
"Eh, gak deh. Capek gue. Gue nyerah." Ujarnya terengah sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Hufftt padahal Gue berharap kalian bisa membantu buat olahraga bentar."
"Eh ?" Mereka semua tampak kaget mendengar ucapanku. Lalu, tiba-tiba wajah mereka terlihat khawatir. Mungkin dikiranya Aku akan menghajar mereka semua.
"Udah, gini aja. Karena hanya tinggal kalian berlima laki-laki. Gue minta kalian buat mukul perut Gue lagi kayak tadi."
"Dan kalian.." Ucapku ragu sambil melihat Siska dan Sri. Duh mau diapain baiknya yah ? gak mungkin disuruh main kekerasan juga kan yah ? Kalau buat mengeraskan mungkin cocok yah, wkwwk.
"Kami bagian mijit lu Aja, Zaha. Sapa tahu nanti lelah kan yah. hihihi." ujar Siska genit. Rully tampak tidak senang menatapnya.
"Iya, gue setuju. Biar gue membersihkan keringat lu aja, Zaha." Ucap Sri tak kalah genit, justru malah Bondan yang menatap kesal ke arahnya.
"Hmnn, kalian cukup duduk manis saja disitu, mau merokok atau mau apa saja terserah! Gue gak mau melihat tampang kesal dari dua cowok depan Gue ini." Ucapku sambil melirik Rully dan Bondan. Rully dan Bondan langsung tersenyum cerah begitu mendengar ucapanku.
Begitulah kesibukanku selama jam istirahat di Sekolah.
Pulang sekolah, sebisa mungkin Aku coba menghindari Anna dan Chintya yang sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Untungnya setelah kejadian saat jam istirahat, Aku bisa dekat dengan Rully dan kawan-kawannya. Dengan bantuan mereka mengalihkan perhatian Anna dan Chintya, Aku bisa keluar dari area sekolah tanpa disadari oleh kedua cewek cantik tersebut.
Selanjutnya, Aku mampir ke pasar sebentar. Untuk mengatur rencana dengan para petinggi di kelompok selatan. Untungnya, sebelum Aku datang, Mbak Virangel sudah memberitahu para petinggi akan kemungkinan perseteruan kembali dengan kelompok timur. Hasil pertemuan siang itu, Kami semua memutuskan untuk menahan diri tanpa memancing konflik terlebih dahulu dan memilih untuk menunggu. Disamping itu, ada beberapa rencana yang telah kusiapkan bersama dengan Mbak Virangel. Suatu rencana yang sengaja kupersiapkan untuk menghadapi kelompok timur nantinya. Aku yakin, cepat atau lambat mereka pasti akan memulai konfrontasi duluan dengan kelompok Kami.
***
Dua hari masih belum ada tanda-tanda kelompok timur ataupun anggotanya Abdi Batubara akan datang ataupun memulai konfrontasi. Tapi, Aku yakin orang-orang seperti mereka bukan hanya diam dan berpangku tangan saja. Mereka pasti sedang mengawasi dan mempelajari situasi. Karena pas hari ketiga, anggotanya Bang Zulham yang biasa nangkring di pos ronda perumahan tempatku tinggal memberi laporan.
"King, kemarin ada orang asing yang menanyakan Kak Nia sama salah seorang ibu-ibu disini saat mau masuk ke komplek."
"Abang lihat orangnya ?"
"Itu dia, saat Ibu itu melapor ke Kami. Kami langsung menghampiri kesana, tapi orangnya sudah gak ada."
"Satu lagi, sejak kemarin ada beberapa orang asing yang berkeliaran di depan komplek. Saat Kami datangi, mereka langsung pergi begitu saja." Tambahnya.
Benar dugaanku, mereka pasti orang suruhannya Cakra atau Abdi. Mereka sedang mengamati lingkungan sekitar sini.
"Ya udah Bang. Abang dan yang lainnya tetap waspada aja. Kalau ada pergerakan yang mencurigakan lagi, segera laporkan ke Saya atau yang lainnya."
"Siap King."
Gila, musuh semakin dekat. Aku semakin tidak punya waktu lagi. Aku harus segera meningkatkan kemampuanku. Siang itu, sepulang dari sekolah Aku segera menuju bekas stasiun tempat Aku biasa latihan. Lengkap dengan mengenakan set pakaian latihan yang diberi oleh Angel sebelumnya.
POV Anna
"Kak mau kemana ?" Tanya Silvi begitu melihat Kakaknya yang sudah rapi dan hendak keluar.
