AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 49. Anakku Adalah Adikmu



Author PoV (Pak Permana)


(Flashback On)


3 Tahun Lalu


------------------


Pak Permana menerima laporan melalui kaki tangannya. Ia membuka amplop coklat besar dengan terburu-buru. Di dalamnya terdapat beberapa foto, catatan tertulis, sebuah majalah, serta alat perekam suara berbentuk pena.


Foto-foto itu menunjukkan kedekatan Fadhil dengan Rani, ada juga foto Rani yang sedang berpelukan dengan pria selain putranya, bahkan ada foto Rani yang sedang berkencan dengan beberapa pria lainnya.


Pak Permana beralih pada sebuah majalah. Majalah itu merupakan kumpulan foto-foto seksi wanita dengan pakaian mini atau pun tanpa busana. Saat Pak Permana membuka halaman tertentu ia melihat foto Rani tanpa busana lengkap terpampang besar. Ternyata wanita itu menjadi model salah satu majalah dewasa yang cukup terkenal.


“Bagaimana bisa Fadhil tidak mengetahui seperti apa wanita yang dipacarinya selama 3 tahun? Putraku yang terlalu polos!” ujar Pak Permana sembari melemparkan majalah tersebut ke sembarang arah.


Kemudian Pak Permana melihat selembar catatan tertulis dengan mengerutkan dahinya. Ia mulai bertanya, apa sebenarnya maksud tulisan tersebut. Dalam tulisan itu tercatat beberapa kata seperti selembar resep dengan bahasa khas kedokteran.


“Apa ini?” tanya Pak Permana pada anak buahnya.


“Itu obat perangsang tuan.”


“Apa?! Untuk apa dia membeli itu?”


“Silakan tuan dengarkan alat perekam suara itu.”


Pak Permana pun mengambil alat perekam berbentuk pena tersebut. Tanpa kesabaran Pak Permana mulai menekan tombol play di bagian atas pena. Dengan seketika alat itu pun mengeluarkan suara.


Rani : “Ian, aku kan sudah menemanimu malam ini. Kamu harus menepati janjimu ya.


Ian : “Karena aku puas denganmu pasti aku tepati. Tapi kenapa kamu butuh obat itu?”


Rani : “Aku mau berikan pada kekasihku.”


Ian : “Kekasihmu? Fadhil anak jutawan itu? Apa dia impoten sampai butuh obat itu? Hahaha...”


Rani : “Entah, aku juga tidak tahu! Selama 3 tahun berpacaran denganku dia satu kali pun tidak pernah menyentuhku. Mencium bibirku saja bisa dihitung berapa kali karena dia kan berkuliah di luar negeri.”


Ian : “Untuk apa sampai kau perlu menggunakan obat itu? Kau terlalu seksi untuk disia-siakan. Maju saja, dia pasti luluh.”


Rani : “Dia terlalu lurus.”


Ian : “Kau kan bisa pakai banyak trik.”


Rani : “Aku tidak bisa berlama-lama! Bahkan saat aku belum diperkenalkan dengan orang tuanya, aku sudah memperoleh ancaman dari papanya untuk menjauhi Fadhil. Jadi kalau aku hamil dengannya aku pasti punya senjata untuk mempertahankan manusia brankasku itu.”


Ian : “Kamu menyebutnya manusia brankas? Apa kamu tidak mencintainya?”


Rani : “Tentu saja aku cinta dia. Terutama hartanya! Karena itu aku ingin memilikinya.”


Ian : “Berhati-hatilah, biasanya kisah cinta dengan kalangan atas sering berujung tragis.”


Rani : “Kamu kenal aku dengan baikkan?”


Ian : “Baiklah, lupakan dia. Ayo kita lanjutkan ronde kedua.” Ujar laki-laki itu dengan suara menahan gairah. Terdengar suara Rani yang tertawa lalu mendesah.


“Dasar wanita murahan! Berani sekali dia mau menjebak anakku. Periksa kapan dia akan melakukan rencananya itu! Kita harus gagalkan apapun itu!” teriak Pak Permana memberi perintah sembari meremas alat perekam suara tersebut dengan erat.


***


Author PoV (Rani)


Rani masuk ke dalam sebuah hotel bintang 5. Ia melakukan pemesanan kamar pada resepsionis. Setelah itu, ia menuju kamar tersebut dan masuk ke dalamnya.


Tak beberapa lama seorang room service hotel menekan bel kamar Rani sembari menengok ke kanan dan ke kiri terus menerus.


“Tidak ada yang memperhatikanmu kan?” tanya Rani pada room service tersebut.


“Saya yakin tidak ada nona. Saya sangat berhati-hati.” Ujarnya sembari memasuki kamar tersebut dan menutup pintunya.


“Bagus! Sekitar 1 jam lagi kekasihku akan datang ke kamar ini. Aku mengundangnya untuk makan bersama. Kau masukkan obat ini ke minuman kami berdua. Kerjakan dengan baik, mengerti?”


“Dua gelas? Punya nona juga?”


“Tentu saja! Aku ingin bermain dengannya sampai pagi!”


“Ba-baik nona akan saya lakukan.” Jawab room service tersebut gugup sembari menerima obat perangsang dari Rani serta amplop putih berisi tumpukan uang tersebut.


Tepat 10 menit sebelum kedatangan Fadhil. Room service tersebut menyiapkan 2 set menu makan malam dan minuman. Ia menatanya dengan apik lalu ia mulai menyalakan lilin dengan aroma lavender.


