
Mata Cici tertuju pada Mira yang tenga menikmati sentuhan tangan Sunna dengan penuh kasih sayang.
Ijab kabul yang terucap, membuat Cici hanya bisa pasrah demi Akmal kembali kepelukan keluarga.
Tampak wajah Mira yang sangat tenang, namun mereka lupa akan sesuatu hal yang tidak disangka-sangka akan menimpa putri kesayangan mereka.
Gadis kecil itu tidak bisa mengeluarkan suara, tapi dia mampu tertawa saat mendekati kedua orang tuanya. Wajah gadis mungil yang sangat menggemaskan itu kini duduk dipangkuan Cici, di saksikan oleh Keluarga Datuk Rajo Omeh.
Sedikit bisikan yang terdengar ditelinga Cici, namun tak dihiraukan bagi wanita yang tengah duduk mendampingi suaminya bersanding dengan Upiak Raya.
Cici berbisik pada Akmal, "Bi, kita langsung kembali ke Pekanbaru yah? Karena ini sudah hampir memasuki hari kesembilan. Kita tidak bisa lama-lama disini."
Akmal mengangguk setuju, dia kembali bersemangat setelah melakukan akad nikah dengan gadis bunian yang tidak dapat dilihat oleh manusia yang tidak memiliki penglihatan seperti Cici.
Upiak Raya, mendengar perkataan Cici. Dia mendekati wanita yang merupakan madunya jika didunia nyata, namun karena mereka berbeda dunia, dia memberikan sesuatu kepada Cici.
"Tarimolah iko Uni. Untuak modal Uni iduik di kota gadang. Awak tibo satiok malam Jum'at. Cukuik sadioan sajo kamar untuak awak bakunjuang." (Terimalah ini Kakak. Untuk modal Kakak dikota besar, aku akan datang setiap malam Jum'at. Cukup sediakan kamar untuk saya berkunjung) ucapan Upiak Raya membuat Cici tampak kebingungan.
Cici menerima sebuah kotak. Namun, dia tidak ingin membukanya di hadapan para petua disana. Baginya lebih baik dia membuka saat tiba di kotanya.
Ritual berlangsung sangat hikmat, nyanyian biduan yang semakin lama semakin terdengar cepat tanpa henti, membuat mereka tampak lebih bersemangat menjalani kehidupan normal seperti biasa.
Akmal yang tampak tenang setelah pernikahannya, kembali memeluk Cici saat menyadari bahwa mereka sudah tidak berada disana.
Akmal berkata dengan suara yang lembut, "Terimakasih, Ami mau melakukan apa saja untuk, Abi. Abi bersyukur mendapatkan istri seperti Ami."
Cici tersenyum tipis melihat kesempurnaan yang sudah berada dalam genggaman.
Cici kembali bertanya pada Datuk Mangkuto Malin, "Tuk, sudah bisakah kami kembali ke kota? Ci, sudah seminggu tidak masuk kantor. Begitu juga dengan kedua Abang Ci dan kedua sahabat Abi Mira."
Datuk Mangkuto Malin mengangguk, "Baliaklah bisuak subuah." (Kembali lah besok Subuh)
Mendengar perintah Datuk Mangkuto Malin Cici beranjak mencari keberadaan kedua abangnya. Sementara Mira tengah berada dipelukan Akmal.
Cici menyampaikan apa yang telah di sampaikan oleh Datuk Mangkuto Malin, pada kedua abangnya. Tentu saja mereka setuju. Karena kenyamanan selama berada di sana harus segera diakhiri. Mengingat Luqman dan Dean juga meninggalkan keluarga mereka di kepulauan tempat mereka meniti karir.
.
Subuh menjelang, suasana masih tampak gelap. Cuaca yang sangat dingin membuat mereka bergegas memasukkan semua perlengkapan mereka. Tentu membawa Akmal bersama mereka.
Dony dan Cardo tampak bersemangat, karena mendapatkan beberapa bingkisan dari Sunna.
Begitu juga Luqman dan Dean, semua bingkisan yang diberikan sangat lah tertata dengan baik.
Cici menggendong Mira, sementara Oneng masih disibukkan dengan mengemasi barang-barang untuk dimasukkan kedalam mobil.
Sementara Akmal, mendapatkan banyak wejangan dan sebuah kotak yang berisikan bermacam-macam jenis emas dari Datuk Rajo Omeh. Tentu menjadi pemandangan yang baru bagi Akmal, menerima perlakuan yang sangat baik dari mertua sang bunian.
Semua dia masukkan kedalam tas yang dimana Cici juga menyimpan pemberian dari Upiak Raya.
Mereka meninggalkan perkampungan Datuk Mangkuto Malin dengan isak tangis yang sangat mengharukan.
