AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 84. Fans



Apresiasinya gaes buat karya ini. Jangan cuma dinikmati doang ya tapi di pencet itu Vote/Tips, Like, Rate 5, dan Favoritnya.


-------------------------------------------


Selama dalam perjalanan menuju rumah, Pak Pradipta beberapa kali menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah. Arjun dapat melihat raut wajah berpikir Pak Pradipta tersebut yang duduk disisinya. Arjun memberikan kode mata pada Medina untuk melihat ke arah Pak Pradipta melalui kaca spion di hadapannya.


“Ayah kenapa, kok kayak kebingungan begitu?” tanya Medina berhati-hati.


“Sebenarnya kalian tahu sesuatu tidak tentang Bu Alisa dan Mas Mana itu sebenarnya ada apa?”


“Mak-maksudnya, Yah?” tanya Medina pura-pura tidak tahu, sedangkan Arjun mulai mengeratkan pegangannya pada kemudi dengan gugup.


“Ya, ayah beberapa kali melihat kegugupan Bu Alisa setiap membahas tentang Mas Mana. Kalian jujur sama ayah ya, apa kalian tahu sesuatu? Biar ayah tidak salah-salah dalam berkomunikasi nanti.”


“Kenapa ayah tiba-tiba bahas Mama Alisa sama Pak Permana?”


“Habis Bu Alisa selalu terlihat tidak nyaman setiap kali membicarakan Mas Mana. Ayah jadi sedikit merasa salah tingkah tiap kali ngobrol.” Ujar Pak Pradipta menceritakan seluruh hal yang ada dipikirkannya.


Pertanyaan Pak Pradipta membuat Medina dan Arjun saling lempar pandang. Memberikan tanda untuk menunjuk siapa yang harus menjawab pertanyaan Pak Pradipta terlebih dahulu.


“Dina? Arjun?” panggil Pak Pradipta menunggu jawaban.


Melihat Arjun yang tak bergeming, membuat Medina mau tidak mau harus menjawab pertanyaan ayahnya yang membuatnya sedikit gelagapan.


“Ehm... Dina kurang tahu, Yah. Ke-kenapa ayah tidak tanya langsung saja?”


“Apa boleh begitu? Bertanya masalah rumah tangga orang lain langsung ke sumbernya?”


“Dina bingung yah, itu kan masalah yang sensitif. Tapi kalau ayah merasa Mama Alisa tidak nyaman setiap membahas Pak Permana, ya ayah cukup hindari saja dulu, siapa tahu nanti Mama Alisa akan bercerita dengan sendirinya. Ta-pi selama ini Dina tidak melihat ada yang aneh kok, Yah.”


“Masa sih?” pertanyaan Pak Pradipta mendapat anggukan dari Medina. “Nak Arjun juga tidak merasa ada yang aneh?”


“Ehm... Iya yah, biasa saja. Tidak ada yang aneh kok.” Jawab Arjun mencari aman.


“Hem... Masa sih ini cuma perasaan ayah saja? Ta-pi rasa-rasanya...”


“Wah, sudah sampai rumah, alhamdulillah.” Ujar Medina menginterupsi ucapan Pak Pradipta.


Jarak antara rumah Pak Pradipta dan Mecca yang sangat dekat, menyelamatkan Arjun dan Medina dari rasa penasaran serta pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin akan terus diutarakan oleh Pak Pradipta.


“Kayaknya itu mahasiswa ayah deh, dia sudah nunggu di depan tuh.” Ujar Arjun menunjuk seseorang yang duduk di atas motor yang terparkir di samping pagar rumah.


“Loh, kok datang lebih cepat ya?! Sebentar-sebentar...” jawab Pak Pradipta sembari menurunkan jendela mobil.


“Arya, kamu kok datang lebih cepat?” tegur Pak Pradipta pada seorang pemuda tampan yang tak lain adalah mahasiswanya.


