AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 33. Sabar!



Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, kini usia pernikahan Mecca dan Fadhil sudah berjalan 3 bulan lamanya. Hubungan Mecca dan Fadhil semakin mesra, Mama Alisa dan Papa Permana sangat menyayangi Mecca layaknya putri kandungnya sendiri.


Mama Alisa dan Papa Permana sering memanjakan Mecca dengan perhiasan dan gaun-gaun cantik rancangan designer ternama. Hubungan kedua belah pihak keluarga pun makin rekat.


Hal ini berbanding terbalik dengan Arjuna dan Medina. Entah sekuat apa pun Arjun berusaha, Medina selalu membentengi dirinya. Seakan ada dinding yang tebal menghalanginya membobol pertahanan hati Medina.


Walau penolakan demi penolakan ia rasakan, namun tak satu kali pun Arjun menyerah. Bagai terhipnotis cinta, setiap ia terjatuh Dia akan bangkit kembali mengejar Medina.


Hari ini merupakan hari terakhir Mecca magang di Grup A, hari terakhir ia dapat menemani suaminya bekerja, lebih tepatnya mengawasi Fadhil dari godaan wanita lain. Ada kegelisahan dalam hatinya untuk meninggalkan posisinya di perusahaan.


“Mas, Aku perpanjang dong waktu magangnya.” Rengek Mecca di mobil menuju kantor.


“Loh, kenapa? Bukannya lebih enak di rumah? Kamu bisa lebih fokus menyelesaikan skripsimu yank.”


“Aku enggak kuat ninggalin Mas Fadhil ketemuan sama siluman-siluman rubah itu!” ujar Mecca cemberut.


“Hahahaha... Yank-yank, Kamu ini ada-ada saja. Kamu kan lihat sendiri Faiz selalu ada di sampingku juga.” Jelasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa.


“Ya karena ada Aku, kalau Aku enggak ada mana Aku tahu Mas gimana-gimana sama perempuan-perempuan itu! Kenapa sih klien Mas Fadhil banyak perempuan genitnya!” celetuk Mecca cemberut.


“Karena suamimu ini tampan. Apa lagi alasannya.” Lirik Fadhil.


“Oh jadi Mas suka gitu ya di goda-goda?” sungutnya tajam.


“Enggaklah, Aku cuma suka di goda Kamu yank. Tapi masa iya Aku harus minta semua klien yang wakilin perusahaannya harus laki-laki terus?”


“Kalau bisa itu lebih baik!”


“Kan enggak semua perusahaan mau yank, Mereka pasti kirim orang yang menurut Mereka mumpuni. Kamu harus percaya dong sama suamimu ini, Aku cintanya sama Kamu saja yank, swear tekewer-kewer.”


“Iya deh iya! By the way dari Mbak Nindy lahiran Kita belum sempat datangi loh Mas, karena Mas Fadhil sibuk terus dan Mas larang Aku pergi tanpa Mas. Nih sampai Mbak nindy mau masuk kerja lagi, Kita belum datang-datang juga.”


“Pulang kerja nanti Kita kesana ya.”


“Beli kado dulu ya. Aku janji mau kasih pompa asi elektrik sama Mbak Nindy.”


“Siap Bos!”


“Tapi ngomong-ngomong Kita sendiri kapan ya Mas punya baby?”


“Sabar yank, berdoa saja terus dan BERUSAHA.” Ucapnya menekan kata dengan ekspresi genit.


“Dasar Om-Om mesum!” jawab Mecca menggeleng-gelengkan kepalanya diikuti tawa Fadhil yang tangannya kini meraba dada istrinya.


“Ih... Mas ini, sempat-sempatnya begitu, sudah nyetir yang bener sana!” keluh Mecca ketus.


Mecca dan Fadhil sampai ke Grup A bersamaan dengan mobil Faiz. Mereka pun berjalan beriringan bersama Faiz menuju ruang Direktur Utama.


Sesampainya dilantai 69, sesosok pria yang Mereka kenal telah berdiri tepat di depan meja kerja Mecca. Memandang lurus ke pintu ruangan Fadhil.


“Kenapa Dia di sini?” tanya Fadhil kepada Faiz sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Mecca.


“Saya juga tidak tahu Boss, bukannya Kita sudah tegas mengancam waktu itu?” jawab Faiz bingung.


“Kalau Kamu tanya Aku, terus Aku tanya siapa Iz?” gumam Fadhil sedikit menggeram.


“Mas... Mas... itu kan Kak Egy.”


“Kamu suka Dia datang? Kangen ya?”


“Ih Mas kok ngomong gitu sih? Nyebelin!” ujar Mecca mencubit lengan Fadhil.


“Aaaww... Aaaww... Aaaww... Sakit yank!” keluhnya mengadu.


“Kapok!”


“Akhirnya datang juga.” Ujar Egy menatap Fadhil sekilas dan menatap Mecca dengan senyum termanis.


“Buat apa kemari? Bukannya waktu itu Faiz sudah memberikan syarat.” Tanya Fadhil sinis.


“Santai Bro, kalem saja. Aku mau membicarakan pekerjaan dan ini tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Oh... Atau Kamu lebih suka kalau Karina yang datang?” tanyanya usil melirik Mecca.


