Bunian

Bunian
BAB 74



Ia tersentak mundur kebelakang, walau pun berhasil menangkis seranganku ke bagian dadanya. Aku tidak menyia-nyiakan momen itu begitu saja, dengan gerakan susulan Aku memukul bagian perutnya.


Bughhhh


"Argghh.." Badannya sempat membungkuk dan terangkat.


Tapi bantuan dari Cakra datang lebih cepat sehingga niatku untuk menghantam kepalanya jadi tidak terlaksana. Cakra menyerangku dengan gerakan anehnya kembali.


Wosshhh


Aku berhasil menghindari serangan kejutannya, seperti yang telah Kuperkirakan sebelumnya. Aku sengaja tidak membidik Cakra pertama kali, karena lawan pasti juga sudah menduga demikian, karena Cakra menjadi sosok terlemah akibat kaki kanannya berhasil kupatahkan sebelumnya. Dan itu berhasil menjadi kejutan untuk menekan lawan.


Baaaaammmm


Aku berkelit kesamping menyapu kaki Cakra yang terluka dan menjatuhkannya. Tapi saat Aku mengejar tubuhnya yang sedang terjatuh dan bermaksud untuk melayangkan tendangan mendatar ke tubuhnya yang masih mengawang, sebuah desiran panas measuk dari arah samping.


Daasshhhh


Beruntung Aku cepat menangkis dan berguling kesamping. Rupanya pemuda tadi sudah cepat menguasai keadaan dan berbalik menyerangku.


Cuih, seharusnya Aku bisa menundukan Cakra jika serangan terakhir tadi berhasil masuk. Tapi, lawanku bukanlah sembarangan orang. Berikutnya, Kami kembali jual beli serangan seperti sebelumnya.


Pemuda yang menjadi lawanku memiliki ketahanan fisik diatasku, sehingga tidak berhenti hanya karena beberapa kali serangan.


Bodohnya, karena terlalu fokus dengan pemuda yang bada di depanku membuatku sedikit lengah dan melupakan keberadaan Cakra, dan Aku harus membayar mahal kesalahan tersebut. Karena, ketika sedang bertarung dengan musuh, Cakra diam-diam menyerangku dari belakang.


Aku merasakan sebuah benda dingin menusuk pinggangku, reflek Aku memutar tubuh dan menghantam wajah penyerangku. Aku berhasil menghantam wajahnya dengan kuat, lalu beranjak menjauh dari jangkauan musuh. Aku merasakan pinggangku menjadi begitu Aku memegangnya. Saat itu Aku baru sadar jika Aku sudah kena tusukan pisau lawan.


Aku merasakan rasa dingin dan sakit yang mulai menjalar dari bagian pinggang dan membuat sebelah tubuhku terasa mulai melemah. Dengan perlahan Aku mencabut pisau yang menacap dipinggangku dan membuka kaos serta merobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian Kugunakan untuk menyumbat bagiang tubuh yang terluka dan lainnya untuk mengikatnya untuk menghentikan pendarahan.


Aku sama sekali tidak menduga kalau Cakra akan melakukan cara selicik ini untuk melumpahkanku.


Kulihat Acera yang tadi berteriak berusaha memaksakan tubuhnya berdiri untuk membantuku, begitupun dengan yang lainnya. Tampak wajah penuh kemarahan dari wajah semua anak buahku. Dengan cepat Aku mengangkat tangan untuk mencegah mereka membantuku, Aku tahu jika mereka sudah sampai dibatasnya. Aku tidak ingin mereka memaksakan diri lagi, jika hanya karena ini saja bisa melemahkanku, maka Aku tidak layak untuk menjadi pemimpin mereka.


Beruntung rekannya Cakra tidak langsung menyerang di saat Aku sedang lemah. Dari wajahnya tampak rasa tidak senang karena tindakan Cakra barusan. Walau Ia disewa untuk membunuhku, tapi jiwa patriotnya yang menjunjung tinggi keadilan membuatnya tidak menyerangku. Tapi, meski begitu Ia tidak memprotes apa yang dilakukan Cakra. Mungkin karena Ia merasa telah dibayar sehingga tidak berhak protes pada orang yang telah membayar.


"Bangsat, habisi Dia." Hardik Cakra memerintahnya, tapi Ia tidak bergeming dan seperti memberiku waktu untuk sedikit memulihkan diri.


Kupaksakan tubuhku untuk berdiri dan menatap Cakra dengan tajam.


"Apa lu sudah siap ? Selanjutnya, Gue tidak akan memberi waktu seperti tadi." Ucap rekan Cakra datar tanpa menghiraukan perintah Cakra padanya.


