
Ujang semakin tidak mengerti, dengan apa yang terjadi saat ini. Wajahnya tampak lebih kusam saat tiba di kampung halamannya. Bagaimana tidak, dia harus kehilangan istri sendiri sehingga tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Ujang tampak seperti orang linglung, mencari keberadaan Mori di sekitar rumah gadang milik keluarganya. Tidak terpikir untuk memikirkan diri sendiri karena kehilangan istri secepat ini.
Siang menjelang, matahari sudah sangat tinggi menyinari kampung halamannya, Ujang tengah berada disebuah rumah tua yang berada tidak jauh dari rumah gadang keluarganya. Tentu di temani Sida yang turut merasakan khawatir pada menantu Jepang-nya tersebut.
Mereka mendatangi rumah Datuk Sati, yang merupakan petua disana. Pria tua yang memiliki perawakan gelap, bahkan tampak seperti seorang yang sangat garang, tengah mengorek giginya dengan sebatang lidi kecil, dan mendecih kesembarang arah.
Sida menghela nafas panjang, dia melanjutkan niatnya untuk menanyakan menantunya yang hilang melalui mata batin Datuk Sati.
"Baa Tuak.... kamano agaknyo batino Jopang tu? Lah duo hari kami indak mancaliak nyo!" (Bagaimana Tuk, kemana hilangnya perempuan Jepang itu? Sudah dua hari kami tidak menemukannya!) tanya Sida bersimpuh di hadapan Datuk Sati.
Datuk Sati mengambil piring, dan beberapa kembang yang terletak tak jauh dari mereka duduk, sesekali melirik kearah Ujang dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun, dia selaku orang yang terpandang di daerah itu, hanya bisa terdiam tanpa mau banyak berucap.
Matanya tertuju pada Sida, "Dima Uman?" (Dimana Uman?)
Sida menjawab dengan suara bergetar, "Uman lagi di sawah, Tuak! Lah duo hari nyo ndak ka sawah. Bakpo caronyo beko kami iduik!" (Uman sedang di sawah Datuk! Sudah dua hari dia tidak ke sawah. Bagaimana nanti caranya kami hidup!)
Datuk Sati hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada Ujang. Pria yang merupakan suami dari Mori wanita yang hilang terlihat sangat salah tingkah, saat mata Datuk menatapnya sangat lekat.
Hanya mengeluarkan satu pertanyaan pada Ujang, "Ba'a dek ndak tahu ang, kama bini ancak tu pai? Alah tuh, pulang lah lei....!" (Kenapa kamu tidak tahu kemana perginya istri mu yang cantik itu pergi? Sudah lah, pulanglah lagi....!!)
Mendengar penuturan Datuk Sati, membuat Ujang dan Sida saling menatap tidak mengerti, bagaimana mungkin seorang petua kampung itu, tidak ingin melanjutkan pencarian pada istrinya?
Pria berdarah Minang itu beranjak dengan penuh perasaan kesal, bagaimana mungkin dia tidak mau membantu pencarian terhadap Mori istrinya. Apa itu yang harus dikatakan sebagai petua? Bahkan orang yang sangat di hargai dikampung mereka tidak mau membantu. Bahkan seolah-olah Ujang lah yang sangat mengetahui dimana keberadaan Mori.
Mereka bergegas meninggalkan kediaman Datuk Sati, kembali ke rumah gadang orang tuanya. Ujang menghubungi keluarga Mori, untuk memberi kabar bahwa mereka telah tiba di kediamannya beberapa hari lalu.
Dengan berbagai kebohongan yang di lakukan Ujang untuk menutupi kehilangan Mori, agar kedua orang tua istrinya tidak merasa khawatir. Tentu ini menjadi satu kebohongan awal yang di ciptakan oleh Ujang dihadapan Sida sang Bunda.
Sida sedikit terkejut, karena Ujang telah tega membohongi keluarga Mori yang berada di Jepang. Membuat wanita paruh baya tersebut menepuk kasar pundak sang putra.
"Acok bana ang baduto! Ndak elok, lai tahu ang!" (Sering kali kamu berbohong! Tidak baik, tahu kamu?) tegas Sida pada Ujang.
