AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 32. Rumahku Istanaku



Malam ini terasa begitu melelahkan bagi Arjun. Hari ini pasien yang ia tangani dua kali lebih banyak dari hari-hari biasanya, bahkan ia menambah jadwal praktiknya untuk menggantikan jadwal Dokter lain yang berhalangan hadir.


Seharian ia habiskan di Rumah Sakit, wajah lelah tampak pada parasnya. Namun sebagai Dokter yang sering berinteraksi dengan anak-anak, ia dengan tulus selalu mengumbar senyum manisnya.


Wajahnya yang tampan, sikapnya yang lembut, serta sifatnya yang penuh canda gurau menjadikannya sebagai salah satu Dokter favorit yang kerap kali dikunjungi.


Tak sedikit pula perawat, tenaga medis lain, bahkan wali atau orang tua pasien sering menggodanya, mengharapkan sedikit perhatian lebih dari Arjun. Ia sudah terbiasa dengan situasi seperti itu sejak remaja.


Sesampainya di rumah, ia langsung mandi dan berendam air hangat untuk menenangkan otot-ototnya yang kaku. Setelah itu ia segera berpakaian dan merebahkan tubuhnya pada ranjang king size yang didominasi warna dark blue polos pada seprainya tersebut.


Karena kesibukannya hari ini, ia bahkan tidak sempat untuk mengecek ponselnya, hingga ia mendengar bunyi pesan masuk. Dengan segera ia pun bangkit dari ranjangnya, dan mengambil ponsel di dalam tas kulitnya itu.


Raut wajahnya berubah-ubah saat melihat ponselnya, dari kerutan pada dahi, kemudian wajah terkejut sampai membuka mulutnya, lalu tersenyum lebar dan tertawa berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil.


“Hah, serius nih pesan dari Dina?” ujarnya tak percaya.


“Setelah beberapa hari baru kali ini dia balas. Coba balas ah! Siapa tahu dia mau balas lagi.”


Arjun : “Hai Din, selamat malam. Terima kasih kembali ya, sudah mau membalas pesanku. Kamu suka cokelat dan bunganya?”


Arjun memandang ponselnya lekat-lekat, detik berganti menit, menit berganti jam, namun harapannya untuk memperoleh balasan kembali dari Medina tak kunjung datang. Hatinya yang berbunga-bunga di awal kini mulai melayu. Ia pun memilih menyerah menunggu balasan pesan Medina dan segera tidur.


.


.


.


***


Setelah berbelanja beberapa kebutuhan, kini Fadhil telah memasuki gerbang rumah barunya dengan Mecca. Di depan pagar, Mecca dan Fadhil langsung disambut oleh Pak Aang penjaga keamanan rumah itu.


Fadhil memperkerjakan Pak Aang dan Alif, Anak laki-laki sulungnya sebagai keamanan secara bergantian di rumah baru mereka. Sedangkan dua ART dan istri Pak Aang hanya bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore.


Begitu memasuki halaman rumah yang didominasi oleh warna putih itu, secara spontan Mecca membelalakkan matanya serta menutup mulutnya yang terbuka lebar. Rasa kagum memenuhi hati dan pikirannya.


Rumah mewah nan indah bergaya mediterania dengan halaman yang luas, sungguh memanjakan indra penglihatannya. Speechless, hanya itu yang dapat menggambarkan keadaan Mecca saat ini.



Setelah memarkirkan mobilnya, Fadhil turun dari bangku kemudi lalu membukakan pintu di sisi kiri Mecca. Namun istrinya tersebut hanya duduk terpaku tanpa kata.


“Yank.” Tegurnya tak mendapat jawaban.


“Sayang.” ulangnya kembali.


“Hei Yank!” tegurnya dengan nada yang sedikit ditinggikan.


“Eh... I-iya, ke-kenapa Mas?” jawab Mecca tergagap karena terkejut.


“Ayo turun, Aku pegel nih bukain pintu dari tadi.”


“Maaf Mas, speechless banget lihat rumah Kita Mas. Ini sih benar-benar rumahku istanaku.” Ujarnya dengan raut wajah haru.


“Ya sudah, kagumnya dilanjut nanti, masuk dulu yuk.” Ajaknya sembari menggandeng tangan istrinya.


“Mas ini serius rumah Kita?” tanyanya meyakinkan.


“Sepuluh juta serius.” Jawabnya sembari mencium puncak kepala Mecca.


Kekaguman Mecca tak habis-habis ia rasakan saat Mereka mulai masuk ke dalam rumah.


“Mas kenapa kemarin-kemarin Aku enggak boleh ke sini dulu?”


“Kan kemarin furniture yang Aku pesan dari Maminya Arjun belum semua datang yank, Aku maunya semua sudah lengkap dulu.”


“Kamu berhasil Mas. Terima kasih ya, ini luar biasa. Aku suka banget Mas, I love you, emmuuuaaahh...” Ujarnya sembari mencium bibir Fadhil.


“I love you more.”


“Lihat-lihat semua ruangannya yuk Mas, Aku penasaran nih.” Ajak Mecca menarik lengan Fadhil.


“Ada ruangan yang paling penting dan harus Kamu lihat lebih dulu yank, untuk yang lain-lain bisa menyusul besok.”


