
"Ah syukurlah Kakak tidak kenapa-kenapa." Zaha langsung memeluk Nia begitu Ia masuk ke dalam rumah. Tidak dipedulikannya tatapan heran dari semua orang yang melihatnya saat itu. Zaha terlihat sangat lega dan senang begitu mendapati kondisi Kakaknya baik-baik saja.
"Ka.kamu kenapa Dek ?" Tanya Nia lirih dan juga merasa heran dengan sikap Adiknya, datang-datang langsung saja memeluk dirinya dan pelukannya seperti takut kehilangan dirinya. Nia membalas pelukan erat Zaha, perasaannya begitu nyaman ketika memeluk tubuh Adik kesayangannya tersebut. Dia bisa merasakan pelukan Zaha yang sangat takut kehilangan dirinya.
"Eh, ma.maaf, Aku mengangetkan Kakak yah ? Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Kakak tadi." Ujar Zaha sambil melepaskan pelukannya. Ia baru sadar jika semua orang sedang menatap dirinya saat itu.
"Fiuh ini gara-gara Angel memberi informasi yang membuat sangat syok tadi." Pikir Zaha kesal dalam hati.
"Ka.kamu kenapa sih Dek ?" Tanya Nia sekali lagi.
"Iya, Kamu kenapa sih King ?" Tanya Zulham dan Virangel kompak.
"Hihihi, ternyata beneran. Orang-orang pada manggil Kamu King loh Dek."
"Halah, bisa-bisanya mereka aja tuh Kak." Ujar Zaha coba berkilah sambil memberi kode pada Zulham dan Virangel untuk tidak membahas pertanyaan mereka dulu.
Zaha melirik jam tangannya, "Udah jam 11 malam. Kakak gak istirahat dulu ?"
"Hoaamm.. Iya sih Kakak dah ngantuk. Tapi masih mau nungguin Kamu. Kakak takut tidur sendiri Dek, temanin yah." Ucap Kakaknya ceplas-ceplos dengan mata agak kuyu tanpa peduli apa tanggapan Virangel dan Zulham yang ada dekat mereka saat itu.
"Ya udah, ayok lah."
"Beneran ?" Tanya Nia senang dan langsung menarik tangan Zaha begitu saja ke kamarnya.
Zaha memberi kode untuk menunggunya di luar dan dibalas anggukan tanda setuju oleh mereka berdua.
30 menit kemudian, Zaha keluar dari kamar Nia dan langsung bergabung dengan Zulham dan yang lainnya.
"Ibu dah tidur dari tadi ya Bang?"
"Udah habis Isya tadi. Ibu kecapek'an pulang sehabis jualan tadi kayaknya." Sejak Zaha dinobatkan sebagai pemimpin kelompok selatan, semua orang jadi ikutan memanggil Ibu pada Ibunya Zaha.
"Ada apa King ? Ada masalah serius?" Tanya Virangel.
Zulham melirik Virangel sesaat sebelum menatap Zaha dengan serius, "Apa sikap King tadi, ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Nia tempo hari? Dan juga kematian beberapa wanita akhir-akhir ini?" Tebak Zulham.
"Aku belum tahu Bang. Tapi, memang ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Kak Nia sebelumnya." Jawab Zaha dengan wajah tak kalah serius.
"Eh, Jadi lu dah tahu siapa pelaku pembunuh ke lima wanita kemarin King ?" Tanya Zulham kaget.
Zaha mengangguk, "Iya Bang. Tapi, maaf belum bisa Kuberitahu siapa orangnya pada Kalian. Tapi, sepertinya apa yang dilakukannya juga percuma."
"Maaf jika gue menyela, King."
"Ya, kenapa Mbak Vira ?"
"Jadi benar pelaku yang memperkosa Nia sebelumnya itu adalah anaknya Abdi Batubara ?"
"Iya." Jawab Zaha sambil mengela nafas dalam.
"Berarti musuh yang akan Kita hadapi sangat kuat. Setahu Gue, Kelompok timur di backup langsung oleh Abdi Batubara, sebagai gantinya mereka menjadi bawahannya pengusaha batubara itu." Papar Virangel mengemukakan hasil analisanya.
"Emang sekuat apa kelompok timur itu Mbak ?" tanya Zulham penasaran, karena selama ini Ia belum pernah berhadapan secara langsung dengan kelompok timur pimpinan Cakra.
"Sejauh ini, kekuatan Kita dengan mereka masih berimbang. Tapi, itu 5 tahun yang lalu. Setelah kelompok itu dipimpin oleh Cakra, Gue buta dengan kekuatan kelompok mereka saat ini. Apalagi sekarang mereka di backup langsung oleh Abdi Batubara."
