
Baaaaammmm
Sebuah tendangan kuat Rio menghantam dadaku sangat kuat, membuat tubuhku terlempar ke arah dinding.
"Hukkhhhh.." Rasanya jantungku seperti benar-benar akan berhenti berdetak karena saking kuatnya serangan Rio.
Sepertinya Rio benar-benar tidak membiarkan kesadaranku hilang begitu saja, karena selanjutnya terasa sebuah cekikan kuat ke leherku.
Rio berbicara dengan cukup keras dekat telingaku, "Lu telah menghabisi Adik-adik Gue. Mati! tidak akan semudah itu, Gue akan membiarkan lu sekarat dan bisa menyaksikan Gue mencincang seluruh anak buah lu.."
"Satu lagi..." Rio menggantung kata-katanya.
"Gue akan cari Ibu dan Kakak lu, dan di depan lu akan gue mereka sambpai puas sebelum mencincang habis tubuh mereka dan memberikannya pada anjing-anjing peliharaan Gue." Ucap Rio dengan penuh tekanan.
Mendengar kata-katanya, membuat emosiku seakan meledak tidak tertahan. Nafasku yang semula putus-putus berubah menggemuruh karena letupan emosi. Tubuhku seakan bergetar kuat dan siap untuk meledak dan mengeluarkan semua emosi.
Setelah bicara seperti itu, Rio melayangkan tinju kanannya ke arah wajahku.
Taaapppp
Walau tidak bisa menggunakan mataku, dengan mengandalkan insting Aku berhasil menangkal pukulannya.
Bughhhh
Kususl dengan sebuah pukulan kuat ke depan, entah mengenai apa. Namun bisa Kudengar erang tertahan dari mulut Rio dan Aku merasakan tubuhnya membungkuk ke arahku, langsung saja Kuhentakkan kepalaku ke arah depan dan tepat mengenai wajahnya. Sampai kepala Rio tersentak kebelakang lalu Kutambahkan dengan sebuah tendangan.
Baaammmm
Membuat tubuh Rio terdorong mundur beberapa langkah.
Jelas Aku tidak pun ya sisa tenaga lagi saat ini, namun emosi dapat memaksa tubuhku untuk mengeluarkan semua tenaga yang masi tersisa.
Kukira beberapa pukulan barusan cukup untuk menciderai Rio, karena mataku tidak lagi bisa melihat akibat tertutup kelopak mata yang membengkak sehingga tidak bisa memastika kondisi lawan.
Selanjutnya malah terdengar tawa Rio yang seolah mengejekku.
"Hahaha hanya segitu. Bersiaplah bangsat.." Teriaknya. Selanjut bisa Kudengar derap langkah yang menuju cepat kearahku.
Aku tidak tahu Ia akan menyerang dari mana terlebih dahulu, yang jelas Aku akan mencoba bertahan sekuat mungkin dan coba membalas setiap serangannya.
Baaammmm
Wajahku sampai berputar kesamping akibat kuatnya serangan lawan.
Wosssshhh
Aku coba membalas dengan memukul arah datangnya serangan, tapi seranganku hanya menyentuh angin.
Bugghhhhhh.
Tubuhku sampai terangkat naik begitu serangan Rio menghantam telak perutku, tubuhku seakan remuk terkena setiap serangannya.
Aku mencoba bertahan sekuat tenaga dan sesekali membalas, namun semua serangan balasanku hanya mengenai angin. Tenagaku benar-benar sudah habis, bahkan emosi yang semula menopang diriku kini seakan ikut tenggelam.
Damn it! Aku tidak rela dan tidak mau kalah dalam keadaan seperti ini. Tapi, orang ini berbeda dengan semua lawan yang pernah Kuhadapi. Dia... kuat.
Aku tidak mau berandai-andai saat ini, tapi dengan semua latihan keras yang telah Kulakukan, Aku masih jauh dari kemampuanku yang 'dulu'. Mungkin hanya bisa mencapai 50-60% kemamuanku yang dulu. Andai Aku bisa memilih, Aku ingin berhadapan dengan lawanku ini dengan kondisi 100%. Tapi, semua itu terasa masih sangat jauh dan tidak akan bisa Ku wujudkan. Apakah ini akhirnya ?
Aku merasakan sebuah desingan angin yang cukup kuat dari arah depan. Tidak, Aku tidak ingin berakhir semudah ini. Aku harus mengerahkan semua yang Aku punya sampai tidak ada lagi yang tersisa. Egoku sebagai seorang petarung memilih berjuang untuk terakhir kalinya.