“Saya sudah hubungi bapak tadi, saya minta izin untuk datang lebih cepat.”


“Oh begitu?! Maaf ya, saya tidak memeriksa ponsel saya. Mari masuk, parkir saja motornya di halaman dalam ya.”


“Baik pak, terima kasih.” Jawab anak laki-laki itu dengan mengangguk-angguk sungkan.


Saat mobil Arjun telah terparkir, Pak Pradipta langsung berbicara sejenak dengan mahasiswanya tersebut lalu masuk ke dalam rumah. Pak Pradipta memberikan kode kepada Medina untuk mengajak mahasiswanya itu masuk bersamanya.


“Permisi, Arya ya? Silakan masuk dulu ya, tunggu di dalam saja. Ayah tidak akan lama kok.” Tegur Medina lembut.


Namun Arya yang terpesona dengan kecantikan Medina, membuatnya hanya terdiam dan mematung menatap lekat wajah ayu Medina.


“Ehem... Masuk bro, dari tadi CALON ISTRIKU ngajakin ke dalam loh.” Ujar Arjun menekan kata pada status Medina.


Melihat tingkah Arjun yang mulai mengecap tanda kepemilikan membuat Medina memutar kedua bola matanya dengan malas.


“E-Eh! I-iya, Kak!” jawab Arya kikuk.


Arjun tersenyum sesaat memandang Arya, lalu berjalan masuk beriringan bersama Medina yang sudah berada di rangkulannya dengan mesra. Menunjukkan status hubungannya pada pria tampan itu.


“Tanda bahaya gue nyala nih, yang begini-begini harus dikasih keras. Mana ganteng pula dia! Eh... Maksud gue biasa aja!” ucap Arjun dalam hati.


***


“Mas, teleponan sama siapa tadi?”


“Sama Pak Surya yang nangani kasus mama, yank.”


“Terus apa katanya?”


“Belum ada kemajuan, mereka itu kayaknya sudah profesional banget. Enggak ada satu pun jejak yang ditinggalkan, huuufffttt...” Fadhil menghembuskan nafas kasar sembari memijat-mijat dahinya yang mulai berkedut.


“Sabar ya mas, semoga mereka dapat segera ditangkap! Mas jangan ngelakuin apa-apa ya, serahkan semua ke kepolisian. Ingat ya, Mas?!” ujar Mecca menegaskan.


Mecca sangat hafal karakter Fadhil yang suka bertindak cepat. Mungkin jika Fadhil ikut andil dalam penyelidikan kasus ini, semua bisa berjalan lebih cepat. Karena Mecca tahu, koneksi suaminya itu tidak main-main di segala bidang. Hanya saja, Mecca tidak dapat menjamin emosi suaminya dapat stabil atau tidak saat menemukan para penjahat itu.


“Mas, kok enggak dijawab sih?”


“I-ya sayangku.” Jawab Fadhil gemas dengan nada bicara mendayu-dayu. “Ngomong-ngomong kamu lagi apa sih, kok baunya enak gini?”


“Aku lagi buat cheesy garlic knots white pizza sama cheesy garlic pull-apart bread. Mas harus cobain dua-duanya ya. Tapi ini tuh beda banget mas sama yang dijual di luar, ada tambahan rahasia alaku, pokoknya mantap.”


“Sudah panjang susah banget lagi namanya.”


“Hahaha, gitu deh! Eh, tapi aku jadi keingat sesuatu.”


“Keingat apa?”


“Dulu waktu aku masih SMP, aku pernah pergi ke restoran makanan barat sama ayah dan Kak Dina, terus aku pesan rice with sunny side up, sudah nunggu lama yang datang apa coba? Nasi putih sama telur mata sapi, Mas! Gemas enggak tuh?!”


“Wkwkwkwk... Telur mata sapi kan bahasa inggrisnya memang itu yank!” ujar Fadhil disela-sela tawa terbahak-bahaknya.”


