
Malam yang melelahkan rasanya tak habis dilewati Medina. Saat tubuhnya semakin lelah, namun matanya tetap harus bekerja mempelajari buku-buku hukum tebal miliknya untuk persiapan seleksi kejaksaan selanjutnya.
Setelah merapikan dan membersihkan dapur, Medina mulai memasuki kamarnya yang tepat bersebelahan dengan kamar Mecca. Baru beberapa langkah kakinya memasuki ruang kamarnya itu, suara-suara aneh dari Adik dan Iparnya mulai terdengar, awalnya samar lama-lama semakin jelas.
Ingin rasanya Medina menghiraukannya, namun membayangkan apa yang terjadi pada sepasang pengantin baru itu di sebelah dinding kamarnya membuatnya semakin tak nyaman. Ia memutuskan untuk pindah ke kamar tamu yang berada di lantai bawah tepat berseberangan dengan kamar Ayahnya untuk sementara waktu.
Dengan buru-buru, ia mengepak beberapa pakaian dan peralatan make up serta buku-bukunya ke dalam tas jinjing yang cukup besar, kemudian dengan langkah seribu ia segera menuruni tangga menuju kamar tamu dengan wajah malu kemerahan bagai kepiting rebus.
“Nak, mau kemana bawa tas sebesar itu?” tegur Pak Pradipta yang berpapasan dengan Medina saat ingin keluar kamar.
“Ini Yah, Dina izin tinggal di kamar tamu dulu sementara selama Mecca dan Fadhil di sini. Bolehkan yah?” izinnya hati-hati.
“Boleh saja, tapi kenapa tidak di kamarmu sendiri?”
“Tidak apa-apa Yah, Dina cuma ingin Fadhil lebih nyaman saja. Rasanya masih canggung jika berpapasan." ujarnya beralasan.
“Kalian harus lebih akrab, dia kan suami Adikmu. Jangan dihindari." Jawab Ayahnya menasehati.
“Nanti pasti bisa akrab kok Yah."
“Ya sudah, istirahatlah Nak. Ini sudah larut."
“Tapi Ayah mau kemana keluar kamar?”
“Ayah mau mengecek pagar, pintu-pintu, dan jendela dulu, siapa tahu belum di kunci."
“Dina saja Yah! sekarang Ayah masuk ya, Ayah istirahat." Pinta Medina sembari mendorong ayahnya ke dalam kamar. Ia tidak ingin jika Ayahnya juga mendengar suara-suara mistis dari kamar Adiknya itu.
Suasana kamar Mecca tampak sunyi, Fadhil masih merasa kesal atas kegiatannya yang harus di hentikan dengan paksa.
Mecca melihat suaminya dengan tawa tertahan. Ia mulai menenangkan perasaan Fadhil yang pasti kacau balau itu.
"Sudah dong Mas, jangan cemberut terus, ketampananmu berkurang tuh".
"Kesal!"
"Iya aku tahu, tapi mau bagaimana lagi dong? atau aku bantu Mas saja?"
"Nggak enak kalau nggak ada lawannya."
"Kalau gitu Mas harus sabar!"
“Iya deh. Ngomong-ngomong aku ada rencana mau ambil 3 ART (Asisten Rumah Tangga) yank. 1 untuk rumah Ayah, 2 untuk rumah kita."
“Ngapain Mas? Nggak usah! Ayah pasti juga nggak mau. Ayah nggak suka ada orang asing di rumah."
“Kamu kasih pengertian ke Ayah dong yank. Kamu akan ikut aku di rumah kita sendiri, itu pasti jadi menambah beban Dina untuk urus rumah, apalagi dia lagi sibuk-sibuknya gini, kasihan loh. Untuk cari ART sampai gaji bulanannya biar aku yang urus."
“Begitu ya Mas? Benar juga sih. Tapi Ayah mau nggak ya?”
“Kalau nggak aku langsung saja bawa ART terus langsung jelasin. Jadi Ayah nggak sempat nolak. Bagaimana?”
“Terserah Mas saja deh, aku ngikut. Tapi kenapa ART rumah kita harus 2 si mas?”
