Bunian

Bunian
BAB 92



"An-Anna,, kamu tidak apa-apa?"


Zaha bertanya dengan terbata bukan karena tegang, semata karena gelisah ketika melihat kondisi Anna yang hanya berbalutkan sepotong lingerie hitam tipis. Dibalik itu, tubuh indahnya membayang jelas dan pastinya begitu mengundang setiap orang untuk mengintip lebih jauh apa yang tersimpan dibaliknya.


Tidak terkecuali seorang Zaha, apalagi ingatan tentang tubuh Anna begitu lekat dalam ingatannya. Setiap jengkal tubuh Dokter Anna terbayang begitu jelas dalam setiap sel memorinya.


Bagaimana bisa Ia melupakan tubuh indah wanita yang sudah melahirkan seorang putri cantik untuknya tersebut?


Bahkan setelah melahirkan seorang putri sekalipun, tubuh indah Anna bahkan tidak berkurang keindahannya sedikitpun. Justru terlihat semakin seksi dengan bentuk tubuh yang lebih berisi dan terlihat lebih padat.


Zaha pun hampir kehilangan kendali dirinya, jika tidak mengingat situasi berbahaya yang tengah dihadapinya saat ini. Saat itu, Zaha baru tersadar jika telapak tangan kanan Anna mengeluarkan cukup banyak darah.


Dengan cepat Ia meloncat dan tiba disamping tubuh Anna, "Anna, apa yang terjadi?" Tanya Zaha tanpa bisa menyembunyikan kehawatirannya.


Anna tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zaha. Sebaliknya, sekarang Ia justru menatap Zaha dengan mata yang berkaca-kaca. Ia seperti menahan sesuatu didalam dadanya dan seolah siap untuk diledakannya setiap saat. Jika Anna terlihat masih bisa menahannya saat ini, itu karena Ia sedang berusaha untuk melerai perasaannya.


Ia tampak sedih dan juga senang disaat bersamaan dan jika melihatnya lebih dalam, ada juga penderitaan dan rasa luka yang sedang coba ditahannya.


Zaha tidak menunggu Anna untuk menjawab pertanyaannya, dengan gerak cepat Ia merobek kaosnya lalu menekan telapak tangan Anna yang terluka untuk menahan darah yang masih mengucur deras.


Zaha masih belum paham apa yang terjadi, namun setelah mengamati setiap detail dan perubahan dalam rumah Anna, Ia yakin tidak ada seseorang yang membahayakan Anna saat ini. Karena itu, Ia cepat memutuskan keluar kamar dan mencari kotak P3K yang biasa selalu disiapkan Anna dirumahnya.


Bukan hal yang sulit menemukannya, begitu Zaha menemukan apa yang dicarinya, Ia langsung kembali kedalam kamar untuk merawat luka ditangan Anna baik. Selama proses itu, keduanya sama sekali tidak bicara. Anna sibuk bertahan dengan emosinya sendiri dan Zaha pun fokus mengobati luka ditangan Anna.


Setelah semuanya selesai, Zaha baru mengangkat wajahnya dan menatap Anna. Ia tidak berani melihat kebawah terlalu lama, karena matanya tidak bisa menahan godaan untuk tidak melirik tubuh Anna yang semi terbuka. Ia khawatir, jika melihat pemandangan seindah itu terlalu lama bisa membuatnya lepas kendali.


"Dokter Anna, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Zaha lembut.


Zaha masih belum bisa menyimpulkan kenapa Anna tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan kalau Ia sedang dalam bahaya, padahal situasi yang terjadi sangat berbalik dari apa yang telah diucapkan Anna ketika menghubunginya.


Melihat pecahan vas besar diluar ruangan, Zaha menyimpulkan kalau Anna sengaja melakukannya sendiri. Tapi belum jelas apa motif Anna melakukan tidakan impulsif seperti itu, apa Ia sedang berada dalam masalah?


"Dokter Anna?" Ulang Anna mengulangi sebutan Zaha antara menangis dan tertawa.


"Kenapa, Za? Apa Aku hanya persinggahan bagimu? Tidakkah Aku berarti apa-apa bagimu? Atau kamu masih tetap akan bersikukuh jika kamu bukan Zaha-ku?" Air mata Anna mulai deras bercucuran. Ia memberondong Zaha dengan semua pertanyaan yang selama ini menyesak didadanya. Terakhir kali Ia terpaksa menelan mentah-mentah semua kebohongan Zaha padanya.


Setelah pulang dari rumah Angel tempo hari, Anna merenungkan semua kepingan petunjuk yang menjadi teka-teki tentang Zaha. Sejak itu, Ia secara intens mencari informasi seputar Zaha.


