Bunian

Bunian
Hari keempat



Setelah melewati malam mencekam, Cici ditemani Dean untuk beristirahat dikamarnya. Bagaimanapun Abang kandung sendiri yang mampu menguatkan Cici untuk menghadapi semua kejadian yang sudah menjadi suratan takdir.


Cici benar-benar terlelap hingga pagi. Mira terjaga, kembali ceria saat Oneng membantu dalam merawatnya.


"Bang Dean, apakah hari ini kita akan ke kelok sembilan?"


Oneng bertanya dengan nada suara pelan, agar tidak menggangu tidur Cici, yang kurang istirahat sejak kehilangan Akmal.


Dean mengangguk, "Kita tunggu Cici bangun dulu, jangan diganggu tidurnya, karena dia sudah sangat frustasi semenjak kepolisian menyatakan menghentikan pencarian Akmal."


Mira menoleh kebelakang saat berada dalam pelukan Oneng, "Abi... Abi...!!"


Suara kecil Mira mampu mengejutkan Cici dari tidurnya.


Cici membuka mata, dengan sigap dia menatap Mira mencari keberadaan Akmal, "Mana Abi, Nak?"


Cici duduk mendekati Mira yang berdiri diatas ranjang untuk memakai baju dengan bantuan Oneng.


Mira mencium pipi Cici, memeluk tubuh sang Ami dengan sangat erat... "Abi, Mi... Abi...!"


Rengekan Mira membuat hati Cici semakin tidak karuan. Perasaan yang tenang, kembali berkecamuk dikepalanya. Sehingga dia bergegas untuk membersihkan diri. Namun sebelum memasuki kamar mandi, Cici menatap Dean dan Oneng yang menyaksikan kebersamaannya dengan sang putri.


"Bang, temanin Cici hari ini! Kita cari Bang Akmal. Ci, yakin Bang Akmal masih hidup...!"


Dean mengangguk setuju, tanpa menjawab.


Cici berlalu memasuki kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Namun saat menyirami tubuhnya dibawah derasnya air shower, tengah memberi shampo pada kepalanya, Cici kembali dikejutkan dengan suara aneh.


Kretak... kretak... kretak...!!!


Cermin yang ada dikamar mandi retak seketika.


PRAAAANK....!


Suara pecahan kaca sangat mengejutkan Cici, membuat dia mengambil handuk kimono dan bergegas keluar dari kamar mandi dengan cepat, setelah melihat serpihan cermin yang berserakan dilantai kamar mandi yang bergelimang darah.


"Aaaaaagh....!!!"


Cici berteriak keras ketakutan, raut wajahnya kembali memucat, berusaha membuka pintu kamar mandi dalam keadaan panik.


Bersusah payah Cici membuka hendel pintu, namun pintu tidak bisa terbuka.


"Bang Dean....!! Oneng... buka pintunya...!!!!"


Teriakan Cici semakin keras, bahkan dia semakin memukul daun pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga.


"Toloooong.....!!" Cici berteriak keras, mengambil menoleh kebelakang.


Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok wanita yang mengeluarkan bau busuk, dan berwajah sangat menyeramkan berada dihadapannya.


Wajah cantik wanita itu tampak berubah seakan-akan semakin mendekat bahkan menerkam Cici, tangan busuk itu kemudian meraih lehernya, membuat dia tercekik dan sesak bersandar dibelakang pintu kamar mandi.


Entah kekuatan dari mana, tangan Cici meraih gantungan baju kemudian mematahkannya yang terpatri kuat di daun pintu, mengarahkan asal pada makhluk tak kasat mata tersebut.


Cici benar-benar menyerang, dengan mengarahkan gantungan baju kesembarang arah, seperti orang kesurupan bahkan sangat mengerikan.


Wajah pucat frustasi, tampak jelas diraut wajah Cici yang tidak ingin diganggu oleh makhluk astral tersebut.


"Pergiii... pergiii...!!!"


Matanya memerah, Cici tak kuasa menahan rasa mual yang keluar dari tubuh wanita dihadapannya semakin lama sosoknya semakin besar dan sangat menyeramkan.


"Pergi kau..... pergi.... setan...!!!"


Cici terus mengarahkan gantungan baju itu dengan teriakan yang semakin keras.


Mendengar suara ricuh dari dalam kamar mandi Dean dan Luqman mendobrak pintu kamar mandi, melihat Cici seperti orang yang kehilangan arah, tampak pucat bahkan meringkuk ketakutan.


"Cici...!!!"


Luqman membantu adiknya, yang masih berada dilantai kamar mandi memegang gantungan baju, dengan luka di bagian kakinya karena terkena serpihan kaca.


Aroma busuk menyengat kembali menyeruak membuat kedua pria itu merasakan mual yang luar biasa.


