
Sebelum mobil Pak Permana melesat masuk melewati pagar yang terbuka itu, Rani berlari secara tiba-tiba dan menghadang laju kendaraan tersebut.
Tanpa rasa takut Rani memasang badan, merentangkan kedua tangan, menunjukkan ekspresi ganas pada wajah cantik itu, dan mulai bertaruh nyawa untuk pemberhentian mobil mewah tersebut.
Melihat ancaman Rani, secara mendadak sopir pribadi Pak Permana harus menginjak rem kuat dan mengalah pada tubuh tegak Rani yang bergeming di posisi mantapnya. Tindakan itu memicu bunyi gesekan antara ban mobil dengan aspal jalanan yang tak dapat dihindari.
CKIIIIT
Kepakeman rem mobil mewah itu menyisakan jarak 3 cm antara badan mobil dengan tubuh ramping Rani. Entah kegilaan atau keberanian, bahkan Rani tak berpaling, tak menutup, atau mengedipkan matanya barang sekalipun.
“Cari mari!” ujar sopir Pak Permana spontan sembari mengelap keringat dingin di wajahnya.
Pak Permana yang melindungi Fahri dari gerakan mendadak tersebut mulai membuatnya kebakaran jenggot. Jantungnya yang berdegup kencang tak karuan, membuat emosinya melonjak secepat kilat.
“Enggak bisa nyupir ya?! Mata kamu taruh di mana sih?!” bentak Pak Permana dengan dada kembang kempis.
Fahri yang mendengar suara lantang Pak Permana menangis karena terkejut, membuat suasana di dalam mobil itu semakin panas tak kendali.
“Bukan saya pak, tapi Bu Rani.” Jawab sopir Pak Permana menunjuk ke depan.
Pak Permana memosisikan penglihatan, memastikan arah jari sopirnya tersebut mengarah ke mana.
“Rani?” gumam Pak Permana tak percaya menatap gadis yang berdiri tepat di depan mobilnya, masih merentangkan tangan sembari mengangkat wajah angkuh itu.
Mendengar nama Rani disebut, Fahri menghentikan tangisnya, membuka pintu mobil, dan berlari memeluk ibunya. Melihat gerakan cepat anaknya, Pak Permana pun ikut turun terburu-buru dan mengejar langkah kecil itu.
“Mommy!” teriak Fahri menghambur ke pelukan Rani dengan tangis yang menjadi-jadi.
Rani mengangkat tubuh Fahri, menggendongnya dalam pelukan, dan mengecupi seluruh permukaan wajah Fahri penuh haru.
“Sayang, mommy kangen.” Ujar Rani memeluk erat Fahri dan meneteskan air mata kerinduan.
“Mommy kenapa tinggalkan Fahri? Mommy benci Fahri? Apa Fahri anak nakal? Apa mommy tidak sayang Fahri lagi, huhuhu...?” tanya Fahri memburu di tengah tangisnya, ia meluapkan segala hal di dalam hati kecil polosnya itu.
Mendengar pertanyaan Fahri, membuat Rani hanya dapat menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia terus mengeratkan pelukan dan mendaratkan ciuman rindunya terus menerus. Pak Permana yang melihat pemandangan itu langsung menghentikan langkah kakinya, ia hanya dapat berkacak pinggang dan membuang nafas secara frustrasi.
“Fahri mau ikut mommy! Mommy tidak boleh tinggalkan Fahri lagi. Kita kembali saja ke NY, Fahri takut mommy pergi, huhuhu...” Rani menggangguk-angguk bahagia mendengar ucapan Fahri yang sangat menginginkannya.
Mendengar ucapan Fahri membuat Pak Permana secara tiba-tiba merasa sakitnya kesepian mulai mendekat. Dengan cepat Pak Permana memotong permintaan Fahri pada ibunya.
“Tidak-tidak! Fahri tidak sayang Daddy? Kenapa mau pergi? Kenapa tidak bersama Daddy? Daddy sangat sayang Fahri, sangat...” ujar Pak Permana dengan wajah mengiba sembari merentangkan tangannya, berharap makhluk kecil itu akan berhambur ke arahnya.
