Bunian

Bunian
Malam mencekam



Malam semakin larut, jam dinding berdetak sangat cepat, menandakan keadaan terus berlalu.


Criiing... criiing... criiing...!


Suara itu kembali terdengar samar ditelinga Cici, pukul 02.00 dini hari dia menggeliat, meraba ke sebelahnya mencari keberadaan Mira.


Jantung Cici semakin berdegup kencang saat menyadari putri kesayangan tidak tidur disebelahnya, "Mira....!"


Cici melihat kearah pintu kamar yang terbuka lebar, kembali mendengar suara Mira tengah bernyanyi kecil.


'Puk ami ami... belalang kupu-kupu...'


'Siang main sama Ami... kalau malam main sama kamu...'


Nyanyian yang pernah Cici dengar dari bibir mungil putri kesayangan, bergegas Cici keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.


Betapa terkejutnya Cici, saat melihat putrinya tengah berdiri didepan jendela, dengan gorden jendela terbuka lebar.


"Mira...!"


Cici mendekati Mira, mencari keberadaan orang yang menemani mereka malam itu.


Cici duduk disamping Mira, bola matanya mengarah pada pandangan putri kesayangan yang tengah tertawa kearah kereta kencana yang berada dihadapannya.


"Mi... Abi, Mi... ada Abi di-disana...!"


Cici melihat kembali wanita cantik yang ada dihadapannya, membawa Akmal bersama diatas kereta kencana.


"Abi....!!!"


Cici bergegas membuka kunci pintu utama melihat wanita itu tengah tertawa lebar kearahnya, melambaikan tangan, sehingga menunjukkan perubahan pada wajah cantiknya yang semakin tampak menyeramkan.


"Abiii....!! Kembalikan suami ku....!"


Cici berteriak, mengambil Mira masuk dalam gendonganya, mengejar kereta kencana yang bergerak cepat untuk mengejar suami tercinta.


"Abiiii....!!! Abiii....!!!"


Cici berlari kencang mengejar kereta kencana, untuk merebut Akmal kembali tanpa perasaan takut. Keberaniannya merupakan satu kekuatan yang timbul karena melihat sosok Akmal yang berada diatas kereta kencana.


"Abii... pulang, Bi..."


Cici terus berlari kencang, tanpa memperdulikan perasaan sakit karena tidak menggunakan sendal. Cici terus mengikuti kemana arah kereta kencana, hingga langkahnya terhenti disebuah jurang yang terjal.


Langkahnya terhenti seketika, saat seorang nenek tua menghentikan langkah kakinya yang tidak merasa lelah. Seorang Nenek tua yang pernah Cici lihat dikelok sembilan, saat mencari keberadaan Akmal dihari pertama pencarian.


Malam mencekam, bahkan sangat menakutkan bagi Cici yang mendengar suara tangisan Mira dipelukannya.


Nenek tua itu menahan lengan Cici, agar tidak terjun bebas kejurang yang terjal bahkan sangat mengerikan.


"Nak, kau nio kamano?" (Kamu mau kemana)


Suara Nenek tua itu terdengar sangat menggetarkan jiwa Cici.


"Saya... saya harus membawa suami saya pulang, Nek...! Suami saya dibawa oleh wanita itu....!!!"


Cici menunjuk kearah kereta kencana yang telah menghilang dari pandangannya, tangisnya kembali pecah, saat mendengar suara tangisan Mira semakin keras.


"Tananglah, Nak!" (Tenanglah, Nak)


Cici terdiam, air matanya mengalir deras, dia duduk ditanah, memeluk Mira dengan sangat erat.


"Kalau kau nio kasiten, kau indak bisa pai dengan caro iko, alam kito berbeda. Kok iyo kau nio masuak kasitu, kau indak bisa kembali." (Kalau kamu mau kesana, kamu tidak bisa pergi dengan cara ini, alam kita berbeda. Jika kamu masuk kesana, kamu tidak akan bisa kembali)


Suara Nenek tua itu kembali terdengar.


Cici menatap kearah Nenek tua itu, "Terus bagaimana caranya agar bisa membawa suami saya kembali, Nek?"


"Ado caronyo, ambo bisa mambantu, tapi apo kau nio, Nak?" (Ada caranya, aku bisa membantu, tapi apa kamu mau, Nak)


Tanpa pikir panjang, Cici mengangguk, "Saya mau, Nek!!"


Namun Nenek tua itu tidak menjawabnya, dia kembali menghilang.


"Cici.... Miraa...!!"


"Cici.... Miraa....!!"


Suara itu semakin mendekat, bahkan terlihat cahaya senter mengarah pada Cici dan Mira yang ada didalam semak belukar, bahkan tengah duduk ditepi jurang perbatasan perumahan yang masih mangkrak dalam proses pembangunan.


