
Medina masuk ke kamarnya dengan dada naik turun tersengal-sengal. Ia merasa lelah karena berlarian sembari menaiki tiap anak tangga, selain itu jantungnya yang berpacu lebih cepat karena ucapan Arjun padanya membuat semakin tak karuan.
Medina mulai menarik dan menghembuskan nafas sesuai ketukan yang ia buat, ia berusaha semaksimal mungkin menenangkan diri dan hatinya saat ini.
Ia pun masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin berulang kali, lalu kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di ranjang sembari mendengarkan musik melalui headphone yang telah terhubung ke ponselnya.
Dengan mata tertutup ia mulai menghilangkan bayangan Arjun di benaknya. Ia menggelengkan kepala berkali-kali untuk mengusir kata-kata Arjun yang terus terngiang di telinganya.
“Maafkan Aku Arjun, Aku belum siap menjawab pertanyaanmu. Pergilah dari pikiran dan hatiku untuk sementara.” Ucapnya pada bayangan Arjun di ujung khayalannya.
Sedangkan Arjun saat ini masih tetap terpaku di sofa berwarna putih gading itu. Ia menatap langit-langit Villa dengan hampa. Untuk beberapa saat ia tidak melakukan apa pun, hingga Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Seperti yang dilakukan Medina, Arjun pun merebahkan diri di ranjang dan mulai memutar playlist musik favoritnya. Ia berharap, semoga musik yang kini melantun lembut di kamar itu dapat menenangkan hatinya yang telah gundah gulana, paling tidak musik tersebut dapat membantu meredam suara bising Mecca dan Fadhil yang masih bertempur saat itu.
“Kuat bener Loe tong, sudah hampir dua jam nggak nyembur-nyembur tuh Bembi. I pity you, Mecca!” ucapnya lirih lalu perlahan matanya pun terpejam mulai terlelap.
Pagi telah menjelang, sinar mentari memancarkan kehangatannya memasuki kaca jendela tanpa tirai tersebut. Fadhil berdiri di dekat jendela, melihat pemandangan laut yang terbentang luas memesona.
“Mas hari ini rencananya Kita mau ke mana?” tanya Mecca yang kini telah menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
“Naik ke puncak bukit di ujung jalan sana yuk yank, bisa lihat pemandangan laut dari atas.”
“Ayo saja. Mas ajak Kak Arjun sana, Aku yang ajak Kak Dina.”
“Oke!” sahut Fadhil singkat.
Fadhil dan Mecca pun bersama-sama keluar kamar dan mulai mengetuk pintu kamar Medina dan Arjun secara terpisah.
“Enggak dibuka nih Mas.”
“Sama! Masuk langsung saja yank.” Jawab Fadhil sembari membuka pintu kamar Arjun dan Mecca membuka pintu kamar Dina yang sama-sama tidak dikunci.
Fadhil mulai mendekati Arjun yang masih terlelap tidur, ia mulai membangunkan Arjun dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Hei onde-onde, bangun Loe!”
“Hmmm.”
“Bangun woi!”
“Berisik!”
“Pasien Loe nunggu tuh!” ujar Fadhil meninggikan suaranya.
Seketika Arjun berdiri dari tidur lelapnya, namun masih setia dengan mata tertutup dan bantal di genggaman tangannya lalu dengan spontan ia menyapa.
“Silakan masuk Bu! Halo Adik manis apa kabar?” ujarnya tanpa sadar. Tindakannya itu membuat Fadhil tertawa terpingkal-pingkal menjadikan Arjun tersadar dari keusilan Fadhil.
“Sialan Loe! Ngerjain Gue!” amuk Arjun sembari melempar bantal ke wajah Fadhil yang ditangkisnya dengan sigap.
“Hahahaha... Ayo mandi sana Adik manis!” tegurnya usil.
“Gue semalam telat tidur, jadi masih ngantuk.”
“Ngapain sih Loe pakai begadang segala?”
“Gara-gara suara kucing berantem, jam tidur Gue jadi mundur!”
“Hah? Apaan, semalam enggak ada apa-apa kok.”
“Yang indehoi mana sadar!” jawabnya ketus.
“Oh... Hahaha, Loe dengar ya suara kenikmatan Gue? Iri kan? Makanya cepat nikah, biar enggak karatan tuh yang di bawah.” Ujarnya sembari menunjuk sesuatu di antara paha Arjun.
“Ganggu Loe! Enggak punya adab! Sudah tahu di sebelah ada penghuni, suara enggak direm-rem.”
“Enak Bro, mana bisa nahan!” jawab Fadhil sembari menunjukkan raut wajah kepuasan.
