Bunian

Bunian
Semakin penasaran



Sepanjang perjalanan menuju bandara internasional, Desy mengalihkan pandangannya dari Ujang. Awalnya mereka saling bercerita, kini tampak gadis muda berusia 22 tahun tersebut hanya diam membisu.


Ujang sudah terbiasa dengan Mori sangat memahami gadis indo, memilih menjauh saat mengetahui kampungnya dan kemiskinan daerah itu.


Masalah sebenarnya bukan kemiskinan, atau wilayah yang Ujang sebutkan. Melainkan, kisah kampung halamannya yang tidak di ketahui pria hitam manis dan bertubuh tegap tersebut.


Ujang mengalihkan pandangannya, sedikit penasaran pada gadis yang duduk di sampingnya. Desy yang semula ramah, kini memilih diam tanpa mau berkata-kata. Membuat dia semakin penasaran dengan Desy yang mengaku sebagai mahasiswi di universitas ternama di kota metropolitan.


"Kenapa dia tiba-tiba menjauhi ku? Apa karena aku tampak seperti orang kampung? Apa kurang bergaya saat ini? Padahal yang aku pakai barang-barang pemberian Mori untuk merubah penampilan ku sebagai orang terpandang. Aaaagh.... negara ini masih melihat penampilan luar saja. Apa dia tidak berfikir baju yang aku kenakan ini barang bermerek semua," kesal Ujang selama perjalanan mendengus kecewa.


Saat mereka tiba di bandara, Ujang benar-benar mengacuhkan Desy. Baginya, hanya Mori yang sangat memahami bagaimana dia sebagai seorang laki-laki sejati dan polos. Bahkan sangat baik.


"Aaaagh.... Mori, kamu kemana sayang? Aku sangat merindukanmu. Jika kamu tidak hilang di kampungku, mungkin kita akan berpesta tujuh hari tujuh malam disana." Kenang Ujang saat melangkahkan kaki masuk kedalam bandara sebagai eksekutif muda yang berkharisma bak pengusaha asing walau memiliki warna kulit gelap.


Semua menunduk hormat padanya, jika Edogawa San mengetahui kehilangan putri kesayangan mereka, pasti beliau akan menjemput Ujang menggunakan jet pribadi keluarga. Tidak membuang-buang waktu menggunakan penerbangan komersil yang sangat melelahkan.


Ujang sengaja memilih private room, sambil memasukkan data Mori melalui handphone canggih miliknya yang baru bisa dia gunakan saat ini. Selama di kampungnya, dia hanya menggunakan handphone kecil atas saran Edogawa San.


Sesekali matanya beradu pandang dengan Desy yang melihatnya dari balik kaca, lalu mengalihkan pandangannya. Ujang menunduk seketika, kembali mimpinya tadi malam menghantui pikiran saat ini.


"Apa benar Mori telah mati terpotong-potong? Kok bisa bermimpi seperti itu? Kenapa Amak berubah tampak seperti tidak sehat? Apakah keluarga ku baik-baik saja?"


Ujang menatap lekat foto Mori yang tengah memeluknya erat dari samping. Wajah cantik wanita sipit itu, sangat manja memeluk tubuhnya karena perasaan di lindungi selama mereka bersama.


Walau Ujang mengalami beberapa ujian ketika menjalin hubungan dengan gadis tersebut, dia tidak merasa terbebani. Bahkan, apa yang dia alami beberapa waktu lalu berjuang sendiri mempertahankan hubungannya dengan gadis Jepang tersebut, membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Kehidupannya yang berubah kearah lebih baik, bahkan tampak lebih berwibawa karena memiliki asisten pribadi untuk membantunya memperbaiki tata bicara, dan etika agar bisa berbaur degan pengusaha muda rekanan bisnis keluarga Mori.


Pemberitahuan keberangkatan mereka di umumkan, Ujang bergegas memasuki mobil yang sudah di persiapkan pihak bandara menuju pesawat mereka. Dengan langkah santai, sesekali matanya melirik kearah Desy.


"Kenapa aku jadi tertarik dengan wanita itu? Apa aku harus kembali bertanya? Jangan-jangan dia mengetahui bahwa aku pria yang memiliki istri. Padahal aku tidak mengenakan cincin nikah!" Ujang kembali memikirkan cara agar dekat dengan gadis Minang yang sangat cantik dan menawan tersebut.


Ujang bukanlah tipe pria yang suka bergonta-ganti pasangan, dia lebih menjaga perasaan Mori dan pernikahannya. Namun, kali ini dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya dalam pencarian Mori istri tercinta.


