
"Bos, King sudah muncul."
"..."
"Iya, dia kesini sesuai apa yang kita rencanakan, Bos. King memakan umpannya."
"..."
"Iya, baik saya mengerti."
"..."
"Iya, saya akan memberikan paketnya pada King langsung dan memastikan kalau dia mengikuti apa yang telah kita rencanakan."
"..."
"Tenang saja, Bos! Tidak akan ada yang curiga, mereka semua sedang sibuk membahas aliansi."
"..."
"Iya, Bos. Mereka tidak akan mungkin curiga. Mereka terlalu bodoh dan tidak mungkin mencurigai kita, hahaha."
"..."
Kalimat demi kalimat yang diputar Virangel melalui voice recorder kecil, membuat wajah Jafar kian gelap. Ia tidak menyangka jika pembicaraannya telah disadap.
Ia buru-buru memeriksa tubuhnya dan terkejut, begitu mendapati sebuah perekam mini dan lebih kecil dari giwang bajunya, menempel dekat resleting jaketnya.
Jafar terbayang kejadian beberapa saat lalu, saat Ia bertabrakan dengan Virangel di depan pintu. Ekspresi Jafar berubah buruk, Ia tidak menyangka jika akan dipermainkan oleh seorang junior seperti Virangel.
Sekarang, Jafar dan rekannya tidak lagi bisa berkelit.
Diantara tatapan tajam dan menghakimi semua orang, telapak kaki Jafar berbuah menjadi dingin dan tubuhnya mulai berkeringat.
Utamanya, para petinggi kelompok utara yang sebelumnya tampak tidak senang karena Jafar diperlakukan semena-mena, kini berbalik menatap marah ke arah keduanya. Mereka tidak menyangka hampir saja membela orang yang salah, karena termakan kata-kata Jafar.
Kini mereka merasa malu dan berbalik melihat Jafar dengan geram.
"Jafar, Anke, kalian mempermalukan Kelompok Utara. Kalian memilih berpihak pada musuh dan mengkhianati kelompok kita?"
"Apa yang kalian lakukan telah mengkhianati prinsip dasar kita."
"Kalian adalah aib bagi organisasi."
"Apa kalian sadar? Ketika kita memutuskan untuk menyerah dan bergabung dengan aliansi, maka kelompok ini adalah rumah kita yang baru. Sekarang, kita berada dikapal yang sama. Tapi, apa yang kalian berdua lakukan? Memilih untuk membocorkan kapal sendiri dan membahayakan semua orang, demi bisa naik kapal seberang lautan."
"Perbuatan kalian sungguh memalukan."
Satu persatu, para petinggi Kelompok Utara mengeluarkan pendapat mereka dan menghujat prilaku Jafar.
Merasa tidak bisa lagi mencari alasan untuk membela diri, Jafar memilih untuk mengakui perbuatannya dengan nada menantang semua orang, "Mengakui dia sebagai pemimpin?" Tunjuknya pada Zaha.
"Apa kalian menerima begitu saja, remaja belasan tahun menjadi pemimpin kita? Kita semua sudah memiliki pengalaman belasan dan bahkan puluhan tahun dalam duinia hitam. Kelompok Utara kita bahkan telah memiliki sejarah lebih dalam dan panjang dari usianya. Dia..." Ucap Jafar dengan lantang menunjuk Zaha.
"Dia bahkan masih belum lahir saat itu dan kalian rela menyerahkan organisasi sebesar ini dibawah telapak kakinya."
"Jaga sikapmu, Jafar!" Hardik salah seorang petinggi Kelompok Utara dengan nada dingin.
"Kamu lihat sendiri, King dipilih karena kemampuannya. Semua orang juga sudah mengakuinya, jangan bersikap picik. Jika kamu tidak puas, kamu bisa keluar dengan baik-baik. Tidak dengan cara licik seperti ini."
Sekarang status Kelompok Utara sudah menjadi bagian dalam aliansi besar ini, tapi masalah pengkhianatan yang dilakukan oleh Jafar dan juga Anke merupakan aib dan bertentangan dengan prinsip dasar semua kelompok.
Sekarang semua orang mengalihkan tatapan mereka pada King dan menunggu keputusannya. Bagaimanapun, King telah diakui oleh semua orang sebagai pemimpin. Meskipun kelompok mereka belum dibentuk secara resmi.
Sadar jika semua orang menantikannya untuk mengambil keputusan, Zaha terlihat begitu tenang.
"Senior Kuswoyo, menurut aturan dan hukum di Kelompok Utara. Apa hukuman yang pantas bagi seorang pengkhianat?" Tanya Zaha pada salah seorang senior di Kelompok Utara sebelumnya.
Tidak langsung mengambil keputusan, meski tidak akan ada satupun yang akan keberatan dengan keputusan Zaha. Namun, pemimpin dengan fisik yang masih remaja ini, memilih untuk bersikap bijaksana dan menyerahkan bola panas ketangan petinggi Kelompok Utara.
