
Pagi ini pemandangan tak biasa terjadi di lahan parkir restoran milik Mecca. Banyak mobil berjajar di sana dengan rapi. Mecca tidak pernah melihat restorannya seramai ini saat pagi hari. Biasanya restoran akan membeludak di waktu makan siang dan malam hari, itu pun juga tak sebanyak seperti pagi ini.
Mecca membuka pintu restoran dengan takjub. Matanya berkeliling melihat seluruh kursi penuh dengan para konsumen.
“Woaaah...” ujar Mecca kagum.
Mecca pun mengumbar senyum, menundukkan kepala, dan menyapa para pengunjung restorannya berkali-kali.
“Mbak... Mbak... Tumben restoran seramai ini?” tanya Mecca pada karyawannya yang berada di meja kasir.
“Iya bu, saya juga kaget. Tapi setiap yang ke sini selalu bilang kalau mereka dapat rekomendasi dari Pak Egy.” Jawab Ratna, kasir restoran Mecca.
“Egy?” tanya Mecca memastikan.
“Iya bu!”
“Terus Pak Egy datang juga?”
“Enggak Bu. Saya kan hafal sama Pak Egy, mana mungkin wajah tampan Pak Egy luput dari pandangan saya.” Jawab Ratna memasang ekspresi membayangkan.
“Bisa aja Mbak Ratna nih! Terus anak-anak kewalahan enggak?”
“Enggaklah bu, kan karyawan tambahannya juga sudah mulai kerja hari ini.”
“Oke deh kalau gitu. Kalau butuh apa-apa aku di ruanganku ya.” Ujar Mecca sembari berlalu dan masuk ke ruangannya.
Setelah pagi berganti siang, restoran Mecca kembali ramai. Lagi-lagi setiap meja terisi penuh para pengunjung, bahkan sampai terjadi waiting list. Para pengunjung restoran jadi tidak bisa berlama-lama duduk di meja makannya, karena banyak pengunjung lain yang menunggu.
Lagi-lagi banyaknya pengunjung berasal dari rekomendasi Egy. Banyak yang memasukkan kertas kepuasan konsumen pada kotak saran di dekat meja kasir.
Bahkan dengan perut besarnya, Mecca ikut andil membantu jalannya operasional restoran. Mecca menggantikan posisi kasir, sedangkan Ratna ikut melakukan service ke meja-meja pengunjung.
Setelah jam makan siang sudah berakhir, restoran kembali lenggang. Masih ada beberapa meja yang terisi namun tidak seramai sebelumnya.
“Mbak Ratna di meja kasir lagi ya, aku mau duduk dulu. Kaki aku capek berdiri nih!” Mecca keluar dari area kasir dan duduk di meja nomor 07 di hadapannya.
“Ada kursi bukannya diduduki kok malah berdiri sih bu?” tegur Ratna menggeleng-gelengkan kepala.
“Enggak nyaman kalau sambil duduk. Perut aku rasanya ke tekan.” Jawab Mecca ditanggapi angguk-anggukan dari Ratna.
Mecca mulai menyandarkan punggungnya di sofa dan merebahkan kepalanya. Mecca menutup sekejap matanya dari rasa lelah di sekujur tubuhnya.
[Jangan tanya kenapa perutnya rata ya. Author khawatir ngeditnya. Entar diprotes kan bahaya! Hahaha...]
“Bawaan hamil ini capek melulu. Semakin besar semakin mudah lelah.” Gumam Mecca mengelus perut buncitnya masih dengan mata terpejam.
Tiba-tiba suara berat seorang pria menjawab gumaman yang ia lontarkan tadi.
“Kalau sekarang sudah capek bagaimana nanti malam? Malam ini ada reservasi loh.”
Mendengar suara seorang pria membuat Mecca menegakkan tubuhnya dengan terkejut.
“Kak Egy!” ujar Mecca meninggikan suaranya.
“Kaget ya? Maaf ya, hehehe...” Melihat ekspresi Mecca yang terkejut membuat Egy cengar-cengir canggung.
“Kagetlah!” sungut Mecca cemberut.
“By the way, masih sakit ya kak? Tuh masih biru-biru gitu?” tunjuk Mecca pada memar-memar di wajah Egy berkat hasil karya suaminya.
“Masih nyut-nyut sih. Sebenarnya rasanya enggak seberapa, tapi keselnya yang luar biasa. Wajah tampanku jadi ke tutup rata begini!” canda Egy meringis.
“Maafin Mas Fadhil ya, kak. Dia memang suka gegabah, suka ke bawa emosi. Tapi sebenarnya dia orangnya lembut kok. Cuma kemarin dia panik aja, takut aku kenapa-kenapa.” Ucap Mecca dengan menyesal.
“Aku ngerti kok. Kamu jangan pikirin lagi ya. Aku tadi cuma bercanda doang, enggak seriusan Mec.” Senyum Egy menenangkan Mecca.
“Thanks kak.”
“Iya...” Egy menatap Mecca dengan sayang.
“Ngomong-ngomong terima kasih ya kak, sudah rekomendasiin restoran ini ke klien dan rekan kerja Kak Egy. Restoran aku sampai waiting list loh tadi.” Cerita Mecca dengan riang gembira.
