AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 9. Minta Restu



Di dalam mobil Lexus Ux itu, Mecca dan Fadhil terdiam sejenak, mereka menebak-nebak setiap kemungkinan yang muncul atas kedatangan Pak Permana.


“Mas, ini bagaiamana? Aku nggak mau Ayah punya pikiran macam-macam. Aku takut Papa Mas kasih peringatan kasar ke Ayahku." Ujarnya khawatir sembari memilin ujung rambutnya.


“Kamu tenang dulu ya, aku juga bingung kenapa Papaku sampai ke rumahmu. Papa tidak biasanya turun tangan sendiri seperti ini."


“Pokoknya semua ini salah Mas Fadhil! Mas harus tanggung jawab. Mas harus jelasin semua ke Ayahku nanti." Ujarnya penuh kekesalan.


“Hei... Hei... Kamu jangan marah dong, maafin aku ya. Bagaimana kalau kita berdua masuk bersama, boleh?” tanyanya meminta izin.


“Apa boleh buat, kalau sudah begini ya mau tidak mau harus menampakkan diri bersama." Pasrahnya menghela nafas panjang. “Ayo masuk mas!"


***


Tepat pukul 17.00 Wib, Pak Permana telah berada disebuah rumah bertingkat tipe 70 yang di dominasi dengan warna putih dan abu-abu serta pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi.


Pak Permana menyusuri tiap sudut rumah tersebut dengan tatapan matanya. Dengan memantapkan hatinya, kemudian beliau menekan bel yang berada di samping kanan pagar tersebut.


Ting tong... Ting tong... Ting tong...


Beberapa saat kemudian pria paruh baya berusia sekitar 50 tahun keluar dari pintu rumahnya menuju pagar untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.


Perlahan Pak Pradipta mendekati pintu pagarnya sembari melihat disela-sela pagar tersebut tamu yang menekan belnya. Dari kejauhan Pak Pradipta mulai mengingat-ngingat sosok di hadapannya tersebut.


“Anda Mas Permana bukan?” tanyanya ragu.


“Assalamualaikum Mas Dipta. Syukurlah mas masih ingat saya."


“Wa’alaikumsalam, anda inikan lebih tua 5 tahun daripada saya, masih saja memanggil dengan embel-embel mas. Masuk-masuk Mas Mana." Senyumnya sumringah sembari membuka pintu pagar dan megulurkan jabat tangan persahabatan kepada Permana yang lebih akrab dipanggil Mana olehnya.


“Karena saya sangat menghormati anda mas." Menunjukkan senyum tulusnya sembari menerima jabatan Pradipta dan sedikit menarik tangan beliau untuk menerima pelukan persahabatan itu.


“Ayo masuk Mas Mana. Kita lanjut obrolan panjangnya di dalam saja."


Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, Pak Pradipta mempersilahkan Pak Permana untuk duduk dan beliau dengan segera menyiapkan dua cangkir teh hangat dan meletakkannya tepat di hadapan Pak Permana.


“Rumahnya sepi-sepi saja nih mas?” tanyanya mulai mengorek informasi. Walau sebenarnya Pak Permana sudah mengetahui semuanya terlebih dahulu dari informasi yang dikumpulkannya, namun beliau berpura-pura tidak tahu.


“Yah beginilah mas. Medina sedang sibuk mengikuti serangkaian seleksi untuk mendaftar sebagai jaksa, si bungsu sedang praktek kerja lapangan, sedangkan istriku Amira telah meninggal dunia hampir 15 tahun lalu."


“Maaf ya mas, saya baru bisa datang kemari. Semoga Mbak Amira tenang disisi-Nya."


“Aamiin, terima kasih. Silahkan diminum tehnya mas."


“Oh iya Mas Dip." Sembari menyeruput teh hangatnya.


“Sudah sekitar 30 tahun lebih ya kita tidak bertemu, apa kabar keluargamu sekarang? Anak-anak sudah menikah?” tanyanya penasaran.


“Kisahku tak jauh berbeda denganmu mas, anda kehilangan 1 yang terkasih saya kehilangan 2 sekaligus." Ujarnya menunjukkan ekspresi sendu.


“Maksudnya?” tanyanya penasaran.


“Putra pertamaku Al Fatih Permana dan istriku Ayunda meninggal dalam kecelakaan mobil."


“Maafkan saya ya Mas Mana, saya tidak ada saat kesulitanmu. Semoga orang-orang terkasih kita dalam kebahagiaan di sana." Doanya penuh ketulusan.


“Tidak apa-apa Mas Dip, sudah lama berlalu, lagi pula saat ini saya sudah memiliki istri kembali mas, Alisa namanya." Senyumnya mulai tersungging kembali.


“Selamat ya Mas Mana. Kenapa tidak diajak kemari juga Bu Alisa?”


“Saya ingin lebih dulu bertemu Mas Dipta. Ingin temu kangen." Ujarnya tersenyum lebar.


“Hahaha... Begitu?"


“Begini mas, sebenarnya saya sudah lama mencari-cari keberadaan mas sekeluarga, namun tak kunjung saya temukan kabar. Saya tahu mas sempat berpindah-pindah dulu. Saya ingin membayar hutang kebaikan Mas Dipta kepada saya."