Kemudian ia mulai mengeluarkan obat perangsang tersebut dan menaruhnya pada kedua gelas yang sudah terisi jus jeruk. Setelah melaksanakan tugasnya, ia pun mengirim pesan singkat kepada Rani sebagai kode.


Saat menerima pesan dari kaki tangannya tersebut, Rani menyunggingkan senyum kepuasan. Ia pun mengirim pesan melalui ponselnya kepada Fadhil, ‘Sayang, aku sudah menunggumu untuk makan malam di kamar hotel M nomor 3005. Aku sudah menyiapkan kejutan atas kedatangan serta kelulusanmu. Jangan lupa meminum jus jerukmu terlebih dahulu ya, agar kamu tidak terlalu terkejut nanti.’


Setelah cukup waktu Rani menunggu, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Saat ia mulai membuka kamar tersebut betapa terkejutnya dia. Seorang pria paruh baya telah duduk di sofa tempatnya akan melakukan makan malam bersama dengan Fadhil. Matanya pun terbelalak saat menyaksikan salah satu gelas berisi jus jeruk tersebut sudah habis setengahnya.


“Om, kenapa di sini?” tanya Rani bingung.


“Kau pasti tidak percayakan? Jebakanmu terhadap anakku tidak akan berhasil!” jawab Pak Permana dengan sinis.


“Fadhil mana om?”


“Jauhi anakku! Jangan dekati dia lagi. Kamu tidak pantas untuknya. Ingatlah ini bukan sekedar ancaman!” ucap Pak Permana dengan marah. Ia pun mulai melangkah ingin meninggalkan kamar tersebut, namun tiba-tiba tubuhnya terasa bagai terbakar.


Rasa panas yang luar biasa seperti tertahan dalam tubuhnya. Pikiran Pak Permana membuncah, ia mulai sulit mengendalikan dirinya.


“Kau! Apa kau memasukkan obat itu di minuman itu?” tanya Pak Permana dengan suara parau menahan gelisah.


“Bahkan om tahu rencanaku dengan obat itu? Iya benar, aku menaruhnya di minuman yang om tegak itu.” Jawab Rani menyeringai.


“Dasar wanita jahat!”


“Baiklah om. Kalau aku tidak mendapatkan Fadhil. Aku bisa mendapatkan om. Umpan yang lebih besar pasti lebih baik! Om beruntung dapat memiliki pengalaman dengan wanita muda sepertiku. Bahkan untuk malam ini, aku sudah melakukan banyak tes kesehatan. Aku sedang masa subur, aku akan memberikan anak lagi untuk om!” ujar Rani mulai melepaskan satu persatu pakaiannya.


“Kamu sungguh gila! Jangan coba-coba mendekat.” Jawab Pak Permana yang mulai merogoh kantong celananya berusaha mengambil ponsel dalam sakunya tersebut. Namun tubuhnya yang mulai bergetar hebat karena efek obat tersebut membuat ponselnya terjatuh dari tangannya.


Rani hanya tersenyum melihat kejadian itu. Ia mulai berjalan lambat dan menendang ponsel milik Pak Permana ke arah kolong ranjang dengan ukuran king size tersebut. Kemudian ia mulai mengambil jus jeruk miliknya dan meminumnya hingga habis.


Pak Permana seakan gelap mata, ia tidak mampu menahan godaan tubuh Rani yang kini tengah polos. Ia dan Rani pun mulai bergumul melakukan penyatuan demi penyatuan yang tak terhitung jumlahnya.


Di tengah kesibukannya tersebut, pesan singkat pun masuk ke dalam ponselnya. Pesan singkat itu dari Fadhil yang tengah meminta maaf kepadanya, ‘Sayang maafkan aku, apa bisa kita bertemu besok? Mamaku sedang tidak dapat ditinggal, ia sedih karena kucing kesayangannya sudah mati.’


Saat hari mulai siang, Rani berada di dalam kamar tersebut seorang diri. Ia melihat ponselnya dan membaca isi pesan Fadhil dengan menyeringai.


Di dalam kamar itu, Pak Permana sudah pergi meninggalkannya. Di atas ranjang terdapat sekoper uang tunai serta selembar catatan yang bertuliskan, ‘Gunakan uang ini untuk pergi dari negara ini. Uang ini akan cukup menghidupimu hingga bertahun-tahun. Jauhi anakku mulai hari ini.’



.


.


.


***


Di ruang keluarga rumah Pak Permana, Fadhil dan Mecca masih tercengang. Keduanya saling bertatapan dan menunjukkan ekspresi terkejut yang sama.


“Apa maksudnya ini pa?” tanya Fadhil pada Papa Permana bingung.


“Fahri anakku itu adalah adikmu sayangku.” Jawab Rani sembari melipat kedua tangannya.


“Aku enggak tanya kamu!” bentak Fadhil pada Rani.


“Dia belum tentu anakku. Kamu wanita yang melakukan hubungan itu dengan banyak pria. Berani-beraninya kamu mengaku-ngaku!” ujar Papa Permana geram.


“Berarti om mengakui kalau kita pernah menghabiskan malam bersama? Walau aku melakukannya dengan banyak pria, tapi aku sangat pemilih untuk hamil dengan siapa. Apa om ingat bagaimana jantannya om di malam itu? Aku saja tidak menyangka, di usia saat itu om masih juga luar biasa.” Jawab Rani dengan suara menggoda.


“Cukup! Dasar wanita tidak tahu malu!” ujar Mama Alisa mulai menjambak rambut Rani kuat.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


\=> Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.