AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 8. Kangen Ngobrol sama Beo



Fadhil dan Arjuna merupakan sahabat sedari kecil, Arjuna pindah rumah tepat di sebelah rumah Fadhil saat ia menginjak usia 8 tahun, sejak itu mereka mulai berteman. Arjun begitu Fadhil biasa memanggilnya.


Walau Fadhil lebih tua 1 tahun dari Arjun itu tak membuat keduanya dalam kecanggungan saat saling bercanda hingga mengejek satu sama lain. Mereka saling berbagi sedih maupun senang bersama sehingga tak ada hal apapun yang saling mereka tutup-tutupi.


Bagi Fadhil, Arjun sudah seperti adik kandungnya sendiri, saat duka kehilangan seorang kakak menyelimutinya, kehadiran Arjun bagai cahaya bagi Fadhil, begitu pula sebaliknya. Saat Arjun kehilangan ayahnya, Fadhil dengan senang hati memberikan bahunya sebagai tempat bersandar.


Siang itu di sebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan Fadhil berada, ia dan Arjun melakukan kegiatan makan siang bersama. Keduanya melakukan obrolan kecil yang tak jelas arah, hanya terdengar candaan dan saling ejek yang mereka lemparkan.


“Eh bro, sekretaris baru loe yang tadi cantik juga, buat gue lah.” Sembari mengecap tiap suap makanannya.


“Buat loe? Loe kira tuh cewek barang?”


“Bukan gitu maksudnya. Yah... Loe bantuin gue biar bisa dekat sama dia. Mami sudah rewel minta menantu nih.”


“Terus, gara-gara itu loe jadi cap cip cup kembang kuncup? Siapa saja yang kelihatan bening langsung dikarungin?”


“Ya enggak gitu juga sih. Hehehe... Habis gue sudah putus asa nih. Belum ada yang sreg.”


“Ya elah... Pasien loe yang sering konselingkan banyak, pilih saja salah satu buat dikejar. Beres deh.”


“Eh gila loe, pasien gue bocah di bawah umur semua gitu.”


“Kan gue cuma kasih saran. Lagian Mecca tuh pacar gue.”


“HAH! Enggak mungkin!” ujarnya terkejut.


“Kenapa enggak mungkin?” tanyanya heran.


“Gue hafal banget sama loe, gue yakin di hati loe masih penuh sama Rani.” Seringainya.


“Jangan sebut namanya lagi!”


“Loe kan cowok bodoh sudah tahu cewek nggak bener gitu masih diingat-ingat. Jadi, imposible kalau sampai seorang Fadhil langsung memulai hubungan baru.”


“Gue benar sudah nggak peduli lagi sama dia, gue malah benci sama perempuan itu, sekarang di hati gue cuma ada Mecca.”


“Kalau orang lain loe kadalin pake alasan begini mungkin percaya, tapi nggak sama gue. Ceritalah, kalau nggak mau jujur gue pepet terus tuh Mecca.”


“Biar loe pepet belum tentu juga dia demen.” Ujarnya usil.


“Sekate-kate loe, gini-gini gue termasuk cowok populer dikalangan para wanita.” Sombongnya dengan menarik kerah bajunya.


Di acara makan siang bersamanya itu Fadhil menceritakan seluruhnya kepada Arjun. Dari ia memulai ide anehnya yang mengarang hubungan di hadapan orang tuanya hingga cerita yang ia buat dengan gadis tersebut.


Tak ada satu hal pun yang terlewat untuk diceritakan, kecuali pelukan tiba-tiba Mecca yang masih terpatri diingatannya, ia hanya ingin menyimpan rasa itu untuk dirinya sendiri.


“Gila loe, kalau sampai ketahuan sama bokap loe habis tuh. Bokap loe kan bukan orang sembarangan. Cuma soal selidik menyelidik pasti mudahlah.”


“Sudah, habisin tuh makanan. Gue yakin ini nggak seribet itu. Yang penting sekarang gue terhindar dulu dari perjodohan-perjodohan nggak guna itu.”


“Ckckck... Terserah loe deh.” Ujarnya pasrah.


***


Di lain tempat, Pak Permana sudah menerima beberapa lembaran informasi yang dibawa oleh orang kepercayaannya.


Beliau membaca dengan seksama kata demi kata yang tertera pada lembaran tersebut. Dari lembar pertama hingga lembar terakhir ia telusuri dengan cermat. Beberapa lembar foto pun tak luput dari pantauannya.


Ia melihat foto seorang pria payuh baya yang keluar dari rumah type 70 berwarna putih itu. Ia perhatikan lekat-lekat sosok ayah Mecca dengan sedikit kerutan di keningnya, seolah-olah mengingat-ingat sosok yang mungkin pernah ia kenal.


“Pria ini ayah dari gadis itu?”


“Benar tuan.”


