Bunian

Bunian
BAB 37



"Sayang, Kita sudah sampai." Sapa Angel sambil memegang lenganku pelan. Karena memikirkan kejadian semalam, membuatku tidak sadar jika mobil yang dikendarai Angel sudah sampai di jalan ujung gang, komplek perumahanku.


"Eh, iya."


"Sayang.." panggil Angel lagi saat tanganku hendak membuka handel pintu.


Dia menunjuk pipinya sambil tersenyum mesra.


Aku hanya bisa menghela nafas dalam, entah sudah benarkah caraku ini atau tidak ? Aku sendiri gamang dengan apa yang akan terjadi ke depannya.


"Ihh malah melamun. Gak romantis banget sih jadi cowok." Ucap Angel sambil merengut manja, membuatku mau tidak mau menuruti keinginannya.


Cupppp


Sebuah senyuman indah terkembang dari bibirnya. Lalu, Angel memiringkan kepalanya sambil menunjuk pipi kirinya.


Deg


Tambah manja begini Angel yah ? tapi, tetap saja Aku menuruti keinginannya tersebut, daripada gak selesai-selesai ini keluar dari mobilnya, hahaha.


Cupppp


Aku mengusap dagu Hera pelan. Aku akui, kalau Aku sayang padanya, tapi apakah rasa sayang ini bisa di definisikan sebagai rasa cinta, Aku tidak tahu!


Wajah Angel malah semakin tersipu, kali ini dengan perlahan Ia menunjuk bibirnya yang merah merekah.


"Kamu kok jadi semakin manja begini sih sekarang ?"


"Biarin, emang gak boleh minta disayang oleh kekasihnya sendiri ?"


"Emang kapan kita jadi sepasang kekasih ?" tanyaku sambil tersenyum mengerjainya.


"Setelah apa yang telah kamu lakuin semalam ? Kamu telah mengambil kesucianku, dan masih menganggap kalau kita tidak ada hubungan apa-apa ? Hah ?" Angel tampak kesal dan membulatkan matanya menatapku.


"Siapa yang membiarkanku hilang kendali semalam ? jangan bilang seolah Aku yang telah merenggut kesucianmu yah ? dengan kemampuanmu, seharusnya bisa dengan mudah mencegahku dan bahkan melumpuhkanku, sehingga kejadian semalam bisa dihindari." Ujarku berkilah sambil melihat sejauh mana Ia bersikeras dengan pendapatnya.


"Oh jadi setelah Kamu berhasil mengambil manisnya, terus mau buang sampah seenaknya. Dasar cowok! Dimana-mana sama saja. Mau enaknya, tapi tidak mau ambil tanggung jawabnya." Ucap Angel galak.


"Angel.."


"Apa ? pergi saja sana." Ucap Angel kesal sambil melipat kedua tangannya ke dada.


"Angel.."


"Apalagi ?" bentak Angel makin kesal.


"Hehehe, Kamu makin cantik kalau galak begitu."


Satu hal baru, yang kupelajari dari seorang Hera Hermawati, adalah sikapnya yang kadang lunak dan kadang sangat keras. Hanya perlu sentuhan perasaan untuk membuatnya bisa sangat lunak. Akupun memegang bahunya, lalu menariknya ke dalam pelukanku dengan lembut, Awalnya Angel terlihat menolak dengan bertahan dengan sikapnya. Namun, Akhirnya luluh juga, Ia menyanderkan kepalanya ke bahuku. Kukecup keningnya dengan lembut.


"Apa yang Kamu harapkan dari lelaki seperti diriku ?"


"Bukankah sudah sering kubilang, atau perlu Aku mengulangnya sampai ribuan kali agar Kamu mengerti ? Aku hanya ingin dirimu, tidak menginginkan laki-laki manapun. Bahkan, walau tubuhmu sudah tidak utuh sekalipun dan ragamu hancur, Aku pasti akan terus memilihmu." Ujar Angel bersikukuh dengan perasaannya.


"Kalau seandainya, jiwaku menghilang dari raga ini kelak, bagaimana ?" tanyaku lirih. Sebenarnya ini yang mengganjal dalam pikiranku sejak Aku tahu tentang perasaan Angel tempo hari. Aku sendiri tidak tahu apa Aku akan kembali tiada suatu saat nanti, Aku tidak mau meninggalkan luka bagi Angel, justru Aku lebih rela seandainya Angel bisa menemukan orang lain yang sekiranya bisa untuk membahagiakannya.


"Hiksss.." Angel tersedu dan mengeratkan pelukannya pada tubuhku.


