Bunian

Bunian
BAB 44



Zaha sampai di rumahnya menjelang jam 4 dini hari, di teras rumahnya tampak Zulham dan 3 orang pemuda masih setia berjaga sambil minum kopi. 2 orang bahkan sudah terlelap seadanya sambil bersandar diatas kursi.


"Bang.." Sapa Zaha pelan agar tidak membangunkan teman Zulham.


"Eh, udah pulang lu King ?" ucap Zulham terkesiap dan hendak membangunkan dua temannya yang sudah terlelap.


"Udah, gak usah dibangunin Bang. Biarin aja." Cegah Zaha.


"Gimana hasilnya King ?" tanya Zulham penasaran sambil coba mengusap mukanya untuk menghilangkan kantuknya.


"Belum ketemu Bang."


"Abang dan yang lainnya balik saja dulu. Besok, kalau bisa Aku butuh bantuan Abang dan beberapa teman lainnya."


"Ini ada hubungannya dengan orang yang.. hmnn berbuat jahat ke Nia tempo hari yah King ?" Tanya Zulham ragu. Ia tahu jika Zaha pastinya telah membalas orang yang telah memperkosa Kakaknya tempo hari. Namun Zulham sangat menghormati Zaha dan tidak ingin mengorek informasi terlalu banyak kalau tidak diceritakan oleh Zaha sendiri, dan karena itu Ia memilih kata-kata yang lebih halus agar tidak menyinggung pemuda tersebut.


"Iya Bang. Untuk itu, mungkin Aku butuh bantuan Abang dan teman-teman. Detailnya besok Aku ceritakan, sekarang Abang dan yang lainnya lebih baik istirahat dulu." Saran Zaha.


"Baiklah. Besok pagi-pagi Kami kesini lagi." Ujar Zulham patuh.


"Makasih yah Bang." Ucap Zaha tulus, bagaimanapun Zulham telah banyak membantunya dan keluarganya. Sejak kejadian saat Ia bertarung dengan Bang codet di rumahnya juragan Cintung, Zulham seperti menjadikan Zaha seorang idola dan panutan, sehingga kemana-mana Ia selalu mengikuti Zaha dan mematuhi apa saja yang diminta oleh pemuda itu.


***


Hari senin, menjadi hari yang membosankan bagi sebagian anak sekolah. Tidak terkecuali Zaha, karena kesibukan dengan perannya yang baru, belum lagi sebuah tanda tanya besar tentang kabar Angel yang seolah-olah menghilang beberapa hari terakhir, membuat Zaha sedikit malas untuk masuk sekolah hari itu. Untung saja Nia, Kakaknya sudah stabil kondisinya dan Ia pun memaksa Adiknya tersebut untuk masuk sekolah hari itu, alasan Zaha yang mengkhawatirkan sang Kakak tidak mempan untuk membuatnya bisa libur hari itu, karena sudah ada Sarah, saudara sepupunya Zulham yang menemani Nia di rumah saat Zaha sekolah dan Ibunya jualan di pasar nantinya.


Tiinn ttiiinnnn


Sebuah motor matic tepat berhenti di sebelah Zaha saat Ia sedang berjalan menuju sekolahnya.


"Kak Zaha, yuk naik!" Ujar seorang gadis dengan seragam putih abu-abu yang sama dengannya, berhenti tepat di sebelah Zaha.


Zaha sedikit mendekat karena merasa belum kenal dengan cewek diatas motor tersebut, apalagi kaca helmnya masih menutupi wajahnya.


"Ini Chintya, Kak." Ucap cewek itu lagi tersenyum manis sambil membuka kaca helmnya.


"Chintya ?" Tanya Zaha coba mengingat gadis manis yang ada di depannya tersebut.


"Eh, Anaknya juragan Chintung yah ?" Tanya Zaha yang baru ingat dengan cewek yang pernah ditabraknya di dalam perpustakaan saat itu.


"Hihihi kirain Kakak udah gak ingat."


"Nih Kak." Ucap Chintya lagi sambil mengulurkan sebuah helm pada Zaha.


Zaha tidak langsung naik ke atas motor begitu selesai memakai helm, Chintya yang heran malah menatap penuh tanya ke arah Zaha.


