
Mendengar kalimat Datuak Mangkuto Malin, Cici kembali membuka kedua bola matanya, melihat sosok nenek tua ada dihadapannya, yang tersenyum kearah Cici.
"Nenek? Apakah Nenek akan menyakiti putriku!?" Cici kembali merasakan kepanikan dihadapan Sunna dan Datuak Mangkuto Malin.
Datuak Mangkuto Malin menoleh kearah Inyiak Rampai, "Apo dek awak buek urang ko supo iko? Anaknyo ketek, apo ndak ibo jo urang ko?" (Mengapa kamu buat anak wanita ini seperti ini? Anaknya masih kecil, apakah tidak kasihan sama mereka?)
Inyiak Rampai tertawa kecil, "Syarat dari Upiak Rayo barek Tuak. Kok indak mungkin rasonyo awak baok lakinyo baliak ka dunia nyata." (Syarat dari Upik Raya sangat berat Datuk. Rasanya tidak mungkin membawa suaminya, untuk kembali ke dunia nyata.)
Cici yang mengerti bahasa kedua petua ini, semakin penasaran, "Apa yang membuat suami Ci hilang Datuk! Katakan pada Cici, apa yang membuat mereka membawa suami Cici?" matanya mengarah pada cahaya kuning keemasan dari arah sebelah kanan.
Datuak Mangkuto Malin, tidak menjawab pertanyaan Cici, karena masih terlihat kekhawatiran saat dia menatap lekat wajah Cici, mata yang dapat melihat alam yang berbeda, bahkan meyakini bahwa Akmal masih hidup, dan bersedia melakukan apapun untuk membawa suami tercinta kembali kepelukannya.
"Sunna, baok anak ko barasiah diri! Perjalanannyo panjang, urang ko harus menghadapi Datuak Rajo Omeh, untuak mambaok lakinyo pulang!" (Sunna, bawa anak ini membersihkan diri! Perjalanan mereka sangat panjang dan harus menghadapi Datuak Rajo Omeh, untuk membawa suaminya kembali)
Mendengarkan penuturan Datuak Mangkuto Malin, Cici semakin bersemangat untuk melakukan ritual, sesuai yang diperintahkan oleh petua Kelok Sembilan.
Sunna membawa Cici kesalah satu pancuran yang sangat dingin, dialiri air jernih dari pegunungan perbukitan.
"Ini sangat dingin, Mak," Cici menampung air yang bersih juga sangat sejuk itu mengusap lembut diwajah cantiknya.
"Abi, Ami sudah dekat dengan Abi, kita pasti ketemu. Abi pulang yah....!" Permohonan Cici membuat Sunna segera mengambil beberapa kembang untuk melakukan beberapa ritual.
Cici memohon pada pemilik semesta alam, agar secepatnya mempertemukan dia pada suami tercinta. Begitu besar harapan Cici untuk terus memperjuangkan seorang Akmal. Keyakinan yang dia miliki, tentang Akmal masih hidup, mampu memberikan kesan ambisi pada seorang istri tentang perasaan seorang belahan jiwa.
Cinta yang kuat, bahkan dia rela disakiti oleh makhluk tak kasat mata demi memperjuangkan seorang Akmal. Laki-laki baik yang pernah dia miliki, kelembutan Akmal tidak pernah membentak ataupun berucap kasar padanya, mampu memberikan kenyamanan bagi Cici.
Dijodohkan dengan pria yang tepat oleh Almarhum Papanya, itu adalah keberuntungan dan kebahagiannya.
Sunna membantu Cici dalam melakukan ritual yang benar. Suasana yang gelap, dan ditemani sinar langit sang rembulan malam membuat Cici tampak lebih berani dan percaya diri.
"Mak, apakah disini tidak seramai dikelok sembilan, kalau malam?" Cici bertanya sebagai basa-basi, namun tidak dijawab oleh Sunna.
Sunna hanya diam, beberapa kali dia membantu Cici dengan doa-doa yang keluar dari bibir tipis wanita paruh baya tersebut.
Lebih dari 30 menit, Cici melakukan ritual di bawah air pancuran, dengan kembang yang beraroma khas bagi orang Sumatra Barat yang sangat menyukai bunga.
Sunna memberikan sehelai kain panjang, agar Cici bisa menyalin pakaiannya mangganti dengan pakaian yang sudah tersedia disana.
"Pakailah... kau akan tampak supo putri rajo yang kami sayangi," Sunna memberikan beberapa pakaian tertutup, yang sangat indah dan nyaman saat menggunakannya.
