Bunian

Bunian
BAB 38



Banyak preman yang coba menantangnya berduel dalam sebuah pertarungan yang adil, satu lawan satu untuk bisa mengalahkannya. Namun, ketangguhan dan keperkasaan seorang Codet belum juga ada yang bisa menandinginya. Pertarungannya dengan Zaha tempo hari ternyata menjadi akhir dari masa kekuasaannya. Ia dikalahkan dengan telak oleh Zaha, dan sejak saat itu, Codet tidak lagi menampakan batang hidungnya di daerah selatan, entah kemana menghilangnya. Kejadian itu membuat Zaha, didapuk sebagai penguasa baru, walau tidak ada acara serah terima jabatannya seperti pejabat pada umumnya, hehehe.


Efek positifnya paling dirasakan oleh Ibunya Zaha yang juga berjualan dipasar Tanah Kuda yang termasuk bagian dari daerah selatan. Bu Fitri, diperlakukan dengan sangat hormat oleh para preman dan pedagang disana. Tidak hanya itu, jualannya selalu habis setiap harinya, tidak seperti biasanya. Karena setiap orang yang mau belanja, baik oleh pedagang ataupun oleh para preman, pasti disuruh belanja di tokonya Bu Fitri terlebih dahulu. Setelah dagangan Bu Fitri habis, baru para pedagang lainnya berani menjajakan dagangannya pada customer. Sempat heran, namun Bu Fitri bisa protes apa ? jika para preman disana yang sudah mengatur semua untuknya. Tidak hanya itu, Ncang Ari yang merupakan Juragan Beras paling kaya disana juga menawarkan salah satu rukonya yang ada dalam pasar untuk ditempati oleh Bu Fitri. Tentu saja Bu Fitri menolaknya, karena ruko itu diberikan secara cuma-cuma padanya. Akhirnya, dengan sedikit bujuk rayu Ncang Ari dan anak buahnya, Bu Fitri pun bersedia juga menempati ruko tersebut tapi dengan syarat Ia akan membelinya dengan cara menyicilnya, itupun Ncang Ari memberi harga dibawah standar. Seorang pebisnis seperti Ncang Hari, tentunya paham dengan keadaan, dengan memanfaatkan situasi itu, paling tidak usahanya akan aman, karena merasa berhasil menanamkan jasa pada Zaha.


"Dek, Kamu gak bosan menemani Kakak terus seperti ini kan ?" tanya Nia yang saat itu sedang bersantai sambil merebahkan kepalanya diatas pangkuan Zaha di sofa ruang tamu.


"Kok, Kakak tanyanya begitu ? jangan-jangan Kakak nih yang bosan Zaha temani dirumah ?" tanya Zaha balik.


"Iih Kamu kok malah balik tanya." Ujar Nia memanyunkan bibirnya.


"Yah, sapa tahu Kamu mau jalan bareng teman cewek Kamu yang datang kesini tempo hari itu loh Dek." Ujar Nia sambil menyembunyikan perasaan cemburunya.


"Anna maksud Kakak ? Dia hanya sekedar teman Kak, gak lebih! Lagian, cewek seperti Dia gak mungkin lah mau jalan ma Zaha." Kata Zaha santai.


"Loh, kenapa ? Kalian lagi ada masalah ya ?" tanya Anna kaget sambil menegakkan tubuhnya dan duduk disamping Zaha.


"Gak ada. Anna sendiri yang bilang, kalau Zaha bukan typenya. Jadi, mungkin Dia akan malu kalau jalan denganku." Ujar Zaha kalem.


"Masa Anna tega bicara begitu Dek ? Dia ngomong begitu langsung sama Kamu Dek ?" tanya Nia dengan nada menyimpan kemarahan, karena Ia tidak bisa terima jika Anna sampai merendahkan Adik cowok kesayangannya itu.


"Udah, lupain aja lah Kak. Mending kita jalan keluar yuk! Kemana gitu ? biar Kakak gak bosan dirumah mulu." Ucap Zaha mengalihkan pembicaraan sekaligus cara untuk membantu Kakaknya itu keluar dari bayangan buruk yang telah menimpanya itu.


"Ta-tapi, dek.." Nia masih terlihat berat begitu mendengar ucapan Zaha tentang Anna barusan.


"Udah, gak apa-apa. Kan ada Kakak yang temanin Zaha." Ujar Zaha coba bercanda, dan membuat Nia pun jadi lega karena kekhawatirannya terlalu berlebihan, syukur lah Zaha tidak apa-apa, pikir Nia.