Fahri bahkan bergeming, ia tak menggeleng ataupun mengangguk. Pergerakannya tak berubah sekalipun. Ia tetap mengeratkan tangan kecilnya pada leher Rani, namun wajahnya terus menatap Pak Permana ragu. Anak kecil itu hanya dapat semakin menangis di hadapkan ada dua pilihan yang sulit.
Seolah langit paham perasaan makhluk kecil itu, awan mendung secara tiba-tiba melapisi seluruh permukaan terang, menyisakan sedikit cahaya matahari yang mulai meredup tertutup sempurna.
“I love mommy and Daddy, I would want us to live together forever, huhuhu...” ujar Fahri tersedu-sedu.
Mendengar ucapan Fahri, Pak Permana menurunkan kedua tangannya dengan getir. Hatinya teriris melihat Fahri yang tetap tidak dapat melepaskan ibunya. Seolah kebaikan, perhatian, dan kasih sayangnya selama ini bagai partikel debu yang tak terlihat. “Hmmmm, kenapa Fahri tidak dapat memilihku saja?!” keluh Pak Permana di dalam hati.
“Ayo Fahri turun! Kita harus masuk ke rumah, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi!” perintah Pak Permana tegas, namun anak kecil itu hanya menggeleng berkali-kali.
“Kalau aku tidak bisa ikut masuk ke dalam, aku akan bawa Fahri pergi bersamaku!” ancam Rani mengeratkan gendongannya.
“Tidak usah mimpi! Mengusirmu adalah pilihan terbaik yang aku lakukan, lepaskan dia!” bentak Pak Permana mengambil Fahri paksa.
Perebutan itu terjadi beberapa lama, tak ada yang mengalah dan tak ada yang ingin berkorban. Perbuatan Rani dan Pak Permana hanya menyakiti Fahri yang ditarik ke sana kemari secara paksa. Mengabaikan rasa sakit di permukaan kulit anak itu yang mulai memerah.
Seolah langit mengerti penderitaan makhluk kecil itu, tanpa peringatan awan menjadi gelap merata. Tak ada angin yang mampu mengusir mendung, hanya gemuruh yang ikut marah pada kedua pasangan egois tersebut. Seakan ingin memberikan pelajaran, langit seketika menurunkan hujan dingin menghunjam kulit, jatuh dengan tajam menyentuh bumi.
Tik... Tik... Tik... Chrreeceesszz... Bbrrbbhh...
“Lepaskan dia, kamu tidak kasihan pada Fahri?” ujar Pak Permana memaksa Rani melepaskan gendongannya.
“Kalau om kasihan, biarkan aku juga masuk ke dalam!” jawab Rani kekeh.
Melihat pertengkaran kedua orang tersebut yang masih terus berlanjut, sopir pribadi Pak Permana turun dan berinisiatif memayungi Fahri serta Pak Permana, meninggalkan tubuh basah Rani yang tetap tak terlindung.
“Daddy...” panggil Fahri dengan bibir mungilnya yang bergetar.
Melihat anaknya yang terlihat sangat menderita oleh dingin, Pak Permana membuang wajah lalu memberi kode ‘Masuk’ pada Rani tanpa menoleh.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Rani berlari sekencang tenaga sembari menggendong dan menutupi kepala Fahri dari tetesan hujan deras tersebut. Ia sampai terlebih dahulu tepat di depan pintu kayu raksasa kediaman Pak Permana.
Setelah 1 jam saling membersihkan dan mengeringkan diri, Rani terus menerus menempel pada Fahri. Rasa rindunya pada Fahri memang benar adanya, namun Fahri juga lah kunci emasnya dapat bertahan di rumah itu. Ia tidak ingin dirinya terusir lagi jika berjauhan dengan anaknya. Ia tidak akan memberikan kesempatan lagi pada Pak Permana untuk menghempasnya ke jalanan.
