
Dan hasilnya! Salah satu pemimpin pasukan kanan beserta pasukan yang loyal padanya menjadi bantuan yang sangat berguna bagi Kami. Menilik dari kekuatan lawan yang ada, jika Kami menyerang dengan kekuatan penuhpun, Aku sendiri cukup ragu berhadapan secara langsung dengan kekuatan lawan, apalagi dengan adanya 3 Pasukan Kanan yang mereka miliki, para petarung veteran dan sudah berpengalaman. Mungkin saja jika Codet atau Rivalnya Cak Timbul masih di Kelompok Selatan, Kami bisa dengan percaya diri bisa mengalahkan mereka. Tapi, Codet sudah tidak bisa diaharapkan. Semenjak Kukalahkan tempo hari, Ia seperti hilang ditelan bumi. 'Rival'nya Cak Timbul sendiri, kabarnya Ia sudah mendirikan kelompok mafia sendiri. Otomatis para petarung senior yang paling bisa diandalkan adalah Cak Timbul, dan 5 orang juniornya, Cak Nawi, Mang Lipay, Pak Jarwo, Pak Kobang, dan Pak Hiukali. Tapi diantara mereka berlima, hanya tiga orang yang ikut, dua lainnya menjaga pasar yang sekaligus jadi markas kedua kami.
Satu hal yang diluar dugaanku sebelumnya, datangnya bantuan dari anak-anak STM pimpinannya Adam. Tentunya kalian masih ingat dengan begundal satu ini. Dulu Kukira Ia akan benci padaku karena sempat Kukalahkan duel saat Ia menganggu Anna sepulang dari sekolahnya, belum lagi Aku menggagalkan rencananya saat Adam dan teman-temannya coba menggoda Silvi di Pasar Tanah Kuda kala itu.
Siapa yang sangka, justru Ia dan teman-temannya malah berdiri bersama pasukanku saat ini. Entah darimana Ia tahu kalau hari ini Kami menyerang Kelompok Timur, atau mungkin saja ini kerjaannya Mbak Virangel lagi ? Tapi, sangat riskan jika melibatkan anak-anak sekolahan dalam pertempuran dua kelompok besar seperti ini. Eh, sebentar! Bukankah Aku juga masih terhitung anak sekolahan yah? wkwkwk.
Kembali ke pertempuran, Aku coba menahan diri untuk tidak terjun langsung ke dalam medan tempur dan memilih mengamati pergerakan 3 orang paling belakang di barisan lawan. Siapa lagi kalau bukan Cakra dan dua orang bersamanya.
Kalau informanku tidak salah, pemuda berbadan tegap yang duduk di sebelah Cakra bisa jadi adalah Rio, kakaknya Ronal dan Roy. Motifnya jelas karena dendam, karena Aku telah membantai Adik-adiknya.
Tapi, siapa pemuda berkepala plontos yang berdiri dibelakang mereka itu ? Posturnya tidak kalah tegap dengan Rio, tatapannya terlihat tajam. Tapi dari perawakannya, bisa jadi Dia juga orang militer. Apa Rio sengaja membawanya untuk menghadapiku ? Tapi dengan kemampuannya, kenapa masih membawa orang lain kalau hanya untuk menghadapiku. Apa Rio hendak melemahkanku terlebih dahulu melalui pemuda itu ? lalu dengan begitu Ia bisa lebih mudah melumpuhkanku nantinya.
Karena belum ada pergerakan dari ketiganya, Aku mengalihkan perhatian pada pertarungan di sekitarku. Bg Zulham dan para pemimpin muda lainnya terlihat sangat bersemangat dalam pertempuran ini. Walau kondisi mereka sudah cukup kelelahan dan ditambah cidera dari pertarungan sebelumnya, tapi itu semua tidak mengurangi semangat tarung mereka sedikitpun.
Pertarungan berjalan alot dan sengit, beberapa kali mereka harus terjatuh dan terintimidasi oleh lawan. Tapi, mereka selalu menemukan cara untuk bangkit melawan. Sampai akhirnya bisa membalikkan keadaan dengan menumbangkan setiap lawan yang mereka hadapi.
Dari pasukannya Komar, mereka bertarung dengan sangat rapi dan disiplin. Tidak salah jika mereka tergabung dalam pasukan elit Kelompok Timur. Walau mungkin saja bertarung dengan mantan teman mereka sendiri, tapi tidak membuat mereka mengendorkan sedikitpun serangan mereka.
