AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 89. Aku Mau!



Gela enggak sih, ini tuh updatean terbanyak dan terpanjang Author secara maraton loh. bener-bener seharian ngetik terus kerjaannya. Jadi maaf kalau besok Author butuh waktu istirahat 😋


Di vote, di like, di komentari, di rate 5, di bantu share ini novel, puji-puji yang bagus ya readers kalau mau ngeshare 😂 (ngeharap sekaligus maksa 70%), di follow juga gitu Authornya. Jangan Baca tok 😉 tak cakar koe 😅✌


---------------------------------------------


Medina mulai membongkar isi lemarinya, mencari-cari pakaian yang pantas ia gunakan untuk pertemuannya malam ini dengan Arjun. Hampir seluruh isi lemari Medina keluarkan demi mencari pakaian yang dapat membuatnya lebih memesona.


Entah sejak kapan Mecca membuka pintu kamarnya dan berdiri tepat di belakang Medina.


“Nambah-nambahin kerjaan Bi Mirah nih namanya!” ujar Mecca menyilangkan kedua tangannya, berbicara tepat di belakang telinga Medina.


“Astagfirullahaladzim!” tanpa sadar Medina memukul lengan Mecca dengan spontan.


“Aaww… Jahat banget sih si muka ikan buntal ini sama ibu hamil.” Mecca mengelus-elus lengannya yang terasa sakit.


“Maaf-maaf, Dik. Tadi itu kakak kaget banget, benar- benar enggak sengaja. Sakit banget ya? Coba lihat?” ucap Medina cepat dengan raut wajah penyesalan yang sangat terlihat.


“Nih lihat merah bangetkan?! Padahal waktu dulu aku habiskan parfum baru kakak aja, aku enggak dipukul sampai begini loh, dimarahin aja enggak!” Mecca menatap raut wajah Medina yang terlihat sangat menyesal dan sedih seperti ingin menangis.


“Maaf ya, Dik.” Medina memijat-mijat serta meniup-niup lengan Mecca dengan mata berkaca-kaca.


“Hahahaha… Cengeng banget sih kak, begitu aja sampai mau nangis. Salahku juga sih masuk enggak pakai ngetuk tadi. Tapi rasanya sakit banget, kayak ditabrak banteng tahu!” ejek Mecca dengan menjulurkan lidahnya.


“Kakak pukul lagi nih kalau ngejek terus!” melihat wajah geram Medina, Mecca langsung berlari menjauh menuju lemari pakaian Medina.


“Hmmm baju sebanyak ini masa sih enggak ada yang cocok? Semuanya bagus loh.”


“Pilihin dong, Dik.” Pinta Medina dengan penuh harap.


“Mau ketemu Kak Arjun ya?” Medina hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mecca. “Kak Dina duduk tenang aja di situ, biar aku yang urus.” Medina mengikuti perintah Mecca tanpa mengeluh.


Mecca memilih gaun berwarna hitam polos dengan motif yang berada di bagian kain transparan bawah gaun. Gaun itu memiliki potongan bergelombang pada bagian V-neck yang membuatnya terlihat simple namun manis jika dikenakan.



“Nah, gaun ini sudah lama enggak pernah dipakai. Yang ini aja kak! Mecca memberikan dress pilihannya itu pada Medina tanpa meminta persetujuan, Medina pun hanya menurut dan langsung menggunakannya.


“Sini aku make up juga!”


“Kamu bisa?”


“Bisa dong! Sekarang aku pintar mempercantik diri tahu!” Medina hanya mengangguk-angguk menyepelekan.


“Kakak saja deh, kamu jangan pegang-pegang wajah kakak. Kakak enggak mau jadi ondel-ondel!”


“Idih meremehkan! Lihat dulu hasilnya baru bisa protes!”


“Kakak enggak percaya yang ada waktu kakak habis cuma buat uji coba kamu!”