“Mommy.” Panggil Fahri berlarian menghambur ke pelukan Rani yang sedang duduk bersimpuh di lantai kamar anaknya.
“Hati-hati dong, nanti bisa jatuh.”
“Hehehe.” Cengir Fahri sesaat lalu melepas pelukannya pada Rani.
Fahri membuka mainan-mainan serta beberapa buku edukasi hadiah Bu Alisa untuknya. Wajah antusias serta bahagia Fahri semakin merekah, membuat Rani ikut penasaran isi dari bungkusan plastik putih besar tersebut.
“Wah apa tuh isinya sayang?”
“Ada buku-buku dan mainan bagus.”
“Daddy yang belikan ya?”
“Bukan, Daddy belikan baju-baju dan sepatu, kalau ini dari mama.” Jawab Fahri sembari menari-nari kecil.
“Mama?” tanya Rani bingung.
“Iya, mama.” Angguk Fahri melebarkan senyumnya hingga memperlihatkan deretan gigi putih mungilnya.
“Maksudnya Mama Alisa?” pertanyaan Rani memperoleh anggukan cepat dari Fahri.
Seketika itu pula raut wajah Rani berubah, ada rasa kecewa dan marah yang teramat dalam di hatinya. Secara spontan Rani meremas ujung rok yang ia kenakan, membuat bekas garis-garis lengkung dari kuku-kuku panjangnya yang menekan telapak tangannya.
“Sialan si nenek reot itu! Sudah pernah aku kasih pelajaran masih belum kapok-kapok juga! Enggak Fadhil, enggak Om Permana semua mau dikuasai, eh sekarang dia malah mau kuasai anakku juga. Lihat saja nanti, aku balas sikap lancangnya ini!” ujar Rani membatin penuh cibiran.
***
“Lihat deh mas, tadi mama belikan buku-buku ini buatku. Ada buku kumpulan nama-nama bayi, sama buku-buku cara merawat dan mendidik anak. Duduk sini mas, namanya bagus-bagus deh sampai bingung mau pilihnya.”
“Oh benar juga ya yank, masa sebulan lagi anak kita mau lahir nama saja belum disiapkan.” Jawab Fadhil berjalan cepat dan duduk disisi Mecca.
“Karena itu mas, mending sekarang kita sama-sama cari nama yang bagus dan punya arti baik, bantuin dong.”
“Lah memang ada gitu nama yang jelek dan artinya buruk? Enggak adalah yank, kamu ini ngasal deh!”
“Ih... Jangan salah mas, ada!”
“Masa sih?!” tatap Fadhil tak percaya sembari mengangkat salah satu alisnya. “Dimana-mana orang tua akan kasih nama terbaik untuk anaknyalah, ckckck...” Fadhil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Waktu itu aku pernah lihat berita mas, masa di Ind** begitu anaknya lahir di kasih nama salah satu virus yang lagi hits belakangan ini loh.”
“Idih... Ada-ada aja deh! Jangan ngarang ah yank, enggak lucu.”
“Serius mas!”
“Enggak percaya ah! Virus kan seram, masa ada sih?!” ujar Fadhil mengernyitkan dahinya.
“Sebentar ya aku cari artikelnya.” Ujar Mecca sembari mencari-cari berita yang dimaksud pada ponselnya.
Tak butuh lama bagi Mecca untuk mencari berita yang dimaksud, maka dengan secepat kilat Mecca pun langsung menunjukkan artikel tersebut pada Fadhil.
“Nih mas baca sendiri.” Mecca menyodorkan ponselnya pada Fadhil.
Fadhil membaca tiap kata dengan teliti, wajahnya berubah-ubah membaca tiap baris artikel pada ponsel Mecca. Wajahnya tampak serius dan kadang terlihat menggelikan, seolah berusaha percaya dan menahan tawa.
“Puuffftt!” sembur Fadhil tak tahan.
“Iuh hujan lokal deh, mas jorok!” keluh Mecca membersihkan semburan Fadhil pada lengannya.