“Iya sama-sama. Lagian makanan di sini semua memang enak-enak, harganya juga terjangkau, suasana apa lagi... Nyaman banget, bisa bikin betah pengunjung. Aku cuma bantu iklan doang kok. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku atas tindakan kakakku waktu itu.”
“Tapi ini bukan salah Kak Egy, jadi Kak Egy enggak usah kayak hutang gitu. Dan untuk Karina, aku dan Mas Fadhil sudah memaafkannya. Kami enggak bisa membenci atau marah dengan kondisi Karina yang seperti itu. Justru kami mendoakan untuk kesembuhan dan kebahagiaan Karina juga Kak Egy.”
“Terima kasih ya... Kamu memang wanita yang baik, makanya buat aku susah move on deh!”
"Jadi cowok galon dong namanya, Kak?"
"Hah, galon?"
"Iya, galon... Alias gagal move on."
"Hahaha... Mau disebut cowok galon atau cowok jurigen juga enggak apa-apa deh, memang nyatanya begitu. SUSAH MOVE ON!" ucap Egy menekan kalimat akhirnya.
“Ih apaan sih, Kak Egy bercanda melulu deh!”
“Aku enggak bercanda Mecca! Aku serius!” ucap Egy dengan tatapan kejujuran, namun sekejap kemudian...
“Tapi bohong!” elak Egy penuh kepura-puraan.
“Tuh kan! Memang usil nih orang! Bikin deg-degan aja!” jawab Mecca lega.
“Hah? Deg-degan? Jangan-jangan kamu ngeharapin ucapanku benar ya? Atau mungkin kamu nyimpan perasaan ke aku ya? Ayo ngaku?!” ucap serius Egy dibalik candanya.
“Ya enggaklah kak!” jawab Mecca sembari memutar kedua bola matanya.
Ada rasa kecewa dalam hati Egy mendengar jawaban pasti Mecca, namun Egy menutup pedih hatinya dengan senyum penuh pesonanya.
“Memang malam ini restoran bakal ramai lagi kak?”
“Iya. Malam ini aku menyewa restoran loh.”
“Hah, buat acara apa? Kak Egy ulang tahun?” tanya Mecca penasaran.
“Enggak kok.”
“Terus?”
“Aku mengundang makan malam rekan-rekan kerjaku sebagai ucapan terima kasih dan perpisahan sekaligus.”
“Maksudnya perpisahan?”
“Ehm... Aku juga sekalian pamit sama kamu ya. Aku memutuskan untuk menangani cabang perusahaan keluargaku yang di Surabaya. Aku juga membawa serta Karina bersamaku. Papiku punya seorang kenalan psikolog dan psikiater yang bagus buat Karina di sana.”
“Berapa lama?”
“Entah... Bisa sementara, bisa juga selamanya. Kamu jangan kangen aku ya. Eh tapi kalau kangen juga boleh deh! Telepon atau kirim pesan aja. Nanti kalau kangen kamu terlalu berat aku langsung datang deh!”
“Ih PeDe banget deh!” jawab Mecca sembari tertawa bersama dengan Egy.
***
Waktu hampir menuju sore hari, Bu Alisa duduk dengan wajah tegang di ruang kerjanya. Kini di hadapan Bu Alisa telah duduk seorang pengacara utusan Pak Permana. Kedatangan pengacara tersebut sebagai perwakilan dari Pak Permana atas pengajuan cerainya beberapa hari lalu.
Pengacara telah membacakan isi surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh Bu Alisa. Di situ juga tertera tentang pemberian sejumlah uang dan perhiasan, serta pemindahan hak milik hotel dan pusat belanja yang berada di bawah pimpinan Bu Alisa, menjadi hak milik Bu Alisa sepenuhnya. Hal ini semata-mata diperuntukkan sebagai tunjangan perceraian dari Pak Permana.
Pengacara meminta Bu Alisa untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan perceraiannya dengan Pak Permana. Dengan nafas panjang dan berat hati, Bu Alisa mengikuti kemauan Pak Permana dengan ikhlas.
Bu Alisa menandatangani surat pernyataan tersebut dengan mantap tanpa mengeluh. Di hatinya masih diliputi gundah gulana yang dahsyat. Ia tidak ingin, rasa yang sudah ditutupnya itu dapat mudah terbuka hanya karena selembar kertas tersebut.
“Setelah penandatanganan surat ini, maka pemindahan kuasa dan kepemilikan yang tertera di dalam akan langsung di proses melalui Notaris.” Ujar pengacara tersebut sembari membereskan berkas-berkasnya di atas meja.
“Saya sudah mengerti dan menuruti semua keinginan Pak Permana, silakan Pak Pengacara undur diri.” Usir Bu Alisa dingin menanggapi ucapan pengacara tersebut.
Ingat untuk SELALU vote, beri tips, like di setiap chapter, beri rate 5 ⭐, klik sebagai favorit, rekomendasikan novel ini kepada teman-teman lainnya, dan tulis komentar-komentar positif ya. Terima kasih 💜