"Uweeeek.... uweeeek....!!"


Luqman membantu adiknya untuk keluar dari kamar mandi, membawa Cici kekamar yang dia tempati.


Tentu pemandangan itu membuat Oneng dan Cardo tampak tegang, melihat Cici yang semakin frustasi tersebut.


"Bantu Cici, Oneng! Aku akan membereskan serpihan kaca, dan mencari bau busuk yang ada dikamar mandi!"


Luqman memberi perintah pada Oneng. Tentu Oneng membantu Cici membawa sang majikan ke dalam kamar, untuk membersihkan busa dikepala Cici.


"Kakak tenang yah! Banyak-banyak berdoa," Oneng membantu Cici membersihkan diri dikamar mandi yang terletak dikamar Luqman.


Cici menggigil, tubuhnya semakin melemah, giginya saling beradu menggeram. Wajah cantiknya semakin tidak berkharisma.


"Ci harus kuat... Ci harus kuat... Ci harus bawa Abi Mira pulang. Nenek tua... Nenek tua... Ci harus bertemu dengannya."


Cici berbisik sendiri saat Oneng membantunya memakaikan pakaian ditubuhnya, setelah membersihkan busa yang menempel.


"Mira mana, Neng?" Cici menatap kearah Oneng dengan tatapan kosong.


"Ada Kak, sama Bang Cardo! Kita sarapan dulu yah, Bang Luqman membelikan lontong. Selesai sarapan kita berangkat kekelok sembilan untuk mencari Abi Mira."


Cici diam tak bergeming, kedua tangannya masih menaut menggigil dan menggeram. Entah apa yang ada dibenaknya saat ini, yang pasti dia harus bertahan dan membawa Akmal kembali.


Sementara Mira berada dalam pelukan Cardo, karena tidak dibiarkan oleh kedua Abang kandung Cici meninggalkan putri kecil itu sendiri.


Luqman dan Dean benar-benar semakin penasaran karena aroma amis, busuk yang keluar dari serpihan kaca yang tengah mereka bersihkan.


"Kok bau-nya melebihi aroma mayat yang baru berapa hari meninggal yah, Bang?"


Dean mengumpulkan semua serpihan kaca membuat tangannya terluka.


"Hmm, aku juga tidak tahu, tapi kita harus cepat membawa Cici untuk mencari petua dikelok sembilan. Menurut mereka jangan sampai lewat dari hari kesembilan. Aku juga jadi yakin, ini tidak ada yang kebetulan. Pasti Akmal pernah melanggar larangan disana tanpa dia sadari. Menurut Amak-amak yang berada disana."


Dean membenarkan ucapan Luqman, "Tapi dia nggak tahu dan nggak sadar. Sudahlah Bang... yang penting kita harus berangkat segera meninggalkan Pekanbaru. Mungkin kita akan menginap di Payakumbuh, dan aku sudah meminta cuti pada atasanku."


Luqman mengangguk setuju, "Kita bereskan Cici dulu, karena dia enggak akan tenang jika belum mendapatkan keberadaan Akmal. Jika dinyatakan meninggal, pasti akan ditemukan jasadnya. Ini sama sekali kita tidak menemukan apapun selain topi Akmal."


Disaat kedua Abang kandung Cici tengah membersihkan serpihan kaca dikamar mandi.


Diruang makan Cici justru tengah menikmati sarapan pagi. Sarapan yang telah disediakan Oneng dimeja makan, namun Cici kembali merasa diruangan hampa tanpa ada yang menemaninya.


"Tananglah, Nak! Suami kau ado dialam yang berbeda!" (Tenanglah, Nak! Suamimu ada dialam yang berbeda)


Cici menoleh kearah cahaya yang tiba-tiba muncul dihadapannya, melihat sosok nenek tua itu kembali berada dihadapannya.


"Bagaimana caranya aku untuk menjemput suamiku, Nek? Apa yang harus aku lakukan?"


Nenek tua itu tersenyum tipis, "Apo kau basadio mambuka mato batin panglihatan kau? Kito menggunakan mato batin Mira putri kasayangan kau?" (Apa kamu bersedia membuka mata batin penglihatan mu? Kita menggunakan mata batin Mira putri kesayanganmu)


Cici terdiam, wajahnya kembali memucat, apa akan berdampak pada keselamatan Mira putri kesayangannya?


"Bagaimana caranya, Nek? Cepat katakan...! Aku sudah siap, yang penting suamiku kembali...!"


Cici kembali menangis sekeras-kerasnya, mengingat ini merupakan hari keempat. Jika melewati hari kesembilan maka Akmal benar-benar dinyatakan hilang dan meninggal.


Semua itu ucapan dari warga setempat membuat kepala Cici kembali berkecamuk.