Bunian

Bunian
Kotak



Bergegas Cardo memasuki mobil, menekan pedal gas, menuju Bandrek Hause' tempat mereka janjikan, tanpa bicara sepatah katapun.


"Kenapa perkampungan itu menghilang?"


Dean dan Dony hanya terdiam, saat mendengar Pak tua tadi bicara tentang perkampungan tersebut. Bagaimana mungkin, mereka tinggal disana berhari-hari ternyata tidak diketahui keberadaan kampung tersebut dengan warga yang melewatinya.


Kampung apa itu? Apakah itu perkampungan beda alam?


Kembali Dean teringat bingkisan yang di beri oleh Sunna disebuah rantang untuk diletakkan di kendaraan mereka.


Dean menoleh kebelakang, dan melihat sebuah rantang usang yang tampak lusuh, seketika dia meminta Cardo untuk menghentikan laju kendaraan mereka, "Do, coba kita berhenti di persimpangan jalan sana!" tunjuknya.


Cardo menyalakan lampu sen, menghentikan mobil di kiri sisi jalan.


Dean membuka rantang yang awalnya berisikan rendang buatan Cardo dan Dony kemarin, dan juga kelamai.


Tangan Dean menggigil saat akan membuka rantang lusuh tersebut. Perlahan dia membuka rantang pemberian Sunna yang ternyata isinya adalah batu alam dan setumpuk tanah liat coklat untuk membuat batu bata.


Sontak melihat kearah rantang itu, ke-tiganya terlonjak kaget. Bagaimana mungkin, mereka diberi kejutan seperti ini?


Cardo berteriak lantang, "Cepat buang, Bang! Cepat buang! Ini akan menjadi hal yang sangat menakutkan bagi Bang Luqman dan Kak Cici nantinya!"


Dean teringat akan pesan Sunna, yang tidak boleh berbalik setelah meninggalkan perkampungan Datuk Mangkuto Malin, "Apakah kita melanggar larangan daerah itu? Makanya makanan kita jadi seperti ini?" tanyanya.


Dony mengangguk membenarkan, "Lebih baik kita bawa rantang ini. Jangan dibuang, karena ini masih wilayah mereka. Cepat Cardo..... gas sampai Bandrek Hause'!!!!" perintahnya.


Mereka tidak ingin menambah masalah. Saat ini harus cepat meninggalkan wilayah yang tidak ada di GPS handphone milik, Dean. Wajah mereka tampak memucat. Entahlah, jika mereka kembali hilang.... mungkin akan sangat menyeramkan bagi semua keluarga besarnya.


Tiga jam kemudian mereka tiba di Bandrek Hause', tempat janjian mereka dengan Luqman dan Cici. Tampak mobil Cici masih terparkir disana, tenga menikmati keindahan dan kesejukan wilayah kuda putih yang memiliki misteri yang berbeda.


Saat turun, bergegas Dean mendekati Luqman. Niat hati ingin menyampaikan bahwa mereka kehilangan perkampungan Datuk Mangkuto Malin, tapi saat ini bibirnya terkunci karena melihat seorang pria paruh baya yang mereka temui di perbukitan tiga jam lalu, tengah menawarkan beberapa buah-buahan yang ada dalam keranjangnya.


Dean menatap Cardo, merasa keanehan yang terjadi pagi itu, "Kenapa Pak tua itu lebih dulu tiba disini? Bukankah kita meninggalkannya di perbukitan tadi?"


Cardo mengangguk membenarkan, wajah mereka semakin memucat. Namun mengurungkan niatnya untuk menjelaskan pada keluarga. Biarlah ini menjadi misteri bagi mereka bertiga, ketika melihat kemesraan Akmal dan Cici yang tengah bersenda gurau penuh tawa canda.


Apakah ini karena mereka melanggar semua larangan yang dilarang berbalik? Mereka hanya duduk, menikmati keindahan alam Bandrek Hause', sesekali menggoda Mira yang sangat lincah penuh keceriaan.


Namun, Dean kembali berbisik bertanya pada Cardo, "Kenapa Mira tidak bersuara? Apakah dia mengalami kebisuan? Ya.... Tuhan!!!! Kenapa kita mangalami kejadian aneh setelah pulang dari perkampungan misterius itu?"


Lebih dari dua jam mereka sudah berkumpul disana, dengan perasaan penasaran didalam benak mereka masing-masing. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang mereka tidak ketahui dari kembalinya Akmal? Bagaimana mungkin Cici tidak mengetahui putrinya Mira berhenti mengeluarkan suara-suara lucunya sejak kemarin? Apakah mereka benar-benar menukar kebahagiaan Mira dengan kembalinya Akmal?


Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya menjadi teka-teki dikepala mereka.


Luqman memberi beberapa lembar uang merah kepada Pak tua yang membawakannya buah-buahan segar dari perbukitan. Tentu niatnya untuk menjadi buah tangan yang dia bawa ke kepulauan tempat dia berkumpul dengan keluarga.


Dean menarik nafas panjang, mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar. Begitu juga dengan Dony dan Cardo.


Mereka memasuki mobil, untuk melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru. Membutuhkan waktu tiga jam lagi agar tiba dikediaman masing-masing.


Cici yang memperhatikan kekhawatiran Dean dari raut wajah yang tampak tegang, mendekati Abang keduanya, memberanikan diri untuk bertanya, "Abang kenapa? Apakah ada kejadian aneh?"


Tentu Akmal, selaku suami yang masih membutuhkan Cici, membuntuti istrinya.


Dean kembali mengurungkan niatnya untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Kekhawatiran pada keluarga adiknya semakin berkecamuk. Ditambah Mira tidak dapat mengeluarkan suara saat bermain bersama Oneng.


Benar saja, mereka meninggalkan Sumatera Barat setelah hampir seminggu meninggalkan kota mereka untuk melanjutkan kegiatan didunia nyata.


.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Akmal telah kembali kepelukan keluarga, begitu juga Luqman dan Dean telah kembali ke kepulauan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Namun, masih ada tersimpan rahasia yang tersimpan rapi di benak Cardo dan Dony yang masih menetap di Pekanbaru.


Sudah lebih dari dua bulan Akmal memiliki kehidupan yang berbeda, dia memutuskan untuk berhenti dari karirnya sebagai manager Bank.


Sontak surat pengunduran diri Akmal ditolak tegas oleh Pak Sukoco selaku Kepala cabang.


Pak Sukoco merobek kertas yang berisikan pengunduran diri Akmal, "Saya tidak setuju! Saya masih membutuhkan kamu, Mal!" tegasnya.


Akmal menghela nafas panjang, "Tapi Pak, ini harus saya lakukan. Karena saya ingin memulai usaha baru dan terjun ke dunia politik!"


Pak Sukoco menautkan kedua alisnya, "Bagaimana jika tunggu Sony benar-benar pulih? Karena sudah hampir tiga bulan dia tidak masuk kantor, dan kamu tahu kita masih saling membutuhkan!"


Akmal hanya bisa tersenyum, bagaimana mungkin dia harus menunggu Sony pulih? Sementara saat ini yang dia pikirkan adalah kondisi Mira yang baru mereka sadari tidak bisa bicara.


Kepanikan Cici kembali terlihat, saat Mira dinyatakan tidak bisa bicara oleh dokter spesialis anak. Wajah ceria Mira kembali berubah, namun dapat Cici ingat kembali, inilah permintaan Datuk Rajo Omeh padanya.


Akmal keluar dari ruangan Pak Sukoco, menghubungi Cici melalui telepon selulernya.


["Assalamualaikum, Bi....!!"]


["Waalaikumsalam, Mi. Pak Sukoco meminta Abi menunggu Sony pulih baru bisa berhenti kerja, Mi! Bagaimana kita bisa membawa Mira untuk berobat ke Malaka? Karena Pak Sukoco masih membutuhkan, Abi."]


Cici mengusap wajahnya diseberang sana.


["Terus, gimana?"]


["Nanti sore kita jenguk Sony yah, Mi? Sudah lebih tiga bulan Abi tidak bertemu dia. Kita minta pertolongan sama dia, kalau bisa kita berangkat ke Malaka minggu ini!"]


["Ya udah, terserah Abi saja! Yang penting kita bawa Mira berobat. Oya, Ami baru ingat. Coba tanyakan pada Upik Raya, apa perlu kita membawa Mira berobat? Atau jangan-jangan ada sangkut pautnya dengan kejadian beberapa waktu lalu."]


Akmal baru teringat, sudah lebih dari tiga bulan sejak kepulangannya ke Pekanbaru, dia tidak pernah didatangi istri dari bunian. Kemana dia? Kenapa dia tidak pernah datang?


["Ya Mi! Abi lanjut kerja dulu yah!"]


Mereka menutup sambungan telpon, kembali masuk ke pikiran masing-masing.


"Apa Abi tidak pernah bertanya pada Upik Raya mengenai Mira?" Cici kembali teringat kotak kecil yang pernah dititipkan Raya padanya.


"Kotak, aku harus membuka kotak itu...!!!"