
"Dia bisa datang padaku kapan saja kalau begitu." Kata Zaha dengan tenangnya, seolah-olah itu bukan masalah yang besar baginya.
"Yang perlu kita perhatikan saat ini, bukan Ayahnya Anna melainkan cara untuk memusnahkan Rio dan seluruh keluarganya. Kalau tidak, Ia akan ancaman dimasa depan. Lebih baik mengambil tindakan pertama sebelum musuh bergerak." Lanjut Zaha lagi sambil memikirkan sesuatu.
Zaha tidak memungkiri, potensi bahaya Rio untuk semua orang didekatnya. Lelaki itu sangat kejam, apalagi mengingat Ia mempunyai dendam pada Zaha. Ia bisa melakukan apa saja, terutama dapat membahayakan orang-orang terdekatnya.
Selain keluarganya, Anna dan adiknya, Zaha juga mencemaskan Dokter Anna. Tidak ada yang tahu, jika nanti Rio menyelidiki siapa-siapa saja orang yang berhubungan dengannya. Bisa jadi, itu akan menghubungkannya dengan Dokter Anna dan itu bisa membahayakan kekasih masa lalunya itu.
Terakhir, saat Zaha sadar pertama kali, Ia mendapati Dokter Anna berada begitu dekat dengannya. Membuat jantungnya berdebar cukup kencang. Anna adalah kekasihnya dimasa lalu, bahkan sampai sekarangpun Ia masih mencintai dokter cantik itu. Tapi, jalan hidupnya sudah berbeda, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.
"Za, Kamu sudah sadar?"
Sapaan Anna membuat kesadaran Zaha tersentak dan tegang. Bagaimana tidak! Itu adalah panggilan yang biasa digunakan Anna dimasa lalu. Hanya Anna yang memanggil namanya dengan cara seperti itu. Sedetik kemudian, Zaha baru tersadar jika Anna sudah mencurigai dirinya dan berniat memperjelas asumsinya.
Beruntung Zaha bisa bereaksi dengan cepat, Ia pun bersikap seolah sedang kehilangan ingatan. Aktingnya cukup meyakinkan, sehingga Anna tidak lagi mengejar penjelasannya.
Beruntung, Angel kembali tidak lama setelah itu. Sehingga Zaha memintanya untuk segera memulangkan Anna ketempatnya. Ia tidak sanggup lama-lama berakting tidak mengenal Anna, karena kenyataannya, Zaha cukup tersiksa untuk bersikap berlawanan dengan karakternya jika berada dihadapan Anna. Ia takut, jika suatu saat Anna akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Zaha beranggapan, Anna hanyalah masa lalunya. Ia lebih baik menahan perasaannya dan berusaha memupusnya, jika tidak itu akan melukai Anna.
Zaha merasa bersalah karena dimasa lalunya, Ia tidak bisa membahagiakan Anna. Apalagi sekarang? Ia hanya ingin Anna hidup dengan kebahagiannya sendiri. Zaha tidak ingin lagi hadir dalam kehidupan Anna yang sekarang dan mengacaukan kehidupannya seperti di masa lalu.
"Kamu memikirkannya?" Tanya Angel memukul lenganZaha dari samping. Tampak kilatan cemburu dimatanya.
"Dokter Anna?"
"Siapa lagi! Kamu cukup hebat menyembunyikan dia dariku. Apa kamu pikir aku tidak akan mengetahuinya? Apalagi kalian juga memiliki seorang putri." Kata Angel terdengar kesal.
Deg.
"Pada akhirnya kamu juga mengetahuinya juga kan?" Ucap Zaha lemah karena apa yang coba disembunyikan selama ini, akhirnya diketahui juga oleh Angel.
"Kamu menculik Anna kemarin, bukan karena aksi acak. Tapi karena memang sengaja memilihnya, untuk memastikan hubungan Anna denganku dimasa lalu, bukankah begitu?"
Angel tidak akan kaget jika Zaha mengetahui apa motifnya memilih Anna sebagai dokter darurat untuk menyelamat nyawa Zaha. Ia memang sengaja melakukannya, itu semakin meyakinkan dirinya tentang hubungan Zaha dan juga Anna dimasa lalu.
Dimasa lalu, Angel mencurigai jika Zaha memiliki seorang wanita. Tapi, pria yang dicintainya itu begitu pandai menutupi hubungan rahasianya, termasuk dari dirinya.
