
Sore menjelang, cuaca mendung bahkan terdengar suara petir menggelar sepanjang perjalanan Cici menjemput Akmal di kantornya. Kebiasaan mereka, jika Cici yang membawa kendaraan akan menyambangi Akmal ke kantor, begitu juga sebaliknya.
Akmal tengah menunggu istri tercinta di depan kantor bersama rekan kerja lainnya termasuk Dony.
Mereka berencana untuk menyambangi Sony dikediamannya. Terakhir mereka mendengar kabar rekan kantornya, mengalami depresi berat karena kakinya yang patah mesti di amputasi. Merupakan kejutan luar biasa mendengar kabar tersebut.
Cici memarkirkan mobilnya di parkiran, membunyikan klakson agar suaminya tercinta menghampirinya.
Bergegas Akmal menghampiri sang istri mengajak serta beberapa rekan kerja yang ingin berkunjung ke kediaman Sony.
Dony mengambil motor maticnya mengikuti arah kendaraan sahabatnya Akmal.
Mereka meninggalkan kantor cabang menuju kediaman Sony, karena tidak ingin terlalu malam kembali ke kediaman masing-masing.
Kediaman Sony tampak sangat sederhana, disebuah perumahan subsidi yang berjarak lumayan jauh dari kantor mereka.
Terlihat istri Sony menyambut kedatangan rekan kerja suaminya. Wanita yang dikatakan kuat dalam menghadapi kondisi Sony yang tampak depresi semenjak kehilangan sebelah kakinya dengan segala suka duka selama beberapa bulan terakhir.
"Assalamualaikum...!!"
Serempak mereka mengucapkan salam sebelum masuk kedalam rumah yang tampak suram.
"Waalaikumsalam," Sarah membuka pintu, "Masuk Kak, Bang..." ajaknya pada Akmal dan semua rekan yang telah berdiri di depan pintu masuk.
Cici menarik tangan Akmal, sedikit berbisik, "Kalian kesini kok, nggak ada bawa apa-apa? Pak Sukoco kenapa nggak ikut?" tanyanya.
Akmal mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berisikan sumbangan dari rekan kantor yang telah mereka persiapkan sebelum menuju kerumah Sony.
"Kami sudah mempersiapkan ini, Mi!" tunjuk Akmal pada amplop yang berada di kantong baju kemejanya.
Cici tersenyum, seketika matanya melihat hal yang tidak biasa saat kembali masuk kedalam rumah Sony. Semenjak dia dapat melihat keberadaan makhluk tak kasat mata, dia dapat melihat sesuatu yang sangat menggangu dikediaman Sony.
Sosok wanita tanpa kepala mendekati Cici. Sontak dia hanya bisa memejamkan mata dan meremas tangan seseorang yang berada di sebelahnya.
Akmal yang berada disamping Cici, meringis kesakitan karena mendapat remasan dari jemari tangan istri tercinta, "Auuugh.... Ami, ini sakit sekali...!!" kesalnya.
Cici membuka mata perlahan, mencari sosok wanita yang tidak kasat mata tersebut menghilang seketika dari kediaman Sony, karena kehadiran Akmal.
Cici kembali berbisik ketelinga Akmal, "Sepertinya mereka takut sama Abi, karena Abi kan Datuk Rajo Mudo!"
Akmal terdiam, dia menanyakan pada istri Sony, "Sarah, dimana keberadaan Sony? Apakah dia tidak tahu kami akan kesini?"
Sarah menoleh kearah Akmal, menunduk hormat pada sahabat suaminya, "Bang Sony dikamar! Sudah lama dia mengurung diri, tanpa mau bersosialisasi seperti dulu, Bang. Aku khawatir karena keadaannya semakin memburuk."
Ucapan Sarah membuat Akmal dan Cici semakin khawatir.
Bergegas Akmal mencari keberadaan Sony meninggalkan rekan lainnya diruang tamu, termasuk Cici. Betapa terkejutnya dia, melihat Sony yang tengah meringkuk disudut ranjang kamar yang gelap tanpa mengenakan baju.
Kamar yang tidak diterangi cahaya yang cukup membuat Akmal semakin khawatir dengan kondisi sahabatnya. Dia menutup pintu atas permintaan Sarah, karena malu dengan kondisi kamar yang bau dan pengap.
Sony memandang kearah Akmal, bergegas memeluk erat tubuh sahabatnya, "Maaf kan aku, Mal.... aku pikir kamu telah meninggal? Saat kejadian itu aku seperti berdebat dengan seorang wanita yang ingin mengambil topi mu! Aku menariknya, sehingga aku terjerembab di bebatuan yang tidak aku sadari! Kini kaki ku patah, Mal! Aku kehilangan kaki ku! Aku kehilangan pekerjaan ku! Aku kehilangan segalanya! Bagaimana aku akan memenuhi kebutuhan hidup keluarga ku? Sementara kondisi ku seperti ini, Akmal!" tangisnya dalam pelukan sahabat yang dia rindukan.
