Bunian

Bunian
BAB 65



"Kapanpun kalian siap. Aturan lama." Ujar pria yang berdiri ditengah dengan nada sinis. Tampak keempat rekannya mengambil posisi siaga, begitupun dengan para Pemimpin Distrik beserta anak buah mereka.


Dari segi jumlah, Kelompok Timur masih lebih unggul, 1 banding 2 dari pasukan Kelompok Selatan yang tidak datang dengan seluruh pasukannya walau sudah ditambah pasukan Kelompok Timur yang membelot mendukung mereka. Karena pembalasan hari itu secara tiba-tiba dan tanpa rencana sama sekali. Tapi, itu tidak menyurutkan langkah mereka sama sekali, yang ada semangat mereka semakin terlecut dan membara karena pertempuran hari itu mempertaruhkan harga diri dan demi keluarga mereka yang tersakiti.


"King, jangan maju dulu. Biar yang lainnya mengurus mereka terlebih dahulu." Ujar Cak Timbul berbisik sambil berdiri di sebelah kanan Zaha. Mendengar paparan salah seorang Pasukan Kiri tadi, membuat Cak Timbul mengatur rencana kembali jika ingin mengalahkan musuh-musuh mereka.


"Tapi Cak.." Zaha tampak keberatan dengan usulan Cak Timbul, karena dia bukan tipe orang yang suka berpangku tangan disaat teman-temannya bertarung.


"Kita harus menghemat tenaga, jika tidak maka Kita akan kehabisan tenaga buat menghadapi lawan terakhir. Disamping itu, Saya belum terlalu percaya dengan mereka yang mendukung Kita saat ini." Lanjut Cak Timbul berbisik.


***


Ditempat lain, disaat yang sama.


Baru saja Virangel beserta ketiga gadis remaja dibelakangnya sampai di depan toko Ibunya Zaha, datang salah seorang anak buahnya dengan tergesa, seperti sedang dikejar setan.


"Maaf Bos, di depan.." Ucapnya terbata-bata.


Hiukali dan Kobang yang kebetulan sedang ada disana berjalan mendekat ke arah mereka


"Ada apa di depan ?" Tanya Virangel.


"Gerbang depan pasar diserang..." Ujarnya dengan nafas memburu.


Belum selesai Ia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba datang lagi seorang anak buah mereka yang lainnya dari arah berlainan.


"Gawat Bos! Gerbang belakang diserang sekelompok orang bersenjata tajam." Lapornya.


"Ternyata benar apa kata paman Timbul, mereka pasti memanfaatkan situasi ketika sebagian dari Kita menyerang markas mereka. Biar Gue yang urus."


"Vira.." Panggil Hiukali sebelum Virangel menjalankan niatnya.


"Kamu disini saja, biar saya dan Kobang yang urus. Kita tidak tahu apa mereka ada yang menyusup ke dalam pasar atau tidak. Kamu jaga Ibunya King dan mereka bertiga." Lanjut Hiukali sambil menunjuk tiga gadis dibelakang Virangel.


"Baik Paman." Ucap Virangel patuh tanpa berani membantah seniornya itu.


"Se-sebenarnya ada apa Mbak ?" Tanya Anna memberanikan diri bertanya, begitu Hiukali dan Kobang pergi dari sana.


"Hufttt.." Virangel menghembuskan nafas kesal, bagaimanapun Ia sangat ingin terjun langsung menghabisi musuh yang menyerang ke tempat mereka. Namun saat ini Ia berkewajiban untuk menjaga Ibunya Zaha, dan kini ditambah 3 gadis yang ada didepannya itu.


"Kalian jangan banyak tanya. Masuk saja dalam sana, dan jangan keluar sebelum Saya perintahkan." Ujar Virangel dingin, membuat suasana semakin terasa tegang.


Komplek pasar itu sendiri terdiri dari dua gerbang utama, depan dan belakang. Hiukali pergi ke gerbang depan bersama pemuda yang tadi melapor pada mereka. Saat Ia datang, pertempuran sedang berlangsung. Sebenarnya cukup imbang, namun satu yang menjadi pembeda diantara semua pertarungan yang sedang berlangsung.


Tampak seorang pemuda sedang menggila menghajar anak buahnya, sehingga pertarungannya terlihat lebih kontras dibanding yang lainnya.


"Bernyali juga kalian, berani langsung datang kesini. Tapi kok kayak maling yah! datang disaat tuan rumah sedang keluar." Ujar Hiukali santai sambil menghisap cerutunya.


Ucapan Hiukali sukses menarik perhatian sang pemuda, "Ternyata orang-orang kelompok selatan tidak ada apa-apanya. Cuma sekumpulan makhluk lemah!"


