AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 21. Terlambat Pulang



Wajah masam itu makin tampak berkerut pada Fadhil, tatkala ia melihat meja kerja Mecca telah rapi bagai tak ada tanda-tanda pemiliknya.


“Mulai nggak ngehargai aku dia, bisa-bisanya pulang lebih dulu tanpa pamit atau menungguku!" keluh Fadhil dengan marah.


“Makanya bos ikuti saran saya, kasih hadiah saja." Jawab Faiz yang mendengar celetukan bosnya itu.


“Enak banget dong! Sudah nggak percaya suami, marah dan cuekin, terus sekarang nggak ngehargain gini. Masa perilaku begini malah dikasih hadiah." Sewotnya tak sependapat.


“Dari pada nggak dapat jatah malam berhari-hari bos? Bikin pecah kepala nggak sih?” Jawab Faiz sekenanya.


“Entenglah itu, kamu kira aku semesum itu apa? Sampai butuh banget gitu jatah malam?” ngeremehin banget kamu Iz." Jelasnya dengan nada menantang.


“Ya kali saja bos, kan saya cuma kasih saran."


“Sekarang aku benar-benar marah, lihat saja aku juga bisa kalau cuma mogok ngomong."


.


.


.


***


Sedari pagi hujan tampak setia mengguyur kota. Sudah berjam-jam hujan turun lalu berhenti sesaat dan mulai turun kembali. Bagai langit yang sedang bermain-main hal itu terus terjadi berulang seharian ini.


“Sepertinya aku agak demam. Aaahh... pusing sekali." Keluh Medina yang berusaha bangun dari tidurnya yang singkat.


“Haus sekali tapi aku pusing. Aduh, ssstttt...” ujarnya menahan sakit sembari memijat kuat dahinya.


Dengan gontai ia mulai berusaha berdiri sembari menopang tubuh lemahnya pada dinding. Ia ingin ke dapur untuk mengambil air minum yang letaknya agak jauh dari kamar tamu tempatnya saat ini berada.


“Loh Kak Dina kok di kamar tamu”. Tegur Mecca yang baru saja sampai rumah dan berpapasan pada Medina yang baru keluar dari kamar tamu.


“Eh Dik, sudah pulang?! Mana Fadhil?” jawabnya setengah kaget.


“Aku pulang sendiri kak, Mas Fadhil masih sibuk.“ Ujarnya berbohong. “Kakak kok di kamar tamu?”


“Oh ini... Ehm... Kakak sengaja Dik pindah sementara untuk menghemat waktu kalau-kalau Kakak buru-buru keluar rumah, kamu tahu kan Kakak lagi sibuk." Jawabnya beralasan.


“Oh gitu, aku kira Kakak tidak nyaman karena ada Mas Fadhil di sini." Tebaknya memastikan.


“Ya enggaklah Dik, jangan mikir gitu ya." Jawabnya menenangkan.


“Iya Kak. Tapi kok Kakak pucat begitu, Kakak sakit?” tanyanya khawatir.


“Sepertinya demam."


“Sudah minum obat?”


“Belum."


“Kenapa keluar kamar? Istirahat saja Kak, nanti aku ambilkan obat ya."


“Kakak haus."


“Ya sudah sini aku bantu Kakak dulu rebahan di kamar, nanti aku ambilkan obat sama minum."


“Terima kasih ya Dik."


“Nggak usah sungkan Kak." Jawab Mecca sembari memapah Medina dan mendudukkannya di ranjang.


Setelah beberapa saat, Mecca mulai memberikan obat dan sudah menyiapkan seteko air putih dan beberapa camilan yang ia taruh di nakas samping kanan ranjang tempat Medina berada.


“Kalau demam harus banyak minum air putih Kak, Kakak harus banyak istirahat biar pusingnya hilang, usahakan jangan telat makan, camilannya dihabiskan ya."


“Terima kasih ya Dik. Maaf merepotkanmu."


“Enggak ada kata merepotkan. Kita kan saudara harus saling menjagalah. Lagian Kakak itu kurang istirahat, kalau sudah belajar lupa diri deh." Protesnya dengan nada kesal.


“Tes besok ini penentu Dik, Kakak harus maksimal berusaha. Ini cita-cita Kakak sejak kecil."


“Iya, tapi nggak sampai harus mengorbankan istirahat juga dong."


“Iya deh. Maaf ya."


“Hhmmm... ya sudah Kakak istirahatlah aku mau masak makan malam."


