena saking ketakutannya.
"Iya, lu boleh pergi. Tapi, cewek lu mesti temanin kita dulu disini, hehehe." Ujar salah seorang dari mereka yang tersenyum licik, diikuti oleh senyuman jahat teman-temannya.
"Ta.tapi Kak..."
"Apalagi ? mau gue kasih bogem dulu wajah cupu lu itu ? iya ?" bentak anak STM lainnya mengancam, membuat Romi tidak lagi berani membantahnya. Ia melihat Silvi disebelahnya, jelas Ia tidak punya pilihan lain selain meninggalkan Silvi disini. Atau pilihan lainnya, Ia akan mati konyol oleh para begundal STM yang terkenal dengan kesadisannya itu, karena seringnya mereka tawuran dan berbuat onar.
Akhirnya, Romi pun terpaksa memilih untuk meninggalkan Silvi yang menatap dirinya seakan tidak percaya. Kalau Romi ternyata lebih memilih meninggalkan dirinya bersama cowok-cowok yang menyeramkan itu. Silvi menatap pucat, seakan masih tidak percaya dengan kepergian Romi yang begitu saja meninggalkan dirinya disana seorang diri. Akhirnya air mata Silvi tumpah juga, Ia terisak ketakutan.
Sementara gerombolan siswa STM itu, justru semakin tertawa senang melihat tangisan Silvi yang ketakutan begitu ditinggal pergi oleh cowoknya, "Cowok lu banci banget, masa tega begitu meninggalkan lu sendiri disini. hahaha."
"Mending sama Abang Neng! Abang akan melindungi Neng, hehehe." Imbuh yang lainnya.
"Duh gilaa.. nih tangan mulus banget yakk.." ucap yang lainnya sambil memegangi lengan Silvi.
Silvi coba menarik tangannya, namun ditahan oleh pria tersebut.
Silvi semakin gemetaran ketakutan.
Tidak jauh dari sana, Zaha sedang duduk di salah satu toko yang ada di lantai satu, tidak jauh dari taman. Toko itu adalah salah satu gerai yang dimiliki oleh Ncang Ari. Seorang pedagang besar yang sebelumnya membantu Ibunya Zaha dengan memberikan salah satu ruko kosong sebagai tempat Ibu Zaha berjualan. Siang itu, setelah Zaha dan Kakaknya selesai bantu-bantu Ibunya pindahan, walau kerjaan mereka tidak banyak, karena sebagian besar barang jualan Ibunya sudah dipindahkan terlebih dahulu oleh beberapa preman disana. Zaha pun di ajak untuk berkumpul di di salah satu tokonya Ncang Ari, tentunya setelah dapat izin dari Ibu dan Kakaknya terlebih dahulu.
Disana telah berkumpul beberapa pentolan preman yang paling berpengaruh di daerah selatan, ditambah beberapa pedagang besar yang selama ini ikut mengendalikan pasar tersebut.
"Jadi gimana King ?" tanya Ncang Ari, setelah sekian lama mereka selesai berbincang siang itu.
"Gimana apanya, maksud Ncang ?" tanya Zaha kalem dan bersikap santai, membuat semua orang yang ada disana semakin menyeganinya. Tidak ada dari mereka yang menyangka, kalau King yang selama ini hangat dibicarakan, ternyata orangnya masih semuda itu. Tapi, begitu melihat sikap Zaha yang tenang membuat mereka jadi tidak bisa memandang remeh dirinya begitu saja.
Ncang Ari melihat ke beberapa orang yang juga punya pengaruh kuat yang duduk di sekelilingnya.
"Jadi, begini King.." Ujar Cak Timbul coba mengambil alih pembicaraan. Ia merupakan salah seorang jawara dan preman senior yang sangat disegani di daerah selatan itu.