
Zaha secara bergantian menatap dua wanita cantik didepannya. Entah kenapa, Ia melihat Nia tak ubahnya seperti Angel sekarang. Dua rubah betina yang seakan bersiap untuk menerkamnya saat itu juga, kondisi ini jauh lebih menegangkan dibanding pertempuran dengan Kelompok Utara sebelumnya.
Fix sudah, ini ulahnya Angel atau mereka memang sengaja merencanakan hal ini sebelumnya. Terus, jika Zaha sudah mengaku, terus mereka harus threesome begitu?
Enak banget hidup Zaha kalau begitu.
"Sebentar, kenapa kita harus membahas hal ini? Diluar sana, ada seorang gadis yang perlu diselamatkan."
Mendengar itu, baik Angel maupun Nia langsung cemberut. Wajah mereka yang semula tampak berbinar penuh harapan, langsung berubah masam.
"Anjir, apa mereka beneran berharap akan terjadi three some gitu?" Pikir Zaha sambil meneguk ludah.
Kalau saja kondisi tidak mendesak, bisa saja itu adalah hal yang baik untuk Zaha merilekskan tubuhnya.
'Astaga, apa yang kupikirkan sih.' Pikiir Zaha coba menjauhkan pikiran kotornya. Meski itu terlalu sulit, dua wanita di depannya memiliki kecantikan yang mengagumkan dan bisa menggugah hasrat pria manapun, tidak terkecuali Zaha.
"Terus, apa rencana mu?" Tanya Angel acuh tak acuh. Sepertinya, gagalnya rencana Angel untuk membuat Zaha mengakui siapa dirinya didepan Nia dan memungkinkan mereka untuk menggunakan kesempatan itu untuk menikmati Zaha secara bersama, membuatnya menjadi tidak bersemangat ketika membahas tentang Chintya.
"Sekarang, Aku akan kembali ke pasar tanah kuda terlebih dahulu untuk melihat petunjuk yang ada."
"Kamu kan tahu sendiri, jika mereka sudah mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kekuatan mereka atau tidak mereka tidak menjamin keselamatan Chintya." Kata Angel mengingatkan.
"Aku tahu. Aku hanya mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan oleh kita."
"Fakta bahwa mereka masih belum memberitahu lokasi persembunyian mereka saat ini, bisa jadi karena menungguku keluar terlebih dahulu."
"Jadi, tujuanku selain untuk mencari petunjuk adalah untuk mengikuti permainan yang telah mereka buat."
"Selain itu, jika ada penyusup di dalam kelompok kita saat ini. Sekalian saja kita memancing mereka untuk keluar." Terang Zaha dengan tenang.
Nia yang mendengar niat Zaha untuk memilih menyelamatkan Chintya, tidak tenang. Dengan cemas Ia berkata, "Tapi mereka akan membunuhmu jika kamu kesana menyelamatkan gadis itu."
Zaha menatap Nia, tampak kekhawatiran yang begitu nyata dalam mata kakak Zaha tersebut. Itu bukan kekhatiran seorang keluarga yang mencemaskan nasib anggota keluarganya. Tapi, kecemasan seorang wanita yang takut kehilangan pria yang dicintainya.
Zaha tidak tahu, apa Ia harus bahagia atau sedih melihat kenyataan tersebut.
Nia adalah kakak seibu dengan Zaha, meskipun beda Ayah. Sangat tabu bagi mereka jika Zaha menuruti keinginan Nia. Belum lagi faktor genetik yang tidak memungkinkan Ia untuk menuruti keinginan gila Nia, siapa tahu Nia hamil suatu saat, anak mereka ada kemungkinan mengalami kecacatan.
Meski begitu Zaha memberi jawaban yang logis untuk menenangkan Nia, "Aku sudah melewati banyak pertempuran hidup mati selama ini. Baik itu Abdi Batubara maupun Rio, mereka tidak memenuhi kualifikasi untuk membuatku dalam bahaya. Tenang saja!"
Benar saja, Nia tampak mempercayai ucapannya dan itu membuatnya lebih tenang. Namun pertanyaan Nia selanjutnya membuat Zaha langsung terdiam, "Kalau begitu kamu benar bukan Zaha adikku? Lalu, siapa kamu sebenarnya?"
Deg.
"Hmn, Aku pergi dulu." Ucap Zaha sambil berlalu pergi. Ia buru-buru menghindar, atau Nia akan mencecarnya lagi dengan lebih banyak pertanyaan yang membuatnya tidak bisa berdalih lagi nantinya.
"Zahaa, kamu sengaja menghindar lagi kan?" Teriak Nia coba mengejarnya, namun tidak lagi bayang-bayang Zaha di balik pintu.
"Cepat sekali menghilangnya?" Gumam Nia heran.
Angel disisi lain tampak menahan senyumnya, 'Siapa suruh kamu malah kembali bersama mantanmu itu? Sekarang kamu harus bersiap menghadapi tiga orang wanita sekaligus.' Pikir Angel.
....
"Cak, jika nanti kita semua sudah bergabung, sebaiknya markas utama kita tidak lagi disini. Tempat ini tidak akan sanggup menampung kami semua." Ucap Samson ketua dua di kelompok Barat.
"Masalahnya bukan itu saja, tapi kita perlu menamai kelompok kita yang baru dan itu akan menjadi identitas kita untuk seterusnya. Kedepannya tidak ada lagi, kelompok selatan, barat, timur atau utara."