Ujang memeluk tubuh Sida, dia tidak ingin berdebat dengan sang Bunda, karena harus melakukannya agar kedua orang tua Mori tidak merasa khawatir pada putri kesayangan mereka.
.
.
Nohara Edogawa, biasa disapa Mori. Wanita muda yang sangat cantik, jatuh hati pada Ujang saat pertama kali bertemu dengan pria yang berasal dari Sumatera Barat tersebut. Beberapa kali gadis cantik itu memaksa pria asli Indonesia itu untuk melakukan hal yang sangat di larang dalam agamanya.
Namun, setiap Ujang menolak, Mori semakin gencar memaksa untuk melakukan semua hanya karena perasaan cinta yang dia rasakan terhadap pria berdarah Minang tersebut.
Tentu kedua orang tua Mori tidak mau menerima Ujang sebagai menantu, karena pria lokal itu hanya seorang buruh pabrik dan tidak memiliki tempat tinggal yang layak.
Beberapa kali Ujang harus menderita di Hiroshima, sehingga dia memberanikan diri untuk melamar, dan memutuskan segera menikah dengan wanita cantik yang telah memberikan nya keindahan surga dunia.
Rasa cinta yang Ujang miliki, hanyalah perasaan biasa yang dirasakan dua insan karena saling membutuhkan satu dan yang lainnya.
Keberuntungan yang berpihak padanya, setelah satu bulan pernikahan mereka Tuan Edogawa memberikan kebebasan pada Mori dan Ujang untuk tinggal di salah satu rumah mewah milik keluarga mereka dengan semua fasilitas yang mereka miliki.
Tentu, hidup Ujang berubah dalam hitungan detik. Orang yang dulu paling dibenci oleh Tuan Edogawa, kini menjadi seorang Sultan yang sangat di hargai.
Sebuah perusahaan swasta yang dikelola oleh Mori, secara otomatis beralih dalam genggaman Ujang. Sontak semua menjadi kejutan luar biasa bagi Ujang setelah menerima satu black card unlimited untuk dia gunakan, agar dapat membeli apa saja yang dia mau.
Sangat berbeda dengan kondisi kedua orang tua di kampungnya, hidup serba kekurangan bahkan tumbuh dalam kemiskinan.
Ujang benar-benar seperti Malin, kisah Malin yang pergi merantau menikahi wanita kaya dan terhormat.
Namun, dia bukanlah pria yang akan melupakan sang Bunda karena telah memiliki harta berlimpah yang rela melupakan begitu saja kedua orang tua yang telah merawatnya bahkan memberikan semua kasih sayang berlimpah tiada tara.
Ujang memohon pada Tuan Edogawa untuk membawa Mori terbang ke negara asalnya Indonesia. Sumatera Barat, lebih tepatnya Arau yang memiliki keindahan alam sangat luar biasa, bahkan belum pernah di injak oleh keluarga Mori termasuk Tuan Edogawa.
Dengan pertimbangan yang sangat besar, beberapa perjanjian harus Ujang tanda tangani sebelum membawa Mori terbang bersamanya.
Syarat utama yang Tuan Edogawa utarakan, 'jangan sampai siapapun tahu siapa Mori dan keluarga besar istrinya yang merupakan orang ternama di Jepang'.
Menurut Ujang, itu merupakan syarat yang sangat mudah untuk dia tepati, sebagai menantu pertama yang sangat di cintai oleh gadis Jepang tersebut.
Cinta Mori pada Ujang sangat berbeda dengan yang lainnya. Pria Indo itu sangat baik dan sopan, bahkan dia mau melakukan apa saja demi membahagiakan Mori, selama menjalin hubungan dengan pria hitam manis tersebut, tidak pernah sedikitpun Ujang mengkhianati Mori, ataupun berlaku kasar padanya.
Ujang merupakan pria paling setia walau sudah bergelimang harta.
Namun, semua drama kisah cinta Ujang tidak lah berakhir seperti Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Dia justru harus kehilangan istri saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri.
BHUUUUG....!
BHUUUUG.....!
KREEK.....!
PRAAAAK....!
Terdengar suara sabetan pedang panjang, yang tengah memotong-motong sesuatu di suatu tempat gelap, bahkan bersimbah darah.
"Ujang....!!!" teriak wanita paruh baya saat melihat tubuh pria bertubuh kekar tersebut bersimbah darah.