
"Apa kalian sudah dapat informasi keberadaan orang itu?"
Dua orang yang ditugaskan oleh Rio untuk mencari keberadaan Zaha tampak tertunduk pasrah, "Belum, Bos. Pergerakan kami sangat terbatas, apalagi setelah Kobra ditundukkan oleh Kelompok Selatan yang dibantu oleh dua kelompok besar lainnya."
"Setelah Kelompok Utara berhasil dikalahkan sebelumnya, otomatis kita hanya punya kekuatan dalam kelompoknya Kobra. Sekarang, seluruh anggota yang loyal pada Kobra sudah dimusnahkan dan sebagian kecil lainnya membelot pada aliansi Kelompok Selatan."
"Tapi, salah seorang anggota kita masih bertahan disana. Cuma, sampai saat ini masih belum ada informasi keberadaan King."
"Bangsat!" Geram Rio dengan wajah menggelap.
"Sudah dua minggu lebih dan kalian masih belum berhasil mendapatkan info keberadaan satu orang saja?" Ucap Rio dingin dengan mata menatap tajam pada dua orang didepannya.
Dua orang anggota Rio gemetar, punggung mereka terasa basah oleh keringat dingin.
"Ma-maaf, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, bos. Ta-tapi, orang itu seperti hilang begitu saja. Tidak ada satu orang pun di Kelompok Selatan maupun Kelompok lain yang mengetahui keberadaannya."
"Tapi, kami punya cara untuk memancingnya keluar."
"Sebaiknya cara yang kalian usulkan bisa berhasil, jika tidak kalian berdua... mati." Kata Rio dengan dinginnya.
Terang saja ucapan Rio membuat wajah keduanya memucat, untung saja mereka telah memikirkan ide yang akan mereka sampaikan ini sebelumnya. Jika tidak, bisa saja mereka berdua telah tewas saat ini.
"Ketika Kobra dan pasukannya menyerang Kelompok Utara dimarkas mereka, kami mendapat kabar jika ada beberapa siswa perempuan disana. Mereka adalah teman dekatnya King."
Mata Rio menyipit, Ia tampak tertarik dengan info dari keduanya, "Teruskan."
Melihat Rio tampak tertarik dengan informasi mereka, keduanya tampak bersemangat, "Total ada tiga orang siswi. Nama mereka Chintya, lalu dua orang lainnya kami ketahui masih bersaudara, Anna dan adiknya, Fitri."
"Kami juga sudah menyelidiki ketiga orang ini, Bos."
"Chintya dan Anna masih satu sekolahan dengan King. Sementara gadis yang bernama Fitri masih SMP, namun Ia kabarnya juga kenal dengan King."
"Keberadaan mereka di pasar tanah kuda waktu itu juga ada hubungannya dengan King. Apalagi kalau bukan karena mereka dekat dengan King."
"Terus, apa yang kalian tunggu? Kenapa tidak kalian culik mereka? dan paksa bajingan itu keluar dari tempat persembunyiannya."
Kedua orang anak buah Rio saling melirik, "Kami-kami menunggu perintah anda, bos."
"Masalah itu saja, kenapa harus menunggu perintahku segala? Apa perlu juga kuajari cara mencuri orang." Tanya Rio gusar karena tidak adanya inisiatif dari anak buahnya.
Dengan gugup, salah seorang dari mereka menjawab, "Kami mungkin bisa menculik gadis yang bernama Chintya, Bos. Cuma dua gadis lainnya, Anna dan adiknya, Fitri sangat tidak mungkin bagi kita untuk menculik mereka."
"Tidak mungkin? Apanya yang tidak mungkin, hah! Mereka hanya remaja ingusan biasa, apa yang kalian takutkan?"
"Itu karena mereka adalah anak seorang Intelijen berpangkat tinggi, Bos. disamping itu... Paman mereka adalah Letkol Edris, Kapolda Jakarta Selatan. Sangat berbahaya jika kita menculik mereka." Ucap mereka hati-hati.
"****!" Rio sampai menggertak meja didepannya karena saking kesalnya. Keningnya berkerut tajam.
Melihat kekesalan putra sulungnya, Ia tahu kekesalan putranya itu karena tidak sabar untuk segera membalaskan dendam dua saudaranya yang telah dibunuh oleh Zaha alias King. Abdi Batubara yang sedari tadi hanya diam, akhirnya mulai angkat bicara, "Apa yang mereka ucapkan ada benarnya, sebaiknya kita mengabaikan kedua gadis itu untuk saat ini."
"Sekarang, remaja yang bernama King itu memiliki kekuatan yang sangat kuat dibelakangnya. Apalagi dengan bergabungnya sisa-sisa anggota Kobra, setelah dibantai oleh 3 kekuatan besar ibu kota."
"Berarti empat kekuatan besar ibu kota saat ini ada dibelakang King sebagai kekuatan utamanya, membuat mereka tidak terkalahkan. Bahkan dengan menggunakan seluruh kekuatan keluarga kita saat ini, kita tidak bisa mengalahkan mereka."
"Terus, apa Ayah berencana untuk menyerah begitu saja?" Tanya Rio tidak senang. Ia pernah berhadapan dengan Zaha, tinggal selangkah lagi Ia pasti berhasil membunuh Zaha jika saja wanita bertopeng itu tidak ikut campur dan menyelamatkan Zaha.
