
Zaha mengendarai R6 miliknya Angel bak orang kesetanan, Ia seperti berpacu dengan waktu. Adrenalinnya melonjak tinggi begitu keselamatan Anna menjadi taruhannya. Panggilan Anna beberapa saat lalu kembali terngiang-ngiang dibenaknya dan itu memicunya kemarahan dalam diri Zaha.
Ia memang telah berniat untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya dan meninggalkan Anna dan semua kenangan yang mereka miliki tertkubur dimasa lalu bersamaan dengan jasadnya yang telah terkubur mati.
Namun, ketika mendengar ketakutan dalam nada suara Anna, tetap saja Zaha tidak bisa mengabaikan wanita dimasa lalunya tersebut berada dalam bahaya. Apalagi ketika Zaha menemukan fakta, bahwa Anna telah melahirkan anaknya. Seorang putri yang begitu cantik dan menggemaskan.
Padahal 1 jam yang lalu, Zaha dengan terus terang sudah mengatakan pada Angel jika Ia akan memulai lembaran baru dalam hidupnya dan itu artinya, Ia akan meninggalkan semua yang berhubungan dengan masa lalunya dibelakang dan memulai lembaran baru dalam hidupnya.
Termasuk Dokter Anna, tidak peduli semanis apapun kenangan yang telah mereka lalui dimasa lalu. Jika mengingat apa yang telah dilewatkannya, selama ini Zaha lebih banyak memberikan perasaan tertekan dibandingkan kebahagiaan pada Anna. Setiap Ia terluka setelah menjalankan misi, Ia akan kembali pada Anna. Dokter cantik itulah yang selalu merawatnya, dari situlah benih-benih cinta diantara mereka pun muncul.
Anna selalu merawat setiap luka ditubuh Zaha selama ini, bahkan lambat laun rasa luka dalam hati Zaha juga mulai terobati. Anna pun mulai, mengisi lembar demi lembar kehidupan Zaha. Karena alasan yang sama, Zaha merasa selalu menghadirkan perasaan kihawatir dan gelisah dalam diri Anna disaat bersamaan. Zaha tahu, jika Dokter cantik tersebut selalu mengkhawatirkan keselamatan dirinya.
Dulu, Anna pernah mengatakan padanya, "Satu hal yang paling kutakutkan didunia ini, adalah ketika yang pulang bukan lagi dirimu melainkan jasadmu. Mungkin saat itu, Aku tidak ingin hidup lagi karena kamu adalah hidupku."
"...Aku tidak peduli separah apapun luka yang kamu derita, karena aku pasti akan berusaha dengan seluruh hidup dan mampuku untuk menyembuhkannya. Tapi, Aku tak akan sanggup jika yang kulihat nanti adalah jasad tanpa ada dirimu didalamnya, aku tak sanggup."
Zaha tidak tahu bagaimana Anna bisa melewati semua rasa sakit yang diterimanya begitu mendapati berita tentang dirinya yang tewas ketika itu. Satu hal yang jelas, Zaha tidak ingin lagi Anna merasakan perasaan sakit yang sama seperti dimasa lalunya.
Sudah cukup semua penderitaan dan rasa tertekan yang pernah diberikannya untuk Anna selama ini, Zaha tidak mengulangi siklus yang sama dan membuat Anna kembali menderita. Karena alasan yang sama, Zaha bersikeras tidak ingin membuka jati dirinya ketika Anna mempertanyakan tentang identitasnnya sesaat setelah Ia sadar dari koma panjangnya.
Sekarang, ketika mendengar Anna dalam bahaya. Syaraf-syaraf dalam tubuh Zaha menegang. Ia tidak akan membiarkan satu apapun menyakiti Anna-nya. Bahkan jika itu adalah dunia sekalipun, Zaha pasti akan menghancurkannya.
Setelah Anna memutus panggilan telponnya secara tiba-tiba, Zaha dengan cepat mentracking nomor Anna. Bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan titik lokasi tempat Anna berada, ternyata saat itu Anna berada di rumahnya. Zaha pun dengat cepat menggunakan motor sport milik Angel dan hanya dalam waktu tidak lebih dari 15 menit, Zaha sudah sampai di komplek perumahan Anna.
Zaha sendiri cukup akrab dengan lokasi diperumahan itu, karena dulu Ia sering mampir kesana dan menghabiskan waktu bersama Anna. Ternyata, Anna masih tinggal diperumahan yang sama. Cuma bedanya, rumah Anna sekarang sudah diperluas dan bertambah menjadi dua lantai.