“Ya aku kan enggak tahu mas, kalau telur mata sapi punya nama sekeren itu. Aku pikir bakal dikasih nama egg cow eye atau apa begitu!”


“Ya enggak selalu dijabarin lurus gitu kali yank, ada-ada aja kamu nih!” gemas Fadhil mengacak-ngacak rambut Mecca.


“Lagian sudah tahu telur dari ayam, kenapa malah sapi sih yang dapat gelar? Coba namanya ceplok egg pasti aku tahu tuh!”


“Serius, aku ngakak banget yank, hahaha...!” ujar Fadhil memegangi rahangnya.


“Nah... Nah... Nah... Nganga terus sih tuh mulut, jadi pegel kan? Mending mas stop deh ketawa, lagian enggak lucu-lucu banget loh. Sini ikut aku coba buatanku.” Mecca menuntun tangan Fadhil menuju meja makan.



“Wow... Visualnya sih oke, tapi kalau istri aku yang buat pasti enak banget sih ini. Padahal kalau kamu mau aku bisa belikan di luar, kenapa harus repot-repot buat?”


“Aku enggak apa-apa, sudah lama juga enggak masak-masak. Aku kangen masakin mas, memang mas enggak kangen makan masakanku?”


“Kangenlah, tapi aku lebih milih kamu istirahat aja.”


“Aku enggak apa-apa kok, sekarang aku lebih kuat. Ayo ‘Aaaaakkkhh’, buka mulutnya, pesawatnya datang, ngueeeeng!” ujar Mecca menyuapi Fadhil versi ibu ke anaknya.


“Heeemmm... En-nak banget!” jawab Fadhil susah payah dengan isi mulutnya yang penuh. “Panggil mama dong yank, suruh coba ini.”


“Sudah mas, tapi kata mama nanti. Mama lagi sibuk mainan sama Mumu tuh.” Fadhil hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Mecca di tengah kesibukannya mencomoti terus menerus kue buatan istrinya.


***


Matahari sudah memancarkan sinarnya, tanda pagi menyambut hari. Mecca, Fadhil, dan Mama Alisa telah bersiap untuk memulai hari barunya.


“Ma, ini Pak Yogi temannya Pak Mali. Beliau ini enggak kalah jagoannya sama Pak Mali kalau urusan bela diri loh, ya kan pak?”


“Ah... Pak Fadhil terlalu memuji.” Jawab Pak Yogi malu-malu.


“Pak Yogi ini...?” tanya Mama Alisa bingung.


“Pak Yogi ini Fadhil tugaskan untuk jadi sopir sekaligus bodyguard pribadi mama mulai hari ini.”


“Ta-pi...”


“Please, Ma!” Fadhil menatap mata Mama Alisa dengan tajam, membuat Mama Alisa tidak dapat berkutik.


“Pak Yogi, perkenalkan ini mama saya, Bu Alisa.” Pak Yogi langsung mengatupkan kedua telapak tangannya memberi salam.


“Mohon bantuannya ya pak untuk kedepannya, semoga bapak betah kerja sama saya.” Ucap Bu Alisa mengatupkan kedua telapaknya, membalas salam Pak Yogi.


“Sama-sama, Bu. Mohon bantuannya juga.”


Setelah melakukan wawancara singkat serta berbagi jadwal dan sebagainya, mereka semua pergi secara terpisah menuju mobil masing-masing.


“Oh iya yank, nanti malam aku mau ngegym ya sama Arjun.”


“Ikut, Mas!”


“Ya nemanin mas lah, masa ngegym perut gede gini! Di Mall kan mas?”


“Enggak yank, di tempat Arjun biasa ngegym. Memang kenapa?”


“Mau beli persediaan rumah sama beberapa barang pribadi aku. Hari ini Kak Dina aku minta datang ke restoran pagi juga, biar nanti bisa temani aku belanja. Jadi mas ngegym, aku belanja deh. Ganti lokasi dong mas, di Mall aja!”


