
Selepas kepergian Zaha, suasana canggung dirasakan oleh Nia. Semula tujuannya datang ke rumah ini karena Hera yang memintanya datang dengan mengirim salah seorang orang kepercayaannya untuk menjemput Nia di Villa tempat persembunyiannya selama ini.
Nia dan juga ibunya Zaha selama ini tinggal di Villanya Hera, demi menjaga keselamatan mereka berdua.
Sudah dua minggu lebih mereka berada disana, Nia lebih lama karena Ia dibawa pergi terlebih dahulu ketika terjadi konflik dengan Ronald sebelumnya. Sejak saat itu, baik Nia maupun Ibunya belum pernah sekalipun bertemu dengan Zaha, dikarenakan pemuda berjuluk King tersebut sibuk mempersiapkan diri dan pasukannya untuk bertempur dengan Kelompok Selatan ketika itu.
Setelah pertempuran, Zaha menderita cidera parah dan membuatnya harus dirawat secara intensif. Selama ini Hera a.k.a Angel hanya bisa menjanjikan akan segera mempertemukan mereka dengan Zaha, karena itu Nia dan Ibunya terus mendesak untuk bisa segera bertemu dengan Zaha. Disamping mereka mengkhawatirkan kondisi Zaha, mereka hanya hidup bertiga saat ini dan mereka merindukan untuk bisa berkumpul bersama lagi sebagai keluarga.
Saat itu, Hera dengan cueknya melepaskan handuk yang melilit tubuh super indahnya. Bahkan dengan santainya Ia mengenakan pakaian tepat didepan mata Nia.
Nia menjadi gugup sesaat, melihat betapa santainya sikap Hera didepannya. Tapi, Ia harus mengakui keindahan tubuh Hera. Sebagai sesama wanita, Ia sedikit iri melihat kesempurnaan fisik yang dimiliki oleh Hera.
Mungkin karena Ia rajin berolah raga dan juga latihan beladiri, sehingga tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Padat namun tidak kekar, siapapun pria yang melihatnya tubuhnya pasti akan berdecak kagum dibuatnya. Membandingkan dengan tubuhnya sendiri, Nia jadi merasa kurang percaya diri.
Hal yang wajar sebenarnya, meski Nia juga dikategorikan sebagai wanita cantik dengan bentuk tubuh yang memikat, namun Angel seperti berada dikelas diatasnya.
"Kenapa? Apa kamu mau mengganti pakaian juga? Kamu bisa memakai pakaianku, mungkin ada beberapa yang cocok dengan ukuranmu." Tanya Hera dengan santai begitu Ia selesai.
"Hmn, ti-tidak." Jawab Nia gugup dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya yang saat itu masih menatap tubuh Hera walau si empunya sudah mengenakan pakaian lengkap dan menutupi kepolosan sebelumnya.
"Baiklah, kalau begitu kita bicara diluar... atau, kamu mau kita bicara sambil berbaring diatas kasur saja biar bisa lebih enak bicaranya?"
Teringat itu, Nia merasa tidak nyaman. Entah kenapa Ia merasakan kecemburuan ketika coba mengingatnya. Karena itu, Nia buru-buru berkata, "Diruang tamu saja, Mbak."
Hera tersenyum kecil, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Nia terhadapnya, "Baiklah, kita bicara diruang tamu kalau begitu." Komentarnya sambil berlalu keluar dari kamar dengan diikuti oleh Nia dibelakangnya.
"Sebenarnya apa yang ingin mbak bicarakan dengan saya?" Tanya Nia sedikit canggung ketika mereka berdua sudah duduk di ruang keluarga lantai dua. Nia selalu memanggil Hera dengan sebutan mbak, karena selisih usia Hera yang lebih tua darinya beberapa tahun.
Hera terkekeh melihat ekspresi Nia, Ia tahu pasti Nia menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya saat ini. Terutama perasaan cemburunya yang terlihat begitu jelas dimatanya, karena itu Hera jadi tertarik untuk membongkar perasaan terdalam Nia.
"Yakin itu yang mau kamu tanyakan?" Tanya Hera dengan senyum cueknya.
"Hmn, iya. Bukankah mbak memanggil saya karena itu?" Jawab Nia coba bersikap tenang.
"Kamu gak penasaran gitu? Aku dan Zaha sudah ngapain aja?" Tanya Angel dengan blak-blakan.
"Eh, itu... hmn." Wajah Nia memerah. Apa yang terjadi antara Hera dan Zaha, adiknya barusan adalah hal yang privasi, bagaimana bisa Ia menanyakan hal itu secara langsung pada Hera? Namun, sikap terus terang Hera telah membuat Nia menjadi salah tingkah.
Hera hanya tertawa ringan melihat ekspresi gugup Nia, Ia maklum sebebas apapun pola pikir seseorang namun ada batas dimana mereka tidak usik dengan privasi orang lain dan Nia sepertinya masuk tipikal orang yang seperti itu.