Bunian

Bunian
BAB 73



Wosshhh


Tapi dengan santainya Ia berhasil mengindari seranganku namun tidak hanya menghindar, melainkan Ia juga langsung menyerangan dengan sebuah tendangan leyang dari arah kanan. Mau tidak mau Aku harus memiringkan badan ke arah tendangan lawan dan mengunakan bahu dan lenganku sebagai perisai.


Baaammmm


Baammmmm


Sambil bertahan Aku cepat memasukan pukulan lurus dengan power maksimal, menghantam bagian perut lawan.


"Ughh.."


Kami sama-sama mundur dua langkah akibat pertukaran pukulan barusan. Bahu dan lengan kiriku terasa kebas akibat tendangan lawan yang kuat. Tapi, keadaan tidak jauh berbeda tampak dari wajah lawanku. Ia juga tampak sedikit meringis kesakitan akibat pukulan kananku ke perutnya.


Gilanya, Dia malah tersenyum dan justru terlihat sangat senang. Apa Dia memang seorang petarung maniak? begitu menemukan lawan yang bisa mengimbangi atau bahkan mengancamnya, akan membuatnya menjadi semakin bernafsu untuk bertarung habis-habisan.


Tanpa Kusadari, tubuhku ikutan bereaksi karena menghadapi tipe lawan yang seperti ini, mengingatkan masa lalu dan itu membuatku jadi lebih tambah bersemangat.


"Jiu-jitsu." Ucapku menebak gaya beladiri yang digunakan oleh lawan. dan Kalau benar apa yang kutebak, bisa sangat berbahaya jika Ia berhasil gerakanku nantinya.


"Hehehe keren juga Lu bocah. Ternyata memang benar jika lu bukan sekedar bocah biasa. Gerakan lu itu bukan sekedar jurus silat yang biasa. Hmnn, gak sia-sia Gue nerima job ini. Yok, Kita mulai lagi." Ucapnya penuh semangat dan bersiap-siap dengan kuda-kudanya.


Mau tidak mau, kali ini Akupun harus lebih berhati-hati dalam menghadapinya.


Baammm Baaammmm


Kami sama-sama tidak mengendurkan serangan sedikitpun, pertarungan dengan intensitas lebih cepat tidak terhindarkan lagi. Saling mempelajari lawan sedari awal, membuat Kami semakin bersemangat untuk adu pukulan. Entah kenapa, semua bagian otot dan syaraf ditubuhku meresponnya dengan semangat yang menggelora.


Ini membuat memori mmasa lalu ketika dalam pertarungan yang mempertaruhkan nyawa, membuatku berada dalam tekanan tinggi sekaligus membuat insting membunuhku perlahan namun pasti ikut bangkit.


Bughhhhh Bughhhhh


Pukulan Kami sama-sama masuk, membuat Kami sama-sama mundur akibat kerasnya benturan dari pertukaran pukulan barusan. Bedanya, Aku termundur 3 langkah lebih jauh dibanding lawan.


"Hoeek.." Aku memuntahkan darah segar dari mulutku.


Pukulannya ke dadaku menyisakan sedikit luka dalam. Ternyata, kekuatan pukulannya masih diatasku.


Musuhku sendiri hanya sedikit mengeluarkan dari dari sudut bibirnya.


"Hahaha.." Dia malah tertawa senang dengan ekspresi yang berbinar-binar.


Tidak salah lagi, kalau dia benar-benar seorang petarung maniak.


Tanpa mengambil nafas atau memberiku kesempatan sedikitpun untuk beristirahat, Ia kembali menyerang dengan penuh tekanan.


Mau tidak mau, Aku menghadapi serangan brutal lawan. Namun kali ini, Aku mengubah gaya bertarungku dengan sedikit memainkan lebih rendah. Bukan gaya bertarung idealku sebenarnya, tapi menghadapi jangakaunnya yang lebih jauh dariku kerap membuatku nsedikit kesulitan dalam menghindarinya. Sehingga dengan bermain rendah membuatku jarak lebih dekat kearah lawan.


Baaam Baammm


Dua seranganku masuk cukup telat ke dada dan dagu bawahnya, tapi Ia langsung merespon dengan sebuah pukulan elbow dari posisi atas, dan..


Bughhhhh


Kepalaku sedikit oleng akibat serangan sikut lawan, gerakan itu tidak sempat kuprediksi sebelumnya, karena biasanya serangan elbow seringnya digunakan dari arah bawah menyasar dada atau dagu, tapi Ia menggunakannya dari atas.


Tapi, itu saja tidak akan cukup untuk menghentikanku. Saat terjatuh ke lantai, Aku menggunakan tangan kiriku sebagai tumpuan dan melakukan gerakan sapuan.