“Ih berisik banget sih! Duduk sini jangan banyak protes!” Mecca memaksa Medina duduk di depan meja riasnya dan mulai mengeksekusi wajah cantik kakaknya. “Ikan buntal akan jadi inces habis ini, hihihi…”


“Awas kalau sampai aku jadi jelek!”


“Memang kakak cantik? Perasaan kakak aja kali tuh!” Medina mulai mencemberuti Mecca tanpa menyanggah ucapan adiknya tersebut.


Mecca mulai terdiam dan fokus pada wajah Medina. Mecca mencoba mempertegas bagian mata serta alis, ia juga membuat countour di area pipi untuk menunjukkan wajah tirus Medina yang sempurna. Untuk sentuhan terakhir, Mecca menyemprotkan setting spray dan memasangkan softlens berwarna abu-abu untuk mempertajam bagian mata. Sedangkan untuk rambut kakaknya, Mecca biarkan terurai secara alami.


Lebih dari 30 menit Mecca berkutat dengan kegiatannya hingga ia memperbolehkan Medina menatap cermin.


“Selesai, fiiuuhhh…!” Mecca mengelap keringat di dahinya.


Medina mulai berdiri dan menatap dirinya pada standing mirror di hadapannya.


“Dik, serius kamu make up-in aku begini?” Medina menatap dirinya tidak percaya.


“Seriuslah! Baguskan?”


“Kayaknya enggak cocok sama aku,”


“Cocok! Kakak cantik banget kok.”


“Sebenarnya ini bagus banget, aku jadi berasa pribadi yang berbeda. Kayak punya karakter berani gitu lewat make up seperti ini, aku kagum banget sama hasilnya, tapi..”


“Enggak usah tapi-tapian, sudah pergi sana!” Mecca mendorong tubuh Medina untuk mengambil tas serta barang-barangnya lalu menuntunnya pergi keluar kamar. “Bye, semoga sukses ya! Habis ini aku pulang ke rumah, kabari aku hasilnya, oke?!” teriak Mecca dari lantai atas. Medina yang telah berada di lantai 1 hanya mengangkat jempolnya.


***


Saat Medina memasuki restoran, hampir seluruh mata menatapnya, baik pelanggan maupun karyawan. Entah mengapa tatapan itu membuat langkah kakinya terasa berat.


“Kenapa pada ngelihatin aku segitunya sih? Apa karena make up? Atau karena baju? Apa yang aneh ya?" Ucap Medina membatin.


Namun saat ia menangkap suara-suara ke pendengarannya, kegugupan serta rasa tidak percaya diri itu perlahan-lahan menghilang. Setiap langkahnya ia melihat tatapan kagum orang-orang serta bisikan-bisikan yang mengatakan dirinya ‘Sangat cantik’.


“Ya ampun Bu Dina tumben banget make up, biasanya juga tampil simple, cantik banget tahu, Bu. Bikin banyak orang melongo tuh termasuk saya, hihihi...!” ucap Lili salah satu karyawannya.


“Sudah kembali kerja sana! Jangan bikin aku semakin terbang tinggi ke awan, jatuhnya sakit tahu.”


“Kalau Bu Dina jatuh, saya rela kok nangkapnya. Siapa yang enggak rela nangkap bidadari dari langit.” Ujar karyawan restoran lainnya menimpali.


“Dion-Dion, badan kerempeng gitu sok-sokan kuat mau nangkap, ckckck...” ejek Lili pada Dion.


“Berisik Lu!” jawab Dion ketus.


“Sudah-sudah enggak usah sayang-sayangan gitu ah!” ucap Medina pada dua karyawannya.


“Najis, cuih...!” Lili dan Dion menjawab bersamaan.


“Hati-hati loh, biasanya benci itu bisa jadi cinta.” Ujar Medina dengan menggoda.


“Iyuh!” jawab Dion dan Lili saling bertatapan lalu pergi ke arah berlawanan. Medina tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepala lalu masuk ke dalam ruangannya.


Medina mengambil cermin di dalam tas, menatap lekat pantulan wajahnya di sana.