“Ruangan apa itu Mas?” tanya Mecca penuh penasaran.


“Mau tahu?”


“Mau dong.”


“Ya sudah, yuk!” ajak Fadhil sembari menggendong tubuh Mecca ala bridal style.


“Aaahhh... kok pakai digendong segala sih Mas, turunin Ah.” Teriak Mecca kaget namun racauannya tak dihiraukan Fadhil.


Setelah melewati ruang tamu, kemudian ruang tengah, Fadhil menaiki tangga, dan mulai membuka pintu pada sebuah ruangan.


Ternyata ruangan itu adalah kamar tidur utama berukuran master tempatnya dan Mecca akan menghabiskan waktu beristirahat.


“Maaaas...” panggil Mecca menghentikan kegiatan Fadhil.


“Apa lagi yank?”


“Aku...” ucapnya terpotong.


“Stop! Jangan alasan lagi ya, Aku tahu kamu sudah berhenti datang bulan.”


“Bukan itu! Aku mandi dulu ya.” Rengeknya.


“Enggak! Kelamaan.” Jawabnya sembari melepas pakaiannya.


“Maaas, sabaaaaar...” ujarnya terhenti.


Dengan cepat Fadhil melahap bibir Mecca tanpa ampun. Ia hanya memberikan Mecca jeda sesekali untuk mengambil nafas. Tangannya yang mulai lihai kini beraksi mencoba melepas seluruh pakaiannya dan Mecca secara bergantian.


Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu, kegiatan melucuti tiap helai pakaian yang menempel itu pun terus dilakukan tanpa melepaskan ciuman memburunya pada bibir Mecca.


Kecupan bibirnya semakin turun ke tiap inci tubuh Mecca, menyapu tiap bagian tanpa luput satu pun. Tanda merah kepemilikan ikut menghiasi tubuh mulusnya. Lenguhan dan desahan Mecca pun tak dapat tertahan, ia sungguh merindukan sentuhan Fadhil saat ini.


Fadhil memberikan rangsangan pada tubuhnya dengan baik, tiap sentuhannya seakan memabukkan. Kepuasannya memaksa Mecca untuk menginginkan lebih.


Kini ia membalikkan tubuhnya di atas suaminya. Walau terkejut, namun Fadhil mengikuti keinginan Mecca pasrah.


Mecca mulai mengecup tiap inci tubuh Fadhil. Dadanya yang bidang membuat Mecca ingin berlama-lama merabanya. Sentuhannya pun kian lama kian menurun.


Ia memberanikan diri untuk mengambil inisiatif. Ia pun menggenggam pusaka yang telah mengeras itu, kemudian menggerakkannya ke atas dan ke bawah sembari melihat ekspresi suaminya atas apa yang ia lakukan.


Setelah ia rasa cukup, kini mulutnya yang mungil mengambil alih pekerjaan tangannya. Hal itu membuat Fadhil terus menerus memanggilnya dengan memekik.


“Yaaaaaank, uuuuuhhhh...”


Setelah beberapa lama kegiatannya tersebut, Mecca duduk di atas tubuh kekar suaminya, mencoba melakukan penyatuan yang didominasi olehnya. Walau kaku dan malu, namun ia terus mencoba dan berusaha memberi kepuasan pada suaminya.


Malam mulai berganti pagi, sinar hangat matahari menyeruak masuk ke sela-sela tirai jendela kamar. Mecca masih setia dengan alam mimpinya, sedangkan Fadhil telah rapi berdiri di depan standing mirrornya mencoba merapikan dasi yang telah terpasang.


“Yank... Bangun! Sarapan yuk.” Ujar Fadhil menoleh pada Mecca.


“Yank, matahari sudah muncul tuh.” Ucapnya masih tak mendapat tanggapan.


“Ya sudah Aku sarapan sendiri, Aku langsung ke kantor ya nanti.”


“Maaas ikut.” Jawab Mecca dengan suara parau khas orang bangun tidur.


Dengan mata masih tertutup, rambut yang acak-acakan, serta tubuh polos penuh tanda merah, Mecca duduk di ranjang dengan tiba-tiba. Fadhil tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut, ia kemudian menyelimuti tubuh mungil istrinya dengan selimut.


“Ikut kemana?” tanyanya sembari duduk di hadapan Mecca yang masih menutup matanya.


“Kantor.”


“Enggak usah.”


“Kan Mas sudah janji Aku boleh ikut ke kantor lagi setelah Kita pindah.” Cerocosnya cepat sembari membuka matanya lebar-lebar.


“Besok ya, sekarang Kamu di rumah saja dulu yank, lihat-lihat rumah dulu. Katanya mau kenalan sama rumahnya.”


“Benar besok sudah boleh ikut?”


“Iya benar.”


“Janji?”


“Iya janji.”


“Oke.” Ujarnya singkat kemudian membaringkan kembali tubuhnya.


“Loh kok tidur lagi, enggak temani Aku sarapan?”


“Mas hari ini Aku enggak temani dulu ya, capek nih gara-gara perbuatan Mas Fadhil!” jawabnya dibalik selimut.


“Hahahaha... Iya deh.” Jawab Fadhil sembari mencium kening Mecca kemudian pergi dengan segera.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.