Bughhhhh


Buughhhh


Lagi-lagi seranganku berhasil mengenai dadanya dengan telak, membuatnya sampai terlempar beberapa meter kebelakang.


"Arrgghhh..." Pemuda itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.


Tapi kondisi itu hanya sebentar, karena setelah itu Ia langsung bangkit. Walau masih tampak meringis kesakitan, tapi tidak mengurangi bara api yang terpancar dari matanya.


"Haahh haahhh.. Baru kali ini Gue bisa tertekan sampai seperti ini." Ujarnya dengan nafas tersengal-sengal. Salutnya, Ia bersikap sportif dengan memujiku yang menjadi lawannya.


"Hehehe gerakan elbow tadi sangat tidak kuduga, gerakan muaythai yang hebat." Pujiku mengapresiasi gerakannya.


Sampai titik ini, Aku malah jadi merasa aneh dengan pertarungan Kami. Walau Aku merasakan aura membunuh yang kuah darinya tapi dibalik itu, Aku merasa kalau orang yang ada didepanku ini justru lebih sekedar tertantang untuk menguji kemampuan lawan bertarungnya. Seperti seorang bocah yang senang mendapat mainan barunya, dan tidak akan berhenti sebelum merasa puas. Mungkin seperti itulah yang dirasakannya, Ia merasa kalau Aku bisa menjadi lawan tarung yang sepadan dengannya. Meski begitu, Aku tetap mengeluarkan seluruh kemampuan terbaikku menghadapinya. Karena bertarung penuh tekanan seperti ini membuat instingku yang dulu kembali menguat.


Seperti baik Aku maupun pemuda yang jadi lawan tarungku saat ini, lebih seperti menikmati pertarungan. Walau terlihat seperti baku hantam yang hendak saling membunuh sama lain, namun disisi lain Kami sama-sama menikmati sensai menegangkan dari pertarungan ini. Tanpa sadar, Aku seperti kembali tenggelam dalam memori masa lalu. Tidak terhitung jumlah pukulan yang silih berganti, begitupun juga pukulan yang masuk.


Baaammm Baaammm


Dua pukulan yang sangat keras menghantam kepala dan bahuku, membuat pijakan kakiku sempat oleng sesaat. Tapi, tidak membuatku ingin mundur sedikitpun. Dengan cepat Akupun membalas serangan lawan.


Pijakan kaki musuhku terlihat goyang, tidak lagi terdengar tawa seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya hasrat untuk saling menjatuhkan musuh lebih dulu.


Suasana menegangkan ini membuatku jadi lebih bersemangat, ini sungguh menyenangkan.


Wosshhh Wosshhhhh


Baaaammmm


Dua serangan lawan kali ini bisa kubaca timingnya dengan tepat sambil membalas serangannya tepat dibagian rusuk. Tampak nafasnya jadi tertahan, raut kesakitan lawan membuatku jadi bernafsu untuk melancarkan serangan berikutnya. Namun, beum sempat serangan berikutnya kulancarkan sebuah tendangan yang cukup kuat menghantam punggungku dari belakang.


"Argghhh.."


Aku terhempas jatuh ke depan. Beruntung lawan di depanku tidak menyerang bersamaan disaat Aku terjatuh.


Aku cepat berguling kedepan untuk mengambil posisi bertahan.


Bangsat, ternyata Cakra sudah berdiri di sana sambil tersenyum culas.


"Hehehe, Kau belum melupakanku kan bocah!"


"Hmnn Pak Tua sepertimu bisa berbuat culas dengan menyerang dari belakang." Ujarku datar.


Tapi sepertinya Cakra bukan tipe orang yang akan bertarung dengan adil, wajahnya terlihat picik dan suka menghalalkan segala cara untuk memperoleh apapun yang diinginkannya.


"Terserah apa penilaian lu bocah. Yang jelas, disini akan jadi kuburan bagi lu dan juga kelompok selatan." Ujar dengan tawa mengejek.


Selanjutnya, Cakra dan juga pemuda yang menjadi lawanku sebelumnya berjalan berlainan arah untuk mengepungku. Jelas, ini akan menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya. Melawan dua orang dengan kemampuan seperti mereka, akan sangat merepotkan jika keduanya menyerangku secara bersamaan.


Mau tidak mau, Aku harus melumpuhkan salah satu dari mereka terlebih dahulu, walau itu bukanlah pekerjaan yang mudah.


Aku menetapkan target yang didepanku terlebih dahulu, tampak wajah terkejut darinya yang tidak mengira kalau Aku akan menyerangnya terlebih dahulu.


Aku memanfaatkan keterkejutan untuk langsung menyerangnya dengan sekuat tenaga.


Baaaaammm