"Eh, kalau begitu Kita ke tempat Ibu aja yok Dek. Kakak belum pernah selama ini bantuin Ibu jualan di Pasar." Ujar Nia yang kepikiran pada sang Ibu. Memang selama ini, kesibukan dan keegoisannya membuat Ia malu untuk menerima jika Ibunya hanya seorang pedagang dipasar, namun Nia yang sekarang sudah berubah.


"Ah iya, kebetulan kalau begitu."


"Kebetulan kenapa ?" tanya Nia penasaran.


"Iya, kebetulan Ibu lagi pindah ke tempat jualannya yang baru."


"Loh kok pindah ? Ibu diusir dari tempat jualan yang lama ya ?" tanya Nia khawatir.


"Wah bagus kalau begitu, Ayok lah Dek."


"Hehehe, pasti Ibu bakal senang kalau Kakak membantunya." Kata Zaha senang.


"Iya, Dek.  Selama ini Kakak lom pernah bantuin Ibu kita sama sekali." Ucap Nia dengan wajah sedih.


"Udah, gak usah Kakak pikirin. Yang penting, mulai saat ini Kita selalu ada dan saling support yah! Karena Kita adalah Keluarga." Ujar Zaha menyemangati.


"Iya yah! Kalau begitu Kakak siap-siap dulu. Kamu tunggu bentar yah Dek. Duh, jadi gak sabar lihat ekspresi Ibu nanti, hehehe."


***


Silvia Dwi Annisa, sama seperti Kakaknya, walau masih berusia 15 tahun dan duduk di kelas 9 SLTP, tapi sudah menampakkan kecantikan alami yang mempesona. Bahkan cowok-cowok di Sekolahnya sudah banyak yang mengantri untuk menjadikannya pacar.


Saat itu, ada teman sekelasnya yang juga merupakan ketua kelas dan juga salah satu cowok populer di Sekolah tersebut, sampai selalu setia menjadi salah satu cowok yang masuk dalam daftar tunggu untuk mendapat cintanya Silvi, namanya Romi. Suasana pun ikut mendukung, karena seperti umumnya anak sekolahan dan di usia itu yang saling menjodoh-jodohkan satu sama lainnya. Tidak terkecuali, Silvi.


Sejak kelas 2 Ia selalu sekelas dengan Romi. Bahkan Romi sudah terang-terangan menyatakan cintanya pada Silvi, walau Silvi tidak pernah mengatakan iya ataupun menolaknya, justru dengan seringnya teman-temannya di kelas dan di Sekolahnya menjodohkan mereka, akhirnya mereka jadi terlihat seperti pacaran, walau belum ada kata jadian secara resmi diantara mereka. Silvi sendiri, jalan dengan Romi hanya karena terbawa arus dengan ucapan dari teman-temannya. Untuk perasaan sendiri, Ia masih belum bisa menerima Romi secara status. So, Ia hanya menikmati saja disebut pacaran dengan ketua kelasnya tersebut.


Siang itu, Silvi berencana membeli beberapa buku untuk keperluan sekolahnya. Lokasi yang paling dekat dari sekolahnya adalah pasar Tanah Kuda, sehingga Ia meminta Romi untuk menemaninya kesana, tentunya dengan sangat senang Romi bersedia menemani Silvi untuk kesana.


Kedua siswa yang masih SLTP itu asik berbelanja buku di beberapa toko buku yang ada lantai 2 pasar tersebut, setelah puas mendapatkan buku-buku yang dicarinya, Silvi mengajak Romi untuk istirahat ditaman sambil menikmati es krim yang ada di lantai dasar. Tanpa mereka sadari, beberapa siswa STM yang juga sedang nongkrong tidak jauh dari tempat mereka istirahat, memperhatikan gerak-gerik mereka berdua sedari tadi.


"Bro, cantik juga tuh ceweknya, hehehe." Ujar salah satu dari mereka dengan tatapan mesumnya melihat ke arah Silvi duduk.


"Masih kecil nyuk, pedopil lu yah." Ejek temannya.


"Masa bodoh, mau lu bilang pedopil kek! Kalau ceweknya secakep itu, Gue sosor abis dah, hahaha." Jawab orang pertama tertawa senang.


"Gue setuju bro. Gila, masih SMP aja tapi dah sebening itu yah ? apalagi gedenya, gak terkira deh cakepnya kayak apa." Timpal yang lainnya ikut menimpali.


"Ya, udah terserah lu pada deh." jawab pria yang duduk di tengah. Melihat dari gayanya, bisa dipastikan kalau dia adalah pimpinan dari komplotan anak STM tersebut.