
Cici melajukan kecepatan mobilnya menuju mesjid perumahan yang ada diarea pintu masuk gerbang utama. Wajah lusuhnya, bahkan tidak pernah berhias setelah dua hari Akmal dinyatakan hilang.
Oneng memangku Mira yang tampak kelelahan, seperti anak yang kesurupan, kantung mata hitam, dan tangannya hanya meraih kancing baju kemeja Oneng yang dikenakan oleh pengasuhnya.
"Kak Ci... Mira kayaknya sedang nggak sehat juga, Neng khawatir Kak."
Oneng melihat wajah Mira yang terlelap, namun air mata mengalir dari sudut matanya.
Anak berusia tiga tahun itu, dapat merasakan sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan pada sang Ami, karena keterbatasan dalam berbicara yang masih terbata-bata.
Mobil terhenti di parkiran mesjid, Cici mengenakan selendang biru langit untuk menutupi kepala.
Tangan kirinya mengusap lembut kepala Mira, "Kakak turun dulu sebentar yah, Neng...! Jagain Mira, semoga Pak Ustadz mau membantu kita untuk membersihkan rumah dari aura negatif."
Oneng mengangguk, memperbaiki duduknya agar Mira lebih leluasa terlelap di pelukan pengasuh yang sangat baik pada putri kecil Akmal dan Cici.
Cici menemui seorang ustadz yang biasa disapa Ustadz Imam, Ustadz muda yang sangat disegani diarea perumahannya.
Cici menceritakan semua kejadian aneh yang dia alami, hingga kehilangan Akmal yang menjadi kejutan luar biasa bagi Ustadz Imam.
"Sudah berapa hari Akmal dinyatakan hilang, Ci?"
Imam penasaran, karena merasa iba pada Cici jika benar Akmal tidak dapat ditemukan ataupun dinyatakan meninggal.
"Sudah dua hari Pak Ustadz, Bang Luqman dan Bang Dean sudah ikut mencari keberadaan Bang Akmal untuk membantu Tim SAR. Do'a kan Abi Mira baik-baik saja, Pak Ustadz," Cici sedikit menunduk, membendung air matanya yang kembali berlinang.
Kekhawatirannya terhadap Cici dan Mira, membuat Imam bersedia membantu Cici untuk melihat kondisi kediaman mereka.
"Kita kerumah Cici sekarang?"
Cici hanya menjawab dengan anggukan, dengan tatapan mata yang kosong bahkan memerah karena tak kuasa menahan kesedihannya.
Imam tersenyum, "Tenang, semoga Tuhan membuka jalan dan mengembalikan Abi Mira dengan kondisi selamat."
Kekuatan yang diberikan Imam, mampu memberikan ketenangan pada Cici, walau didalam hati masih banyak keraguan, karena kejadian aneh yang dia alami.
Mereka tiba di kediaman Cici, yang benar-benar tampak suram. Bahkan Imam beberapa kali dibuat merinding saat turun dari motor matic yang dia kendarai.
Imam berdiri didepan teras, memperhatikan sekeliling dengan seksama, awan gelap bahkan tampak mendung hanya menyelimuti area rumah Cici.
Cici bergegas membuka pintu utama dengan lebar, masih tercium aroma amis dari arah dalam rumah yang semakin menyebar, bahkan tampak sangat gelap.
"Pak Ustadz, silahkan...!"
Cici memanggil Imam, namun Imam masih tak bergeming diarea teras rumah Cici dan Akmal yang tidak memiliki pagar. Masih menyesiasati sekelilingnya.
Beberapa kali Imam merinding luar biasa saat kembali mendengar suara aneh dari kejauhan yang akan mendekati kediaman Cici.
Seperti suara arak-arakan kereta, namun tidak dapat melihat hanya merasakan suara aneh itu berada semakin mendekat.
Imam mendekati Cici, kembali dia dikejutkan dengan aroma amis yang keluar dari rumah Cici. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah, karena tidak ingin melanjutkan menetralisir kediaman Cici yang tampak menyeramkan.
"Ci..!"
Imam berdiri disamping Cici, melihat kearah dalam rumah, sedikit tersedak karena aroma amis yang semakin menyeruak menusuk ke indra penciumannya.