Saat Ujang telah tiba di pesawat, akan menaiki anak tangga, kembali dia bertemu dengan Desy. Wanita yang sejak tadi menjaga jarak dengannya, bahkan tidak ingin beramah-tamah seperti di awal.


Ujang menarik lengan kanan Desy, "Maaf.... apakah aku menyinggung perasaan mu? Atau aku mengganggu pikiran mu?" tanyanya dengan suara lembut dan sopan.


Desy menelan salivanya, menatap wajah Ujang yang sangat manis dan berkharisma. Walau dia tidak tampan, namun tatapan mata yang sendu mampu membius semua wanita yang berada di dekatnya.


"Maaf kan saya, Bang. Saya rasa..... lebih baik kita tidak saling mengenal!" kata Desy, seolah-olah Ujang melakukan pelecehan padanya.


Ujang menaikkan kedua alisnya, "Apa maksud kamu? Apa saya melecehkan kamu? Dengar Desy, saya senang bisa berkenalan dengan kamu. Karena saya tidak tahu bagaimana orang disini. Kamu tahu, saya baru datang dari Jepang dan kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup saya. Makanya saya mau mengurus semua kekedutaan agar mau membantu saya dalam pencarian. Jujur saya tidak mengerti sama tingkah kamu. Seolah-olah saya telah berbuat jahat padamu! Please.... saya hanya ingin berteman." Ujang berkali-kali menunduk hormat bak pria yang tengah memohon pada seorang gadis untuk dia lamar.


Ujang kembali tersenyum, mendengar pertanyaan Desy membuat hatinya sedikit lega. Namun enggan menjawab pertanyaan Desy, karena tidak ingin gadis yang berada di dekatnya mengetahui status yang sebagai pria yang sudah menikah.


Mereka menaiki anak tangga, sesekali bersenda gurau seperti diawal bertemu.


Melihat penampilan Ujang yang sangat tampan di mata para wanita, beberapa pramugari cantik mendekati dia untuk membantunya mencari tempat duduk dalam pesawat.


Desy yang melihat, pria di hadapannya disambut ramah, dengan berbagai fasilitas yang di tawarkan membuat gadis belia itu berfikir sedikit penasaran, bergumam dalam hati, "Hmm.... jika membantu Abang ini bisa menghasilkan uang tambahan sebagai mahasiswi, ya.... nggak masalah. Aku akan membantunya dan menemani dia. Kali saja aku bisa merasakan indahnya duduk dengan orang terpandang dan banyak uang."


Ujang mempersilahkan Desy untuk duduk di dekat jendela, karena dia lebih memilih melindungi wanita muda itu sama halnya memperlakukan Mori.


Entahlah.... saat ini di kepalanya hanya ada Mori.... Mori dan Mori. Apa yang dia berikan pada istrinya, selama dalam perjalanan, itulah yang dia berikan pada Desy, gadis cantik yang kembali ramah tanpa menghiraukan siapa Ujang sebenarnya, dan dari mana asal pria tersebut.


Dalam benak Desy merasa senang, karena bisa dekat dengan pria mapan, dan banyak uang tanpa melakukan apapun selain menjadi teman cerita dan pendengar yang akan mendapatkan fasilitas bintang lima.


Tanpa sengaja, Ujang menggenggam jemari Desy saat pesawat akan lepas landas menuju awan. Getaran kembali terasa sangat berbeda saat kedua mata saling menatap, karena tidak menyangka mereka saling berpegangan erat.


"Aaagh.... kenapa jadi begini!?" pikiran kedua-nya semakin penasaran.


______


Curhatan Author Pemes sedikit....


"Kenapa yah, statistiknya naik.... tapi like and komentar sedikit..." tanya othor.


"Karena kami pembaca yang hanya menikmati tulisan Kakak saja." Jawab reader.


"Ooogh..... berarti aku hanya berharap, namun tak di anggap. Aku hanya seperti author yang kesepian tanpa vote dan hadiah yang tidak begitu banyak. Padahal aku selalu berusaha untuk update dan memperbaiki tulisanku sebagai pengangguran propesional yang produktif! Aaagh... ini hanya menjadi curhatan Author Pemes seperti aku."


Reader.... jika kalian memang mencintai karya ku, tunjukkan wujud kalian sebagai penyemangat aku sebagai penulis pemula yang tidak mengharapkan apa-apa.


Aku hanya manusia biasa yang memiliki satu impian yang luar biasa, seperti othor pemes lainnya.


Terimakasih mau mampir di karya ku, terimakasih mau membaca tulisan ku yang terkadang memuakkan mata kalian. Tapi hiburlah aku, dengan kalimat penyemangat dari kalian.


Salam hangat Author Pemes...


Tya Calysta....😘🥰❤️