"J-Jangan, pernah bilang itu lagi." Suara Angel terdengar bergetar dalam pelukanku.


"Tapi, Aku, K-kita tidak akan bisa menghindarinya, seandainya hal itu beneran terjadi kelak."


"Sssttt.." Hera menutup bibirku dengan jarinya, Air matanya sudah mengalir deras membasahi pipi putihnya.


Sambil menghela nafas dalam, Angel menatapku sendu, "Kita nikmati apa yang ada saat ini ya! Ji.jika hal itu benar-benar terjadi. Haaahhh,, kali ini Aku akan ikut mati bersamamu." ucapnya lagi dengan suara berat. Aku yakin bukan hal mudah bagi seorang Hera mengucapkan kata-kata seperti ini, melainkan karena rasanya cintanya yang sudah terlalu dalam membuat Ia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, bukankah kata-kata adalah cerminan dari jiwa.


"..Aku tidak ingin lagi berpisah denganmu!"


"..Cukup, satu kali Aku merasakan rasa sakit seperti kemarin. Aku tidak mau lagi hidup dengan rasa sakit seperti itu.. hikss hikss,"


"Kamu mati, maka Akupun akan ikut mati." Ucap Angel dengan penuh keyakinan dan tak tergoyahkan.


Malah jantungku yang berdetak semakin cepat setiap kali Ia mengucapkan kata-kata itu. Betapa besarnya rasa cinta Angel padaku selama ini.


Aku langsung memeluk tubuh sintalnya, "Dasar, gadis kecilku yang keras kepala."


"Untukmu, apapun akan kulakukan." Balas Angel lirih.


***


POV Author.


Ini adalah hari ke enam, pasca Zaha menyerang dan membantai Ronal dan komplotannya. Selama itu pula, Nia tidak masuk kuliah sama sekali. Ia tampak masih syok dan masih belum bisa melupakan kejadian pemerkosaan yang dialaminya tempo hari. Walau kondisinya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, Nia tidak mau berpisah sesaat pun dari Zaha. Ia memaksa Zaha untuk selalu menemaninya ketika berada di rumah, kecuali ketika Zaha Sekolah, maka Ibunya yang gantian menemaninya di rumah, walau untuk itu Ibunya terpaksa tidak jualan di pasar.


Hari ketujuh, saat itu hari jum'at dimana Zaha hanya sekolah setengah hari. Dan hari ini, Ibunya sudah mulai kembali berjualan seperti biasa di pasar. Satu hal positif yang memberi keuntungan bagi keluarga Zaha secara tidak langsung adalah akibat kemenangan Zaha saat bertarung dengan Bang Codet di rumahnya Juragan Cintung tempo hari, dimana Ia adalah preman yang menguasai daerah selatan dan itu termasuk tempat Ibunya Zaha berjualan. Secara tidak langsung, Zaha menjadi penguasa dari daerah kekuasaannya Bang codet sebelumnya. Nama Zaha dengan cepatnya dikenal oleh para preman disana. Walau ada juga yang penasaran dengan sosoknya Zaha, karena Ia tidak dikenal sama sekali di daerah itu. Baik di tempatnya tinggal ataupun dipasar dan daerah selatan lainnya. Bahkan orang-orang yang tinggal satu kompleknya dengan Zahapun tidak banyak yang mengenalnya, itu dikarenakan Zaha selama ini kurang bergaul dan termasuk orang yang introver.


Siapa itu Zaha ? apakah badannya Kekar ? sekuat apa Dia, sampai bisa mengalahkan Codet, kepala preman yang telah lama berkuasa disana ? banyak lagi pertanyaan dari para preman dan orang-orang yang berjualan disana.


Lambat laun, orang-orang yang tadinya belum kenal dengannya, pada akhirnya tau juga tentang diri Zaha. Siapa lagi, kalau bukan karena promosi Zulham dan kawan-kawannya. Sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zulham dan yang lainnya bisa mempromosikan Zaha, karena Ia tinggal satu komplek dengannya.


Dari dulu, para preman yang tinggal di daerah selatan seolah selalu berlomba untuk menjadi siapa yang terkuat dan bisa menjadi Raja Preman paling ditakuti di daerah yang terkenal dengan kampungnya para preman itu. Seperti halnya Codet, yang berasal dari kampung Bengal, selama 5 tahun terakhir tidak ada seorang pun Jawara atau Preman yang bisa menggoyang kekuasaannya, karena untuk bisa diakui menjadi kepala preman disana haruslah bisa memenangkan duel satu lawan satu secara adil dan kesatria. Begitulah prinsip yang dipegang di daerah selatan.