Semua orang menghela nafas lega, tapi tidak dengan para petinggi Kelompok Utara. Pria yang sebelumnya ditanyai oleh King dengan dingin menjawab, "Hukuman mati, ketua."
Selanjutnya, Zaha bicara acuh tak acuh, "Kalau begitu, mereka saya serahkan pada Senior Kuswoyo dan petinggi Kelmpok Utara lainnya."
"Jangan ada yang ikut campur!" Tambah Zaha mengingatkan yang lainnya.
"Baik. Terimakasih atas kebijaksanaan ketua." Jawab Kuswoyo mengangguk hormat.
Ia beralih pada Jafar dan Anke. Dibelakangnya mengikuti tiga orang petinggi Kelompok Utara lainnya. Sikap culas Jafar telah mencoreng nama mereka di depan King dan aliansi, ini lebih memalukan daripada kehancuran Kelompok mereka. Karena itu, keempatnya menatap penuh kemarahan ketika mendekati Jafar dan Anke.
Jafar dan Anke yang melihat keempat mantan rekannya mendekati mereka, tampak gugup.
Sadar jika nasib mereka berdua berada ditangan Kuswoyo dan mantan rekan mereka yang lain, Jafar dengan gugup memohon untuk nasib mereka, "Kus, ki-kita sudah berteman lama. Tolong ampuni kami berdua, ijinkan kami keluar dari sini."
Kuswoyo mendengus dingin, sambil berkata, "Jafar, tentunya kamu tahu jika kita memiliki hukum yang harus dipatuhi. Hukuman untuk pengkhianat seperti kamu hanya satu, kematian."
"Ta-tapi, kami temanmu, Kus."
"Jangankan teman, bahkan jika itu adalah anakku sendiri yang menjadi pengkhianatnya, Aku akan tetap membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri." Jawab Kuswoyo tanpa memberi sedikitpun ruang untuk bernegosiasi.
Adegan selanjutnya begitu mencekam, enam orang petinggi Kelompok Utara saling bertarung satu sama lain. Namun kekuatan Jafar dan Anke tidak cukup untuk mengimbangi serangan Kuswoyo dan tiga rekannya.
Dalam waktu 30 menit, mereka berempat sanggup membuat Jafar dan Anke tersungkur diatas lantai dengan keadaan bersimbah darah. Namun, keduanya masih hidup.
Sepertinya, Kuswoyo benar-benar serius dengan ucapannya. Ia berniat langsung menghabisi Jafar dan Anke, namun Zaha dengan cepat berteriak untuk mencegah mereka, "Tahan!"
Serangan mereka berempat berhenti, tepat disaat paling kritis. Terlambat sedikit saja, baik Jafar maupun Anke akan langsung bertemu dengan malaikat maut.
"Kita masih butuh mereka untuk memberitahu lokasi Abdi dan yang lainnya saat ini." Tambah Zaha dan membuat semua orang menjadi paham kenapa Zaha menghentikan Kuswoyo dan rekannya secara tiba-tiba.
Kuswoyo dengan dingin membalikkan tubuh Jafar, lalu menginjak dada Jafar dengan kaki kanannya. Ia berkata, "Kamu dengar sendiri apa yang ditanyakan King. Cepat jawab!"
Jafar terbatuk, wajahnya sudah penuh oleh darah. Namun Ia masih bisa tertawa pelan dan menampakkan seisi mulutnya yang sudah dipenuhi oleh darah, "Buat apa? Pada akhirnya, aku akan tetap kalian bunuh."
"Apa kamu pikir kamu punya ruang untuk bernegosiasi saat ini, Jafar? Cepat jawab? Paling tidak, kamu akan mengurangi dosamu karena telah melakukan perbuatan tercela ini."
"Bunuh saja Aku!" Kata Jafar menantang, Ia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya. Meskipun Ia menjawab pertanyaan King, toh Ia akan tetap dibunuh pada akhirnya. Ia ingin menjadikan nyawanya sebagai alat tawar untuk hidupnya saat ini.
Jafar bersikukuh dengan pendiriannya, namun King tidak kehabisan ide untuk membuat keduanya bicara. Dengan tenang Ia bicara pada Virangel, "Mbak Vira, apa kamu sudah melakukan apa yang kuminta sebelumnya?"
"Tentu saja sudah, King." Jawab Virangel dengan senyum tenang. Lalu Ia melakukan sebuah panggilan video, tidak lama sampai panggilannya terhubung dan ternyata sudah ada Zulham yang sedang berada disuatu tempat, dibelakang Zulham ada seorang wanita dan dua orang anak kecil yang tampak meringkuk ketakutan.
Zaha tersenyum puas, "Perlihatkan padanya!"
Virangel membawa HPnya dan memperlihatkan apa yang ada dalam layar pada Jafar. Seketika wajah Jafar menjadi tegang.