“Namanya benar Harry Pradipta?”


“Benar tuan.”


“Tidak ada kesalahan pada setiap informasinyakan?”


“Tidak ada tuan, saya sudah melakukan pengecekan berkali-kali sebelum melaporkan ini.” Jelasnya dengan penuh hormat.


“Baiklah kalau begitu, kerja bagus. Terima kasih.” Ujarnya sembari memberikan imbalan dalam amplop coklat kepada orang kepercayaannya tersebut.


***


“Ih... Baik banget deh adik aku ini, repot-repot bawain bekal makan siang juga untukku.” Ucap Nindy dengan sedikit mencubit pipi Mecca.


“Hehehe... Baik dong. Aku sama mbak kan sama-sama lagi penghematan, jadi lebih baik ngebekal saja dari rumah.” Ujarnya dengan cengiran imut.


“Buat usahakan butuh biaya mbak. Aku dan Kak Medina mana ada uang sebesar itu. Tapi mungkin nanti ya, kayaknya seru juga.” Sahutnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Tuh makanan telan dulu baru ngomong, lagian kamu bisa minta tolong ayahmu dulu atau mengajukan pinjaman di Bank.”


“Enggak-enggak! Aku takut berhutang, lagi pula lebih baik jika usaha itu didirikan dengan kemampuan sendiri, aku tidak mau merepotkan ayah.”


“Iya juga sih.”


“Mbak, Pak Arjun itu siapa?” tanyanya penasaran.


“Sahabatnya Pak Fadhil, dia cukup sering kok ke sini. Biasanya kalau ke sini ya untuk mengajak Pak Fadhil makan siang bersama.”


“Oh gitu.”


“Eh kenapa? Kamu naksir ya? Nggak boleh! Nanti Pak Fadhil bisa marah loh. Kamu jangan bikin persahabatan mereka pecah.” Tuduhnya cuek.


“Idih apaan sih Mbak Nin, ya nggaklah. Siapa juga yang naksir.”


“Habis dua-duanya ganteng sih, kalau aku masih single aku juga bingung pilih siapa. Satunya pengusaha sukses, satunya lagi dokter.”


“Dokter spesialis apa mbak?”


“Dokter spesialis cinta, hahaha...” tawanya terbahak-bahak.


“Apaan sih mbak bercanda melulu. Nggak lucu bleee.” Cemberutnya kesal sembari menjulurkan lidah, rasa kesalnya menghilangkan penasarannya.


Tak terasa waktu cepat berlalu, jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Banyak dari karyawan dan karyawati yang mulai memenuhi lantai dasar menuju pintu keluar perusahaan.


“Sudah waktunya pulang nih, kesel deh kenapa harus sakit perut sekarang sih.” Ucap Mecca sembari berlari ke kamar mandi.


“Mec, mbak duluan ya.” Teriak Nindy pamit dan dibalas lambaian tangan oleh gadis yang disapanya.


Hampir 30 menit Mecca bergulat dengan perutnya. Setelah gadis itu mulai bersiap-siap untuk pulang, pintu ruangan Fadhil terbuka, di saat bersamaan mata keduanya pun bertemu dan beradu pandang.


“Kamu kok belum pulang?” tanyanya memecah keheningan.


“Oh itu, Ehm... Tadi dari kamar mandi.” Ujarnya canggung.


“Pulang sama-sama yuk?!” ajaknya hati-hati.


“Nggak ngerepotin nih?”


“Enggak ngerepotin kok. Aku kangen ngobrol sama beo.” Ujarnya usil.


“Hah? Beo itu maksudnya aku?” tanyanya memastikan dengan raut wajah tak percaya.


“Bukan... Itu tuh beo di rumah.” Kilahnya sembari berjalan menuju pintu lift yang diikuti oleh Mecca di belakangnya.


Selama perjalanan Mecca dan Fadhil saling bertukar pendapat. Segala hal dijadikan bahan pembicaraan oleh keduanya, sehingga tidak ada keheningan di antara keduanya walau 1 menitpun.


Tak terasa 30 menit perjalanan telah berlalu, kini Fadhil telah sampai tepat di depan gerbang rumah Mecca.


Dari kejauhan Fadhil memaksakan pandangannya masuk ke dalam sela-sela pagar tinggi rumah itu. Dan Mecca pun menyadari apa yang dilakukan pimpinannya itu.


“Maaf ya mas, aku nggak bisa ajak mampir.” Ujarnya dengan raut wajah menyesal.


“Hah? Eh... Nggak apa-apa kok, aku ngerti. Cuma itu mobil yang terpakir di halaman rumah kamu kok kayaknya aku kenal.”


“Memangnya mobil siapa mas?”


“Seperti mobil papaku.” Sahut Fadhil tanpa sadar.


“HAH! Papa?!” ucap Fadhil dan Mecca bebarengan secara terkejut.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.