“Oke deh kalau begitu, nanti aku bilang Arjun. Nanti aku jemput ke restoran ya yank.”


“Oke.”


***


Tepat pukul 7 malam Arjun telah tiba di tempat tujuan. Ia menunggu kedatangan Fadhil sembari melakukan stretching terlebih dahulu.


Selama 15 menit melakukan pemanasan dan perenggangan, Fadhil tiba ke tempat tujuan sembari melambaikan tangan pada Arjun.


“Polos bener ya wajah loe, enggak ada tampang-tampang ngerasa bersalah gitu gara-gara telat.” Sindir Arjun sinis.


“Ya kali lama, 15 menit doang aja pakai protes loe!”


“Gue kan enggak biasa ngegym di sini, tempat baru bikin gue ngerasa enggak PD tahu!”


“Kayak anak baru masuk sekolah aja loe, pake enggak PD segala. Malu sama umur tua loe!”


“Loe yang tua!” gerutu Arjun tak terima.


Beberapa saat setelah Fadhil melakukan pemanasan, ia mulai melakukan workout mengikuti Arjun yang sudah mulai duluan.


Selama 1 jam mereka berolahraga dan mencoba hampir semua alat, keduanya memutuskan untuk mengakhiri latihan dengan menggunakan dumbbell.


“Cemen loe, berat segitu doang!” cemooh Fadhil dengan ketus.



“Ini masih pemanasan, entar coba ini dulu baru naik sedikit-sedikit. Cerewet loe!”


“Dari tadi kok pemanasan terus!” cibir Fadhil tak henti.


“Berisik loe!”


Di tengah perbincangan keduanya, tanpa di sadari sosok wanita mendekati mereka.


“Mas Arjun?”


Arjun menolehkan wajahnya pada pemilik suara yang mulai mendekatinya. Fadhil menatap sesaat wanita itu lalu mulai mengabaikannya, melanjutkan pekerjaan ototnya men-dumbbell kembali.


“Diana?” ujar Arjun lirih.


“Mata aku memang tidak pernah salah menangkap sosok Mas Arjun.” Ujar Diana sembari memilin ujung rambutnya.


“Kamu sendirian?”


“Iya, aku biasa sih pergi sendirian. Kalau mas sama siapa?”


“Sama teman.”


Arjun menunjuk Fadhil dengan tatapan matanya. Diana mengikuti arah mata Arjun, matanya bertemu singkat dengan Fadhil dan saling menyapa. Namun respons Fadhil yang langsung mengacuhkannya setelah membalas anggukan Diana, menunjukkan seperti tak ingin berkenalan lebih lanjut, membuat Diana juga mengalihkan pandangannya.


“Teman Mas Arjun ganteng juga ya.”


“Iya, tapi sudah beristri.” Arjun menegaskan sembari tetap memacu dumbbellnya. Arjun melihat sudut bibir Fadhil yang naik dengan bangga.


“Mas Arjun tidak usah cemburu, Diana sukanya tetap sama mas kok.” Ucapan Diana membuat Arjun mengangkat rahangnya.



“Ehem!” Medina berdeham menatap Arjun tajam.


“Mati gue! Si Diana jadi biang kerok lagi. Baru aja gue baikan, apes banget dah, shit!” ujar Arjun dalam hati sembari menelan air liurnya dengan paksa. “Sayangku.” Panggil Arjun pada Medina. Dengan segera Arjun menaruh dumbbell-nya dan mendatangi Medina.


“Sudah selesai?”


“Sudah, ini mau bersihin badan sebentar baru keluar.” Jelas Arjun dengan tingkah manja. Membuat Diana merasa terbakar dibuatnya.


“Din, mana Mecca?” tanya Fadhil yang mencari-cari keberadaan Mecca.


“Mecca duduk di depan, dia agak capek soalnya.”