“Masa sih secantik itu? Kalau tahu reaksi orang-orang lihat aku sampai begitu, ngapain tadi aku pakai enggak PD segala ya? Kira-kira ini bisa tahan lama sampai ketemu Arjun enggak sih?” ujar Medina pada dirinya sendiri sembari menyisir rambutnya dengan sela-sela jari.


Bagi Medina, hari ini waktu berjalan sangat lambat, menunggu pertemuan dengan Arjun beberapa jam lagi seakan menunggu berhari-hari lamanya. Cukup sering Medina menatap dirinya di cermin, melihat apakah ada perubahan pada make up-nya, rasanya ia tidak rela jika make up hasil jerih payah adiknya itu akan luntur.


Medina berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu fokus menunggu waktu yang terus berjalan. Dan kesibukan itu berhasil membuatnya tidak menyadari jika waktu sudah semakin malam.


Dan lagi restoran terlihat aneh hari ini bagi Medina, karena ia berkali-kali menerima panggilan dari karyawan yang menyampaikan pesan dari pelanggan untuk menemui mereka di meja, dan rata-rata mereka adalah pelanggan pria.


Namun saat Medina mendatangi meja demi meja, bukannya memperoleh komplain justru dirinya menerima pujian dan rasa terima kasih karena suasana restoran yang nyaman dan rasa makanan yang enak. Padahal biasanya itu sering pelanggan sampaikan melalui lembar opini yang disediakan di meja.


Seperti halnya saat Medina mendatangi meja nomor 11 ini. Di sana terdapat 4 pria yang terlihat sebaya dengan Medina, duduk rapi dan mengunci pandangan matanya kepada Medina.


“Permisi bapak-bapak, saya Medina penanggung jawab restoran. Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Jangan panggil bapak dong mbak, mas atau abang aja deh.” Ucap salah satu pelanggan di meja itu.


“Mas-mas ada keluhan atau ada sesuatu yang mau disampaikan ke saya?”


“Iya ada.” Jawab pria lainnya.


“Iy-ya...?” Medina berucap dengan nada bingung yang mendayu.


“Cuma mau bilang, Mbak Medina cantik banget. Kita-kita boleh enggak minta nomor HPnya?”


“Oh... Ehm... Eh... Terima kasih. Tapi ada perlu apa ya mas-mas minta nomor saya?” Medina menjawab dengan terbata-bata merasa gugup dengan pujian yang tiba-tiba.


“Mau kenalan lebih jauh, bolehkan?” tanya pria yang duduk di dekat Medina berdiri.


“Kalau I-itu...” ucapan Medina terpotong, Medina agak terkejut merasakan pinggangnya di rengkuh oleh seseorang di belakangnya.


“Sayang, aku sudah datang.” Ujar Arjun melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Medina sembari mencium puncak kepalanya. Membuat rata-rata pelanggan yang memperhatikan keduanya menatap sekaligus mengagumi dua makhluk rupawan tersebut.


Medina menatap wajah Arjun dengan terkejut, begitu juga dengan Arjun yang menatap wajah cantik Medina. Arjun tertegun sekaligus terpesona melihat kecantikan Medina yang memukau. Menampakkan wajah tegasnya yang terlihat lebih seksi.



“Be.” Medina memanggil-manggil Arjun untuk kesekian kali, menyadarkan Arjun dari keterpesonaannya.


“Eh! Maaf-maaf Bi, aku kagum banget sama kecantikanmu, jadi tambah klepek-klepek.”


“Be sebentar dulu ya, aku lagi ngobrol sama pelanggan.” Medina berucap setengah berbisik.


“Maaf ya mas-mas semua, kalau untuk reservasi dan sebagainya bisa minta kartu telepon restoran ini, di bagian kasir di depan sana ada kok.” Ujar Arjun menunjuk meja kasir. “Selamat menikmati makanannya, kami permisi dulu.” Arjun dan Medina meninggalkan keempat pria itu yang masih saling melempar tatapan dan melongo melihat kepergian keduanya.


Arjun menggandeng tangan Medina, membawanya masuk ke dalam ruangan kantor dan menutup pintu dengan rapat.