Aku berhasil menangkap pukulan lurus Rio yang hendak menyasar tepat bagian jantungku,
"AAAAAAAA...." Dengan mengumpulkan seluruh semangat yang masih tersisa dalam diriku, Aku menyerang ke depan dengan sekuat tenaga.
BAAAAMMMMM
Kesadaranku benar-benar menghilang akibat pukulan barusan dan tubuhku ambruk tepat di kaki Rio.
POV Author.
Wajah Rio terlihat tegang dengan nafas seakan tertahan, kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat dan hanya dalam hitungan sepersekian detik.
Bagaimana tidak! Kalah cepat dalam sepersekian detik saja, pukulan kanan Zana akan tepat mengenai bagian jantungnya. Padahal Ia sudah memberikan gerakan kecohan. Karena serangan terakhir yang berhasil ditangkap oleh Zaha terakhir kali adalah serangan dengan menggunakan pukulan tangan kirinya. Sehingga Zaha mengira posisi Rio tepat di depannya dan reflek menyerang ke arah depan sebagai counter jika itupun Ia masih memiliki sisa kekuatan. Semua sudah sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Rio, namun siapa sangka yang menggerakan tubuh Zaha saat itu sudah bukan nalarnya lagi melainkan instingnya. Dan instingnya tersebut mengarahkan pukulan Zaha menyamping dan tepat mengarah ke bagian jantung Rio. Beruntung serangan tangan kanan Rio yang terbebas berhasil menghantam kepala Zaha dan memutus kesadarannya.
Tak Pelak kondisi itu membuat Rio jadi mengeluarkan keringat dingin.
Begitu melihat Zaha yang tersungkur dalam keadaan tidak sadarkan di dekat kakinya, barulah Rio terlihat menarik nafas lega.
Meski begitu, Rio masih belum merasa puas untuk menyiksa Zaha yang telah membunuh saudaranya. Dengan angkuhnya Rio mendorong tubuh Zaha dengan kaki kananya, sehingga tubuh yang sudah kehilangan kesadaran itu jadi telentang. Wajah dan tubuh Zaha benar-benar babak belur.
Cuihhhh.
Rio meludahi tubuh Zaha. Masih belum puas, Rio menarik lengan Zaha dan menyeretnya ke tengah ruangan.
Melihat King diperlakukan begitu membuat kelompok selatan yang masih sadar tidak terima, "Bangsaat.." Teriak Acera lantang dan dengan tertatih Ia setengah berlari ke arah Rio.
Baaaaammm
Serangan terhenti ditengah udara, lalu tubuhnya terhempas kuat kebelakang begitu tendangan Rio masuk lebih dulu ke dadanya. Acera sampai berguling-guling kesakitan sambil memegang dadanya.
"Bangsaattt.." Sam ikutan menyerang Rio walau tangan kanannya sudah patah.
Bugghhhhh
Tapi, lagi-lagi pukulan Rio menghantam telak wajahnya terlebih dulu. Sam pun jatuh menggelepar dalam keadaan sekarat.
Selanjutnya dua pimpinan junior, Inggek dan Kulup ikut merengsek maju dengan tubuh yang sudah kepayahan. Namun dengan mudahnya Rio mematahkan serangan keduanya.
Buuugghhhh Bughhhhh
Membuat keduanya juga jatuh terhempas dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Rio menyeret kembali tubuh tak berdaya Zaha, tapi sekitar 10 meter darinya, tampak Cak Timbul sudah berdiri menghadang. Tatapannya penuh amarah.
Tapi Rio seperti tidak menganggap keberadaan Cak Timbul dan terus saja menyeret tubuh Zaha. Sepertinya akan sulit menghentikan Rio saat itu. Namun, tanpa ada yang menduga sebuah bayangan berkelebat dengan cepat ke arah Rio.
Wossshhh
Baaaaammmm
Gerakannya sangat lembut dan ringan namun sangat mematikan. Rio yang semula menyerat Zaha dengan sebelah tangan, terpaksa harus melepaskan tarikannya untuk menahan serangan sang lawan.
Rio sendiri sampai terdorong munduru beberapa kaki kebelakang karena menahan serangan sang lawan.
Jelas Rio terlihat kesal karena ada yang berhasil mencegah kesenangannya. Ternyata yang menendangnya barusan memakai pakaian serba hitam dengan scraf penutup muka, posturnya jelas seorang wanita. Tapi, jelas jika Ia bukan wanita sembarangan. Karena satu tendangan darinya bisa membuat seorang Rio sampai terlempar mundur karena menahan serangannya.
Merasa kesal, Rio pun tidak mempedulikan lagi jika yang akan dihadapinya adalah seorang wanita sekalipun. Diapun menyerang wanita bertopeng tersebut.