Cici melindungi mata Mira dari cahaya senter yang semakin mendekat.


Terdengar suara Luqman, "Ketemu...!!Cici disini... Dean! Cardo...! Cici disini sama Mira...!" teriaknya sekuat tenaga.


"Abang...!?"


Cici memeluk lengan Luqman yang mendekatinya, tangisnya kembali terdengar parau, bahkan semakin memilukan bagi Luqman.


"Ngapain kamu kesini? Hari masih tengah malam! Ini berbahaya, Ci!"


Cardo dan Dony mendekati Cici, mengambil Mira yang masih menangis, bahkan masih memanggil Akmal.


"Abiii... Abiii... Ami... Abi, Mi...!!"


Cardo memeluk Mira, turut merasakan apa yang dialami gadis kecil itu, telunjuknya menunjuk kesatu arah, namun tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ci, kita pulang yah? Dirumah sudah ramai! Sabar yah sayang."


Luqman yang sejak tadi mencari keberadaan adik perempuan satu-satunya, semakin terpukul melihat kondisi Cici yang semakin buruk setelah tiga hari kepergian Akmal.


"Bagaimana caranya aku harus mengatakan pada Cici, bahwa Akmal telah dinyatakan hilang dan meninggal!"


Luqman menggelengkan kepalanya, mengarah pada Dean adik laki-laki keduanya.


Mereka membawa Cici, kembali ketempat tinggal mereka yang letaknya lumayan jauh.


Cici kembali dikejutkan dengan banyak rekan kerjanya, yang datang pada dini hari itu, setelah pihak kepolisian menyatakan mundur untuk melakukan pencarian pada Akmal, dan dinyatakan hilang dan meninggal, karena tidak menemukan apapun selain topi hitam milik suami Cici.


Tentu Cici tidak terima dengan kabar yang dibawa oleh Luqman. Dia berlari menanggalkan bendera kuning yang ternyata sudah dipasang ditiang rumahnya.


"Ini nggak benar, Bang...! Bang Akmal belum meninggal...! Abi Mira hanya hilang...! Cici yang akan mencarinya!"


Cici merobek kertas kuning yang terpasang di teras rumahnya.


Luqman bergegas memeluk Cici agar bisa menerima kenyataan, "Polisi dan Tim SAR sudah menghentikan pencarian mereka, Ci..!"


"Enggak...!! Bang Akmal masih hidup, Abi Mira masih hidup! Cici nggak percaya sama kalian semua. Ini baru hari ketiga, Bang! Belum hari kesembilan! Bang Akmal belum meninggal, Cici yang akan mencari Abang, dengan cara Cici...!!!" teriaknya semakin frustasi.


Cici tidak mau menyalami siapapun yang datang, karena menurutnya, suaminya belum meninggal. Dia akan terus berusaha membawa Akmal kembali.


Cardo mencoba menenangkan Luqman yang memaksa Cici untuk menerima kenyataan.


"Tenang dulu Bang, kita akan terus mencari Bang Akmal. Biasanya felling seorang istri lebih kuat dibandingkan kita. Kita harus membantu Cici, dengan menemaninya!"


Cardo lebih percaya pada felling Cici, karena dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Cici.


Luqman mengangguk, "Tapi bagaimana caranya? Nggak mungkin kita minta tolong sama pihak kepolisian lagi!"


Dony yang mendengar perdebatan keluarga tersebut, mencoba memberi pengertian pada Luqman.


"Saat pencarian Akmal dihari pertama, ada pemuda disana yang mengatakan, meminta bantuan pada petua daerah kampung situ, Bang! Aku rasa, tidak ada salahnya kita mencoba mencari kesana."


Dean yang mendengar penuturan Dony dan Cardo mengangguk setuju.


"Kita akan menemani Cici, pasti ada cara untuk kita bisa menemukan keberadaan Akmal," tambah Dony.


"Tapi bagaimana dengan Mira?" Luqman menatap kearah keponakannya yang masih merengek dipelukan Cardo.


"Kan ada Oneng Bang! Kita bisa pakai mobil lebih besar milik Cardo. Bahkan dua mobil juga bisa. Yang penting Cici yakin, Abi Mira masih hidup. Abi Mira hanya tersesat!" teriak Cici pada Luqman dihadapan para rekan kerjanya.


Semua memiliki keyakinan yang sama dengan Cici, Akmal masih hidup. Hanya Luqman yang merasa Akmal telah meninggal karena, lebih memiliki pemikiran yang berbeda dengan keluarga.


______


Terimakasih atas kunjungannya...❤️🔥