“Kok begitu sih Be, enggak enak sama pelanggan dong, huft!” Medina mendengus kesal.


“Mereka itu cuma modus. Aku enggak suka pacar aku di kerubungi cowok lain. Mana kamu cantik banget pula hari ini. Biasanya juga sudah cantik, tapi kali ini parah cantiknya. Aku bisa susah jagainnya, Bi.”


“Paling mereka cuma godain aku lewat omongan doang, enggak sampai godain pakai ciuman.” Jawab Medina ketus.


DEG


Jantung Arjun berpacu lebih cepat dan dalam sekejap keringat dingin mulai keluar melalui pori-pori kulitnya.


“Kok Dina bilang begitu sih? Masa dia tahu soal Diana tadi yang...” ucap Arjun membatin.


“Kenapa diam Be, ada yang salah?” tanya Medina menatap Arjun yang tiba-tiba mematung. Menyelidiki raut wajah Arjun dengan ketajaman matanya.


“Kok ngomongnya begitu sih, Bi?”


“Memang aku salah ngomong?”


“Ya enggak sih, tapi kaget aja.”


“Kok Kaget?”


“Ya kagetlah tiba-tiba ditembak kata-kata begitu.”


“Kalau ada yang mau disampaikan omongin aja langsung, Be.”


“Kan aku yang dipanggil ke sini, jadi aku yang butuh penjelasan dong?!”


“Maksudnya penjelasan dari mana aku bisa tahu kamu ciuman sama Diana?!” ujar Medina menaikkan salah satu alisnya dengan sinis.


“Aku kok tahu? Memang kalau aku enggak tahu kamu bakal diam selamanya ya?”


“Bukan begitu, Bi.”


“Buktinya apa?”


“Aku pasti bilang, tapi sebelum itu aku mau tahu dulu apa yang mau kamu bahas sama aku. Atau tentang ini?”


“Ciuman kamu sama Diana salah satunya.”


“Itu bukan ciuman, Bi!” jawab Arjun menekan.


“Lantas?”


“Diana curi cium ke aku. Aku enggak tahu Diana bicara apa ya ke kamu, tapi aku enggak terima kalau disebut ciuman sama dia.”


“Aku lihat sendiri.”


“Lihat?”


“Iya! Dia kirim foto ciuman kalian berdua. Dan sepertinya kamu menikmati itu Be, kelihatan dari ekspresi kamu yang membiarkan penyatuan bibir kalian itu!”


“Ya Tuhan! Enggak begitu, Bi. Gini-gini aku jelasin, kamu dengar dulu sampai habis ya. Jangan dipotong-potong, mau?”


“Hmmm.” Jawab Medina mengalihkan pandangan.


“Lihat aku dong cantik.” Medina menatap Arjun dengan malas. “Jadi tadi itu dikerjaan aku bener-bener enggak fokus, aku tuh cuma mikirin ucapan kamu semalam tahu enggak?! Dan Diana nangkap itu, dia kira aku sama kamu berantem gara-gara kasih tumpangan kemarin. Terus waktu aku mau ke tempat praktik keduaku dia ngejar aku dan masuk ke dalam mobil. Di situ dia minta maaf, terus tiba-tiba dia cium aku sesaat, dan minta aku tinggalin kamu. Aku marah banget sama dia, aku minta dia keluar dari mobil dan aku tinggalin dia gitu aja.” Medina membelalakkan matanya tak percaya.


“Ih nyebelin banget sih dia! Lagian kamu kenapa enggak dorong dia langsung sebelum dia sempat cium sih?” geram Medina tak rela.


“Gerakannya cepet banget, Bi. Lagian enggak ada rasanya kok, malah bikin aku marah!”


“Bohong!”


“Sumpah sayang!”


“Diana kan cantik, masa iya enggak ada rasanya?”


“Aku enggak peduli soal itu Bi, mungkin bagi orang lain Diana cantik, tapi bagiku biasa aja. Lagian aku cuma bisa nikmati ciuman itu sama kamu, Bi.”