“Rumah kita lebih besar sedikit yank. Lagian aku nggak mau kamu capek ngurus rumah, kecuali masak ya. Aku cuma izinin kamu masak, selebihnya biar ART yang urus. Kamu fokus saja sama kuliahmu dan aku." Jelas Fadhil sembari mencium punggung tangan Mecca.
“Bisa saja nih bayi besar."
“Hahaha... bayi besar ini bisa buat bayi juga loh."
“Iya percaya kok. Eh tapi ARTnya cari yang usia 30 tahun ke atas ya, nggak boleh cantik, harus sudah menikah." Ujar Mecca memberi syarat.
“Siap laksanakan." Jawab Fadhil dengan terkekeh.
“Iiihhh... ketawa lagi." Cubit Mecca gemas.
“Aku mau telepon Faiz dulu." Ujar Fadhil sembari mengambil ponselnya di atas nakas dan melakukan panggilan pada Faiz.
Setelah malam yang panjang berlalu, pagi menjelang ditemani dengan suara rintik hujan. Mecca lebih dulu menyiapkan sarapan pagi, ia memasak misoa goreng yang diberi daging giling dan brokoli serta telur dadar dengan parutan keju juga wortel sebagai pelengkapnya.
Mecca memasak bekal makan siang untuknya, Fadhil, dan juga Ayahnya. Karena hari ini ia mulai magang lagi menggantikan Nindy yang telah cuti.
“Maaf Dik, Kakak terlambat bangun. Ada yang bisa dibantu?” tanya Medina tergopoh-gopoh.
“Kakak duduk saja di meja makan, semua sudah siap kok. Aku juga sudah buat bekal makan siang Ayah. Kakak hari ini di rumah saja kan?”. Tanyanya memastikan.
“Iya Dik, Kakak mau belajar. Kamu mulai magang lagi?”
“Iya kak."
“Apa nggak sebaiknya pengantin baru di rumah dulu?”
“Nggak bisa Kak, per hari ini Mbak Nindy sudah mulai cuti. Ya sudah Kak, aku panggil Mas Fadhil dulu, Kakak bantu aku tolong panggil Ayah ya, kita sarapan sama-sama." Cerocos Mecca cepat.
“Oke."
Tok ... Tok ... Tok ...
Ketuk Mecca pada pintu kamarnya, lalu membuka pintu.
“Mas ayo sarapan, aku sudah siapin di bawah."
“Ini mau turun yank, tapi kamu kok sudah rapi gitu, mau kemana?”
“Ya ke kantor bareng Mas dong."
“Bentar-bentar, kayaknya kamu sudah nggak perlu magang lagi deh yank. Nanti untuk urusan nilai aku kasih sempurna, terus semua data yang kamu butuhkan aku bisa bantu carikan, kamu di rumah saja mulai hari ini."
“Ya nggak bisa gitu dong Mas, meja Mbak Nindy kosong loh, kan mulai hari ini sudah cuti."
“Bukan masalah, posisi Nindy bisa digantikan dari devisi lain."
“Paling nggak biarin aku ngawasin kamu Mas selama masa magangku."
“Ya ampun yank, kamu nggak percaya sama suamimu?” tanyanya lemas.
“Bukan begitu..., tapi paling nggak biarin aku terus dekat sama kamu Mas, aku nggak bisa jauh-jauh nih." Rengeknya mencari-cari alasan dengan wajah super imut yang dibuat-buat.
“Oh my God, kalah telak deh aku kalau begini." Keluh Fadhil yang ditanggapi kekehan Mecca kemudian mencium bibir Fadhil sekilas sembari mengucap kata pamungkasnya.
“I love you so much my everything."
“I love you too my world."
“Yank, hujan-hujan gini enaknya bikin adik loh. Bolos yuk." Ajaknya genit sembari menggesek-gesekkan tubuh bagian bawahnya pada bagian belakang Mecca.
“Mulai deeeeh Om-Om mesum ini, iiiiihhhh...!” gemas Mecca sembari mencubit pipi suaminya.
“Aaw... Aaw... Aaw... Sakit yank!" keluh Fadhil sembari meringis.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.