"Mau ke tempatnya Zaha." Jawab Anna singkat.
"Eh, ke tempat Kak Zaha, ikut dong Kaakk." Ucap Silvi bersemangat.
"Loh loh, siapa yang mau ngajakin Kamu, Dek." Ucap Anna protes.
"Gak mau tahu, pokoknya tungguin. Silvi juga mau ikut." Teriak Silvi dari atas tangga, Dia langsung buru-buru ke kamarnya buat ganti pakaian.
Sekarang, jadilah Silvi menempel disebelahnya Anna. Mengikutinya ke tempatnya Zaha. Padahal Anna berharap akan menemui Zaha sendirian, tapi saat berangkat tadi malah Adiknya ngotot meminta untuk ikut. Dulunya Silvi terlihat ilfeel pada Zaha, entah kenapa sejak ditolong oleh Zaha tempo hari, Silvi terlihat semangat kalau membahas tentang Zaha. Bahkan kalau Anna pulang dari sekolah, pasti Silvi selalu bertanya 'Bagaimana kabar Kak Zaha ?', 'eh, Kak Zaha dan semakin berisi tubuhnya sekarang loh Kak, udah gak kurus ceking lagi kayak dulu', 'Hihihi, Dia udah gak kelihatan jelek lagi kayak dulu, malah terlihat macho sekarang loh Kak,' itulah berbagai pertanyaan dan komentar Silvi tentang Zaha.
Eh, tapi benar juga sih. Kalau diperhatiin, Zaha sekarang udah gak ceking lagi seperti dulu. Malah terlihat lebih berotot dan macho, hihihi! Ucap Anna dalam hati.
Apa itu karena olahraga yang sering dilakukannya itu yah ?
Anna terbayang kembali, Zaha yang selalu banjir keringat setiap pagi ketika datang ke sekolah. Bahkan beberapa hari terakhir ini, Zaha selalu menolak untuk ditemani Anna ataupun Chintya saat pulang sekolah, Ia beralasan mau olahraga. Pertanyaannya, kenapa Zaha sampai memaksakan dirinya olahraga seberat itu ? Apa Ia mau masuk angkatan ? tapi, kayaknya gak mungkin deh. Huft, pusing juga memikirkan apa alasan Zaha sampai memaksakan dirinya olahraga seberat itu. Tapi, memang latihan beratnya itu sudah menampakkan hasilnya, Ia sudah gak ceking lagi seperti sebelumnya. Walau wajahnya pas-pasan, tapi dengan tubuh seperti itu, pasti bisa dengan mudah menundukan cewek manapun. Hufft, entah kenapa Aku jadi cemburu sendiri jadinya. Nanti saja deh, kutanyakan langsung padanya. Pikir Anna.
"Eh, Kak banyak preman loh di pos ronda." Ucapan Silvi membuyarkan lamunan Anna tentang Zaha.
"Eh, iya Dek. Aduh gimana nih ?" Ucap Anna sedikit khawatir.
"Hehehe, cuek saja. Kita lewat baik-baik saja depan mereka. Lagian Kak Zaha kan King disini." Ucap Silvi dengan cueknya.
"Eh, Dek.." Anna coba menahan tangan Silvi untuk tidak lewat disana. Ia khawatir, kalau mereka sampai kenapa-kenapa. Iya, kalau ketemu dengan preman yang dulu mereka temui, kalau gak! kan sama saja cari penyakit namanya, cemas Anna.
"Udah, Kakak tenang saja. Kalau Kakak takut, tunggu disini saja. Biar Silvi saja yang lewat sana dan menemui Kak Zaha." Ujar Silvi terseyum usil.
"Eh, gak-gak. Tar kalau Kamu sampai kenapa-kenapa, Kakak yang disalahin tar. Kita bareng jalannya Dek." Ucap Anna dengan perasaan was-was. Tapi, daripada membiarkan Adiknya seorang diri lewat depan para preman, terpaksa Anna memberanikan diri untuk menemaninya.
"Misi om, Bang, numpang lewat yah! mau ke tempatnya Kak Zaha." Ucap Silvi tersenyum ramah begitu lewat depan pos ronda.
Tampak para preman disana mengamati mereka secara seksama, sampai-sampai Anna dan Silvi bergidik ngeri melihat tatapan mengerikan dari mereka.
"Eh, Mbak yang dulu kesini kan yah ?" Tanya salah seorang pemuda.