“Maaf-maaf yank, enggak sengaja. Tadi serius aku enggak mau ketawa sama sekali, khawatir dianggap enggak sopan, tapi ternyata mulutku kelewat kurang ajar, kurang didikan, sampai enggak bisa tahan tawa, hahahaha...” tawa Fadhil lepas, namun Mecca tetap melihat Fadhil dengan ketus.
“Receh banget sih, baca artikel doang ketawanya sampai begitu.”
“Pffftt... Bukan begitu yank, aku tuh cuma jadi kepikiran aja, kalau semisal ada 1 anak lagi yang lahir dan dia perempuan aku kayaknya bisa nebak gitu loh bakal dikasih nama siapa sama orang tuannya!”
“Memang siapa coba? Aku mau tahu, apa sih isi otak mas sampai ketawa sereceh itu.” Jawab Mecca bersedekap.
“Namanya pasti... Pasti KARANTINA, hahahahaha...!” Fadhil tertawa terpingkal-pingkal jungkir balik di atas ranjangnya, sedangkan Mecca hanya memutar kedua bola mata yang tak sejalan dengan lelucon Fadhil yang terasa garing keriuk baginya.
“Ih apaan sih Mas Fadhil?! Au ah gelap, lucu kagak eh ketawanya segitu amat. Aku kasih juga nih anaknya nama ‘Karantinakan Covid’ baru tahu rasa!” ujar Mecca membolak-balikkan lembar buku nama-nama bayi di genggamannya. “Eh... Anak Mas Fadhil kan anakku juga! Enggak jadi, enggak jadi! Nama anak bubu harus keren duwoooong!” ucap Mecca bergidik sembari memajukan bibirnya. Namun beberapa detik kemudian Mecca merasa kesakitan mendadak pada dadanya. “Aaaaoooo!” keluh Mecca spontan. Fadhil menghentikan tawanya dan dengan sigap berada disisi Mecca.
“Kenapa yank? Apa yang sakit? Memang sudah mau melahirkan sekarang?” Fadhil berucap dengan kekhawatiran yang meradang.
Mecca yang hanya berdesis tak mampu menggerakkan bibirnya demi menjawab sepatah kata dari Fadhil, bahkan menggeleng dan mengangguk pun tak dapat ia lakukan. Hal itu semakin membuat Fadhil merasakan panik yang teramat.
“Aduh kenapa kamu yank? Aku bingung nih kalau cuma di diamin gini. Oh bentar-bentar, aku telepon Dokter Sarah dulu!” salah satu tangan Fadhil mengambil ponsel dan tangan satunya ia pergunakan untuk memberikan pijatan ringan pada punggung Mecca.
“Maaaas...” panggil Mecca dengan suara bergetar, memaksakan dirinya untuk menggapai tangan Fadhil yang memegang ponsel.
“Iya kenapa yank?” Fadhil menunduk menangkup pipi Mecca.
Mecca menggerakkan bibirnya, namun tak ada suara yang keluar. Fadhil seolah hanya mendengar suara nafas dan desisan dari mulut istrinya. Ia pun berinisiatif mendekatkan telinganya pada bibir mungil Mecca, mencoba memasang telinga demi mendengar sepatah kata dari Mecca.
Mendengar bisikan Mecca yang nyaris tak bersuara tersebut, membuat Fadhil hampir menempelkan telinganya pada ujung bibir Mecca. Fadhil benar-benar mengerahkan konsentrasinya. Raut wajah khawatir Fadhil, tiba-tiba berubah menjadi seulas senyuman, bukan senyum manis namun lebih seperti senyum nakal penuh keusilan.
“Oh... Jadi aku salah pijatnya dong. Harusnya bukan di punggung tapi di sini kan?!” Fadhil memindahkan telapak tangannya dari punggung Mecca menuju pa*udara istrinya.
Senyum me*umnya mulai terumbar dengan murah. Ia terus menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian, hingga memainkan kedua matanya dengan gerakan wink menggoda.