Angel sangat tergila-gila pada Zaha, Ia siap menyerahkan hidupnya untuk Zaha kala itu. Begitu tahu Zaha telah memiliki seorang wanita yang dicintainya, membuat Angel begitu terluka sehingga memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya dengan caranya sendiri. Salahnya juga, waktu itu Ia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya pada Zaha sehingga pemuda itu tidak tahu kalau Ia menyimpan perasaan.
"Apa kamu berencana untuk kembali padanya?" Tanya Angel penasaran.
"Tidak mungkin. Anna adalah masa laluku, biarkan Ia dengan kehidupannya saat ini."
"Apa itu artinya kamu tidak ingin hadir dalam kehidupan putrimu juga? Gadis kecil itu sangat cantik, di beberapa sisi Ia mengingatkanku padamu."
"Kamu sudah menemuinya?" Zaha cukup terkejut mendengar Angel sudah bergerak sejauh itu, Ia cemas kalau Angel sampai mengatakan tentang dirinya pada putrinya.
"Jangan cemas, Aku hanya menjadi tante yang baik untuk Zanna. Lagian Ia terlalu imut dan mirip denganmu, bagaimana bisa Aku tidak mendekatinya." Angel terlihat berbinar.
"Mau kemana?"
"Aku masih harus beristirahat biar cepat pulih."
"Hei, kamu masih punya hutang padaku, ingat?"
Langkah Zaha langsung terhenti, melihat Angel tanpa daya. Itu karena Ia ingat, Angel menuntut sesuatu darinya ketika menyelamatkan Nia, kakaknya tempo hari.
"Sekarang? Tubuhku bahkan belum pulih sepenuhnya."
"Kamu tidak perlu bergerak, cukup berbaring saja. Biar Aku saja yang bekerja."
Glek.
Entah kenapa senyum Angel terasa begitu mematikan saat ini, bahkan senyumnya kali ini bisa membuat orang biasa bisa mati seketika.
Tanpa menghiraukan keterkejutan di wajah Zaha, Angel berjalan menyusul Zaha dan menggandeng lengannya dengan begitu erat.
Sekarang jantung Zaha yang berdetak menjadi lebih kencang dari biasanya, mengingat betapa eratnya Angel memeluk lengannya. Ia bisa merasakan properti kenyal Angel yang menempel begitu lekat dilengannya. Mereka telah melakukannya sekali, sayangnya waktu itu tidak dalam keadaan sadar penuh.
Lain cerita saat ini, Ia sadar sepenuhnya.
"Aku bersiap-siap dulu. Kamu bisa menunggu sebentar atau menyusulku kekamar mandi jika mau." Bisik Angel pelan dengan sedikit *******.
Glek.
Zaha menatap siluet tubuh indah Angel yang menghilang dibalik pintu kamar mandinya.
'Susul gak yah?'
***
"Vira, apa sudah ada kabar tentang keberadaan King?" Tanya Cak Timbul begitu melihat keponakannya datang dan masuk ruang bawah tanah di markas utama mereka.
Ruang bawah itu sendiri merupakan ruang rahasia yang tidak semua orang tahu dan bisa mengaksesnya. Selain para petinggi di Kelompok Selatan, hanya orang-orang yang mereka undang saja yang bisa masuk ke dalamnya.
Saat ini, kondisi Kelompok Selatan relatif stabil setelah pertempuran besar 3 minggu lalu. Namun, ketiadaan informasi keberadaan King membuat semua orang merasa gelisah.
Cak Timbul sendiri tentu saja merasa sebagai orang yang paling tertekan, karena dia lah yang telah mengizinkan King dibawa oleh wanita misterius itu. Walau wanita tersebut sudah menjanjikan akan memberinya penjelasan, tapi Ia belum juga menampakkan diri hingga saat ini.
Hampir semua anggota Kelompok Selatan dan dua kelompok lainnya yang menjadi aliansi mereka telah dikerahkan untuk mencari King. Tapi, belum ada kabar sama sekali.
Jelas ini sangat meresahkan, karena mereka tanpa pemimpin. Itu sama halnya, mobil liar yang melaju kencang tanpa supir. Setiap saat, mereka bisa saja menghadapi kecelakaan tragis.
Seperti yang sudah-sudah, Virangel pun hanya menggeleng lesu sebagai jawaban.
Cak Timbul menatap Lipay yang masih diperban, lalu bertanya dengan mimik serius, "Lipay, pemuda yang menyerang King tempo hari, apa sudah diketahui latar belakangnya?"