"Kamu yang di belakang, masa Aku yang dibelakang. Yah, gak pantas." Ucap Zaha kalem menanggapi tatapan heran dari Chintya.


"Oh, begitu toh." Ujar Chintya yang baru ngeh dengan maksud Zaha.


Mengingat itu, membuat Chintya jadi selalu terbayang sosok Zaha dan berusaha untuk mencoba lebih dekat dengan cowok kurus tersebut.


Setelah memperhatikan beberapa kali kebiasaan Zaha, yang lebih memilih berjalan kaki untuk berangkat dan pulang sekolah. Chintya pun sengaja menunggu Zaha tidak jauh dari mulut gang, tempat Zaha biasa keluar. Tidak lama, setelah melihat Zaha berjalan keluar dari gang tempat Ia tinggal pagi ini, Chintya pun memacu motor maticnya agar bisa mendekati cowok tersebut.


Kini, Chintya seperti sengaja merebahkan kepalanya bersandar dipunggung Zaha. "Eh, tubuhnya sudah lebih berisi dari terakhir kali Kami bertemu." Pikir Chintya saat tangannya melingkari pinggang Zaha.


"Sudah sampai. Yuk turun!" Ucapan Zaha menyadarkan Chintya dari lamunan indahnya, ternyata waktu berlalu begitu cepat dan tanpa terasa mereka sudah tiba di parkiran sekolah.


"Kamu kenapa ?" tanya Zaha heran sambil menaikan sebelah alisnya.


"Eh, g.gak apa-apa Kak." Chintya tampak sedikit gugup.


"Beneran ?"


Chintya mengangguk kecil sambil tersenyum salah tingkah.


"Ya, udah. Aku masuk dulu yah. Sekali lagi makasih atas tumpangannya." Ucap Zaha kalem.


"Iya Kak."


"Ada apa lagi ?" tanya Zaha heran sambil menahan langkah kakinya, karena Chintya masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Hmnn.. itu.. Nanti, Chintya pulangnya bareng Kakak lagi yah." Ucap Chintya dengan malu-malu.


"Yah, Kamunya gimana ?"


"Maksud Kakak ?"


"Kamunya repot gak harus boncengin Aku ? Bukannya Kamu jadi malah mutar arah pulangnya ?"


"Ooh, gak apa-apa kok Kak. Bisa yah Kak ?" Tanya Chintya sambil tersenyum berharap.


"Ya, lihat nanti. Sudah ya, Aku masuk dulu. Sekali lagi makasih loh buat yang tadi." Ucap Zaha tersenyum sebelum berlalu pergi meninggalkan Chintya yang masih menatapnya dari belakang.


"Iya, Kak." Jawab Chintya tersenyum penuh arti, padahal orangnya sudah jauh pergi.


Ditempat lainnya, ada seorang gadis yang menatap dengan hati perih kebersamaan Zaha dengan Chintya. Entah kenapa, melihat gadis itu tersenyum senang menatap Zaha seperti itu, menghadirkan rasa sakit dalam hatinya.


Tiba-tiba saja mata Anna jadi berkaca-kaca menahan perih dalam dadanya, Ia menyesali apa yang pernah diucapkannya. Kini, jauh dari Zaha membuat Anna merasa sangat kehilangan dan Ia pun bertekad untuk coba memperbaiki hubungannya dengan Zaha.


***


"Za, bisa bicara sebentar ?" Zaha dikagetkan dengan ucapan Anna yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelasnya saat jam pelajaran terakhirnya hari itu berakhir. Zaha memandang heran Anna yang nekat menghampirinya ke dalam kelas, dan Anna sendiri sepertinya tidak peduli dengan bisik-bisik siswa lainnya yang menatap heran pada dirinya.


"Ya, bisa. Kita bicara diluar yah." Ucap Zaha kalem sambi membereskan beberapa bukunya dan memasukannya ke dalam tas cangklungnya.


"Yok." Ajak Zaha lagi. Ia teringat dengan ucapan Anna terakhir, sehingga Zaha sengaja memutuskan untuk mengajak Anna ke tempat yang tidak ada banyak orang, yang bisa melihat mereka. Zaha tidak ingin Anna jadi malu lagi jika berjalan dengan dirinya.