AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 7. Takut Gelap



Saat keduanya bersama waktu berjalan terasa cepat, Tak ada kecanggungan sama sekali yang membatasi keduanya. Hingga matahari mulai terbenam dan digantikan bulan, keduanya saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.


Setelah melakukan shalat maghrib disalah satu Masjid yang dilewati, mereka memutuskan kembali ke kantor.


Waktu telah menunjukkan pukul 18.26 saat Fadhil dan Mecca sampai pada gedung Grup A tersebut. Ia meminta satpam untuk membuka pintu masuk. Dengan segera Fadhil dan Mecca menuju lantai 69 di mana ruangannya berada.


Setelah beberapa detik di dalam lift, mereka pun segera ke meja kerja masing-masing dan membereskan barang-barang yang tertinggal.


Mecca lebih dahulu membereskan barang-barangnya, kemudian dia masuk menyusul Fadhil ke ruangannya untuk berpamitan.


Tok... Tok... Tok...


“Masuk.” Sahutnya.


“Mas, aku pamit pulang dulu ya.”


“Kamu pulang naik apa? Bawa kendaraan?”


“Aku mau order ojol mas.”


“Biar aku saja yang antar, masuklah dulu.”


“Aku nggak mau merepotkan Mas Fadhil.” Jawabnya sembari memasuki ruangan itu.


“Sama sekali enggak merepotkan, aku juga mau tahu rumahmu, lagi pula aku yang sudah mengajakmu ke sana kemari sampai malam begini.” Ujarnya meyakinkan. Kemudian Fadhil mendekati Mecca untuk mengajaknya pulang bersama, namun tiba-tiba seluruh lampu di gedung tersebut padam seketika.


“Aaahhhh....” teriak Mecca sembari berlari mencari sosok Fadhil dan memeluknya sangat erat. Mecca menenggelamkan wajahnya dalam-dalam pada dada bidang Fadhil yang keras, namun terasa hangat dan memiliki aroma tubuh yang menenangkan.


Fadhil terkejut dengan apa yang dilakukan Mecca terhadapnya, ia ingin sekali menjauhkan tubuh gadis itu secepatnya, namun tubuhnya berkata lain. Tubuhnya tidak menginginkan pemisahan, Fadhil membalas pelukan Mecca sama kuatnya seolah-olah tak ingin berpisah, ia tak peduli jika gadis itu mendengar detak jantungnya yang semakin berisik.


“Hei, kenapa? Jangan takut ya, ada aku di sini.” Ucapnya lembut tepat di telinga kanan gadis itu sembari membelai rambut halus milik Mecca dan menghirup wanginya.


Tak berselang lama seluruh lampu kembali menyala. Fadhil mengangkat wajah Mecca yang masih tertunduk, ada butiran air bening di pelupuk matanya.


“Kok sampai nangis sih?” ejeknya sambil menyeka air mata yang terlihat.


“Aku takut gelap mas. Aku suka nonton film horor, tapi nggak berani nonton sendiri, aku suka tidur dalam gelap, tapi kalau gelap yang tiba-tiba aku sangat benci.” Jawabnya dengan sedikit terisak menahan rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya.


“Ya sudah, kamu tenang ya. Sekarang aku antar pulang yuk.” Sambil memberikan belaian lembut pada kedua lengan Mecca dan disambut anggukan olehnya.


***


Sesampainya di rumah, Mecca dikejutkan oleh kehadiran lelaki paruh baya yang berdiri tak jauh dari pintu masuk yang baru ia buka.


“Eh... Ayah!” ujarnya terkejut.


“Dari mana saja? Sudah jam segini masih keluyuran!” tegurnya tegas.


“Kan ini hari pertama Mecca magang yah.”


“Terus apa harus sampai malam begini?”


“Tidak yah, ini yang pertama dan terakhir, janji! Tadi bos Mecca minta bantuan dulu.”


“Bantuan apa yang sampai mengeksploitasi tenaga kerja karyawan magang sampai malam seperti ini?”


“Ayah, jangan salah paham ya. Ayah jangan banyak berpikir, ayo masuk dulu. Istirahat yah.” Ajaknya sembari menuntun ayahnya ke ruang keluarga.


“Tadi masuk rumah kamu belum salam.” Ujarnya mengingatkan.


“Assalamualaikum ayah sayang.” Ucapnya tersenyum sembari memeluk ayahnya.


“Wa’alaikumsalam. Dasar anak nakal. Ya sudah kamu bersihkan badan dulu, lalu shalat, dan turun ke bawah untuk makan malam bersama.”


“Loh... Ayah belum makan malam?”


“Bagaimana bisa makan dengan tenang kalau anak gadis ini masih di luar rumah. Kakakmu juga belum makan, nanti panggil Medina sekalian ya.”


“Siap laksanakan komandan.” Sahutnya dengan posisi tubuh tegap dan tangan kanan memberi hormat.