“Pergi sana!”
“Gue mau ngajakin Loe naik bukit, cepat mandilah!”
“Gue tidur saja!”
“Tunggu 5 menit!” ujarnya meninggalkan Fadhil dan masuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat menunggu Arjun dan Medina bersiap, Mereka pun pergi berjalan-jalan. Di sepanjang jalan banyak tumbuh bunga-bunga cantik beraneka ragam jenis yang enak dipandang mata.
Wangi semerbak bunga-bunga memberikan aroma relaksasi bagi siapa saja yang menghirupnya. Mecca menggandeng erat lengan Fadhil sembari berlarian kecil ke sana dan kemari.
“Kuat juga Mecca, setelah digempur habis-habisan sama lemper abon masih energik saja, salut Gue!” gumam Arjun pelan. Namun gumamannya ditanggapi tawa kecil oleh Medina yang tepat berada di belakangnya.
“Eh ada Dina di belakang. Habis ngetawain Aku ya?” tanyanya sembari membalikkan tubuh dan berjalan mundur.
“Enggak kok, lagi ngetawain pohon.” Jawabnya asal.
“Pengalihannya bisa saja deh! Jalan samping Aku sini, nanti kalau di belakang bisa ketinggalan loh.” Ujarnya penuh rayu.
Dengan melambatkan langkahnya, Arjun berusaha mengikuti langkah kaki Medina, sehingga ia dapat berjalan beriringan dengan gadis cantik tersebut.
Tak ada satu pun yang saling membahas kejadian semalam di antara keduanya. Walau tanpa saling berucap, namun Arjun dan Medina seperti telah sepakat untuk melanjutkan hubungan Mereka seperti biasa.
Perjalanan yang cukup melelahkan itu berhenti di puncak bukit. Kelelahan Mereka terbayar dengan pemandangan indah tersebut. Mecca dan Fadhil tak menyia-nyiakan momen itu, keduanya langsung melakukan wefie saat itu juga.
Di saat Mecca dan Fadhil sibuk dengan kenarsisannya, Medina dan Arjun justru mencari tempat istirahat sejenak. Mereka duduk di pinggir jembatan di atas sungai kecil. Walau jarak antara Arjun dan Medina cukup jauh, namun keduanya masih sering melempar senyum dan tatapan penuh arti.
Pagi hingga siang hari ini, Mereka lewati dengan berjalan bersama-sama. Mereka juga menyeberang menggunakan speed boat untuk mengunjungi pasar tradisional di daerah setempat.
Mereka membeli beberapa barang untuk diri sendiri dan sebagian untuk oleh-oleh. Walau liburan Mereka masih menyisakan beberapa hari, namun tampaknya Mereka ingin menyelesaikan urusan itu agar lebih dapat menikmati liburan dengan tenang.
Saat sore menjelang, Fadhil dan Mecca kembali bermain di sekitar pantai. Mereka berjalan bergandengan tangan menjauh dari Villa. Serasa tak ada puasnya, pantai bagai mainan baru yang menyenangkan untuk Mereka.
Suasana yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang menenangkan semua itu bagai momen langka yang sulit didapatkan jika Mereka kembali ke ibu kota.
Sedangkan Arjun dan Medina hanya duduk di halaman Villa melihat tarian ombak yang tak pernah lelah menghantam batu karang.
“Din, foto bareng yuk. Mau?”
“Hah? A-Aku...” ucapnya terpotong.
“Gini deh, kalau Kamu enggak nyaman Aku simpan foto wajah Kamu, ya sudah Kamu enggak usah nunjukin wajah juga enggak apa-apa kok. Yang penting Aku tahu kalau di foto itu Kamu.” Ujarnya lembut.
“Foto seperti apa? Kamu enggak minta Aku berdiri di pojokkan sambil menutup wajahku dengan rambut dan jadi penampakan disudut layar HP Kamu kan?” tanyanya memastikan.
“Hahahaha... Kocak! Lucu juga Kamu!” tawanya lepas.
“Tanya serius juga!” ujar Medina cemberut.
“Sorry-sorry, habis Kamu lucu banget sih. Foto terbang saja!”
“Hah, terbang?” tanya Medina bingung, namun ditanggapi gerakan alis naik-turun oleh Arjun.
Setelah berfoto bersama, Arjun pun mengunggah foto itu di laman social medianya dengan caption “Ku Kejar Ke mana pun Kau Berlari.” Unggahnya tersebut ia tunjukkan pada Medina, ia pun tertunduk tersipu malu menyembunyikan senyum merekahnya.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.