Akmal tersentak, begitu banyak yang berkorban demi mencari keberadaannya kala itu. Seketika mata Akmal berkaca-kaca, dia hanya berusaha tegar dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini.
Sony adalah sahabat sekaligus rekan kerja Akmal, yang senantiasa ceria sepanjang waktu. Sangat berbeda dengan sosok Sony saat ini terlihat tampak lusuh dan tua.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia seperti ini? Ini bukan sahabat yang aku kenal. Aku harus segera menolong Sony, bagaimanapun dia mengalami hal ini karena aku," batin Akmal mendekap erat tubuh Sony.
Akmal melepas pelukannya, memilih duduk disamping Sony, tepatnya dibibir ranjang yang tampak lusuh.
"Aku akan membawa Mira ke Malaka, apa kamu bersedia ikut dengan ku? Kita bisa membuat kaki palsu, atau memeriksa kondisi mu! Mumpung kamu belum memiliki anak! Aku justru tengah merasa kasihan pada Mira putriku, yang mengalami kebisuan semenjak aku kembali!" cerita Akmal tanpa menoleh kearah Sony.
Sony memandang lekat wajah Akmal yang tampak tenang, bahkan lebih berwibawa dari biasanya, "Apa aku tidak memberatkan kalian? Kamu tahu, aku tidak bisa meninggalkan Sarah! Dan pergi kesana membutuhkan biaya yang sangat besar, Mal!" ucapnya penuh keraguan.
Akmal tersenyum membenarkan, "Tenanglah.... semua sudah aku rencanakan! Yang penting besok kamu bersiap-siap, aku akan menjemputmu!"
Mendengar ucapan Akmal yang sangat meyakinkan, membuat Sony kembali bersemangat. Wajah lusuhnya, tampak lebih cerah dan penuh gairah.
Bagaimana tidak, rumah yang tampak suram seketika terlihat lebih terang, bahkan tidak tampak suram walau suasana berantakan. Baju kotor berserakan dilantai, bahkan bercampur dengan keset kaki.
Sony meraih tongkat yang ada disamping tempat tidur, menoleh kearah Akmal, "Aku pikir kamu tidak akan menyambangi sahabat yang sudah tidak berkaki dan tidak dianggap oleh bos sendiri! Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan, dan mulai membuka usaha. Mumpung masih muda. Sarah juga seorang penulis novel online disalah satu platform, karena keyakinannya dia mampu mendapatkan uang dari sana." jelasnya sebelum memasuki kamar mandi.
Akmal terdiam, "Syukurlah, tapi apakah Pak Sukoco memang tidak pernah menyambangi kediaman Sony? Kenapa?" gumamnya dalam hati.
Akmal menggelengkan kepalanya, beranjak keluar kamar, kembali berkumpul dengan rekan lainnya termasuk Cici.
Sarah yang tenga mempersiapkan hidangan makan malam, bertanya pada Akmal saat berpapasan didepan pintu kamar, "Bagaimana Bang?"
Akmal tersenyum sumringah pada Sarah, "Tenang saja, Sony tenga membersihkan diri dikamar mandi!" ucapnya berlalu mendekati Cici.
Cici yang tampak tenga menikmati secangkir teh dan beberapa cemilan, memberi ruang pada Akmal untuk duduk disampingnya.
"Gimana Bi? Apakah Sony baik-baik saja?" bisiknya ketelinga Akmal.
Akmal mengangguk, mencari keberadaan Dony.
"Eh..... ngelihat Dony nggak? Dony kok belum nyampe?" tanya Akmal pada rekan lainnya.
Dony muncul didepan pintu, dengan wajah kebingungan, "Aku disini....! Oya, itu ngapain mereka ramai-ramai keluar dari sini? Emang ada acara apa barusan?" tanyanya.
Cici dan Akmal saling menatap, begitu juga rekan kerja lainnya. Bagaimana mungkin ada orang lain yang keluar dari kediaman Sony, sementara Sarah baru beberapa menit membuka pintu untuk mereka.
Cici menatap lekat mata Dony, "Maksudnya? Orang dari mana, Don?"
Dony menjambak rambutnya sendiri, "Ya Tuhan, itu ada rombongan wanita keluar dari sini. Katanya ada Datuk disini, mereka takut! Aku pikir, Datuk mana?" ceritanya dengan wajah semakin bingung.
"Datuk.....!? Datuk mana!?"