Aku tidak menjawab ucapannya dan hanya menatap keduanya dingin. Bahkan lebih dingin dari kondisi tubuh yang mulai menjalar dari luka tusuk di pinggangku. Herannya kondisi seperti itu justru membuat tubuhku serasa jadi jauh lebih ringan, padahal kondisi seperti ini normalnya akan membuat tubuhku melemah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.


Cakra dan rekannya malah terdiam dan tidak memulai serangan mereka, ada yang membuat mereka seakan ragu ketika menatapku. Akupun tidak ingin berpikir lebih jauh lagi, jika tidak mereka yang mulai, maka Aku yang akan menyerang duluan.


Targetku yang pertama adalah Cakra. Langkahku terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya, bahkan Cakra dan rekannya tampak shock melihat gerakanku. Tanpa sempat menaikan pertahanannya, pukulanku masuk telak di dadanya. Cakra sampai terbelalak kaget tapi seranganku lebih cepat dari gerakannya. Tubuhnya terlempas beberapa kaki kebelakang, rekannya cepat bereaksi menyerangku dari samping. Tapi dengan mudah bisa Kuhindari.


Baaaammmmm


Saat mengindar kebelakang Aku mengibaskan tanganku tepat kebagian telinganya, membuat tubuhnya oleng dan pusing karena seranganku barusan tepat mengenai bagian telinga. Tanpa memberi kesempatan, Aku langsung menyusul dengan sebuah tendangan kanan ke arah tubuhnya. Tapi kali ini Dia cukup sigap bereaksi dengan menangkis dengan kedua tangan.


Entah karena rasa sakit yang berlebihan akibat tusukan Cakra tadi yang membuat tubuhku menjadi ringan seperti ini, entah itu karena efek lainnya. Aku tidak ambil pusing lagi, aku menyerangnya secara bertubi-tubi. Sehingga jika orang lain melihatnya, malah tampak seperti Aku sedang memukul sansak hidup.


Cakra cepat bergabung kembali dalam pertarungan, mungkn Dia keder juga jika melihat rekannya tumbang duluan dan otomatis tidak akan yang membantunya nanti. Alhasil Diapun memaksa untuk masuk ke pertarungan dengan membantu rekannya untuk menghadapiku.


Wosshhh


Aku berhasil mengelak dari pukulan samping Cakra, tapi disaat bersamaan Aku berhasil menghantam kuat kepala rekannya.


Buugghhhhh


Kulanjutkan dengan mengunci pergelangan lengan Cakra, awalnya dengan gerakan itu Aku berniat mengincar bagian jantungnya. Tapi, rasa sakit akibat bekas tusukan Cakra sebelumnya malah kambuh secara tiba-tiba, sehingga gerakanku jadi melambat dan membuatku sedikit mengerang menahan sakit.


Rekannya Cakra seperti tanggap dengan kondisiku, sehingga Ia langsung meloncat untuk menerjangku dan langsung mengunci lengan kananku dan menarikku kebelakang. Tidak cukup sampai disitu, Dia langsung menarik tubuhku kelantai dan mengunci bagian leherku dari bawah dan juga tangan kananku ikut terkunci, membuat kondisi kian genting.


Nafasku benar-benar sesak dan kunciannya sangat erat membuatku kesulitan bernafas dan sangat menderita dibuatnya. Tidak hanya berhenti sampai disitu, melihat rekannya berhasil mengunciku Cakra langsung memanfaatkan kesempatan.


Buugghhh Bughhhhh


Berulang kali Ia menghajar tubuhku, dengan injakan dan pukulan.


Tidak puas sampai disitu, Cakra melanjutkan siksaannya dengan menginjak luka dipinggangku.


Baaammmmm


"Rrgghhhh.."


Ia sampai memutar-mutar tumitnya diatas lukaku yang kembali mengeluarkan darah semakin banyak.


"HAHAHA.." Cakra benar-benar menikmati setiap siksaannya terhadapku.


Kondisiku semakin kritis, tenagaku semakin melemah dan nafasku mulai putus-putus akibat kekurangan oksigen. Tangan kiriku terkulai kesamping, disaat itu tanpa sengaja aku merasakan seperti memegang benda padat dan dingin, baru Kusadari ternyata pisau yang tadi digunakan Cakra untuk menusukku berada persis di dekatku.


Cakra keasikan menyiksaku, tidak sempat menyadari jika tangan kiriku berhasil menggapai pisau tersebut. Bertepatan disaat Cakra hendak menginjak pinggangku kembali, Aku dengan cepat menyilangkan kaki ke atas dan menyikutnya. Karena tidak menduga Aku masih bisa bereaksi demikin membuat tubuh tersungkal ke arahku, dengan cepat tangan kiriku yang memegang pisau langsung menusuk ke arah Cakra.


Crasshhhh