Suntiang emas yang berlenggek indah jika seorang pengantin perempuan akan menikah dengan pria pilihan keluarga. Pesta tujuh hari, tujuh malam, yang merupakan kebanggaan bagi satu keluarga, jika menikahkan putri mereka dengan pria baik dan bertanggung jawab.
Tanda suntiang emas yang berlenggek dikepala mempelai wanita, menandakan bahwa wanita Minangkabau termasuk wanita yang kuat dan tangguh, dalam menjalani kehidupan selama berumah tangga dengan berbagai macam cobaan setelah menikah.
Tanpa harus mengeluh, saat harus diarak keliling kampung untuk diumumkan bahwa 'ikolah gadih Minang, yang akan diparalek gadangan untuak menempuh hiduik yang panuah liku'. (Inilah gadis Minang, yang akan di pesta besarkan untuk menempuh hidup yang penuh liku dalam berumah tangga)
Cici dibawa Sunna, seperti wanita suci, yang akan menjemput suami tercinta.
Terdengar sayup-sayup suara arak-arakan talempong dari kejauhan saat Cici Paramita telah selesai melakukan ritualnya.
Mereka berjalan sangat lambat, penuh hikmat, seperti akan menjemput sang mempelai pria.
"Suara apa itu...!?"
Cici bertanya dalam hati, tidak ingin berbicara dalam kondisi seperti ini. Dia hanya mengikuti langkah Sunna untuk memasuki ruang yang sangat berbeda dari yang awal tadi.
Cici duduk disebuah kursi, berwarna keemasan, kembali menatap kearah Datuak Mangkuto Malin. Ruangan yang tampak seperti ruang kerajaan jaman dahulu.
"Ruangan apa ini!?" pertanyaan aneh itu kembali muncul di kepala Cici.
Inyiak Rampai, berdiri disamping Cici, ditemani Sunna seperti ibu kandung bagi wanita cantik itu, yang sedang menunggu wejangan dari sang ayah.
"Hmm Nak, kini awak resmi menjadi bagian dunsanak ambo, anak yang harus ambo lindungi salamo hayat masih dikanduang badan. Kok iyo Akmal dapek salamaik, tolong jan pernah mambuang kotoran di tampek kami. Mungkin laki awak, indak menyadari apo yang alah dilakukanyo, mambuek Upiak Rayo dikerajaan sabalah jatuh cinto samo Akmal." (Hmm Nak, sekarang kamu sudah resmi menjadi keluarga saya, seorang anak yang harus saya lindungi selama hayat masih dikandung badan. Kalau iya Akmal bisa selamat, tolong jangan pernah membuang kotoran ditempat kami. Mungkin suamimu tidak menyadari, apa yang dia lakukan, hingga membuat Upik Raya jatuh cinta pada Akmal)
Cici yang mendengar penuturan Datuak Mangkuto Malin, kembali bertanya, "Apakah mereka akan membunuh suami Ci, Datuk!?"
Datuak Mangkuto Malin tersenyum, "Raso cintonyo somo anak dan bininyo ko lah yang mambuek Akmal indak kahilangan nyao nyo. Carilah Akmal, pailah samo Inyiak Rampai, japuik laki kau. Kok iyo kalian bajodoh panjang, kalian basobok baliak, tapi akan ado yang kurang. Pailah... ikuik langkah kaki Inyiak Rampai, jan pernah memegang atau mambaok pulang salain laki awak sabalun hari baganti hari ka lapan." (Rasa cinta pada anak dan istrinya yang membuat Akmal tidak kehilangan nyawanya. Carilah Akmal, pergilah sama Inyiak Rampai. Kalau iya kalian berjodoh, kalian akan dipertemukan. Tapi nanti akan ada yang kurang. Pergilah... ikutkan langkah kaki Inyiak Rampai, jangan pernah memegang atau membawa pulang selain suamimu, sebelum hari berganti ke hari kedelapan)
Mendengar kalimat dari Datuak Mangkuto Malin, Cici meremas kuat ujung baju yang dia kenakan, karena merasa akan kehilangan sesuatu demi kembalinya Akmal kepelukan Cici.
"Abi... apapun yang akan terjadi, Ami harus membawa Abi kembali. Tunggu Ami, semua Ami lakukan demi Mira, dan kita."
Cici kembali memejamkan matanya, melihat cahaya terang, menuju sebuah pintu yang hanya berupa lingkaran kecil untuk tiba didunia yang berbeda dan penuh misteri.
Bulu kuduk Cici kembali meremang, merasakan sentuhan tangan seseorang yang menyentuh bahu kanannya.
"Criiing.... criiing.... criiing...."