"Hehehe, yang kamu hadapi itu anak-anak baru. Coba saja uji orang tua ini, anak muda! Siapa tahu Kamu bisa lebih tercerahkan." Kata Hiukali kalem.


"Hehehe jangan salahkan kalau sampai Lu bertemu malaikat maut lebih cepat yah Pak Tua." Ujarnya dengan angkuhnya. Lalu Ia berlari kearah Hiukali dan menyarangkan beberapa pukulan dengan cepat.


Wosshhh Wossshhh


Dua pukulan dengan mudah dihindari oleh Hiukali dan saat pukulan ketiga dilayangkan oleh musuh, Hiukali dengan gesit berhasil menghindar kesamping dan memanfaatkan dorongan tubuh si pemuda.


Serangan si pemuda tidak hanya menyisir angin tapi hampir membuat tubuhnya jatuh terjerembab mencium lantai.


"Bangsaatt.." Makinya kesal sambil bersiap menyerang kembali.


Darah muda membuat emosinya cepat naik, beda halnya dengan Hiukali yang sudah berpengalaman. Hiukali masih tampak tenang dan justru menertawakan lawan yang sudah sangat bernafsu untuk mengalahkannya.


Wosshhh Wossshhh


Dengan lincah Hiukali menghindari beberapa serangan beruntun dari lawan. Saat berkelit kesamping, pemuda yang jadi lawannya berhasil memepet Hiukali kesudut dinding dan mencengkram bahu Hiukali dengan maksud mengunci gerakannya.


Bughhhhhh


Namun pemuda itu salah perhitungan, Hiukali justru sengaja memancing musuh untuk bermain jarak dekat. Tanpa sadar, saat mereka berada disudut ruangan, disitulah sosok Hiukali yang sebenarnya keluar.


Bughhhhh


Serangan beruntun tepat di ulu hati sang pemuda membuat nafasnya seakan terputus, tampak ekspresi terkejut dari wajahnya. Namun hanya sebentar,


Bughhh bughhhhh bughhhhh


Bughhh bughhhhh bughhhhh


Bughhh bughhhhh bughhhhh


Berikut serangan tajam dan kuat dari Hiukali datang tanpa henti, terakhir...


Baaaaammmmmm


Sebuah pukulan upper cut tepat menghantam dagunya, membuat kesadaran lawan langsung hilang seketika karena guncangan kuat yang menghantam otaknya. Diapun rubuh kebelakang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Lemah." Ucap Hiukali dengan santai, satu-satunya yang membuat pemuda itu memiliki nilai plus dimatanya, karena berhasil menjatuhkan cerutu yang sedang dihisapnya.


Hiukali mengambil kembali cerutunya, dan kembali menghisapnya dengan begitu santainya. Disaat yang bersamaan, anak buahnya juga berhasil mengalahkan seluruh musuh yang menyerang mereka.


Lain Hiukali, lain lagi dengan Kobang. Pertarungan senjata berlangsung sengit antara anak buahnya dan juga dirinya dengan musuh. Hiukali melihat lawan menggunakan senjata tajam, maka Ia pun ikut mengeluarkan golok yang selalu jadi andalannya.


Sreeettttt sreeettttt


Beberapa dari anak buah lawan dibuatnya tak lagi memiliki anggota tubuh yang lengkap, sampai pada sebuah momen dimana Ia bertemu langsung dengan pemimpin pasukan lawan yang saat itu sedang menggorok anak buahnya.


Kobang yang pada dasarnya memang tipikal orang yang temperamen langsung berteriak lantang dan menyerang pemimpin pasukan lawan.


"HAAAAAA.."


Woosssshhhh


Sreeeetttttt


Lawan yang sadar bahaya mendekat, apalagi serangan Kobang diiringi dengan teriakan lantang. Serangan itu berhasil dihindarinya. Tidak hanya itu, ujung celuritnya berhasil melukai tipis pinggang Kobang.


Kobang sendiri, begitu sadar bagian pinggang sedikit tergores karena senjata lawan, malah tersenyum buas. Ia mengusap darah tipis yang keluar dari pinggangnya, lalu menjilati luka tersebut melalui jari-jarinya. Dia tampak sangat menikmati darahnya sendiri sampai matanya terpejam. Namun, begitu Ia membuka kedua matanya. Terlihat Ia semakin buas dan ganas.


"Haaaaaaa.." Teriaknya semakin lantang. Tanpa memberi kesempatan lawan bersiap, Kobang dengan goloknya bergerak cepat menyerang lawan.


Traaangg traaangggg traanggggg