Beruntung Kami memiliki bantuan dari anak-anak STM anggotanya Adam. Walau secara fisik dan kemampuan mereka bukanlah lawan yang sepadan dengan pasukan kanan, tapi semangat mereka yang sudah terbiasa tawuran sepertinya benar-benar mereka salurkan kali ini. Mereka sadar jika lawan yang mereka hadapi kemampuannya diatas mereka, karena itu mereka menyerang sekali bergerombol. Kadang 1 orang pasukan kelompok kanan, sampai dihadapi oleh 4 orang sekaligus.
Semangat mereka menggebu, maklum masih remaja. Darah panasnya seakan tanpa batas dan meledak-ledak. Pasukan Kanan sampai dibuat kelimpungan menghadapi mereka kenekatan mereka.
Pertarungan terus berlangsung semakin sengit, satu demi satu mulai berjatuhan dari kedua pihak. Ditengah ruangan, Cak Timbul tampak dengan begitu santai menjatuhkan pasukan kanan yang menghalangi jalannya, begitupun juga dengan Komar.
Tanpa banyak basa-basi, serangan pembuka ternyata dimulai dari Rifat yang langsung menargetkan Komar sebagai mangsanya. Tidak mau kalah cepat dengan rekannya, pria yang bernama Yasir pun ikut melesat ke arah Cak Timbul. Tak pelak, pertarungan sengit tingkat tinggipun terjadi.
Melihat pertarungan Komar, Aku jadi paham kenapa mereka menjadi pemimpin pasukan kanan alias pasukan elitnya Kelompok Timur. Serangan dan kekuatan mereka sangat bertenaga dan tajam, baik Komar maupun Rifat yang jadi lawannya sama-sama memiliki fokus tingkat tinggi. Sampai beberapa menit mereka saling jual beli pukulan, belum ada satupun diantara mereka yang berhasil memasukan pukulan ke arah lawan.
Melihat dari kemampuan beladiri keduanya, bisa dipastikan betapa banyak pertarungan yang telah mereka lalui hingga bisa seperti sekarang ini. Serangannya tajam dan langsung menyasar titik vital lawan, jika lawan mereka adalah orang biasa, mungkin sudah tewas dalam keadaan sangat menggenaskan.
Secara fisik, Komar lebih tinggi dari lawannya. Seharusnya jarak bisa menjadi poin yang menguntungkan baginya, tapi meskipun begitu Ia tidak segan melayani pertarungan jarak dekat dengan sang lawan. Dari sini, Aku nbisa menyimpulkan kalau Komar memiliki rasa percaya diri yang lebih dengan kemampuannya. Bisa jadi karena mereka sebelumnya adalah rekan, jadi sudah sama-sama mengetahui gaya bertarung masing-masing.
Walau terlihat seimbang, tapi perlahan namun pasti Komar mulai tampak mengungguli musuhnya. Terlihat dari nafas lawan yang sudah mulai terdengar agak berat dibanding Komar.
Disisi lain, pertarungan antara Cak Timbul dengan Yasir berlangsung tidak kalah hebatnya. Walau kemampuannya sudah tidak seperti masa jayanya dulu, tapi pengalaman membuat Cak Timbul mampu mengimbangi salah satu pimpinan pasukan elit Kelompok Timur tersebut.
Yasir yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya coba menekan Cak Timbul dengan kecepatannya, tapi ketenangan Cak Timbul membuat setiap serangan Yasir seperti tenggelam ke dasar samudera.
Aku sedikit banyak bisa mengambil pengalaman dari gaya bertarungnya Cak Timbul, ternyata sekedar kemampuan bertarung saja tidak cukup. Itu ditunjukan oleh Cak Timbul melalui pertarungan ini.
Ketenangan serta kecermatannya dalam menghadapi lawan menjadi keuntungan tersendiri, padahal dari segi kecepatan, lawannya terlihat lebih unggul darinya.
Jadi, inilah salah sosok Singa yang dulu sempat menjadi legenda dan tangan kanan dari penguasa di Kota ini. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa Cak Timbulo di masa-masa jayanya. Menurut kabar yang Kudengar dari Bang Zulham dan kawan-kawannya, Cak Timbul dulunya memiliki seorang sahabat sekaligus rival yang kemampuannya tidak kalah hebat dengan Cak Timbul. Namun bedanya, rival Cak Timbul tersebut lebih memiliki ambisi yang besar. Sehingga ketika keloompok ini terpecah menjadi 4 bagian seperti sekarang, rivalnya Cak Timbul memilih jalan yang berbeda dan mendirikan kelompoknya sendiri.