
"Biarkan Dia bicara, Bang." Ucap Zaha dari belakang, lalu berjalan kedepan.
"King." Panggil Kulup ragu. Ia dan yang lainnya tentu tidak akan membiarkan sampai terjadi apa-apa dengan King mereka.
"Sudah, gak apa-apa Bang." Kata Zaha memberi kode mata. Ia mengisyaratkan kalau Ia bisa mengatasinya.
"Bicaralah." Perintah Zaha pada Dion.
Dion tampak heran dan merasa aneh, karena Ketua yang hendak diajaknya bicara, sangat muda sekali dan mungkin masih berusia remaja. Tapi, melihat semua orang dan pemimpin Distrik di Kelompok Selatan sangat menghormati dan tunduk padanya, sehingga Dion pun tidak berani meremehkan remaja yang berdiri didepannya itu.
"Saya kontak yang dihubungi oleh anggota Anda." Kata Dion masih tampak ragu dan sungkan.
"Oke, teruskan."
"Saya dan beberapa petinggi Kelompok Timur lainnya akan mendukung rencana Anda hari ini. Tapi, Kami.. ada syaratnya." Ucap Dion ragu-ragu.
Zaha tampak cermat memikirkan setiap kata-kata Dion dan juga ekspresinya, pengalamannya sebagai pasukan khusus dahulu membuatnya dengan mudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh lawan bicara. Dan Zaha tampak tenang memperhatikannya, sehingga membuat Dion gugup. Dalam hati Dion berpikir, "Semuda ini, tapi Ia memiliki kharisma yang besar yang membuatku goyah. Pantas saja jika Ia menjadi ketua Kelompok Selatan. Semoga kemampuannya juga tidak kalah hebatnya dan pilihan yang diambil seniornya tidak salah."
"Apa syaratnya ?"
"Tapi, sebelum Kami mengajukan syarat. Boleh Saya bertanya terlebih dahulu ?"
"Ya ?"
"Apa Kelompok Selatan menyerang hari ini untuk menguasai Kelompok Timur ?" Tanya Dion ragu-ragu.
Zaha hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Dion, "Tidak. Kami kesini hanya untuk membalas orang-orang kalian yang telah menyerang keluarga Kami sebelumnya dan Saya ada urusan pribadi dengan Cakra." Kata Zaha kalem dan tegas.
Kening Dion tampak berkerut heran sehingga Dia sempat melirik rekannya, tapi raut wajah yang sama tampak diwajahnya. Itu sudah cukup menandakan jika kelompok mereka tidak tahu sama sekali tentang penyerangan ke markas Kelompok Selatan.
"Terus apa syaratnya ?" Tanya Zaha tanpa basa-basi.
"Eh, I-Itu.. Kami ingin saat terakhir nanti. Kami minta kemurahan hati Ketua Kelompok Selatan, agar yang menghadapi Cakra adalah senior Kami.."
"Tidak bisa." Sela Zaha tegas.
"Ta-tapi, Kami ada urusan dan dendam yang harus dituntaskan dengan Cakra." Ada bara kemarahan dan dendam yang lama terkubur dalam, kini mencuat kembali.
"Sudah Kubilang tidak bisa. Saya tidak peduli ada urusan apa kalian dengan Cakra, karena hari ini Kami datang untuk Cakra dan Kami tidak mengijinkan kalian sama sekali berhadapan dengan Cakra. Cakra, bagianku." Ujar Zaha mengakhiri ucapannya dengan tatapan tajam ke arah Dion, membuat tubuh pemimpin Distrik 7 Kelompok Timur Timur itu seakan membeku.
"Ta-tapi.."
Zaha mengangkat tangan kanannya, menandakan tidak ada hal yang perlu disikusikan lagi.
"Kalau kalian masih ingin membantu Kami hari ini, silahkan. Kalau kalian memutuskan untuk jadi penonton atau bahkan kembali berpihak pada Cakra, juga silahkan." Lanjut Zaha tegas.
Wajah Dion dan Badak, rekannya tampak bingung dan gelisah. Akhirnya ketika Zaha dan seluruh anak buahnya melewati mereka, mereka masih diam dan membiarkannya begitu saja. Badak tampak mengutak-ngatik HPnya mengirim pesan pada seseorang, begitu mendapat balasan, Iapun mengkode Dion. Akhirnya mereka berjalan di belakang barisan pasukan Kelompok Timur, saat Zaha melihat ke arah mereka, "Senior Kami memerintahkan untuk tetap mendukung rencana Kelompok Selatan, Kami bersama kalian hingga akhir." Ucap Badak.