"Kalau Cakra gimana Mbak ?" Tanya Zulham lagi.
"Cakra itu baru 4 tahun ini jadi pemimpin disana. Secara langsung Gue belum pernah melihat kemampuannya. Tapi, dari kabar yang Gue dengar, Dia jauh lebih sadis dari pemimpin sebelumnya. Bahkan pemimpin mereka sebelum ini, dibunuh oleh Cakra sendiri. Konon kabarnya, Cakra itu masih saudara angkatnya pemimpin terdahulu. Tidak hanya itu, Istri dan anak perempuannya juga di perkosa oleh Cakra dan mereka bahkan dijadikan pelacur ditempat lokalisasi yang mereka miliki."
"Apa ada kelompok timur lama yang masih loyal pada pemimpin sebelumnya ?" Tanya Zaha menyela.
Virangel tampak tersenyum mendengar pertanyaan Zaha, "Hihihi, King sangat jeli membaca situasi ternyata."
"Tentu saja ada. Tapi Cakra membuat mereka semua tidak berkutik. Cakra menjadikan keluarga mereka sebagai ancaman, dan membuat keluarga pemimpin dahulu sebagai contoh nyata, jika apa yang dilakukannya tidak main-main. Yang berani berkhianat nasibnya akan berakhir sama seperti ketua terdahulu dan keluarganya."
"Mbak, Aku minta tolong untuk berkumpul besok sore, katakan pada yang lainnya. Tidak lama, karena ada urusan lain yang harus Kukerjakan." Ujar Zaha.
"Eh, secepat itu kah King ?" tanya Virangel kaget.
"Iya. dan satu lagi.. Kak Nia untuk sementara, Aku sendiri yang akan menjaganya. Tapi, untuk Ibu Aku mohon bantuan dari yang lainnya."
"Apaan sih King, pake kata memohon segala. Lu kan pemimpin Kami, tinggal perintahkan saja! maka Kami semua siap mempetaruhkan nyawa untuk melakukanya." Zulham menggerutu kesal.
"Tapi," Sela Virangel ragu.
"Tapi apa Mbak ?"
"Kenapa King tidak mempercayakan Nia pada Kami ? kalau memang Dia yang jadi target utamanya. Bukankah itu akan menganggu sekolah King ?"
"Fiuhh.. Gini Mbak." Zaha menatap Virangel dengan serius dan gantian melihat Zulham dan tiga pemuda lainnya.
"Maaf, bukannya Aku tidak mempercayakan Nia pada Kalian. Ada seorang musuh kuat selain Cakra, bahkan Aku sendiri ragu untuk bisa mengalahkannya..."
Virangel dan khususnya Zulham tampak kaget mendengar penjelasan Zaha.
Zaha yang dikiranya sudah sangat kuat dengan tubuhnya yang kurus itu, karena bisa mengalahkan Codet dalam pertarungan 1 lawan 1 sebelumnya. Apalagai sebelum itu, Zaha juga sudah menumbangkan anak buah andalan Codet sebelum mengalahkan pemimpinnya. Kini mendengar ada musuh yang lebih kuat dari mulut Zaha sendiri, jelas membuat Zulham jadi bertanya-tanya sekuat apa musuh yang dikhawatirkan oleh Zaha tersebut. Apalagi kalau dilihat, tubuh Zaha sendiri sudah mulai berisi karena latihan berat yang sering dilakukannya, jelas kemampuan Zaha juga sudah ikut berkembang dari sebelumnya.
"Kalau memang begitu, bukannya lebih baik jika semakin banyak yang menjaga Nia King ? Jika memang musuh Kita sehebat itu." Sela Virangel tampak ikut cemas.
Zaha menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau menunggu korban terlebih dahulu. Meski malu untuk mengatakan ini, tapi Aku akan menitipkan Kak Nia pada kenalanku."
"Apa Nia akan aman disana ?" Tanya Zulham khawatir. Dia yakin, kalau Zaha sudah mengatakan musuhnya seperti itu. Itu artinya, musuh yang akan mereka hadapi bukan orang sembarangan. Masalahnya, apa orang yang akan menjaga Nia bisa melindunginya? Pemuda itu sudah lama mencintai Nia, Kakaknya Zaha. Walau hanya bisa menyimpannya dalam hati, jelas Ia yang paling tidak rela kalau Nia sampai kenapa-napa. Sebelumnya, Dia hampir saja nekat untuk menyerbu markas Ronal jika bukan karena Zaha yang melarangnya saat itu.
"Semoga Bang." Jawab Zaha singkat.