Meski dalam keadaan tegang karena mencemaskan keselamatan Anna, Zaha tetap mempertahankan ketenangannya. Ia berhenti 50 meter dari depan rumah Anna, matanya dengan tajam dan awas memperhatikan keadaan sekitaran rumah Anna sebelum membuat keputusan.
Angel menghubunginya, "Zaha, bagaimana situasinya? Aku akan menyusul kesana ya." Walau terdengar tenang, tapi jelas kalau Angel sangat mengkhawatirkan Zaha. Apalagi kondisi Zaha belum pulih seratus persen, bukan kondisi yang menguntungkan jika seandainya Zaha sampai bertemu dengan Rio saat ini.
"Tidak usah! Aku bisa mengurusnya. Angel, kamu jaga kak Nia disana. Aku masih belum tahu situasinya, jadi aku membutuhkan kamu untuk menjaga kak Nia disana."
"Oke." Ucap Zaha singkat lalu menutup telponnya dan mengubah setingan hpnya ke mode silent agar konsentrasinya tidak terganggu.
Setelah mempelajari situasi yang ada, Zaha mengernyitkan keningnya. Kondisi rumah Anna baik-baik saja, tidak seperti rumah orang yang sedang dimasuki oleh penjahat.
"Apa orang itu menyamar sebagai tamu dan membiarkannya masuk tanpa curiga sama sekali?" Gumam Zaha curiga. Setahunya, Anna adalah tipikal orang yang selalu hati-hati. Kecuali penjahat yang masuk merupakan orang yang dikenalnya? dan membuat Anna lengah.
Zaha tidak mengurangi sedikitpun kewaspadaannya, Ia memperhatikan situasi lingkungan perumahan Anna sesaat. Setelah memastikan tidak ada siapapun yang akan memperhatikan aksinya, Zaha dengan cepat bergerak melompati pagar rumah Anna.
Meski belum pulih sepenuhnya, namun tubuh Zaha yang sekarang sudah jauh berkembang semenjak Ia bangkit dari kematian pertama kali. Berkat latihan kerasnya selama ini, seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh otot-otot yang padat. Karena itu juga, Zaha bisa bergerak lebih fleksibel dan cepat.
Dalam beberapa gerakan Zaha sudah berhasil sampai dilantai dua rumah Anna, Ia mengintip melalui celah gorden dijendela besar. Suasana didalam begitu sepi, benar-benar hening seakan tidak ada yang terjadi sama sekali. Zaha bahkan sempat bertanya-tanya, apa Anna telah berbohong padanya?
Ketika Zaha mengalihkan sudut pandangnya ke titik lainnya, Ia terkesiap begitu mendapati sebuah vas besar pecah dan ada darah yang masih terlihat segar diantara pecahannya. Saat itulah, kekhawatiran Zaha semakin meningkat. Zaha mencongkel jendela dan berhasil menyelinap masuk dengan senyap kedalam rumah.
Zaha mendekati pecahan Vas untuk mencari petunjuk keberadaan Anna, ternyata ada jejak tetesan darah yang menuju ke kamar utama. Zaha coba mempertajam indra pendengarannya untuk lebih memahami situasi yang terjadi, tapi benar-benar hening.
Zaha benar-benar dibuat bingung dengan situasi yang terjadi. Sementara Ia hanya menyimpulkan, jika Anna pasti sedang berada di dalam kamar. Ia pun melangkah pelan menuju kamar Anna, yang dikhawatirkannya jika penjahat itu sedang melakukan perbuatan keji pada Anna saat ini.Memikirnya saja sudah membuat darah Zaha semakin mendidih.
Tapi, sekali lagi. Suasana dalam kamar Anna pun benar-benar hening, seakan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi.
Tidak mau menunggu lama, takut jika terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa Anna. Zaha mengeluarkan kerambit kecil yang menjadi senjata andalannya selama ini dan langsung mendobrak pintu.
Brakkkk
Begitu pintu terbuka, Zaha cepat melesat masuk kedalam kamar dan matanya langsung bergerak liar mencari keberadaan musuh. Tapi sebaik apapun mata tajam Zaha menscaning area kamar, tidak ditemukan satupun musuh yang dikhawatirkannya, selain teriakan keterkejutan Anna karena pintu kamarnya yang didobrak paksa oleh Zaha.
"Aaaaa.."
"Anna.. Kamu gak apa-apa...." Zaha hendak menanyakan keadaan Anna karena khawatir akan keselamatannya, tapi lidahnya langsung kelu begitu mendapati Anna yang hanya mengenakan lingerie tipis diatas tempat tidur.