“Tapi bibir kamu sudah ternoda sama Diana, aku malas ngerasain lagi!” Medina membalikkan tubuhnya merajuk.


“Hapusin dong, Bi.” Arjun memeluk tubuh Medina dari belakang.


“Belum 24 jam ada rasa Diana di sana, aku enggak mau!”


“Jadi kamu mau biarin cap Diana bertahan sampai 24 jam?” tanya Arjun menciumi leher Medina, membuatnya bergerak secara spontan karena merasakan kegelian.


“Aku tersiksa loh sayang semalaman diam-diaman sama kamu, aku sedih banget ingat ucapan kamu ke aku, tapi aku bahagia kamu ajak ketemuan hari ini, semoga kamu enggak bikin aku sedih lagi ya, jangan ambil keputusan yang bikin kita berdua sakit.” Arjun semakin dalam mencium dan menghirup aroma tubuh Medina.



“Kamu kira aku enggak tersiksa apa? Ak semalaman nangis, muka aku jadi kayak ikan buntal sampai mau ke sini aja aku harus dandan habis-habisin dibantu Mecca, dan aku bodohnya malah berlapar-laparan cuma buat mikirin kamu! Eh tapi kamu malah asyik-asyikan dicium perempuan lain!” Medina menggerakkan bahunya, mengusir keberadaan Arjun yang terus menelusuri lehernya. Namun bagai terkena magnet, Arjun kembali lagi ke posisi semula.


“Enggak ada asyik-asyiknya, Bi. Aku juga belum makan dari semalam. Sekarang aku lapar banget.”


“Tapi aku sudah batalin lapar-laparanku dan makan tadi sore.”


“Ya ampun, ternyata aku doang yang masih berlapar-laparan?!”


“Tapi kamu masih bisa kerjakan? Enggak kayak aku yang kayak orang bodoh, ngunci diri di kamar terus!”


“Kalau aku enggak kerja, aku bisa gila sayang. Aku kan enggak tahu kapan kamu bakal hubungi aku lagi untuk bicara. Bukannya semalam kamu minta aku ngejauh lagi?” Arjun membalikkan tubuh Medina, melihat manik mata Medina yang juga menatapnya.


“Hmmm.” Medina menundukkan kepalanya.


“Lihat aku, Bi. Aku mau puas-puasin lihat wajah cantikmu.” Medina mengangkat wajahnya, melihat wajah Arjun dengan malu-malu. “Bi, soal Diana itu jangan dipikirin ya! Dia enggak berarti apa-apa, dia enggak bisa jadi pemisah hubungan kita.”


“Tapi kamu hampir setiap hari akan ketemu dia lagi.”


“Aku sudah minta asisten lain sebagai pendamping.”


“Diana-Diana yang lain maksudnya?”


“Enggak kok, aku sudah dapat konfirmasi dari pihak rumah sakit. Yang jadi asistenku Mirna, dia sudah menikah. Kamu legakan?”


“Hmmm.” Jawab singkat Medina dengan senyum yang ditahan.


“Kalau mau senyum lebar juga enggak apa-apa kok, enggak usah ditahan-tahan gitu juga kali.”


“Idih apaan sih? Enggak kok!” Medina membalikkan tubuhnya memunggungi Arjun kembali. Mengembangkan senyum kepuasannya lebar-lebar yang sedari tadi ia tahan.


“Masa aku dipunggungi lagi sih? Hadap sini dong.” Arjun membalikkan tubuh Medina berhadapan dengannya. “Terus ada yang lain mau dikasih tahu ke aku?”


“Misalnya apa?”


“Misalnya... Seperti... Bersedianya... Kamu... Menikah sama aku?” Arjun menjawab dengan perlahan, memberi jeda di setiap ucapannya.