“Dari kalian berdua tidak ada yang Aku suka!” jawab Fadhil dengan tatapan bermusuhan.


“Lama enggak ketemu Mec, Kamu tambah cantik.” Ujar Egy pada Mecca mengacuhkan ucapan Fadhil.


“Terima kasih Kak.” Jawabnya singkat.


“Makan siang sama-sama yuk nanti.” Ajaknya cuek.


“Masuk ruanganku! Cepat selesaikan urusanmu di sini terus pergi sana!” ujar Fadhil pada Egy ketus.


“Wah... Santai dong Bro, sabar! Mec, Kamu bahagia punya suami temperamental seperti itu?”


“Cepat masuk atau Kau pergi saja sana!” ujarnya menyela sebelum Mecca menjawab pertanyaan Egy. Fadhil tidak suka jika Mecca berinteraksi dengan laki-laki yang jelas menaruh perasaan pada istrinya tersebut.


Fadhil dan Egy tampak profesional ketika membicarakan pekerjaan. Tidak ada perasaan pribadi yang tertanam dalam obrolan keduanya, bahkan kekesalan Fadhil sebelumnya tertahan dengan baik di balik wajah seriusnya saat ini.


Pertemuan Fadhil dan Egy ternyata memakan waktu yang cukup lama, hingga waktu makan siang pun kedua orang tersebut belum juga keluar dari ruangan itu.


Mecca yang sedari tadi berada di meja kerjanya pun tak kunjung pergi istirahat, ia memutuskan untuk menunggu Fadhil hingga urusan pekerjaan suaminya itu selesai untuk makan siang bersama. Tiba-tiba dering ponselnya pun berbunyi, dengan segera Mecca mengangkat teleponnya.


Mecca : “Assalamualaikum Ma.”


Mama Alisa : “Wa’alaikumsalam sayang.”


Mecca : “Tumben Mama telepon di jam kerja. Apa ada hal penting Ma?”


Mama Alisa : “Iya ada dong, ini penting banget sayang.”


Mecca : “Ada apa Ma? Mama sama Papa sehatkan?” tanya Mecca mulai khawatir.


Mama Alisa : “Sehat kok, tapi bukan itu yang Mama mau bicarakan.”


Mecca : “Hal penting apa itu Ma? Mecca penasaran banget nih.” Ujarnya tak sabar.


Mama Alisa : “Mama sama Papa mau mengakomodasi bulan madu kalian berdua. Sekarang tugas Kamu dan Fadhil tentukan ke mana kalian akan pergi. Jangan tolak terus ya, sudah sering Mama minta kalian bulan madu, sampai sekarang tidak berangkat-berangkat!” cerocos Mama Alisa tanpa jeda.


Mecca : “Ya ampun Ma, Mecca kira ada apa.”


Mama Alisa : “Jangan di sepelekan, Mama tidak mau tahu.”


Mecca : “Iya Ma, nanti Mecca diskusi dulu sama Mas Fadhil. Habis mau bagaimana lagi Ma, Mas Fadhil sibuk melulu akhir-akhir ini.” Keluhnya mengadu.


Mama Alisa : “Kamu tenang saja sayang, asal Kamu dan Mama bersatu merayu Dia, Mama yakin Fadhil akan kalah.”


Mecca : “Hahaha... Iya deh Ma, beres!” jawab Mecca sembari tertawa.


Mama Alisa : “Kabari Mama secepatnya ya sayang. Mama tutup dulu teleponnya, bye.”


Mecca : “Bye Ma.” Jawabnya singkat.


Berbarengan saat Mecca menutup panggilan teleponnya pintu ruangan Fadhil pun akhirnya terbuka. Fadhil, Egy, dan juga Faiz secara bergantian keluar dari ruangan tersebut.


Fadhil mulai mendekati meja Mecca dan menarik istrinya tersebut untuk berada di pelukannya sembari menyambut kepergian Egy.


“Aku pergi dulu ya Mec, lain kali Kita ketemuan di luar ya. Kalau Kamu tidak bahagia, datanglah padaku. Aku masih mencintaimu.” Ujar Egy jujur mengacuhkan Fadhil yang memeluk Mecca. Tanpa menunggu jawaban Mecca, ia pun berlalu menjauh memasuki lift di ujung lorong.


“Sialan! Laki-laki tidak tahu diri!” teriak Fadhil penuh amarah ingin mengejar Egy, namun di halangi Mecca melalui pelukannya yang semakin Erat serta Faiz yang mulai memasang badan di hadapan Fadhil.


“Maaaaas, sabar!”


“Jangan bela Dia yank!”


“Aku enggak bela Dia Mas, lagian Kak Egy cuma usil kenapa Mas ladeni?”


“Kalau begitu usil, seriusnya yang seperti apa? Aku ini laki-laki yank, Aku tahu tatapan dan ucapannya ke Kamu itu jujur!”


“Ya sudah biarkan saja! Kan sekarang Mas yang jadi suami Aku, buat apa terpengaruh ucapan Kak Egy?”


“Jangan sebut namanya lagi...” ucapannya terpotong menyergap bibir Mecca dengan bibirnya, hal itu membuat Faiz membuang muka secara spontan.


“Sial-sial, jadi obat nyamuk lagi deh.” Gumam Faiz pelan.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.