“Hutang apa? Seingat saya tidak ada hutang apapun." Jawabnya menunjukkan ekspresi berpikir.


“Dulu saat Mas Dipta dapat pembagian warisan dari almarhum orang tua mas, saya sempat meminjam dana tersebut untuk memulai bisnis bukan? Saat itu saya sangat miskin, kalau tidak karena kebaikan keluarga Mas Dipta menampung saya, mungkin saya jadi gelandangan saat itu."


“Ya ampun Mas Mana, tidak usah diingat hal itu, saya sangat ikhlas. Saya tahu Mas Mana memiliki kemampuan dalam bidang bisnis, sangat disayangkan jika kemampuan itu tidak didukung. Lagi pula saat itu saya memang tidak menginginkan warisannya."


“Namun saya yang tidak tenang mas, saat usaha saya sedikit demi sedikit berkembang hingga pesat seperti saat ini tak ada 1 hari pun saya lupa jasa mas saat itu. Sungguh besar hutang saya mas." Ujarnya penuh rasa terima kasih.


“Grup A salah satu hasil dari usaha itu mas”.


“Wah... Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia itu? Luar biasa. Kalau saja saya rajin cari-cari informasi pasti kita sudah lama bisa bertemu. Ngomong-ngomong putriku Mecca sedang PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sana."


“Saya sudah bertemu Mecca di perusahaan kemarin mas."


“Oh ya? Tolong bantu bimbingannya ya Mas Mana, dia masih sangat muda, masih sering sembrono."


“Tidak, Mecca gadis yang pandai dan cepat belajar, lagi pula dia berada dibawa pimpinan putraku Fadhil langsung."


“Wah... Kebetulan sekali." Sahutnya takjub.


“Bagaimana jika kita berbesanan mas?”


“Hahaha... Saya pasti sangat senang jika bisa berbesanan dengan Mas Mana. Tapi Medina, dia... Saya tidak tahu mas bagaimana pendapatnya."


“Maksud saya Fadhil dengan Mecca mas."


“Mecca? Dia belum siap untuk berumah tangga. Dia masih ada tanggung jawab menyelesaikan kuliah, apalagi umurnya masih muda, masih sering labil dalam berpikir dan bertindak." Tolaknya halus.


“Apa mas tidak tahu kalau Fadhil dan Mecca sedang menjalin hubungan saat ini?”


“APA?! Tidak sama sekali." Jawabnya terkejut.


“Mecca sudah berjanji pada saya untuk tidak berhubungan dengan pria mana pun sampai ia menyelesaikan kuliahnya." Jelasnya menampilkan kekecewaan.


“Saya yakin ini takdir Tuhan, mereka memang sudah jodohnya. Buktinya Mecca Magang tepat dibawa pimpinan Fadhil, padahal tidak ada sebelumnya yang bisa langsung ke posisi itu. Kalaupun posisi sekretaris Fadhil kosong akan digantikan dari devisi lain. Bukti kedua jalinan kasih mereka bisa menghubungkan kita kembali dan bertemu seperti saat ini. Mas ingat dulu kita pernah membuat keinginan untuk saling menjodohkan anak kita jika sepasang yang lahir? Yah... Walaupun itu janji-janji anak ingusan, tapi bukankah ini seperti pertanda?” jelasnya panjang lebar mempengaruhi.


“Apa ini lamaran tidak langsung?”


“Hahaha... Bisa disebut seperti itu, kalau sudah di terima saya langsung bawa seserahan." Tawanya terbahak-bahak.


“Hahaha... Bisa saja Mas Mana. Tapi lamaran ini tidak ada hubungan dengan bayar hutang tadi kan?” tanyanya penuh curiga.


“Mas Dipta jangan salah paham, tentu tidak. Saya sudah mencari tahu informasi tentang Mecca, dia gadis yang tanpa keburukan dan selalu memberikan energi positif bagi sekitarnya, apalagi dia putri Mas Dipta, saya langsung merasa sayang seperti putri saya sendiri." Jawabnya penuh ketulusan.


Tak lama berselang suara ketukan berbunyi dan terdengar salam dari Fadhil dan Mecca yang telah berada di ambang pintu dan dijawab salam kembali oleh Pak Pradipta dan Pak Permana diikuti ciuman tangan lalu keduanya duduk bersamaan di sofa yang berbeda.


“Papa? Kenapa papa disini?” tanya Fadhil tak sabar.


“Harusnya kamu perkenalkan dirimu dulu pada tuan rumah baru bertanya pada papa, di mana kesopananmu, Nak." Tegurnya lembut.


“Maaf Om, nama saya Adzan Fadhillah Permana putra Pak Permana." Ujarnya sembari menjulurkan tangan kanan.


“Saya Om Harry Pradipta, Ayah Mecca. Tidak usah sungkan ya." Jawabnya sembari menyambut uluran tangan Fadhil.


“Papa sedang apa di sini?” tanyanya kembali penasaran.


“Papa kesini minta restu untuk hubunganmu dengan gadis cantik ini." Jawab Pak Permana tenang.


“APA?!” teriak Fadhil dan Mecca bersamaan.


“Dan sepertinya ayah setuju." Ujar Pak pradipta kalem.


“APA?!” teriakan Fadhil dan Mecca secara bersamaan kembali terdengar.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.