Pijatan lembut Fadhil semakin lama berubah menjadi mere*as. Kelihaiannya semakin meningkat, hal itu dapat terlihat dari ekspresi Mecca yang kesakitan berubah menjadi nikmat. Mecca menutup kedua matanya, merasakan kedua bukitnya di pijat dengan ahli. Sesekali lenguhan itu lolos dari bibirnya, membuat Fadhil juga ikut panas dingin dibuatnya.
Melihat ekspresi Mecca yang seolah memanggilnya agar berbuat lebih jauh membuat Fadhil mulai gemas. Ia pun dengan segera membuka satu persatu kancing baju Mecca, lalu beralih pada kaitan depan bra berwarna biru muda tersebut.
Cetik
Dalam sekali sentuh pengait itu pun terlepas, memampangkan dua bukit ranum yang semakin menyembul keluar. Mata Fadhil membelalak buas, air liur yang hampir menetes segera ia telan dengan cepat, tangannya yang tak lepas masih terus memijat dengan ganas.
“Perasaan dulu enggak begini, tapi kok sekarang bisa segede ini ukurannya? Apa ini hasil karyaku? Atau hasil karya boy di dalam perut Mecca? Terserahlah yang penting ini bikin mata seger! Jadi pengen cepet-cepet nemplok!” ujar Fadhil dalam hati menatap lekat kedua benda kenyal di hadapannya dengan bibir yang terus ia basahi tanpa sadar.
“Maaaasshh pelan-pelan, sakit tuh.” ucap Mecca di tengah lenguhannya.
“Punya sayang kok makin besar dan keras sih?”
“Eehhmm... Enggak tahu mas, pokoknya tadi rasanya kayak ke tarik, nyeri banget.”
“Tapi kalau sekarang enak kan?” tanya Fadhil menatap Mecca yang masih menutup matanya dengan nikmat.
“Hmmm.” Sahut singkat Mecca disela-sela desa*an manjanya.
Merasa adik kecilnya semakin mengeras, Fadhil yang mulai merasa gemas tak tertahan tanpa sadar memajukan bibirnya untuk meng*lum puncak merah muda yang merekah tersebut. Ia pun mere*as pa*udara Mecca semakin kuat, namun seketika...
“Aaaww... Aaaww... Aaaww... Apaan-apaan ini?! Keluh Fadhil gugup menutup wajahnya.
Mecca yang mendengar keluhan Fadhil langsung membuka matanya lebar-lebar, raut wajah khawatirnya berubah menjadi kebingungan namun sejurus kemudian ia lantas tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Fadhil kena pistol Asi darinya, dan kebodohan suaminya adalah ia masih memencet kuat pa*udara Mecca yang menyemburkan cairan putih tersebut. (Sorry ya H*** pengalamanmu menginspirasiku menulis ini 😅)
“Lepas mas lepas!” Mecca menggenggam tangan Fadhil dan menjauhkan telapak tangan itu dari dadanya.
Wajah Fadhil yang penuh cipratan Asi membuat Mecca tertawa hingga keram perut.
“Aduhdududuh, sumpah ngakak banget!” ujar Mecca terengah-engah menahan tawa. “Tapi thanks ya mas sudah di rang*ang Asiku sampai bisa keluar deras begitu, nembak pula, pppffffttt...!”
Fadhil melongo pasrah wajahnya basah kuyup kena tembakan hangat dari pa*udara Mecca. Jangankan ingin meneruskan aksinya, berkat siraman kesadaran itu seketika membuat adik kecil Fadhil loyo tak bersisa.
“Lihat aja nanti malam, aku balas tembak ke gawang!” ujar Fadhil dengan senyum me*umnya.
Kalau bisa tolong apresiasinya ya ⬇️
👉 VOTE ✔️👉 LIKE ✔️👉 KOMENTAR ✔️👉 FAVORIT ❤✔️👉 TIPS ✔️👉 RATE 5 ⭐✔️