
Komar mengangkat wajahnya dan manatap Leha, "Leha, Abang berjanji. Pasti akan mengeluarkanmu dari tempat ini dan membuat kalian bisa berkumpul bersama lagi. Dan... Jika Leha tidak keberatan.." Komar terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Keberatan kenapa Bang ?"
"Abang ingin mempertistri Leha.." Ucap Komar yakin.
Leha terpana, bibirnya seakan kelu untuk berucap.
"Ta-tapi, Bang.." Ucap Leha terbata dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf jika permintaan Abang ini terlalu besar untukmu Leha.. Hehe seharusnya Abang berkaca dulu sebelum memintamu untuk jadi Istri Abang. Maaf Leha, lupakan saja permintaan Abang tadi.." Komar tersenyum getir dan jadi salah tingkah sendiri. Dalam hati Ia merutuki diri sendiri, tidak berkaca terlebih dahulu. Malah meminta mantan istri bosnya untuk menjadi istrinya.
"Bukan begitu Bang.. Abang tahu kondisi Leha bagaimana saat ini. Leha wanita hina Bang.. Leha gak pantas untuk jadi Istri Abang... hiksss.. Le-leha tidak ingin Abang menyesal menikahi seorang pelac, hmmmhhh." Leha tidak jadi melanjutkan kata-katanya, begitu Komar langsung menarik wajahnya dan mencium bibirnya.
"Hmnn.." Komar mencium Leha teramat dalam, membuat jantung wanita cantik tersebut berdebar kencang dan Leha pun memejamkan matanya. Ia bisa merasakan ketulusan dan perasaan sayang pria tersebut. Walau orangnya biasa-biasa, tapi Dialah yang masih setia pada suaminya hingga saat ini.
"Abang ?" Ucap Leha membuka kedua matanya dengan bibir bergetar begitu ciuman mereka terlepas.
"Jangan pernah menyebut dirimu seperti itu lagi Leha. Bagi Abang, Kamu tetaplah wanita suci. Dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah sedikitpun. Ijinkan Abang menghabiskan sisa usia ini bersamamu Leha.."
Leha tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Komar yang sangat tulus itu, pelan namun pasti Lehapun menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Komar, "Kalau begitu Leha setuju Bang.. Leha bersedia jadi Istri Abang."
Tidak terperi betapa senangnya perasaan Komar pada saat itu, wajahnya langsung berseri-seri mendengar jawaban Leha. Dengan tertawa senang Ia kembali memeluk Leha dan menciumnya berkali-kali untuk meluapkan perasaannya.
"Hihihi.. Abang geli, udah ah.." Leha merintih geli karena perlakuan Komar padanya, Ia pun tersenyum riang bak seorang ABG yang begitu senang ditembak oleh pacarnya.
Namun keceriaan itu sedikit terusik begitu HP komar berbunyi, dan ketika Komar melihat siapa yang menghubunginya Ia kembali teringat dengan misinya saat itu.
"Abang harus pergi, Leha. Rencana mereka akan di eksekusi hari ini. Doakan Abang dan teman-teman lainnya berhasil menumpas Cakra hari ini. Setelah ini Abang janji, Abang sendiri yang akan menjemputmu dan mengeluarkanmu dari tempat ini nantinya." Ucap Komar begitu selesai bicara dengan lawan bicaranya diseberang telpon.
"Abang, hati-hati yah." Ujar Juleha menyemangati. Ajakan Komar untuk mempersuntingnya memberi angin segar dan harapan baru dalam hidupnya. Tapi disisi lain, Ia juga mencemaskan Komar. Karena apa yang akan dihadapinya nanti memiliki resiko yang sangat besar. Jika seandainya Komar dan aliansinya yang kalah, bukan hanya dia dan teman-temannya yang akan di eksekusi. Bahkan nasibnya dan kedua putrinya akan jauh lebih tragis. Semoga aliansi Komar dengan Kelompok Selatan bisa berhasil menumbangkan Cakra, terlepas dari apapun tujuan Kelompok Selatan menantang Cakra kali ini. Bagi Juleha sendiri, bisa berkumpul kembali saja dengan kedua putrinya merupakan mimpi indah yang selalu diidamkannya paska kematian sang Suami.
"Tenang aja. Abang yakin, kali ini Kita pasti berhasil." Jawab Komar penuh semangat sebelum berangkat pergi, apalagi ada Juleha, wanita yang dari dulu dicintainya. Hanya karena Wanita cantik itu Istri dari bosnya, orang yang paling dihormatinya, membuat Ia mengubur dalam perasaan itu.