“Oke, aku bersihin badan sebentar baru keluar.”


“Iya, aku sama Mecca tunggu di luar.” Medina menatap Arjun dan Diana secara bergantian.


Setelah kepergian Medina, Arjun mendekati Diana yang masih mematung di tempat awalnya.


“Na, aku boleh minta tolong?”


“Minta tolong apa, Mas?”


“Kemarin malam kamu telepon aku itu lagi mabuk ya?” tanya Arjun berhati-hati.


“Oh itu, iya mas. Aku minta maaf ya, semoga aku tidak bikin ulah ya.”


“Itu masalahnya.”


“Maksudnya?”


“Waktu kemarin kamu telepon aku, aku sedang bersama Dina. Dia dengar semua omongan enggak masuk akalmu itu dan dia sempat merajuk. Bisa enggak kamu bantu aku jelaskan ke dia kesalahpahaman itu?”


“Memangnya aku bilang apa?”


“Kamu bilang cinta aku dan sebagainya.”


“Kalau gitu maaf mas, aku tidak mau menjelaskan apa-apa. Karena aku kan tidak berbohong!”


“Kamu kenapa sih? Diana yang aku kenal kenapa bisa berubah seperti ini?”


“Karena cinta! Lebih baik mas cepat-cepat membersihkan badan, kekasih mas itu sudah menunggu loh dari tadi. Tapi maaf, aku tidak akan menyerah pada perasaanku dengan mudah, bye!” Diana melambaikan tangan dan berlalu pergi begitu saja.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, keempat orang tersebut menyusuri mall untuk berjalan-jalan sejenak melepaskan penat. Tidak halnya dengan Fadhil dan Mecca yang selalu ceria dan menampilkan wajah penuh bahagia, Arjun dan Medina justru sedang fokus berseteru.


“Untung kita dulu langsung nikah ya mas, jadi pacarannya habis nikah deh.”


“Iya yank, jadi pas nikah rasa pacaran.”


“Betul sekali Anda. Tapi siapa sih perempuan tadi, Mas?”


“Enggak tahu yank, mungkin salah satu fans Arjun. Dia kan ngakunya ganteng, nyatanya sih enggak ada apa-apanya dibanding aku.”


“Betul sekali! Suami aku memang paling ganteng sejagat, eemmuuaahh...” kecup Mecca pada pipi Fadhil.


Tanpa terasa langkah kaki mereka telah sampai pada basement tempat mobil terparkir. Fadhil mulai memasukkan barang-barang belanjaan Mecca ke dalam bagasi, sedangkan Mecca akan masuk ke dalam mobil. Namun pergerakannya terhenti karena Medina memanggil namanya.


“Mecca, Dik!”


“Iya kak?”


“Aku pulang sama kalian ya, boleh?”


“Ya boleh aja sih, tapi Kak Arjun gimana?”


“Jangan gitu dong, Bi. Masa kamu tinggalin aku sendirian sih? Enggak baik loh pulang masih marah-marahan. Nanti aku enggak tenang lagi di rumah, kamu tega?” Arjun menyela Medina yang ingin menjawab pertanyaan Mecca.


“Besok aja ketemu lagi!”


“Ya enggak bisa gitu, kita ngobrol dulu ini sampai baik-baik semua. Mana enak sih Bi ngambek-ngambekan gitu?”


“Iya kak, jangan kebiasaan membiarkan masalah tanpa penyelesaian.” Mecca mencoba memberikan saran terbaik.


Disela-sela perbincangan itu, seorang wanita mulai berlari mendekati mereka sembari meneriakkan nama Arjun berkali-kali.


“Mas Arjun!” teriak Diana melambai-lambaikan tangannya. “Syukur deh masih sempat ketemu, aku boleh ikut pulang bareng ya?” tanya Diana dengan wajah polos sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Yuk Komentar gaes, luapkan isi hati kalian. Author tampung kok, nih uda bawa keranjang!