"Ya, Pak Ustadz..."
Imam terpaksa menjelaskan secara jujur apa yang dia rasakan, agar Cici tidak semakin kecewa.
Cici mengangguk mengerti, "Gini aja Pak Ustadz, Bang Luqman nggak tahu sampai kapan di kelok sembilan, nanti malam Cici akan nelpon keponakan, minta teman kan sama Cardo disini. Karena Cici kasihan sama Mira, jika mesti ngungsi."
Imam tersenyum tipis, "Ya sudah, hubungi saja keponakan Cici, jangan biarkan Mira sendirian. Karena kita takut anak sekecil itu masih bisa melihat hal-hal yang tidak kasat mata."
Cici mengerti, mempersilahkan Imam meninggalkan kediamannya, tanpa masuk kedalam rumah lagi.
Perasaan Cici semakin berkecamuk, wajah cantiknya semakin terlihat kusam, dia duduk dibibir teras meringkuk setelah kepergian Imam meninggalkan kediamannya.
"Apa yang harus Ci lakukan?"
Cici kembali menangis, saat melihat Oneng dan Mira turun dari mobil.
"Kak, kita makan dulu. Kasihan, kakak belum makan dari pagi. Mira juga sepertinya lemes kak!"
Oneng menggendong Mira yang hanya menatap Cici dengan tatapan sendu.
Cici mengusap wajahnya kasar, perasaan yang semakin lama semakin membingungkan, antara percaya dan tidak percaya atas apa yang dia alami, namun semua ini bukanlah mimpi, bahkan nyata.
Akmal menghilang entah kemana, di kelok sembilan yang benar-benar memiliki kesan angker, bahkan tidak jelas dimana keberadaan suaminya saat ini. Cici frustasi, dia kembali menangis, saat ini hanya menangis yang dia bisa untuk melepaskan rasa takut, bahkan rasa takut kehilangan Akmal.
Jika mungkin jasad Akmal dapat ditemukan, itu akan menjadi hal yang sudah harus Cici terima sebagai takdir hidupnya yang sudah digariskan oleh Tuhan pemilik semesta alam.
Namun sudah dua hari Akmal menghilang, belum ada tanda-tanda apapun yang mengabarkan dimana keberadaan Akmal saat ini. Hanya topi hitam milik suaminya yang dapat ditemukan oleh Sony, walau rekan kantor Akmal harus mengalami patah tulang yang sangat serius.
Handphone Cici bergetar, yang dia letak dipintu mobil kemudi.
Oneng bergegas mengambil handphone milik Cici, memberikan pada sang majikan yang masih menangis.
"Ya, halo...!"-Cici.
"Kak, Assalamualaikum...!"-Cardo.
"Kakak dimana? Kok aku kerumah kakak nggak ada?"-Cardo.
"Hah....!? Kakak dari tadi disini, Do! Duduk didepan pintu masuk, rencana mau pergi makan."-Cici.
"Astaga Kak... Cardo udah dua kali bolak balik, tapi nggak ada kelihatan kalian. Cardo pikir kakak ikut sama Bang Luqman!"-Cardo.
Cici melihat kearah Oneng, wajahnya semakin berubah ketakutan. Bagaimana bisa Cardo tidak melihat mereka yang berada di teras rumah? Sementara Ustadz Imam baru saja meninggalkan kediaman mereka.
"Do, kakak dari tadi disini!"-Cici.
"Kak, Cardo sekarang berada didepan rumah! Tapi kakak nggak ada, kakak dimana? Jangan bercanda dong!"-Cardo.
Cici merinding, mengakhiri telepon Cardo yang sangat membuatnya bingung bahkan semakin ketakutan.
Bergegas Cici mengunci pintu utama, memberi perintah pada Oneng, untuk segera masuk kedalam mobil.
"Kita makan sekarang! Keadaan sudah enggak benar. Masak Cardo tidak melihat keberadaan kita! Emang kita saat ini berada di dunia yang berbeda? Aneh....!!"
Oneng memasuki mobil, sementara Cici cepat meninggalkan kediamannya untuk mengisi lambung tengah, menghilangkan pikiran yang semakin membuat dia takut.
Apa benar Cardo berada didepan rumah? Tapi tidak dapat melihat keberadaannya?