Komar menghubungi semua rekannya, yang ternyata telah stanby dan tinggal menunggu perintah darinya.
***
Ditempat lainnya, Silvi baru saja membuka pintu kamarnya dan tepat disaat bersamaan pintu kamar Kakaknya yang tepat berada disebelah kamarnya juga terbuka. Tampak mata kedua dara cantik tesebut masih sembab karena apa yang terjadi pada mereka sehari sebelumnya. Dan alasan dibalik kesedihan mereka adalah karena orang yang sama, Zaha.
"Eh, ka-kakak.", "D-dek." Ujar mereka bersamaan.
"Kak, Aku baru sadar satu hal.. Ini tentang Kak Zaha."
"Iya Kak. Kakak mikir ada yang aneh juga kan ? Tentang sikap Kak Zaha kemrin." Kata Silvi sambil memikirkan sesuatu.
"Iya, Kakak juga berpikir begitu Dek. Gak mungkin, Zaha bisa berubah tiba-tiba seperti ini. Dia bukan tipe laki-laki yang mudah berkata kasar pada wanita."
"Tuh kan, Silvi juga mikir begitu kak. Coba deh Kakak ingat-ingat lagi sikap Kak Zaha kemarin, ada yang aneh.."
Flashback sehari sebelumnya.
Zaha baru selesai latihan sore itu, begitu melihat Anna dan Silvi yang sedang menunggu tidak jauh dari tempatnya, membuat Zaha sedikit tegang. Zaha memperhatikan sekelilingnya tanpa kentara, melihat jika ada tanda-tanda musuh yang sedang yang mengintai mereka. Padahal Ia sudah bersusah payah menghindari Anna saat di Sekolah, namun sekarang gadis itu malah nekat mendatanginya ke komplek perumahannya.
Zaha menghampiri Anna dan Silvi dengan tatapan tajam dan dingin. Lain halnya dengan Bekti yang langsung ngacir ketakutan begitu melihat perubahan wajah Zaha ketika menghampiri mereka.
"Kenapa kalian kemari ?" Tanya Zaha dingin yang tidak seperti biasanya selalu ramah.
"Eh, Z-Za ?" Anna tampak taget dan sedikit pucat. Silvi sendiri tampak tidak percaya menatap Zaha, seakan Zaha berubah menjadi orang yang berbeda didepannya.
Tanpa disadari keduanya, ekor mata Zaha begitu awas dengan sekelilingnya.
"Apa ?" Tanya Zaha lagi dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Ka-kamu kenapa selalu menghindari Anna ketika di Sekolah, Za ?" Tanya Anna dengan suara sedikit bergetar, air matanya tampak mulai merebak. Ia tidak menyangka dan tampak syok dengan perubahan drastis sikap Zaha padanya.
"Apa kurang jelas ? Gue gak mau dekat dengan lu. Apa perlu gue perjelas agar lu mengerti ?" Ucap Zaha tanpa menatap sedikitpun wajah Anna.
"Za ? Hikss.." Anna ternganga dengan lidah seakan kelu, Dia benar-benar tidak menyangka Zaha mengucapkan kata-kata seperti itu padanya. Tanpa diinginkannya, air mata yang sedari tadi coba ditahannya akhirnya jatuh kepipinya.
"Ta-tapi kenapa Za ? Anna salah apa ?" Tanya Anna terbata.
Zaha menatap Anna beberapa saat, lalu beralih menatap Silvi sebentar sebelum menatap Anna kembali. Ia menghela nafas sejenak, "Gue gak suka aja lihat lu, dan mulai sekarang jangan pernah dekat ataupun menemui Gue lagi, paham!"
Deg
Baik Anna maupun Silvi tampak terhenyak mendengar ucapan Zaha. Kata-kata yang diucapkan Zaha bagai sembilu yang sangat menusuk. Mereka menatap Zaha dengan perasaan yang campur aduk.
"K-Kak Zaha.." Silvi tampak mulai mengeluarkan air mata.
"Z-Za, Kamu kenapa berubah begini sih Za ?" Tanya Anna seakan tak percaya.
"Berubah ? Lu salah Na. Gue gak berubah, emang ini Gue yang asli. Dan sekarang, sebaiknya kalian pergi sebelum gue sendiri yang ngusir kalian berdua."