Di lain tempat, Fadhil yang telah merebahkan tubuh di tempat tidur king sizenya itu menatap langit-langit kamarnya dengan wajah bersemu. Ia mengingat rasa pelukan yang diberikan Mecca secara tiba-tiba. Setiap inci bagian tubuhnya yang menyatu dengan Mecca membuat tubuhnya sedikit memanas, ia mengingat wangi rambut gadis itu serta aroma chamomile yang menenangkan keluar dari tubuh Mecca.


Jantungnya kembali berdebar kencang tak karuan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mandi air dingin dengan segera, berharap pikirannya kembali normal.


***


Matahari telah menampakkan sinarnya, pagi yang cerah menyambut hari ini dengan kehangatannya. Mecca telah duduk manis di meja kerjanya. Tak lama berselang Nindy pun datang dan dengan langkah dipercepat ia duduk di samping Mecca.


“Kemarin maksudnya apa Mec? Kamu beneran kekasihnya Pak Fadhil? Terus kemarin kalian kemana saja seharian sampai enggak kembali ke kantor? Kalian sudah berbuat apa saja?” cerocosnya tak memberi jeda tiap pertanyaan masih dengan nafas tersenggal-senggal.


“Tarik nafas dulu mbak. Tarik-hembuskan.” Instruksi Mecca memeragakan.


“Sudah! Sekarang jawab semua pertanyaanku. Aku sampai sengaja berangkat pagi-pagi buta demi rasa penasaranku ini.”


“Oh my God.” Sahut Mecca sambil memutar kedua bola matanya.


“Jawab ih...!”


“Apa yang mau dijawab mbak? Enggak ada apa-apa kok. Kami kemarin cuma ngobrol, pergi makan, dan jalan-jalan saja terus sudah deh.”


“Tapi Pak Fadhil bilang kamu gadis yang dicintainya, bahkan Pak Fadhil meminta restu langsung di hadapan kedua orang tuanya. Enggak mungkin kalau enggak ada apa-apa.” Selidiknya tak percaya.


“Kalau itu sih, sebenarnya...” belum sempat Mecca menyelesaikan ceritanya, Fadhil telah berjalan melewati keduanya menuju ruangan sembari menyapanya dan Nindy.


Saat kedua mata mereka bertemu, terlintas di benak keduanya tentang pelukan yang terjadi kemarin. seketika itu juga keduanya tersenyum malu-malu.


“Pagi semua.” Sapanya hangat sembari menyunggingkan senyum terindahnya bergilir pada Nindy dan Mecca.


“Pa-pagi pak.” Jawab Mecca dan Nindy gagap secara bersamaan sembari berdiri terburu-buru karena tidak menyadari kehadiran Fadhil yang mendekat.


“Lihat itu lihat, Pak Fadhil melemparkan tatapannya lebih lama ke arahmu. Wah... Kalian ini, pagi-pagi sudah kode-kodean.” Goda Nindy memukulkan siku kanannya berkali-kali ke lengan kiri Mecca secara spontan sembari menatap pada pintu ruangan Fadhil yang telah tertutup rapat.


“Apaan sih mbak, jangan ngarang deh. Sudah kerja saja yuk sambil ajarin aku ya.” Sahut Mecca mengalihkan.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.35, Nindy masih dengan sabar mengajari Mecca setiap pekerjaannya secara bertahap. Mecca gadis yang sangat pandai, ia cepat sekali mengerti dan menguasai tiap ilmu yang telah di transfer oleh Nindy.


“Bagus Mec, kamu cepat paham ya. Aku jadi tenang serahin pekerjaan ini ke kamu.”


“Percaya sama aku mbak.” Ujarnya percaya diri.


“Sudah hampir waktu makan siang Mec, aku telepon Pak Fadhil dulu ya, mau tanya beliau mau makan apa siang ini.”


“Mbak, Pak Fadhil enggak ada alergi makanankan?”


“Seingatku sih enggak, tapi beliau pilih-pilih makanan Mec. Nanti aku kasih daftar apa saja yang biasa dia pesan ya. Eh... Tapi kamu pasti lebih tahu dong.” Godanya sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


“Mulai lagi deh Mbak Nindy.” Menghela panjang.


Sebelum Nindy menelepon Fadhil, seorang pria tampan menghampiri meja kerjanya dan menyapa.


“Hei ladies, Fadhil ada?” tanyanya sembari mengerlingkan sebelah matanya.


“Wah ada Pak Arjun. Lama tidak mampir pak.”


“Kangen ya?” ujarnya ke Nindy, kemudian ia beralih ke hadapan Mecca sembari menangkupkan dagunya di kedua tangannya dengan ekspresi menggoda.


“Ada yang baru nih. Siapa namanya cantik?”


“Mecca, pak.” Jawabnya singkat.


“Namanya secantik orangnya. Panggil saja Arjunaku, jangan pakai pak ya.” Sahutnya tersenyum manis menunjukkan pesonanya.


“Ehem...” dehem Fadhil mengejutkan semua orang.


“Wah... Si pengganggu muncul. Tadi rencananya aku mau batalin makan siang sama kamu. Terus aku mau ajak gadis cantik itu deh.” Ujarnya mengada-ngada.


“Ayo pergi!” perintah Fadhil pada Arjuna dengan wajah kesal.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.