"Wah itu ide yang bagus bang Komar. Saya masih belum kepikiran sampai kesana." Sahut Padri ketua satu kelompok barat.
"Kalian bicara tentang markas dan nama kelompok kita, apa kalian lupa jika King masih belum kembali? Terus siapa yang akan memimpin nantinya?" Tanya Cak Timbul yang sedari tadi hanya diam mendengar mereka sibuk dengan ide masing-masing.
"Justru itu baik dibahas sekarang Cak. Jadi ketika King kembali, tinggal terima jadi saja, hehehe." Seru Samson.
Mereka semua saling menimpali satu sama lain sambil berjalan ke basemen tempat biasa mereka berkumpul sekaligus markas utama dan pusat komando kelompok Selatan selama ini. Para petinggi masing-masing Kelompok Gengster itu memiliki ide tersendiri yang membuat mereka terlihat bersemangat untuk membahasnya.
Saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan dan menyalakan lampu, mereka dikejutkan dengan adanya seorang pemuda yang sudah duduk tenang ditengah ruangan. Ekspresinya begitu tenang seakan Ia sudah menantikan kehadiran mereka semua dalam ruangan itu sebelumnya.
"King?" Cak Timbul menyapa pertama kali begitu menyadari siapa berada didalam ruangan.
Ia seakan tidak percaya jika orang yang sedari tadi mereka bicarakan ternyata sudah berada didalam ruangan. Ini sebuah kejutan besar, mereka sudah menantikan kembalinya King ditengah-tengah mereka.
King bukan hanya sebagai pemimpin semata. Tapi dia adalah simbol yang mempersatukan mereka semua. Dimulai dari Cak Timbul sebagai senior yang paling tua, Ia bahkan mengakui kharisma yang dimiliki oleh Zaha dan layak menjadi ketuanya.
Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka jika seorang remaja yang usianya bahkan masih belasan tahun, akan sanggup melangkah sampai sejauh ini.
Setelah berhasil menjadi orang nomor satu di Kelompok Selatan, selanjutnya King berhasil menundukkan kelompok Timur dan membuat seorang Komar yang menjadi satu dari tiga jenderal perang disana pun mengakuinya dan setuju untuk menjadi aliansi mereka.
Adalah idenya Zaha juga, untuk membawa Kelompok Barat bergabung begitu membaca ada gelagat tidak baik yang ditunjukan oleh Kelompok Utara pimpinan Kobra.
Selanjutnya, adalah takdir dan kepercayaan dari semua orang. Membuat tiga Kelompok Besar yang telah beraliansi ini berinisiatif menghancurkan Kobra dan akhirnya membawa satu Kelompok gengster tersisa itu ke dalam aliansi mereka.
"Jadi, lu yang namanya King?" Tanya Padri dengan dingin.
Perubahan sikap Padri yang sebelumnya tampak hangat dan sekarang berbalik berubah menjadi dingin dan terlihat sebagai orang asing, membuat kaget semua orang. Ternyata tidak hanya Padri, dua saudaranya Samson dan Alex juga menatap dingin ke arah Zaha.
"Maksudmu apa bertanya seperti itu pada King, Padri?" Tanya Cak Timbul yang tidak senang dengan nada bicara Padri pada ketuanya.
Padri hanya mendengus dingin dan matanya tidak beralih pada King. Mata tiga ketua kelompok barat ini terlihat seperti elang yang sedang mengawasi mangsa mereka. Tatapan mereka seolah mempelajari setiap fisik Zaha mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Zaha yang ditatap dengan penuh selidik dan dingin seperti itu, tidak mempermasalahkan sikap mereka sama sekali. Dengan santun Ia menjawab pertanyaan Padri sebelumnya, " Iya senior, saya Zaha. King hanyalah panggilan orang-orang untuk saya. Senang bisa berkenalan dengan tiga senior seperti kalian."
Melihat sikap santun yang diperlihatkan oleh Zaha, tiga ketua Kelompok Barat tersebut tersenyum, "hehehe, menarik! Kamu terlihat begitu sopan anak muda, tapi itu saja tidak cukup. Kamu harus melawanku terlebih dahulu." Ucap Padri langsung mengambil sikap menantang Zaha pertama kali.
"Enak aja Kau bicara, Bang. Dia harus melawanku terlebih dahulu." Alex sibungsu langsung menyela.
"Kalian terlalu banyak bicara, dia itu bagianku." Ujar Samson tidak mau kalah.
"Kalian jangan kelewatan. Apa kalian tidak menghargai King? Hah?" Cak Timbul melihat tiga orang pemimpin Kelompok Barat yang dia rasa sudah melewati batas dengan mengajak duel King, ketuanya.
Sebagai seorang senior dan juga bawahan King, bagaimana bisa Cak Timbul membiarkan ketiga ketua Kelompok Barat tersebut berbuat sesuka hati mereka pada ketua yang begitu dihormatinya.
Zaha langsung melambaikan tangannya untuk menghentikan Cak Timbul, "Hehehe, jangan emosi Cak." Kata Zaha kalem.
"Bisa saja, tapi Aku khawatir nanti dikira tidak sopan pada senior yang lebih tua." Lanjut Zaha tenang.
"Tenang saja! Tidak ada yang akan menyalahkanmu anak muda, karena biasanya saya bisa bersikap baik dengan mematahkan beberapa bagian anggota tubuhmu." Komentar Samson dengan percaya diri.