Mereka berjalan memasuki bagian dalam gedung.
Baru masuk kedalam gedung, mereka sudah disambut oleh pasukan lawan yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah pasukan yang ada diluar sebelumnya. Tapi, itu tidak membuat pasukan yang dipimpin oleh Zaha itu gentar sedikit pun. Apalagi adanya tambahan belasan pasukan Kelompok Timur yang kini berbalik mendukung mereka.
Tanpa ada yang menyadari, Dion memberi kode pada beberapa orang pimpinan Distrik Kelompok Timur yang berada dibarisan lawan.
"Bah, lama kali kalian sampainya disini." Sindir salah seorang pimpinan pasukan lawan dengan senyum meremehkan. Namun senyum itu tidak bertahan lama, begitu Ia mendapati dua orang pemimpin distrik beserta anak buahnya membelot mendukung pasukan lawan.
Belum selesai keterkejutannya, dua orang pemimpin pasukan distrik lainnya dengan diikuti anggotanya berjalan mendekati Kelompok Selatan ikut bergabung dengan barisan mereka. Sontak membuat para pemimpin Distrik Kelompok Timur itu jadi semakin merah padam.
"Bangsat! Ternyata ini yang kalian tunggu selama ini, Pengkhianat, babi Kalian." Bentak orang yang menyambut pertama kali.
"Pengkhianat ? Kata itu lebih cocok kalian ucapkan buat ketua Kelompok Timur. Siapa yang membunuh ketua lama ? Setelah Ia memberi kepercayaan penuh padanya." Ujar salah seorang pemimpin Kelompok Timur yang balik ikut mendukung kelompok selatan.
"Maaf jika Kami lancang, tapi ijinkan untuk kali ini Kami bersama kalian, Kelompok Selatan." Ujar pria itu lagi menghadap Cak Timbul.
Cak Timbul hanya tersenyum geli, "Tergantung King, Dialah ketua Kami." Kata Cak Timbul sambil menunjuk kearah Zaha, itu membuat kaget lawan bicaranya karena salah mengira.
"King ?"
"Iya, King. Hehehe, jangan salah tunjuk lagi Jang. Walau masih muda, tapi King lah ketua Kami saat ini. Ia yang telah berhasil mengalahkan Codet, ketua sebelumnya. Dan itu secara 'Fair'." Ujar Jarwo berseloroh dan sengaja menekankan kata terakhir, sedikit banyaknya mereka sudah tahu apa yang terjadi dengan Kelompok Timur.
"Eh, M-Maaf. Saya kira Cak Timbul yang jadi Ketua saat ini. Maafkan saya, King." Lanjutnya penuh hormat dengan sedikit membungkukkan badan pada Zaha.
"Sudah gak apa-apa. Santai aja Om." Ujar Zaha kalem.
"Oh ya, Saya Darko dan itu Bjack. Kami pasukan kiri dari Kelompok Timur dan mereka berdua, Bisturi dan Dul. Pemimpin Distrik 12 dan 13 Kelompok Timur." Lanjut Darko sambil menunjuk dua orang lainnya dibelakangnya.
"Pemimpin Kiri ?" Tanya Zaha sedikit heran. Karena setahunya hanya ada pemimpin Distrik lalu Pemimpin Tertinggi.
"Pemimpin Kiri merupakan pasukan elite kelompok timur, dibawahnya baru pemimpin distrik." Kata Bjack menjawab keheranan Zaha.
"Wuih baru tahu Kita ada Pasukan Kiri segala. Menarik nih." Ujar Lipay salah seorang pemimpin senior dari Kelompok Selatan.
"Diatas Kami, masih ada Pasukan Kanan. Mereka hanya terdiri dari 3 orang saja, dan kemampuannya ada diatas kami semua." Lanjut Darko.
"Pasukan Kiri ada berapa orang ?" Tanya Cak Timbul.
"7 orang Cak, Saya dan Bjack. Lalu mereka berlima." Ujar Darko sambil menunjuk lima orang yang berdiri paling depan di barisan lawan.
"HAHAHA.." Terdengar tawa keras dari salah seorang Pasukan Kiri barisan lawan.
"Mantab-mantab. Kalau berkhianat memang jangan tanggung-tanggung, sekalian aja kalian bocorkan ukuran ****** kami semua." Sindirnya lagi.
"Kalian mau ukur ****** dulu atau mau bertarung nih ?" Kata Sam salah seorang pemimpin junior dibarisan Kelompok Selatan menjawab sindiran lawan, sontak yang lainnya jadi tertawa mendengar celotehan Sam membuat emosi barisan lawan semakin tersulut.