“Maaf ya Kakak nggak bisa bantu dulu."


“Iya nggak apa-apa. Jangan minta maaf terus memang ini lebaran?” cengirnya lebar diikuti senyuman kecil dari Medina.


Makan malam keluarga di rumah Pak Pradipta berjalan seperti biasa, namun kali ini tanpa kehadiran Fadhil.


Dengan alasan bahwa suaminya sedang sibuk sehingga terlambat pulang, Mecca meminta Ayah dan Kakaknya makan terlebih dahulu, sedangkan dia memutuskan untuk makan bersama Fadhil nanti.


Kini Mecca telah berada di kamar, ia mencoba mengisi waktu luangnya menunggu Fadhil pulang dengan mengerjakan skripsinya.


Entah mengapa pikirannya menjadi tak fokus. Sudah berkali-kali ia berusaha berkonsentrasi namun pikirannya itu tetap berada di tempat lain. Ia kembali membayangkan suaminya dan kejadian hari ini di kantor. Masih ada rasa kesal, cemburu, dan curiga yang terbesit dalam hatinya.


“Sudah jam segini Mas Fadhil kemana sih?”


“Apa aku sudah keterlaluan ya pulang sendiri tanpa pamit? dia pasti marah deh sampai belum pulang juga sekarang."


“Atau dia juga jadi ikut kesal karena aku sudah mogok bicara? padahal dia sudah berusaha merayuku tadi."


“Atau mungkin Mas Fadhil nggak mau pulang ya, karena mau balas sikapku?”


“Tapi aku marah kan wajar. Istri macam apa yang nggak marah kalau suaminya dibelai-belai wanita lain. Memang bukan dia sih yang salah, tapi kenapa tangan wanita penggoda itu nggak langsung ditepis."


“Jahat banget deh kamu Mas kalau sampai nggak pulang."


Mecca meluapkan segala pikiran dan kecemasannya tanpa henti melalui pertanyaan-pertanyaan dan celotehnya pada dirinya sendiri.


.


.


.


***


Mobil Lexus Ux itu masih terjebak macet di jalan ibu kota yang padat merayap.


Ditemani hujan dan alunan musik, perasaan Fadhil semakin sendu. Ia mulai merindukan istri tercintanya itu. Ia yakin, jika saat ini istrinya pasti sedang memikirkan dan mengkhawatirkannya.


Terbesit dalam pikirannya hal-hal yang akan terjadi saat ia sampai rumah nanti, apakah istrinya masih marah atau malah semakin marah dikarenakan keterlambatannya ini, atau justru istrinya malah menangis tersedu-sedu karena merasa bersalah mendiamkan dan meninggalkannya tadi?


Pikirannya itu membuat mimik wajah Fadhil tampak berubah-ubah, kadang ia terlihat tersenyum manis, kadang ia terlihat mengkerutkan dahinya. Hal itu tak luput dari pandangan Faiz melalui kaca spionnya.


“Bos sehat?” tanyanya acuh.


“Cerewet kamu Iz! mau di potong gaji?”


“Kejam amat Bos."


“Berisik!"


“Bos akhirnya ikuti saran saya juga kan, tuh 1 kantong gede sudah nangkring saja di sebelah." Ujar Faiz sembari menaik turunkan kedua alisnya.


“Sudah nyetir saja yang benar!"


“Tapi hati-hati Bos, bisa jadi gara-gara terlambat begini malah nambah masalah baru. Habis tadi waktu di toko Bos terlalu lama sih milihnya."


“Sudah diam Iz!"


“Tapi saya yakin Bos, setelah lihat isinya Nyonya Muda pasti langsung klepek-klepek." Cerocos Faiz terus mengacuhkan teguran Fadhil.


“Potong gaji 30%!"


“Ups! ampun Bos." Jawabnya dengan gerakan seperti menutup mulutnya menggunakan gembok dan membuang kuncinya, yang ditanggapi Fadhil dengan memutar kedua bola matanya.


Setelah 20 menit berlalu, mobil yang dikendarai pun sampai tujuannya. Fadhil turun dengan membawa 1 kantong besar berwarna biru, sedangkan Faiz telah pamit pulang langsung.


Tok... Tok... Tok...


“Assalamualaikum." Ketuk Fadhil memberi salam yang langsung dibukakan oleh seseorang.


“Wa’alaikumsalam." Jawab Mecca dengan wajah cemberut.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.