Sebuah pekerjaan yang mudah untuk mengetahui seperti apa Zaha dulunya, dari situ Anna coba menghubungkan dengan kejanggalan demi kejanggalan diseputaran Zaha beberapa bulan terakhir. Perubahan besar hidup Zaha terjadi ketika malam itu, malam yang sama dimana Zaha-nya tewas jatuh kedalam jurang. Dimalam yang sama, dimana Anna melakukan operasi Zaha remaja, lalu Ia teringat dengan celetukan para asisten perawatnya yang merasakan hal berbeda pada malam itu dan menyebutkan tentang melam purnama.


Dulu, Anna mungkin tidak akan menghiraukan pernyataan-pernyataan yan berbau tahayul dan kistis. Baginya Anna, semua itu hanyalah fiksi semata. Tapi ketika menghadapi banyaknya kejanggalan yang ditemuinya beberapa waktu beakangan, utamanya ketika itu menyangkut dengan Zaha. Maka Anna tidak bisa mengabaikannya begitu saja, kenyataan membuat Anna mau tidak mau harus mengakui hal yang diluar logikanya tersebut.


Lalu, Anna teringat dengan respon Zaha ketika pertama kali melihat dirinya saat terbangun dari komanya. Respon Zaha selanjutnya saat sedang berkonsultasi dengannya dan juga reaksinya ketika melihat putrinya.


Dengan menambahkan sedikit uang agar orang yang disuruhnya menyelidiki Zaha lebih jauh, Ia juga mendapatkan informasi yang begitu mencengangkan kalau Zaha juga beberapa kali berkelahi, dan itu bukan sekedar perkelahian antara remaja biasa. Tapi Ia bertarung dengan sekelompok preman, sampai namanya dikenal dan bahkan memimpin sebuah organisasi ilegal.


Selain itu, mereka yang menjadi bawahannya juga punya julukannya tersendiri untuk Zaha, yaitu 'King'.


Remaja mana yang bisa melakukan itu semua?


Sehebat apapun seorang manusia, sangat sulit untuk bisa mempercayai seorang lelaki yang masih berada di usia remaja bisa melakan itu semua?


Puncaknya, Anna coba melakukan sebuah aksi nekat untuk membuktikan semua dugaannya. Hasilnya, Zaha tanpa mempedulikan apapun langsung datang ketempatnya tidak lama setelah Anna menghubunginya. Semua kecemasan dan kekhawatiran pemuda itu terbayang dengan begitu jelasnya dalam setiap tatapan mata dan eskpresinya.


Itu sama persis dengan Zahanya dulu.


Itulah alasan kenapa semua perasaan Anna seakan melonjak hendak keluar dan siap ditumpahkannya pada Zaha.


"Apa maksud Dokter Anna? Saya benar-benar tidak mengerti." Ucap Zaha sambil tersenyum, kembali memasang ekspresi polos dan coba mengaburkan penilaian Anna terhadapnya.


Satu yang mungkin tidak diketahu Zaha saat ini, Anna sudah begitu yakin jika dia adalah 'Zaha'-nya Anna. Keyakinan Anna seakan tidak akan tergoyahkan lagi, bagaimanapun Zaha coba mengingkarinya.


"Pergilah jka kamu masih memanggilku dengan Dokter Anna." Ucap Anna lemah sambil memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Ia kecewa dengan Zaha yang masih tidak mau mengakui siapa dirinya yang sebenarnya.


Zaha menghela nafas dalam melihat sikap Anna, 'Kenapa Anna harus bersikeras dengan cara seperti ini?'


Zaha yang memang sudah menetapkan keinginannya untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Anna sendirian. Setidaknya itu lebih baik, Zaha tidak ingin Anna mengulangi semua penderitaan dimasa lalu. Ia tidak ingin Anna berada dalam bahaya dan setiap saat harus mencemaskan dirinya.


Melepaskan Anna, paling tidak akan membuat wanita yang dicintainya itu tetap aman. Bersamanya hanyakan mendatangkan bahaya dalam hidup Anna, apalagi Zaha sudah tahu mereka memiliki seorang putri.


Namun sesaat ketika tangan Zaha hendak meraih gagang pintu dan hendak keluar, Anna berkata dengan suara lirih, "Pergilah! Dan besok kamu akan menemukan mayatku. Putri kita... putri kita mungkin akan kehilangan orang tuanya untuk selamanya."


Tubuh Zaha langsung kaku begitu mendengar ucapan Anna. Ia sepertinya tidak bisa lagi menghindari sangkaan Anna terhadapnya, Zaha berada dalam pilihan terberat.