
Sedari di rumah Pak Pradipta hingga sampai kantor, Fadhil tak pernah 1 detik pun melepas genggaman tangannya pada Mecca.
Tiap tatapan karyawan membuat perasaan Mecca tak nyaman. Ia tahu bagaimana membedakan tatapan orang yang ikut bahagia secara tulus, kagum, iri, sinis, atau tatapan mengejeknya. Ia merasa para kaum hawa di kantor ini banyak yang patah hati karena pimpinan tampannya sudah melepas masa lajang.
“Bakal banyak musuh nih aku." Gumam Mecca pelan sembari menatap lurus ke depan.
“Hah? Ngomong apa yank?” tanya Fadhil setelah mendengar gumaman Mecca yang tak jelas.
“Aku bilang lepasin tanganku mas. Aku malu dilihatin semua orang." Jawabnya berbohong.
“Nggak mau!” jawab Fadhil kekeh diikuti lirikan mata Mecca yang kesal.
Sesampainya di ruang kantor Fadhil masih dengan menggenggam telapak tangan istrinya ia menarik tangan itu mengikutinya ke ruangan.
Saat pintu ruangannya dibuka Fadhil, Mecca, dan Faiz sama-sama di kejutkan dengan sosok yang sudah duduk manis di sofa hitam itu.
“Morning handsome." Sapa Karina dengan senyum termanisnya.
“Pagi-pagi sudah duduk di ruangan orang lain, apa menurut anda sopan masuk ke ruangan saat pemiliknya tidak ada?” jawab Fadhil ketus.
“Aku kangen kamu sayang, mau bagaimana lagi aku tidak sanggup menahan perasaan ini." Ujar Karina dengan nada manja yang dibuat-buat secara sengaja. Hal ini, karena rasa kesalnya melihat tangan Fadhil dan Mecca saling bertautan.
“Keluar dari sini! ruangan ini tidak boleh sembarangan kamu datangi!" Ujar Fadhil sedikit menyentak sembari mempererat genggaman tangannya pada Mecca yang masih terdiam berusaha menampakkan wajah datarnya.
“Hei sayang, jangan galak-galak. Marah-marah tidak baik untuk kesehatan." Jawab Karina sembari mendekati Fadhil dan menyentuh lengannya, namun ditepis segera oleh Fadhil.
“Mau kamu apa sih? Ubah panggilan menggelikanmu itu untukku." Ucap Fadhil kesal.
“Kalau cintaku boleh?” sahutnya sembari menatap wajah Mecca yang mulai kaku.
“Iz usir perempuan gila ini sekarang!” perintah Fadhil tegas.
“Sssttt... sabarlah. Aku di sini bukan tanpa tujuan kok. Aku kemari sebagai utusan kerja sama dari Grup R." Jawabnya sembari mengangkat tangan memberi tanda berhenti pada Faiz.
“Maaf nona, jika memang benar begitu sebaiknya anda menghubungi saya terlebih dahulu untuk membuat janji temu." Ucap Faiz menjelaskan.
“Aku sudah terlanjur datang, masa di usir? Tidak baik jika mengusir tamu, lebih baik jika tamu itu disediakan teh, benarkan?” ucap Karina dengan nada mengejek pada Mecca.
“Baik akan saya sediakan teh puuaanaas." Jawab Mecca menekan kata panas yang dilebih-lebihkan, hal itu membuat Fadhil berusaha menahan tawa.
“Nggak usah buat minuman apa-apa yank, dia juga nggak lama kok di sini." Ujar Fadhil datar.
“Kalau begitu saya permisi." Pamit Mecca cepat.
Fadhil ingin sekali menahan Mecca tetap berada di ruangannya, ia ingin istri cantiknya itu melihat tidak ada hal-hal aneh yang akan ia perbuat, ia tidak ingin istrinya itu salah paham dan memusuhinya, namun sebelum Fadhil memberikan instruksi Mecca sudah pergi dengan langkah cepat.
“Dasar wanita genit! sudah tahu suami orang masih saja menggoda. Dia itu mau bicarakan kerja sama antar perusahaan atau mau apa sih, pakai baju kurang kain gitu! Awas kamu ya mas kalau sampai macam-macam! habis itu Bembimu aku cincang!” cerocos Mecca kesal menyerapah.
Bulu kuduk Fadhil secara tiba-tiba berdiri, ia merasa tidak enak hati seakan-akan ada yang mengawasinya.
“Iz, buka pintu ruangan ini lebar-lebar." Perintahnya pada asistennya tersebut. Ia ingin Mecca ikut memperhatikan ke dalam ruangannya agar istrinya tersebut tidak salah paham padanya.
Dengan segera Faiz membuka lebar pintu ruangan Fadhil. Secara spontan mata Mecca langsung masuk menyelidik ke dalam ruangan itu. Fadhil mengirimkan ciuman jarak jauhnya seketika saat mata mereka saling beradu. Mecca membalasnya dengan senyuman malu-malu.