Sekarang, tidak hanya rencana untuk membunuh Zaha gagal. Tapi, Zaha juga diuntungkan dengan bergabungnya empat kelompok gangster ibu kota dibawah komandonya. Membuat misi untuk menyerang Zaha secara frontal untuk membalaskan dendam dua saudaranya terlihat menjadi mustahil.
Abdi yang melihat ketidaksabaran Rio, menggelengkan kepala dan menyeringai licik.
"Kata siapa kita harus menyerah?"
"Saat seperti ini, kita harus bisa bermain sehalus mungkin. Melawan api tidak mungkin dengan api, karena itu hanya merugikan pemilik api yang lebih kecil."
"Ayah setuju dengan ide mereka berdua, abaikan dulu gadis yang bernama Anna dan juga Fitri itu saat ini. Kita tentu tidak menginginkan pihak militer juga menjadi musuh kita."
"Cukup culik gadis yang bernama Chintya dan umumkan pada seluruh anak buah King, kalau kita lah yang menculiknya."
"Ayah yakin, meski King sedang bersembunyi disuatu tempat saat ini. Ia pasti tetap memantau keadaan dimarkasnya."
"Saat Ia tahu kalau temannya telah kita culik, Ia pasti akan keluar. Saat itulah, orang kita yang masih berada dalam kelompok mereka akan menjadi perantara untuk menyampaikan pesan kita padanya."
"Tapi... ada satu masalah, jika kita menggunakan rencana ini untuk berhadapan dengan King."
Abdi diam beberapa saat, setelah memikirkan matang-matang rencananya.
"Kita tidak lagi bisa tinggal disini dan harus mencari tempat persembunyian, sekaligus tempat yang tepat untuk berhadapan dengan King."
Rio juga terdiam, Ia memahami apa yang dimaksud oleh Ayahnya. Begitu mereka mengeksekusi rencana mereka, kelompok Zaha saat ini pasti akan bergerak dan memburu mereka.
Seperti kata Ayahnya, mereka jelas tidak akan sanggup menghadapi empat kekuatan gabungan empat kelompok gangster ibu kota. Meski mereka mengerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki.
Tapi, jika mereka harus pergi dari rumah utama mereka, itu sama saja mereka mengakui ketidakberdayaan mereka. Namun, demi bisa membalaskan dendam pada Zaha. Mereka tidak punya pilihan lain.
Dendam Ayah dan Anak itu sudah terlalu dalam bahkan sampai ke tulang. Tidak ada hal lain yang paling mereka inginkan saat ini, selain kematian Zaha.
"Baiklah! Kita akan melakukan cara Ayah. Bagaimanapun, pada akhirnya kita harus membunuh bocah itu." Ujar Rio dengan mata berkilat penuh aura membunuh.
Melihat anaknya setuju dengan rencananya, Abdi beralih pada dua orang anak buahnya, "Kalian berdua, culik gadis yang bernama Chintya dan bawa dia ke gudang kita yang ada di timur pinggir ibu kota. Pastikan, kelompoknya King mengetahui hal ini."
"Baik, Bos besar." Ucap keduanya kompak lalu segera berlalu dari sana.
...
Keesokan harinya, Chynthia sedang berkendara dengan motor matyc menuju rumahnya. Ia tidak memperhatikan jika ada sebuah mobil van hitam sedang mengikutinya semenjak Ia keluar dari gerbang sekolah.
Disaat Chintya melewati sebuah jalan yang cukup sepi, tidak jauh dari kompleks perumahannya, mobil van hitam tersebut memepet kendaraannya dan membuat motor Chintya oleng dan terjatuh. Beruntung Ia hanya mengalami luka ringan, karena Ia berkendara dengan cukup pelan.
Chintya jelas saja marah dan tidak terima dipepet begitu dan sampai membuatnya terluka, sikapnya sebagai seorang anak juragan membuatnya tidak kenal takut, "Oi, kalian sengaja yah?" Maki Chintya sambil coba berdiri bermaksud hendak menegakkan motornya.
Melihat target mereka terjatuh, empat orang pria dengan menggunakan topeng hitam keluar dari dalam van.
Chintya langsung pucat dan ketakutan, melihat empat pria turun dari dalam van menggunakan topeng hitam, jelas saja mereka pasti memiliki niat yang tidak baik terhadapnya. Ia hendak lari dan meninggalkan motornya disana, namun keempat pria tersebut bergerak lebih cepat dan mengunci tubuhnya.
"Tolonng... Hmpnh.."
Mulutnya Chintya langsung dibekap, keempat pria tersebut dengan cepat mengangkat tubuh Chintya dan memasukannya kedalaman Van.
Diluar Van, tidak jauh dari sana ada satu orang lainnya yang merekam kejadian tersebut dengan sebuah handycam ditangannya.
Ia tampak puas melihat hasil rekaman tersebut, setelah mengedit sedikit Ia lalu mengirim rekaman tersebut pada kelompok Zaha yang bermarkas di Pasar Tanah Kuda.
Genderang perang sudah ditabuh, akankah Zaha menyelamatkan Chintya?