Mereka mengangguk, Cici yang sudah menganggap Sunna sebagai Ibunya, hanya memeluk penuh perasaan bahagia, "Terimakasih yah, Mak. Ci senang bisa bertemu dengan Amak dan Datuk yang telah memberikan kekuatan pada Cici dan keluarga."
Sunna mengangguk tersenyum, wajah penuh kedamaian terpancar jelas dari wanita paruh baya tersebut.
Mereka memasuki mobil, Luqman membawa Cici dan Akmal beserta Oneng, sementara Cardo dan Dony membawa Dean bersama mereka.
Tepat pukul 05.30 waktu setempat, suasana masih tampak gelap. Alunan musik talempong terdengar sayup-sayup dari arah perbukitan melepas kepulangan sang Datuk Rajo Mudo yang telah tersemat dihati makhluk bunian yang tak kasat mata.
Perjalanan mereka sangat berbeda dari pertama kali menempuh perkampungan Datuk Mangkuto Malin. Serasa begitu cepat, bahkan tidak menemukan jalanan terjal yang seperti awal.
Namun seketika, Dean teringat akan satu tas miliknya yang berisikan pakaian dan beberapa perlengkapan pekerjaan selama di kepulauan yang dia bawa sebelum keberangkatannya menuju Pekanbaru.
Dean sibuk mencari-cari keberadaan tas ransel miliknya, mencari kearah bagasi, dan menghubungi Luqman agar berhenti.
Mobil mereka terhenti dijalan yang tampak sunyi senyap, namun mereka tidak merasa takut seperti awal menapaki langkah di perbukitan yang ditutupi pepohonan rindang.
"Apa sih, Dean...!" Luqman tampak kesal pada adik ke-duanya mengacak-acak bagasi belakang mobil yang ditumpangi Cici dan Akmal saat mereka berhenti.
Dean terus mencari tas ranselnya yang berwarna hijau berlambangkan sebuah instansi tempat dia bekerja.
Dean menatap mata Luqman, "Aku dan Cardo kembali ke kampung Datuk Mangkuto Malin, kalian jalan saja deluan! Karena di dalam tas itu ada beberapa dokumen penting ku!"
Luqman mengangguk setuju, "Kami menunggu kalian di Bandrek Hause' yah! Kan tidak begitu jauh, kita sarapan disana!"
Dean mengangguk setuju, kembali memasuki mobil, mengajak Cardo kembali ke kampung Datuk Mangkuto Malin.
Mereka berpisah, Cici mengarah ke Pekanbaru, sementara Dony dan kedua keluarganya kembali ke perkampungan mencari sesuatu yang tertinggal.
Cardo yang tengah mengendarai mobil, tampak tenang saat melajukan kendaraannya. Dia menikmati kopi kawah yang dipersiapkan oleh Sunna didalam satu termos yang mereka bawa dari kota saat pencarian Akmal.
Selang beberapa jam, mereka berpisah, perkampungan yang mereka tuju tidak kunjung kelihatan.
Cuaca panas terik dan telah melewati beberapa perjalanan yang terjal untuk menuju perkampungan tersebut semakin curam.
Dean yang duduk dibelakang Cardo menepuk bahu keponakannya, merasakan sesuatu keanehan. Meminta Cardo untuk menghentikan kendaraan mereka.
"Sepertinya kita tersesat deh, Do. Lebih baik kita menunggu warga kampung disini, karena Abang rasa kita tidak melewati jalan ini," ucap Dean celingak-celinguk melihat kearah depan belakang kiri dan kanan.
Benar saja, lebih dari dua jam mereka baru bertemu dengan seorang pria paruh baya yang melewati jalan tersebut, yang tengah berjalan kaki, memanggul keranjang dengan sebilah bambu.
Bergegas Cardo turun dari mobil, menghampiri Pak tua paruh baya tersebut, "Pak, mohon maaf. Saya sedang mencari keberadaan perkampungan Datuk Mangkuto Malin, apakah sudah dekat? Atau masih jauh yah?"
Pak tua itu tampak kebingungan, mimik wajahnya berubah-ubah, "Kampuang? Ma ado kampuang disiko anak mudo! Jan batele-tele jo lai.... baliak lah! Baliak....!!!" (Kampung? Mana ada kampung disini anak muda! Jangan bercanda juga lagi..... pulanglah! Pulang....) dengan mata melotot kearah Cardo.
Mendengar ucapan pria paruh baya itu, sontak membuat bulu kuduk Cardo berdiri, tidak sanggup beramah tamah ataupun kembali bertanya.
Bergegas Cardo memasuki mobil, menekan pedal gas, menuju Bandrek Hause' tempat mereka janjikan, tanpa bicara sepatah katapun.
"Kenapa perkampungan itu menghilang?"