Karina melihat tindakan Fadhil dan Mecca itu dengan geram, ia mulai melancarkan aksinya. Ia menunduk dan menunjukkan belahan dadanya yang terlihat penuh dan mulai menyembul sebagian keluar, sembari membelai paha Fadhil dan memanggil namanya untuk memperoleh perhatian dengan menunjuk berkas di atas meja.
Kilatan tajam mata Mecca seakan membunuh Fadhil, ia merasa bahwa tindakannya membuka pintu adalah salah besar, pasti hal itu membuat sakit hati istrinya, terlihat dari kepergian Mecca langsung saat itu juga.
“Mati kau Bembi!" gumam Fadhil menelan liurnya dengan kasar sembari tetap memandang meja kerja Mecca yang kosong.
.
.
.
***
Segala cara ia lakukan demi memperoleh perhatian dari istri kecilnya itu, namun semua sia-sia. Dengan rasa sedikit kesal Fadhil pun memilih untuk mendiamkan Mecca juga.
Ia ingin istrinya itu menyadari bagaimana tidak menyenangkannya jika didiamkan begitu saja. Rasa egoisnya sedikit timbul, Fadhil merasa jika dia tidak melakukan kesalahan apapun. Toh dia yang di dekati dan disentuh seenaknya, bukan dia yang melakukan perbuatan itu.
Ia merasa jika usahanya untuk memulihkan suasana sedari kepergian Karina sudah cukup ia lakukan. Jika istrinya itu tidak mau mengerti maka ia akan melakukan hal yang sama padanya. Karena bagaimanapun kedepannya hal ini mungkin bisa terjadi lagi.
Sebelum menikah pun ia sering mengalami perlakuan seperti ini dari wanita-wanita lain, paling tidak dari dulu sampai saat ini ia selalu berusaha menghindari godaan dari lawan jenisnya itu dengan tegas.
Ia tidak ingin jika masalah kecil ini menjadi masalah besar karena istrinya itu terlalu cemburu buta. Fadhil berharap jika kepercayaan Mecca padanya akan lebih besar dari pada amarahnya saat melihat siluman jahat yang menjelma menjadi para wanita cantik itu menggodanya.
“Perempuan itu selalu merasa benar Iz." Ujar Fadhil kepada Faiz dengan raut wajah kesal.
“Perempuan itu maunya dikejar-kejar, apalagi kalau marah. Salah tidak salah pokoknya dia mau dikejar saja." Cerocosnya kembali.
“Nanti kalau tindakannya dibalas, air matanya langsung menetes. Bikin pihak laki-laki makin merasa bersalah. Pintar benar tuh makhluk cantik." Ujarnya mengatakan keluh kesahnya pada Faiz yang masih setia mendengarkan.
“Galau Bos?” tanya Faiz polos.
“Galau-galau apaan? Puyeng ini!" jawab Fadhil ketus.
“Istri saya kalau lagi marah saya ajak jalan-jalan dan shopping langsung girang lagi Bos." Ujarnya memberi saran.
“Begitu? tapi..., ah enggak deh! biarin saja, aku mau diamkan dia juga."
“Tapi tidak baik bos jika berlarut-larut, lebih baik bos rayu dulu saja, senangkan hatinya lalu berikan nasehat. Kalau istri masih kesal mengeluarkan keluhan segala macam, tampung saja semua. Pokoknya jawab iya saja terus, jangan dilawan. Perempuan itu paling suka jika didengar Bos." Nasehatnya panjang lebar.
“Iya sih. Hmmmm... Nanti deh aku pikir-pikir lagi. By the way, ART yang aku minta bagaimana? Sudah ada?”
“Saya sudah ketemu 3 Bos. Yang 2 saya dapat dari yayasan penyalur ART namanya Asih usia 34 tahun dan Lia usia 35 tahun, tapi yang 1 ini saudara jauh dari ART di rumah saya Bos namanya Mirah, profile ketiganya ada di atas meja."
“Kenapa tidak tiga-tiganya dari yayasan saja?" ujar Fadhil sembari membolak-balik profile ketiga calon ARTnya.
“Rata-rata usia ARTnya 20 tahunan, belum menikah, dan banyak yang ingin tinggal ikut majikan. Dari semua itu yang ketemu cuma dua ini bos, menurut majikan-majikan sebelumnya pun 2 orang ini sangat rajin dan bagus kerjanya."
“Terus yang satunya?”
“Kalau yang saudara ART saya ini dia pernah menikah bos, suaminya baru saja meninggal, tidak lama dari kepergian suaminya itu dia mengalami keguguran. Jadi dia ke kota ini untuk cari pekerjaan. Tidak perlu menginap juga tidak apa-apa Bos, Mirah ngekos kok."
“Dia ada pengalaman jadi ART?"
“Di kampungnya dia juga biasa bekerja di rumah-rumah tetangganya yang membutuhkan jasanya, menurut ART saya, dia sangat rajin sejak kecil".
“Berapa umurnya?”
“36 tahun bos."
“Punya berapa anak selain yang baru keguguran itu?”
“Tidak ada Bos, dia memang terlambat menikah, itu kehamilan pertamanya."
“Ya sudah bawa saja besok mereka semua ke rumah Ayah."
“Baik Bos."
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.