Medina menatap wajah Arjun dengan tajam, membuat wajah datar mendengar ucapan Arjun yang sengaja diperlambat. Namun melihat wajah Arjun yang sangat menanti jawabannya membuat Medina merasa geli, ia pun mengangguk perlahan dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


Melihat anggukan Medina membuat jantung Arjun berdegup kencang, debarannya terasa tak karuan. Perasaan yang baru ia rasakan selama hidupnya. Kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan hanya sekedar lewat kata-kata.


“Beneran, Bi?” tanya Arjun memastikan dan mendapat senyum dari Medina.


“Serius Bi, jawab dong!” tawa Arjun terus terukir di wajah tampannya, serta debaran jantungnya membuat dada bidang itu terlihat naik turun dengan cepat.


“Iya Be, aku mau!” Medina menjawab dengan malu-malu.


Tanpa perlu persetujuan Medina, Arjun menggendong tubuhnya dan memutar-mutar tubuh ramping itu dengan cepat. Mengucapkan kata terima kasih berkali-kali pada Medina yang kini didekapinya.


“I love you, Bi.” Ucap Arjun menyatukan dahinya dengan dahi Medina.


“I love you too, Be.” Medina menatap mata Arjun dengan cinta.


Arjun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Medina, menerima sentuhan lembut dari benda kenyal itu yang sangat dirindukannya. Hingga tersisa 1 senti ucapan kata ‘Aku mencintaimu’ masih terucap dari bibir Arjuna.


Ciuman keduanya pun terjadi dengan penuh kehangatan, ciuman itu semakin dalam dan semakin dalam. Menyisakan rasa manis yang terasa lebih manis daripada ciuman-ciuman sebelumnya.


Menyalurkan cinta di setiap sentuhan dan pa*utannya, mengalirkan benih kasih yang telah berubah menjadi tunas cinta. Hanya debaran jantung keduanya yang mampu memberi bukti, bagaimana perasaan itu semakin kuat dan semakin menumbuh.


“Bibir kamu manis sekali sayang.” Ujar Arjun terengah-engah masih menyesap setiap sisi bibir Medina.


“Ehm.” Jawab Medina dengan lenguhannya. Namun tiba-tiba...


KRUUCUUK


Perut lapar Arjun tak dapat diajak kompromi, bunyi itu membuyarkan segalanya. Dengan terpaksa mereka melepas penyatuan bibir keduanya, membuat tawa malu yang tak terelakkan.


“Dasar perut gelandangan enggak tahu sikon!” ujar Arjun merutuki perutnya sendiri. Medina hanya dapat tertawa terpingkal-pingkal mendengar pemberontakan cacing-cacing perut Arjun yang masih konser di sana.


***


Di rumah mewah yang terlihat gelap itu, Rani melangkahkan kakinya dengan riang, membawa berbagai macam barang-barang branded yang ia genggami satu persatu bungkusnya.


“Ih apaan sih, rumah sebesar ini kok gelap-gelapan.” Ujar Rani mencari-cari sakelar lampu yang ia raba di dinding.


CETEK


Dalam seketika lampu menyala, membuat ruangan yang awalnya gelap gulita menjadi benderang.


“Aakkhh.” Teriak Rani terkejut melihat sosok pria yang duduk bersandar pada sofa di hadapannya.


Rani mengelus dadanya berkali-kali, mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak karuan.


“Ya ampun om, kenapa duduk di kegelapan begitu sih? Aku kaget loh tadi.” Ucap Rani dengan suara lemah lembutnya.


“Dari mana kamu?” tanya Pak Permana dengan suara beratnya.


“Aku habis kumpul-kumpul sama teman lama tadi, kan aku sudah izin.” Jawab Rani dengan suara manja.


“Akhir-akhir ini kamu tidak merawat Fahri dengan benar! Bahkan Fahri menangis merindukan mommy-nya.”


“Aku rawat kok. Aku malah sering di rumah saja selama ini. Kalaupun jalan aku sering mengajak Fahri ikut juga.”


“Kamu jangan beralasan Rani, anak kecil itu tidak mungkin akan berbohong.”


“Justru karena masih kecil, ucapannya masih berubah-ubah. Om percaya dong sama aku, aku ini sayang banget sama anak kita loh, enggak mungkin dong aku biar-biarin.” Jawab Rani membuat alasan.


“Kamu tidak berkata jujur pun tagihan ini bisa kasih kesaksian kok.” Pak Permana melemparkan berlapis-lapis kertas di atas meja. “Belum lagi CCTV rumah ini, mau alasan apa lagi kamu, hah?”


“Om aku belanja juga banyak untuk menyenangkan Fahri kok. Coba lihat, aku selalu belikan baju dan juga mainan loh untuk dia.” Rani membongkar 2 tas belanjaannya dan menunjukkan pada Pak Permana.


“Huh... Dari 9 tas belanjaan itu 2 barang Fahri dan 7 lainnya milikmu sendirikan?” Pak Permana melirik tas-tas yang tergeletak di lantai. “Dulu saat Alisa mengurus segala keperluan rumah, tidak pernah sebesar ini jumlah pengeluarannya. Lama-lama hartaku bisa habis kamu keruk!” ujar Pak Permana menyentak.


“Jangan banding-bandingkan aku dengan mantan istri om dong, sekarang aku yang ada disisi om loh.” Jawab Rani mendekati Pak Permana, duduk disisinya dan menempelkan tubuhnya pada dada Pak Permana, menyentuhkan telapak tangannya yang halus pada paha Pak Permana. “Maafkan aku ya, Om. Om kan tahu aku selalu hidup kekurangan, saat om mau bertanggungjawab atas Fahri aku seperti orang yang gelap mata dikelilingi harta melimpah. Aku akan berusaha memperbaiki diri. Aku menyesal om, aku minta maaf ya.” Ujar Rani menatap Pak Permana sambil membuka kancing-kancing baju bagian atas Pak Permana.


Namun tangan liarnya dipegang kuat oleh Pak Permana dan ia hempaskan tubuh Rani menjauhinya. Membuat Rani terjengkang di atas sofa empuk berwarna putih gading itu. Pak Permana berdiri tegak mengabaikan Rani tanpa berniat menolongnya.


“OM! Tega banget sih sama aku! Aku kan sudah minta maaf sama om, tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini?” ujar Rani meninggikan suaranya, tak terima dengan sikap Pak Permana.


“Terus, apa yang kamu lakukan ke aku ini bukan tega namanya?”


“Aku kan sudah bilang ke om tadi, kalau aku akan memperbaiki diri.”


“Memperbaiki diri? Dirimu itu tidak bisa diperbaiki lagi! Aku masih membiarkanmu jika menyangkut dengan membuang-buang uang, tapi aku tidak bisa memaafkanmu yang telah mengkhianatiku dengan ini!” Pak Permana melempar foto-foto Rani yang bertelan*ang bulat bersama pria-pria berbeda.



“Om... I-ini aku bisa jelaskan. Ini pasti ada yang menjebakku. Aku yakin ini cuma jebakan, ini pasti perbuatan Alisa!” ujar Rani berkelit melihat foto-foto yang mengguncangnya.


“Jangan salahkan orang lain! Aku saja yang terlalu bodoh bisa mempercayai dan membuang anak serta istriku demi ancaman dan rayuan wanita mu*ahan sepertimu, cuih...!” Pak Permana meludahi Rani yang saat ini terlihat kotor dimatanya.”Bi! Lemparkan semua barang-barang wanita ini keluar pagar, minta penjaga mengusirnya. Jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini!” perintah Pak Permana pada kepala asisten rumah tangga yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


Pak Permana meninggalkan Rani yang menangis dan meronta-ronta memohon pengampunan beliau. Namun dengan langkah ringan Pak Permana semakin menjauhkan langkahnya, tak menoleh bahkan satu kali pun.


“Om aku akan ambil Fahri ya kalau om berani-berani mengusirku! Aku bisa hancurkan om dalam sekejap! Om, dengar ucapanku!” teriak Rani penuh amarah.


“Huh.” Pak Permana hanya mendengus meremehkan ancaman Rani yang semakin samar terdengar di telinganya.